Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Sunday, December 24, 2017

Review Ayat-ayat Cinta 2 : Antara Tetap Setia atau Melupakan Masa Lalu

Pilih yang mana ya?

"Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" 
 (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Setelah hampir 10 tahun sejak film pertamanya muncul, akhirnya Ayat-ayat Cinta 2 kembali hadir di bioskop mulai tanggal 21 Desember. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket di hari pertama pemutarannya yang hampir semua bioskop full house. Keuntungan nonton sendiri, ya itu, bisa dapat kursi walaupun bioskop sudah penuh. Hehehe…

Saya ingat tahun 2008, animo masyarakat begitu antusias dengan kehadiran film yang dilabeli “islami” ini. Saya yang saat itu gak pernah ke bioskop akhirnya kembali nonton ke bioskop. Waktu itu usai mengaji mingguan yang selesai pukul 11 malam, saya bersama seorang teman menonton A2C jam 23.45 di Setiabudi 21. Kemudian saking sukanya sama film ini nonton untuk kedua dan ketiga kalinya. Walaupun saya tidak habis membaca novelnya, tapi bagi saya film ini sangat bagus pada zamannya. Sempet ngedumel juga sih dengan beberapa pemain filmnya yang menurut saya kurang cocok, tapi tetap saja film ini masuk kategori bagus bagi saya. Oiya, karena film ini pula saya jadi rajin ke bioskop. Hahaha…


 
Poster film A2C2 yang ada dimana-mana (mahal boo)


Film A2C2 kali ini hampir 80% mempunyai karakter yang berbeda. Fahri tetap diperankan oleh Fedi Nuril (and he’s acting so well), Aisha kali ini bukan diperankan Riyanti Cartwright melainkan oleh Dewi Sandra. Peran tambahan yang baru ada di novel keduanya adalah Hulusi (diperankan Pandji P), Hulya (Tatjanan Saphira), Keira (Chelsea Islan), Misbah (Arie K. Untung), Nenek Chatarina (Ade Irawan), Brenda (Nur Fazura), dan lainnya. Sutradaranya pun berganti ke Guntur Soeharjanto dari sebelumnya Hanung Bramantyo. Kali ini Kang Abik turut mengawasi pembutan film ini.

Kisah dibuka dengan suasana konflik di Palestina. Aisha berada di daerah yang sedang dibombardir oleh Israel itu. Scene pun berganti saat Aisha terjatuh. Selanjutnya digambarkan kehidupan Fahri yang sekarang sudah menjadi Professor di Universitas Edinburgh. Kehidupan Fahri begitu sempurna, harta yang banyak, rumah yang mewah, usaha yang banyak, teman-teman yang baik, otak yang cerdas, dan banyak dikagumi oleh wanita. Inilah yang akhirnya menjadi konflik utama dalam film ini, hubungan Fahri dengan wanita-wanita itu. Sementara Fahri berusaha setiap dengan Aisha yang kondisinya tidak diketahui, namun wanita-wanita itu terus berada di sekeliling Fahri. Terus setia atau melupakan masa lalu. Cerita pun ditambahi dengan bumbu-bumbu rasisme, konflik Palestina-Israel dan hubungan antar manusia. Jika sudah membaca novelnya pasti akan mudah langsung menebak akhir dari cerita ini. Kalau saya, sebelumnya googling dulu cari spoiler isi bukunya jadi secara garis besar sudah tau isi ceritanya. Hehehe…

 
Foto "keluarga" jaman now. Btw, TS cantik ya pake hijab.

Dari film ini ada beberapa catatan dari saya baik kelebihan maupun kekurangannya. Berikut yang menjadi catatan saya :


KELEBIHAN

1. Film ini berani mengangkat isu Palestina – Israel yang secara kebetulan kondisinya sesuai dengan keadaan sekarang. Hal ini menurut saya cukup BERANI, karena PH yang memproduksi film ini adalah PH terkenal. Jarang-jarang ada PH yang mau menampilkan masalah dunia islam. Bagi Mas Guntur ini adalah film keduanya yang mengangkat isu Palestina setelah film “Jilbab Traveler Love Sparks In Korea”. Fahri menggambarkan muslim yang sangat toleransi terhadap agama apapun. Bahkan ada adegan yang Fahri menyebutkan, “Bukan Yahudinya yang kita benci, tetapi gerakan Zionis nya”. Itu bagi saya keren bingits! Lalu saat Baruch mengusir ibu tirinya, Chatarina, Fahri yang datang dan menolongnya. Padahal awalnya Chatarina sangat jutek pada Fahri. Pada saat debat pun Chatarina yang Yahudi yang menolong Fahri dari tuduhan Baruch. Pokoknya scene ini informatif banget deh!


2. Sinematografi yang ciamik. Entah kenapa kalau Mas Guntur yang jadi sutradara, saya selalu terhibur dengan gambar-gambar yang ada di filmnya. Pengambilan gambarnya indah dan suasananya asyik banget khas Mas Guntur banget deh. Mas Guntur berhasil menggambarkan Kota Edinburgh yang klasik, indah dan nyaman. Seorang teman yang dulu pernah kuliah di Inggris sampai baper saat menonton film ini, pengen kembali ke Edinburgh. Tapi benar ciamik apa yang ditampilkan di film ini. Lagi-lagi jadi bikin saya mupeng kesana.


3. Akting yang keren. Akting paling keren menurut saya adalah Fedi Nuril, yang hampir setiap scene sedih dia menguarkan air mata secara alami. Jadinya saya yang nonton ikutan sedih. Akting Tatjana Saphira, Chelsea Islan, dan Dewi Sandra juga bagus tapi menurut saya belum istimewa. Sebagai perbandingan yang disebut istimewa menurut saya adalah akting Laudya Cintya Bella di Film Surga Yang Tak Dirindukan. Akting mencuri perhatian justru datang dari Nur Fazura (kali ini bukan Nora Danish lagi yang dipakai) aktor asal negeri jiran yang walaupun kebagian peran kecil tapi bagi saya sangat memorable. Akting Pandji dan Arie juga bagus termasuk pula akting Ade Irawan. Tapi tetap belum istimewa. Catatan lainnya, akting para pemain bulenya pun tidak ada yang kaku. Beda dengan film BTDA yang menurut saya akting para bule nya “aneh”. Bahkan Milene Fernandez berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan logat british yang menambah totalitas akting mereka.


4. Jalan cerita lancar dan mengalir. Nonton film A2C2 kali ini saya bener-bener gak pengen selesai. Seperti membaca buku yang difilmkan. Cerita mengalir lancar dan menarik. Tidak banyak adegan-adegan yang menurut saya tidak perlu. Sampai di akhir cerita pun terus mengalir dan lancar tanpa hambatan. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya “ilogical” tapi untuk penonton umum mungkin masih bisa diterima.


5. Sarat hikmah. Udah gak perlu diraguan lagi kalau ini ya. Secara yang nulis kan Kang Abik, lulusan Al Azhar Mesir. Adegan sarat makna yang paling saya suka adalah saat Fahri sudah hampir putus asa dan dia meminta nasehat kepada Misbah di pelataran masjid. Juga saat seorang Imam yang bacaannya salah, diperbaiki oleh Fahri dan Imam itu tidak marah melainkan malah berterima kasih (padahal itu Imam Besar). Hal ini semakin menggambarkan bahwa Islam itu indah (jama'ah oh jama'ah...).


Nah, selanjutnya ini beberapa kekurangan yang saya temukan dalam film ini :

KEKURANGAN 

1. The Too Perfect Fahri. Tokoh Fahri bagi saya terlalu sempurna dan hanya akan ada di kehidupan novel saja (wajar ya, kalau penulis bisa melakukan apa saja dengan si tokoh). Sudah ganteng, pinter dan kaya pula. Setiap hal yang dilakukan Fahri pasti baik. Selain itu Fahri juga setia. Dia masih susah beranjak dari Aisha yang entah masih hidup atau sudah tiada. Kehadiran Hulya, Brenda dan Keira pun tak lantas membuat Fahri menjadi centil pada wanita-wanita itu, sebaliknya Fahri malah merasa risih dan menjaga jarak. Maka tak heran ketika Fahri meminang Hulya, tidak banyak penonton yang mempermasalahkan poligami ini. Padahal kalau karakter Fahri digambarkan jahat dan kejam, udah pasti langsung kena perundungan. Hehehe.


2. Beberapa jalan cerita yang dipaksakan. Misal ketika Sabina menjadi asisten rumah tangga di rumah Fahri, masa iya, Fahri tidak mengenali kalau itu Aisha? Padahal tokoh Sabina gak terlalu ketutup banget, malah matanya terlihat jelas. Masa sih Fahri tak mengenali mata istrinya cuma gegara istrinya sudah menjadi buruk rupa (kalau di film buruknya gak terlalu ketara sih). Katanya si Fahri cinta…hehehe. Kemudian saat Hulya meminta Aisha untuk face off wajah, apa iya penampilan itu yang paling utama sehingga Aisha yang berwajah buruk mesti cantik dulu agar cocok sama Fahri? Dan hasil face off nya yang 100% sama dengan wajah Hulya ditambah proses face off nya yang cepet bingits! Bagi penonton kritis seperti saya mungkin ini amat sangat mengganggu. Tapi dibandingkan dengan keseluruhan cerita, mungkin hal ini bisa tertutupi dengan baik.


3. Musik yang megah, penuh diva tetapi forgetable. Untuk sountrack film kali ini, pihak PH sampai meminta 4 diva terkenal, Raisa, Krisdayanti, Rosa, dan Isyana Saraswati. Tapi menurut saya lagunya belum ada yang makjleb. Berbeda saat A2C 1 yang hanya diisi Rosa dan Sherina, lagu-lagunya sampai sekarang pun masih terngiang dengan jelas. Sountrack nya yang sekarang memang mewah sih tapi bagi saya forgetable.


4. Ada adegan yang gak banget. Dan adegan ini ada di film A2C 1 maupun yang sekarang, yaitu adegan usai Fahri dan Hulya sholat sunnah bersama (saya gak mau jelasin maksudnya apa ya). Bagi saya itu langsung ngerusak isi film. Pentingnya apa dan apa perlu digambarkan seperti itu? Apalagi ini film Islami loh! Banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton juga menambah ke “enggak banget” an adegan ini. Kalaupun di cut kayaknya gak akan mengganggu jalan cerita deh.


Secara keseluruhan film A2C2 ini masuk kategori bagus dan layak ditonton. Tentu saja film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena mereka bakalan ruwet dengan masalah cinta orang dewasa. Hahaha… Mewahnya film ini memang dapet dan sepertinya budgetnya gila-gilaan. Promosinya pun gak kalah gila. Itu poster film ada mulai dari di bilboard gede, kereta api, dll. Iklannya pun berseliweran di tivi-tivi nasional jadi gak akan mengherankan jika film ini nanti bakalan tembus 1 juta penonton. Mudah-mudahan aja bukan cuma kemewahannya aja yang di dapat oleh penonton tetapi hikmah yang ada di film ini juga bisa ditangkap.

Sekarang saya kasih score untuk film ini :

Akting 8.5/10
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.8/10


In the end, wajiblah ya bagi kita mendukung film-film Indonesia yang sehat dan bagus. Apalagi film ini berlabel “islami” jadi mesti banget didukung. Bukan malah menjelek-jelekkan atau mengajak orang untuk tidak menonton film ini. Beberapa kekurangan wajarlah ya, asalkan secara umum jalan ceritanya masih bagus dan dapat diterima. Saya sendiri merekomendasikan untuk menonton film ini. Yuk, nonton film ini dan bagi anda yang suami istri bisa-bisa jadi tambah lengket. Sedangkan bagi yang sendiri, siap-siap baper dan caper ya! Lol***(yas)





Bogor, 24th of December 2017
@RiceBowl BSB, 17.26 pm
Selamat ulang tahun Kendryo sayaangg….



 
Film kali ini diangkat dari buku AAC2 yang laris manis bak kacang goreng.


Saturday, December 23, 2017

Ibu, maafkanlah aku... (A belated Mother's day greetings)

Here laid down my beloved mom


“Kamu merawat Ibumu sambil menunggu kematiannya. Sementara Ibumu merawatmu sembari mengharapkan kehidupanmu”.
— Umar bin Khattab Ra


“Yas, could you build me a home?”


Minggu itu adalah minggu terakhir kalinya Saya bertemu dengan dia. Seorang wanita yang berbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin tirus.

Saya tidak menyadari bahwa itu adalah tanda terakhir yang diberikan olehnya sebelum akhirnya dia pergi selama-lamanya. Saya sempat “memaksa” nya untuk makan sesuap nasi beserta sup dan pudding kesukaannya. Walaupun pada akhirnya semua makanan itu tumpah kembali lewat mulutnya berupa cairan hijau seperti “klorofil”. Entah kenapa, Saya yang biasanya sangat jijik dengan muntah, langsung menenangkan ibu yang panik karena lantai menjadi kotor dan seprai di kasur berubah warna.

“It’s ok, mom. I’ll take over this.” ujar saya dan dengan segera membersihkan lantai dan mengganti seprai.

Andaikan Saya tahu ini adalah minggu terakhirku melihat wajahnya lagi, mungkin saya akan terus berada di rumah saja menemani hari-hari terakhirnya. Namun yang terjadi Saya malah kembali ke kost-an di Bekasi dan sibuk dengan segala hal.

Kemudian, Saya merasa enggan untuk pulang ke rumah minggu itu. Semua kakak-kakak saya sedang berkumpul di rumah untuk menghibur ibu. Saya ingin menyelesaikan beberapa urusan yang menunggu deadline nya, padahal itu adalah long weekend, Senin libur bertepatan dengan hari raya nyepi.

Tak lama, sebuah message masuk lewat ponsel saya, “Yas, mom sudah gak ada.” Pesan yang singkat dan padat dari kakak saya.

Pardon me? What actually did you mean?

Detik berikutnya ponsel saya kembali dibombardir dengan pesan-pesan serupa yang membuat Saya lemah tak berdaya. Saya menelepon balik kakak saya,

What did you mean? Are you serious? Don’t fool me!” Saya meradang keras. 

Namun kakak saya hanya mengatakan, “You can see her by your eyes!”. 

Saya menangis mearung-raung sendirian di dalam kamar kost. Minggu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kakak-kakak saya yang lain menyarankan “Don’t ride a motorbike in this situation. You won’t be focus,” Tapi Saya tak memedulikannya. Saya menangis sepanjang perjalanan. 

“Mom… why? Why you leave me? Why? Why?”

Saat Saya berada di Rumah sakit tempat beliau dibawa tadi, Saya melihat kakak saya sedang duduk di samping tubuh ibu yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang sudah ditutupi kain. Saya menangis sejadi-jadinya. 

“Mom….why? Why? I can’t bear this,” 

Yang ada pada saat itu adalah rasa penyesalan yang amat sangat kepada ibu saya. Kenapa saya tidak pulang dengan cepat? Kenapa saya masih sibuk bekerja? Kenapa saya… Kenapa saya?? Dan segudang penyesalan yang menggunung tinggi. Bahkan saat jenazah ibu dibawa pulang ke rumah pun, saya hanya jatuh tersungkur di kamar dan tak berhenti menangis. Beberapa kawan-kawan dan sahabat saya berusaha menghibur, namun I really feel nothing. I'm lose a single piece of puzzle in my heart. It tears me down, it breaks me so hard. Sampai ketika ibu saya dimasukkan ke dalam liang kuburnya pun saya seperti tak rela. Mengingat wajah tuanya saja sudah membuat saya susah untuk bernafas dan lagi-lagi….feel nothing!

Sehari setelah kepergiannya, gairah hidup saya menurun drastis. Saya berhenti makan untuk beberapa hari. Bahkan sesudahnya, usai makan saya selalu memuntahkan semua isi perut saya. Air mata selalu mengalir dalam kondisi apapun. Walaupun berusaha untuk tegar, kemudian saya akan berlari ke kamar mandi untuk menangis. Semangat hidup saya pun meredup. Mengingatnya kembali memberikan dampak yang sangat tidak baik bagi hidup saya. It really hard to move on! Sakitnya lebih sakit dari apapun, terlebih jika kau sangat akrab dengan ibumu. 

Selama 3 bulan dan kemudian 1 tahun perlahan-lahan saya mulai bangkit menata hati saya yang pecah. Walaupun sekarang mungkin sudah utuh kembali, tetapi bekasnya itu masih kentara. Layaknya sebuah gelas yang pecah dan kau menambal pecahannya agar utuh kembali, namun gelas itu masih ada bekasnya bukan?

Hanya Allah lah yang akhirnya menguatkan kaki ini untuk berdiri tegak kembali dan menatap sinar pada ujung sebuah kegelapan.

***

Saya dan ibu bisa dikatakan sangat akrab. Saking akrabnya, seorang sahabat pernah berkata, 

“Yas, ada gak ya hubungan anak dan ibu yang segila kamu?” 

Ya, saya sangat akrab. Bila ibu saya sedang makan dan saya melihat makanan yang dimakannya enak, pasti saya langsung minta disuapin dari piring ibu saya. Kadang saya tidur bersama ibu saya sambil menganggap tubuhnya sebagai guling. Kalau saya sedang gemes, pasti pipi ibu saya yang mulai keriput itu menjadi sasaran saya. Sering juga bergelayut manja di bahunya atau sekedar mencandainya. Jika ibu saya sedang marah, maka saya selalu meniru gesture-nya sehingga membuat ibu saya makin tambah marah. Tak lama kemudian tertawa. Kalau sedang gajian, sering membelikannya makanan yang enak-enak, yang ujung-ujung tak pernah dimakannya melainkan diserbu oleh keponakan-keponakan saya. Jika melihat baju daster pasti maunya beli untuk ibu saya. Maka dari itu teman saya merasa hubungan saya dan ibu saya “gila” karena bisa bercanda layaknya teman.

Suatu malam saat saya masih kuliah di Yogjakarta, telepon di rumah kost saya berdering. Waktu itu pukul satu malam dan saya masih asyik berkutat dengan tugas kuliah. Bapak kost yang mengangkat waktu itu dan suaranya terdengar sampai kamar saya yang kebetulan berada tak jauh dari tempat telepon itu berada. Tak lama Bapak kost itu memanggil saya, “Yas, telepon dari Jakarta.” Saya agak kaget karena jika telepon tengah malam itu biasanya mengabarkan berita yang kurang enak. Saya pun menerima telepon itu. Suara bapak saya.

“Ada apa, Pak?”

“Ini, ibumu terbangun di tengah malam dan ingat kamu,”

“Terus?”

“Dia nangis dan mau tau kabar kamu,”



Begitulah ibu saya. Selalu kepikiran sama anaknya. Bahkan sampai tengah malam di jarak 350 kilometer.

Beberapa ribu jam setelahnya saat saya pulang ke rumah pada masa libur kuliah, beberapa orang menceritakan kepada saya bahwa ibu saya tidak makan karena selalu mengingat saya! Bagi saya itu mungkin terlihat mengharukan sekaligus lebai apalagi saya bukan tipikal drama king.

Dan setelah kepergian ibu saya maka wajarlah bagi saya begitu kehilangan beliau. Setiap hari saya merinduinya, menangis untuknya dan terdiam untuknya. Rasa sakit itu begitu susah dilupakan hingga kini. Melihat fotonya saja atau berziarah ke kuburnya langsung mengungkit luka lama. It hurts me bad! Even I didn’t want to live anymore!

Teringatlah dosa-dosa saya pada ibu saya. Dulu saya sering sekali meninggalkannya di rumah dengan alasan sibuk berdakwah di luar rumah. Sering menyakiti hatinya dengan kata-kata setajam pisau. Pernah tidak mematuhi apa yang menjadi nasehatnya. Pernah membohonginya dan lainnya. Bahkan saya tidak pernah memahami bahasa diamnya yang menandakan dia tidak suka. Tangis kekhawatirannya seringkali saya anggap sebagai suatu hal yang berlebihan. Omelannya yang merupakan rasa kasih sayang sering saya anggap sebagai makian untuk saya. Ahhh… Ibu, andaikan kau ada disini, ingin aku memelukmu lagi dan mendekap tubuhmu erat.


Ibu, maafkanlah aku…

Sungguh engkau merawatku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang surga. 
Engkau merawatku dan membesarkanku dengan cinta yang terbuat dari permata yang tiada tandingannya. 
Namun, aku merawatmu tidak dengan sungguh-sungguh.

Ibu, maafkanlah aku…

Adakah jalan yang bisa kulalui agar kutahu bahwa kau redho dengan apa yang kulakukan? 
Adakah kesempatan bagiku untuk meminta maaf kepadamu lagi? 
Adakah kesempatan bagiku untuk melihat senyummu lagi?

Ibu, maafkanlah aku… 

Kau mendoakan aku dengan sepenuh hatimu. 
Kau meminta kepada Allah dengan keredhoan langit dan bumi. 
Kau meminta perlindungan yang paling hakiki agar aku tak salah jalan dan tersesat. 
Namun, aku begitu sombong untuk selalu menolak apa yang menjadi titahmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau berjalan menembus malam hanya untuk mencari cahaya untukku. 
Kau tertatih menahan perih demi aku anakmu terhindar dari kesusahan. 
Kau tersenyum dengan senyum paling purnama yang menghalau resah dihatiku.

Ibu, maafkanlah aku…

Pada saat aku tak bisa lagi berbicara denganmu, 
pada saat aku tak bisa lagi menatap wajahmu, 
pada saat aku tak bisa lagi membaui khas tubuhmu, 
pada saat aku kehilangan arah, rasa sesal itu pun hinggap dan menghancurkan hari-hariku. 
Rasa penyesalan yang terus menggerogoti diriku akan betapa nista dan bodohnya aku, 
tak sempat meminta maaf hingga akhir hayatmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Walaupun ku yakin kau sudah berbahagia di sana, 
namun aku akan selalu rindu…rindu dan rindu. 
Rindu berdetik banyak dan tak akan mungkin terbalaskan. 
Hanya lantunan doa yang menjadi penghubung rindu kita. 
Ku yakin kau sudah aman di sisi Allah.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau merawat aku dengan penuh kasih 
dan aku merawatmu untuk menunggu kematianmu.


Oh, can you hear it in my voice?
Oh, can you see in my eyes?
Love for you is alive in me.
Oh, can you feel it in my touch
Know that I always have enough
Your love is alive in me…


Ibu… Ibu… Ibu… I really miss you so bad***(yas)







Bekasi, 23rd of December 2017
@Chicking Giant, 18.46 pm
Ibu aku rindu setengah mati…
Daffi bpk juga rinduuu….



Disinilah Ibu saya berbaring untuk selamanya


Seperti enggan melanjutkan hidup

Kau merawatku sambil menunggu kehidupanku

The last photo when she visited Mekkah




Tuesday, November 28, 2017

Review Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak : Antara Sup Ayam, Kepala Buntung dan Curhat Para Feminis

Kill Bill versi Indonesia


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”
(HR Muslim: 3729)

***

Pernah menonton film-film karya Quentin Tarantino? Kill Bill, misalnya, di mana seorang wanita yg dikhianati oleh teman-temannya menuntut balas dan membunuhi mereka semua satu persatu. Dalam film MSPD4B tampaknya sutradara Mouly Surya terinspirasi dengan gaya penyutradaan ala Quentin Tarantino. Beberapa unsur musik, yg salah satunya memasukkan musik suasana khas koboi, atau suasana gersang namun indah, juga pernah saya saksikan di beberapa film QT yg ada di film MSPD4B. Berikut Saya akan mengulas sedikit tentang film ini.


Marlina baru saja kehilangan suami dan anaknya saat Markus, seorang perampok datang dan berencana memperkosanya bersama teman-temannya yang lain yang akan datang ke rumah Marlina. Jenazah sang suami belum lagi dikuburkan karena Marlina masih mengumpulkan uang untuk upacara adat kematian suaminya tersebut. Mayat itu dibiarkan Marlina duduk memeluk kakinya (yang sepertinya menjadi adat dari masyarakat Sumba untuk mendudukkan mayat hingga upacara adat dilaksanakan) di sudut ruangan rumahnya. Ketika teman-teman Markus datang, Marlina memberikan sup ayam sesuai permintaan Markus. Tanpa dinyata mereka, Marlina telah mencampurkan racun ke dalam sup ayam tersebut dan langsung menewaskan 4 teman Markus yang memakannya. Namun saat dia hendak mengantarkan sup ayam untuk Markus yang sedang tidur di kamarnya, tanpa sengaja sup tersebut tumpah saat Markus terbangun ketika Marlina hendak memberikannya. Markus pun menistakan keperawanan Marlina. Tak disangka ternyata Marlina telah mempersiapkan parang yang dengan sekali tebas, kepala Markus pun jatuh ke lantai. Selanjutnya, Marlina ingin mengadukan perbuatan Markus dan kawan-kawannya kepada polisi. Dia pergi dengan membawa kepala Markus. Dalam perjalanannya inilah penggalan kisah Marlina dimulai. Mulai dari bertemu Novi, Franz, dan sebagainya. Untuk lengkapnya saksikan sendiri di bioskop ya!


Selamat makan malam! Enak gak sup nya?


Film ini mengangkat tema woman violent yang marak terjadi pada wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah. Marlina digambarkan sebagai pribadi malang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Dia baru saja kehilangan anak dan suaminya, lalu kedatangan perampok yang menginginkan kehormatannya. Para lelaki di film ini pun digambarkan sebagai lambang superior di mana wanita hanyalah sebagai objek seks dan ketidakberdayaan saja. Hadirnya film ini selain ingin menampakkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, juga sebagai lambang perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan selama ini. Sehingga film ini bisa dikatakan "teriakan" para wanita agar nasib mereka lebih diperhatikan.


Beberapa kelebihan di film ini yang berhasil saya tangkap adalah :


1. Cinematografi yang sangat bagus.
Penggambaran kehidupan Marlina yang sendirian serasa berdampingan dengan alam Sumba yang kering namun indah. Setiap scene menggambarkan padang stepa luas dengan daun-daun yang menguning. Penggambaran ini mengingatkan saya akan film "Aisyah Biarkan Kami Bersaudara" yang juga memakai latar belakang NTT. Sutradara dan sinematografer berhasil memadukan kekuatan akting dengan lingkungan sekitar yang membuata mata dimanjakan dengan gambar yang indah selama film berlangsung.

2. Akting yang menawan.

Beberapa aktor yang hadir di film ini menyuguhkan akting yang sangat menawan. Marsha Timothy, misalnya yang diganjar sebagai best actreess dalam sebuah festival film di Catalonia, Spanyol. Marsha berhasil menggambarkan sosok Marlina yang nestapa namun tidak cengeng dan tetap tegar. Ditambah lagi akting pemeran pembantunya, Dea Panendra yang berperan sebagai Novi, juga menampilkan karakter yang lugu, teguh pendirian dan polos. Dia melengkapi perlawanan Marlina dengan ikut menolong Marlina di scene terakhir. Hampir dari semua aktor yang berada di dalam film ini menampilkan karakter yang baik termasuk pemeran sekilas semacam Tofan si gadis kecil anak pemilik warung makan, mamak yang akan menghadiri pernikahan keponakannya, dll.


3. Berani mengungkapkan fakta yang banyak terdapat di Indonesia.
Beberapa adegan di film ini mengungkapkan fakta-fakta yang ada di Indonesia. Karena film ini mengangkat tentang perempuan, maka isu yang dikemukakan sudah tentu menyorot penderitaan kaum perempuan. Misal, bagaimana orang yang sudah menderita seperti Marlina, harus menanggung "perayaan" kematian suaminya padahal hutang dari kematian anaknya juga belum lunas. Di tengah himpitan ekonomi seperti itu sepertinya "adat" tetaplah sesuatu yang penting, padahal makan untuk besok saja belum tentu ada. Sehingga masyarakat terkesan memaksakan apa yang sebenarnya mereka tidak mampu.


Fakta berikutnya adalah superior laki-laki terhadap perempuan yang hanya dilihat (kebanyakan) sebagai objek seksual saja. Ini digambarkan saat Markus dkk ingin merenggut kesucian Marlina dengan kalimat yang intinya, "Kamu akan menang banyak malam ini, Marlina!" Juga saat Franz ingin memperkosa Marlina di scene akhir, padahal Marlina sudah berbaik hati mengembalikan "kepala" Markus. Termasuk saat Novi dengan kehamilan 10 bulannya yang belum keluar juga yang membuat Ambu, suaminya, marah dan meninggalkannya. Ambu pun percaya bahwa anak yang dikandung Novi tidak bisa keluar karena Novi berselingkuh. Ya, walaupun di jaman sekarang ini faktanya banyak perempuan juga yang sengaja "menjual" dirinya demi kenyamanan, tetapi tidak sedikit pula yang merasa penghargaan diluar seksualitas itu lebih tinggi. Maka dari itu timbullah emansipasi wanita yang menginginkan keadilan dan kesamarataan dengan laki-laki.


Fakta lain yang diangkat dalam film ini adalah kebobrokannya sistem kepolisian. Saat Marlina sampai di kepolisian, dia harus menunggu lama agar laporannya dibuat karena para polisi itu sedang "sibuk" bermain pingpong. Pada akhirnya saat salah seorang polisi itu menerima laporan Marlina, itu pun hanya sekedar ink on the page, sekedar menerima aduan masyarakat saja. Marlina bahkan disalahkan saat tidak melawan Markus yang digambarkan olehnya kurus dan kecil.


4. Musik etnik yang menarik.

Film tanpa musik mungkin tidak akan menarik. Film MSPD4B ini menjadi semakin menarik dengan musik etnik yang khas selama adegan berlangsung. Adanya musik ini menguatkan ke-Indonesia-an dari film ini. Dalam beberapa bagian bahkan tokoh Franz bersenandung dengan bahasa Sumba.


Beberapa hal inilah yang menurut saya menjadi kekuatan dari film MSPD4B. Mouly Surya berhasil mengangkat isu yang sering diteriak-teriakkan kaum feminis. Walaupun ada beberapa tanya juga di benak saya, namun itu mungkin tidak terlalu kentara.



Siapa yang mau jadi korban berikutnya?


Sekarang beberapa kekurangan film ini yang berhasil saya tangkap :


1. Alur yang lambat.
Semua adegan dari Marlina membunuh Markus sampai Marlina akhirnya balik kembali ke rumahnya untuk menolong Novi yang disandera Franz hanya dilakukan kurun dalam waktu 24 jam. Padahal Marlina sudah berjalan jauh naik truk, lalu dilanjutkan berkuda (kudanya jalan ya, bukan berlari seperti di film koboi) semuanya seperti tidak masuk akal karena dilakukan hanya 24 jam. Mungkin jika Marlina naik motor pulang balik, masih masuk akal. Namun berkuda yang kudanya juga hanya jalan lalu berhasil kembali ke rumahnya dengan mampir dulu ke restoran Tofan, tidur siang bersama Tofan, dll agak mustahil dilakukan dalam 24 jam saja.


2. Beberapa hal yang tidak masuk akal.

Selama berjalan Marina terus menjinjing kepala Markus tanpa kebauan. Begitu juga saat orang-orang yang ditemani Marlina tidak merasa kebauan dengan bangkai kepala itu. Padahal saat Franz dan Niko, dua perampok lainnya, masuk ke dalam rumah Marlina, Franz sampai muntah-muntah. Ini penggambaran bahwa dia kuat atau gimana saya kurang paham. Marlina juga menemukan peti yang akhirnya dijadikan tempat menaruh kepala Markus. Adegan kepala itu ada di dalam peti juga saat dia berjalan bersama kuda tanpa pelana. Semakin mustahil saja.

Adegan lainnya, pakaian Marlina masih bersih padahal kepala itu sempat didudukkan di atas pangkuannya. Detil mungkin, tapi bagian ini justru yang membuat saya bertanya-tanya. Marlina juga lewat dari pandangan Franz dan Niko yang mengejarnya dengan sepeda motor saat truk yang membawa Marlina berhenti untuk buang air. Supir truk tersebut pun seakan dengan mudahnya menjadi pembela Marlina, padahal awalnya mereka sempat adu mulut.

Bagi saya detil seperti itu penting demi menjaga jalan cerita yang tetap masuk akal dan sesuai nalar.


3. Sosok yang lemah sekaligus kuat (membingungkan).
Marlina awalnya digambarkan sebagai wanita yang lemah yang dengan begitu saja menerima kedatangan para perampok. Satu hal yang saya herankan, saat Marlina hendak digagahi oleh Markus dia tidak mencoba melawan sekuat tenaga malah dia berada di posisi "woman on top". Bagi wanita yang sedang diperkosa rasanya aneh dengan hal seperti itu. Walaupun kemudian dengan posisi itu Marlina berhasil menebas leher Markus. Tetapi tetap saja menurut saya adegan seperti itu bukanlah adegan penting. Bisa saja Marlina berlari dan mengambil parang kemudian langsung menebas leher Markus tanpa perlu Markus menggagahi nya. Di lain kesempatan, Marlina malah tidak berdaya saat akan digagahi Franz. Bisa saja sebelum Franz sempat menggagahinya, dia sudah menebas leher Franz terlebih dahulu kan? Bagi saya karakter ini malah membuat bingung peran Marlina sendiri, sebagai wanita lemah tertindas atau wanita kuat?


4. Banyak adegan yang tidak perlu.

Beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu salah satunya adalah adegan pemerkosaan yang dilakukan Markus kepada Marlina. Bagi saya itu "gak Indonesia banget!". Sutradara seharusnya bisa menginterpretasikan hal tersebut dengan sesuatu yang lain tanpa harus secara vulgar menyajikan hal seperti itu. Tanpa hal itu pun sepertinya film akan tetap lancar, misal dengan langsung masuk ke adegan menebas leher Markus. Bagi saya adegan ini adalah "tempelan" dan "pemanis" film saja yang tanpa divisualkan pun bukan masalah besar. Film ini layaknya film Hollywood kebanyakan yang memasukkan unsur "sex" dalam film-film mereka. Sangat disayangkan film sebagus ini, bagi saya, menjadi "rusak" dengan adegan tak penting itu. Padahal jika adegan itu tidak ada maka cakupan penonton film ini bisa lebih luas lagi. Contoh saja film PASIR BERBISIK besutan Nan T.Achnas yang bagus tanpa perlu memasukkan unsur seksualitas.

Adegan lainnya yang menurut saya mengganggu adalah ucapan-ucapan kotor, yang walaupun ini adalah fakta yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, namun seharusnya Sutradara bisa meramunya dengan sesuatu yang lebih bermakna. Disini ungkapan-ungkapan seputar ranjang pun kerap dibicarakan, semisal saat Novi dan Marlina berdialog di truk atau saat mereka berdua sedang buang air kecil. Sehingga secara tidak langsung, lagi-lagi film ini mengangkat unsur "sex" agar lebih laris. Makian mungkin masih bisa saya maklumi, tetapi untuk hal-hal berbau seksualitas, di negara Indonesia mungkin tidak. Ya, kecuali jika film ini memang pangsa pasarnya adalah luar Indonesia. Oiya, adanya kucuran dana dari Perancis mungkin juga memengaruhi idealisme film ini.


5. Terlalu Quentin Tarantino

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas jika film ini sangat QT. Unsur-unsur yang membuat saya bisa menyimpulkan hal ini adalah pengambilan gambarnya, kekelamannya, dan yang paling jelas pemenggalan babak dalam film ini yang memakai judul besar pada pergantian babak. Pemakaian judul itu mirip sekali dengan film Kill Bill, ketika QT memenggal setiap adegan untuk Beatrix pada setiap musuh yang dihabisinya. Namun, sutradara berhasil mengambil gambar yang ciamik yang menggambarkan suasana indah Sumba.


Kesimpulannya adalah film ini adalah teriakan kaum Feminis akan penindasan yang terjadi pada wanita. Untung saja sutradara tidak terjebak membawa film ini dengan mengaitkan pada agama tertentu (seperti yang terjadi di film NAURA DAN GANK JUARA). Kalaupun ada tentang agama, itu hanya sekedar saran dari Novi saja tetapi tidak menyinggung. Para feminis memenangkan tokoh wanita yang berhasil keluar dari intimidasi para lelaki.

Dalam agama yang saya anut, Islam, wanita memiliki kedudukan yang penting dan keberadaannya sangat dihargai bukan sekedar berkembang biak saja. Para lelaki diharuskan menghormati wanita dan memuliakan mereka. Al-Qur'an sendiri memasukkan banyak surat yang bertemakan tentang wanita, semisal surat An-Nisa. Jikapun dalam realita modern sekarang ini banyak penindasan terhadap wanita muslim, bisa dipastikan mereka tidak menjalankan Islam secara baik. Untuk memukul saja Rasulullah melarangnya, apalagi sampai menganiaya. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah feminisme karena semua hak wanita terjamin dengan baik.

Sedangkan untuk korban pelecehan dan KDRT seperti yang dialami Marlina, menurut saya solusinya adalah perlawanan dari diri si korban terlebih dahulu. Orang lain mungkin bisa saja membantu, tapi jika tidak ada "will" dari korban akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Perlawanan adalah salah satunya. Seperti yang diperlihatkan Marlina, ketika dia menjadi korban superior dari para lelaki perampok itu, dia melakukan perlawanan dengan membuatkan sup beracun dan memenggal kepala Markus. Novi pun melakukan perlawanan yang sama, saat sang suami memukulnya, dia melakukan perlawanan. Korban diluar sana mungkin tidak setangguh Marlina dan Novi, disitulah fungsinya LSM yang memberikan dukungan untuk para korban bukan malah mengompori korban dan mengambil alih segalanya dengan merasa yang paling tahu.

Film ini memang seharusnya masuk kelas festival ke festival bukan komersial. Dan bagi saya, hanya cocok ditonton orang dewasa serta movie maniak yang suka menonton film-film absurd semacam ini. Jika anda bukan pencinta film, sudah bisa dipastikan film MSPD4B ini boring as hell.***(yas)


Nilai :
Akting 8/10
Skenario 8.5/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.3/10




Jakarta, 28 November 2017
@myroom 21.11 pm
Selesai dalam dua hari. lamonyooo...








Sunday, November 12, 2017

Push My Limit (Menaklukkan Tantangan) Part 1

 
write on the sand



“You can conquer almost any fear if you will only make up your mind to do so. For remember this, fear doesn’t exist anywhere except in the mind.”
*Dale Carnegie*


Ngelakuin apa yang saya takutkan? Hiii… ogaaahhh!!!

Paling gak kalau hal yang menakutkan itu ditawarkan pada saya, mesti mikir ribuan kali untuk memutuskan ikut apa gak. Kalaupun must decide in a short time, mikir lagi untungnya apa dan ruginya apa, bahaya apa gak, dan kira-kira ini berguna apa gak. Hahaha… jadi banyak mikirnya deh… ujung-ujungnya udah bisa dibaca kalo akhirnya saya mengalah dengan keadaan.

Semua pertimbangan itu pada dasarnya adalah mengetahui di mana limit saya berada dan saya cenderung malas mendobrak limit yang sudah saya tetapkan. Misal, limit saya adalah kalau mau berenang hanya cukup di kolam seukuran 1.5 meter dan jika ada yang mengajak saya untuk ke kolam ukuran 2 meter maka menurut saya itu udah melewati limit saya. Untuk hal seperti ini maka saya perlu melihat apakah push my limit itu safe apa gak. Jika ada orang yang akan bertanggung jawab untuk menjaga saya di kolam itu, atau saya bisa menggunakan pelampung di dalam kolam itu. Jika saya menilai cukup safe maka saya akan berusaha mencoba, walaupun tetep aja mikir 17x.

Namun ada beberapa cerita yang membuat saya memutuskan untuk melewati limit saya tersebut. Seperti yang saya sebutkan tadi, pastinya setelah dibujuk-bujuk dengan berbagai macam cara dan jaminan “everything will be OK!”. Akhirnya mau deh…

Moment pertama yang membuat saya push my limit saya adalah saat saya diajak untuk naik Banana Boat di pantai Carita. Entah bagaimana ceritanya, pada saat liburan bareng temen-temen itu, salah seorang teman saya kepengen banget naik Banana Boat (Damn!). Setelah dia mengajak beberapa orang, maka seat banana boat tertinggal 1 dan dia langsung mengincar saya. Udah pasti langsung saya tolak mati-matian. Secara berenang aja saya gak bisa, ini udah mau nyemplung di laut. Gak kebayang deh gimana saya nantinya…hahaha…

Tapi teman saya itu (sebut saja si Mawar, hehehe) terus memaksa dan memberikan jaminan serta bujukan-bujukan manis pada saya. “Gapapa kok, Yas, kan pakai pelampung, gak bakalan tenggelam. Nanti pokoknya ente, ane selamatin duluan deh pas Banana Boat nya terbalik,”


Perahu tanpa banan nya yang puas banget ngerjain saya dkk

Abis naik banana boat malah ketagihan main di laut. Lol

Entah bagaimana, akhirnya saya terbujuk juga kata-kata manis itu. Didesak rasa penasaran saya juga sih sebenarnya. Tapi dengan adanya jaminan-jaminan itu, saya akhirnya memutuskan, “let’s try!”

Saya langsung memilih pelampung yang paling bagus, minta posisi duduk yang strategis, dan berkali-kali bilang pada si abang, “Bang, nanti kalau mau dibalikkan jangan lupa bilang-bilang ya!” hahahah… Pokoknya memastikan semua harus safe. Tapi tetap aja, saat sudah duduk di atas plastik berbentuk pisang itu berkali-kali saya minta TURUN! Hahaha… Namun setelah final conviction dari teman saya, udah deh saya Bismillah aja…

Dan eng ing eng…. Ban pisang itu pun melaju di atas air laut carita. Adrenalin bergemuruh kencang disertai rasa antara takut dan senang. Kemudian saat yang bikin deg deg an banget adalah saat pengemudi kapal boat yang menarik ban pisang itu menghentikan mesinnya dan berbelok tajam yang menyebabkan ban pisang terbalik! Byuuurrr!! Kami semua yang berada di atas ban pisang itu terjatuh ke laut. Pastinya saya panik banget! Tubuh saya seketika tenggelam di laut untuk kemudian menyembul kembali karena ban pelampung yang menempel di tubuh saya. Teman yang tadi berjanji pada saya itu langsung heboh, “Yas, mana, Yas??” Pada saat saya menyembul ke permukaan laut dia langsung mendorong saya naik kembali ke ban pisang tersebut. Perasaannya benar-benar antara senang dan takut gitu.

Tarikan kedua dan ketiga saya mulai menikmati berada di atas ban pisang tersebut. Namun saat ban pisang itu mau berbelok tajam, saya cuma pasrah saja sekarang. Mau lari pun udah gak bisa, jadi pasrah adalah sikap tertinggi saya…hahaha…

Teman-teman yang lain mulai berteriak-teriak menikmati permainan banana boat ini. Saya juga ikut-ikutan berteriak, tetapi tetap aja saat ban pisang itu membelok, saya hanya bisa pasrah “Oh God, Oh Lord!” Tanpa dinyata, ternyata ada salah seorang teman saya yang terlihat berani tetapi di atas ban pisang itu terlihat pucat dan ketakutan. Sepanjang permainan itu dia hanya diam saja dengan urat wajah tegang. Hahaha… udah pasti hal ini jadi pembahasan usai bermain.


Naik banana boat lagi di Bali, tapi request gak diceburin..hahaha

Another Push my limit experience adalah saat kebagian tugas untuk mengikuti acara latsar di kaki gunung Salak. Sebenernya males banget kalo ikut acara latsar yang “cowok” banget! Hahaha… Gak ada kerjaan aja bagi saya di kaki gunung, bukannya menikmati alam malah ngadain kegiatan-kegiatan gak jelas (saya kali ya yang gak jelas). Ditambah lagi ada rumor kalau nanti akan melakukan perjalanan kaki sejauh mata memandang (yang ternyata bukan sekedar rumor). Namun karena instruksi ini sifatnya “WAJIB” dari “struktur” maka dengan berat hati saya pun ikut.

Beberapa hari sebelum berangkat sudah pasti saya memikirkan apa yang akan terjadi disana. Kegiatan fisik sudah pasti bakalan menguras tenaga, ditambah lagi dengan berjalan kaki sejauh itu, sanggup gak ya? Pokoknya banyak pertimbangan deh! Ditambah lagi semua persiapannya harus serba komplit dan sempurna. Bekal makanan yang pasti yang banyak juga, haahah…

Dan benar saja semuanya seperti yang sudah saya bayangkan. Pelatihan fisik sana-sini yang ya ampyun bikin badan saya remuk abis. Tapi ya, Alhamdulillahnya saya masih bisa menangani dengan baik, malah banyak teman-teman saya yang lain yang fisiknya kelihatan bagus tapi sudah ambruk duluan. Ya, paling gak, saya bukan yang malu-maluin lah di grup saya itu..hehehe…

Sampai suatu ketika, ada acara outbond yang mengharuskan peserta untuk terjun perosotan dari atas tebing yang sudah dibuat seperti seluncuran. OMG! Jarak antara atas tebing dengan dasarnya itu kira-kira 5 meter! Semua tim dan semua anggotanya harus ikut meluncur. Saat saya sudah siap-siap mau meluncur ke bawah, datang panitia yang memberitahukan bahwa wahana seluncuran ini ditiadakan lagi setelah salah seorang kakak kelas saya di SMA dulu jatuh dan terkilir kakinya. OMG! Benar-benar kayak mendapat kabar durian runtuh! Im in the cloud nine! Tapi ternyata wahana lainnya yang lebih syerem dan menakutkan sudah menunggu. Wahana itu adalah masuk ke dalam parit kecil yang penuh dengan air lumpur sepanjang 50 meter dengan atas parit itu ditutupi pagar kayu yang diberi dedaunan. Mirip banget kayak perang Vietnam…hahahah…

Sampai di depan parit itu saya agak ragu untuk turun ke dalamnya. Berbagai macam kekhawatiran berada di benak saya. Gimana kalau saya gak bisa nafas? Gimana kalau ternyata airnya bikin gatel-gatel? Gimana…gimana…gimana…. Namun di short time kayak begitu, saat semua anggota regu saya sudah pada masuk ke dalam parit itu dan anggota grup lain sudah menunggu di belakang, saya terpaksa ikutan masuk ke dalam parit. Di dalam parit saya benar-benar harus membenamkan kepala saya ke dalam air lumpur itu sambil menahan nafas beberapa saat menuju ujungnya. Awalnya memang masih ada celah-celah pagar kayu itu yang bisa membuat saya tak perlu membenamkan kepala, tetapi semakin ketengah, pagar kayu itu semakin rapat. Saya sempat panik di tengah parit itu, tetapi lagi-lagi saya push my limit saya untuk terus berjalan dan akhirnya sampai ke ujungnya juga! Setelahnya, selain ucapan syukur, saya tersenyum puas dan bangga pada….. diri saya sendiri dong….hahaha…

Pada final days, perjalanan yang ditunggu-tunggu itu pun sudah di depan mata. Kebayang banget deh lelahnya, jalan sejauh mana juga gak ngerti sambil membawa tas ransel yang berisi perlengkapan selama 4 hari 3 malam. Ya ampyun…. ngebayanginnya aja udah males nulis…hahaha…

Saya dan teman-teman berjalan dengan semangat di paruh pertama perjalanan kami. Paruh perjalanan kedua, beberapa orang mulai lost their patient. Bertanya seberapa jauh lagi perjalanan dan sepertinya tiada akhirnya. Beberapa di antara mereka sudah mulai ketahuan aslinya J Dan paruh terakhir, yang semangat memimpin di depan, yang banyak mengeluh berada di belakang. Saya sendiri berusaha menikmati perjalanan ini. Capek udah pasti tapi ya udah jalanin aja, mau gimana lagi, yekan? Sebenarnya saya juga udah kelelahan setengah mati, tapi lagi-lagi I push my limit. Kali ini saya membayangkan, si Riyanti Djangkaru aja bisa menaklukkan gunung dan melakukan perjalanan jauh, masa aye yang zaman itu adalah seorang ikhwah fillah, bisa sih kalah sama dia? Malu booo! (hahaha…)


Ngaso dulu di paruh pertama menjelang down hill lagi. Ini di kawah ratu yang bau sulfur bingits

Saat sampai di tujuan, saya senangnya bukan main, apalagi saya termasuk golongan orang yang sampai tujuan awal waktu. Beberapa teman yang ikhwah fillah banget dan jagoan orasi malah terseok-seok di belakang. Saat itu jahatnya saya keluar dengan menertawakan mereka terbahak-bahak. Lagi-lagi berhasil menaklukkan tantangan dengan push my limit! Sesudahnya langsung merasa PD tingkat dewa, sambil bilang ke diri sendiri “Gue bisa loh!”

Saya jadi teringat quote nya Om Walt : If you can dream it, you can do it. Atau sebuah hadits yang berbunyi : Aku mengikuti prasangka dari hamba-Ku. Maka semua hal yang kita lakukan dan keputusan yang kita ambil berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ya, we act based on what we think!

Manusia itu pada dasarnya memiliki potensi diri masing-masing yang mengikuti kemampuan mereka. Beberapa di antara mereka ada yang PD tingkat dewa, potensi gak ada dan kemampuan standar tapi beraninya luar biasa. Ada juga yang ‘humble’, kemampuan dan potensi ada dan mereka in the right path. Dan mereka yang punya kemampuan dan potensi diri tapi mereka merasa gak PD. Yang terakhir (katanya sih) saya banget!

Menaklukkan tantangan bukan sekedar bisa melakukan suatu kegiatan yang kita sendiri gak pernah membayangkan bisa melakukan hal itu, tetapi juga masalah hati dan pikiran. Sudah pasti pada saat ingin mendorong diri kita pada batas kemampuan diri kita, pikiran kita berperang gila-gilan. Berbagai argumentasi diri sendiri sudah pasti memaksa kita untuk think fast in short time. Belum lagi batin kita yang mesti ikutan diajak kerjasama juga. Ditambah jika hasilnya gak memuaskan, sudah pasti rasa penyesalan berkecamuk di dalam hati disertai angan-angan “jika begini mungkin begitu, jika begitu mungkin begini”. Ujung-ujung semakin susah saja untuk memembus batas nilai diri kita. Tetapi jika hasilnya menarik dan beyond our expectations, udah pasti kita jadi bertambah percaya diri dan memiliki nilai plus bagi diri kita. Next time, kita ingin menaklukkan tantangan lagi, keoptimisan sudah timbul berkat pengalaman sebelumnya. Paling gak, walaupun belum optimis-optimis amat, kekhawatiran diri kita sedikit berkurang.

Pada akhirnya, tantangan itu hadir untuk men-challenge diri kita dan melatih keberanian kita. Mereka yang begitu dapat tantangan langsung mundur feels like lost in the war before it started. Mereka yang dapat tantangan malah dikalahkan oleh tantangan itu, sudah pasti bakalan stress berat. Mereka yang bergembira mendapat tantangan, bisa dipastikan keoptimisan menyertai hari mereka. Jikalaupun mereka gagal, mereka sudah belajar dari pengalaman. Jadi, diri kita sendiri yang memutuskan seperti apa sikap kita jika menerima tantangan.

Hidup itu sendiri pada dasarnya adalah tantangan. Manusia diberikan cobaan dan tantangan dalam mengarungi kehidupan ini. Whether they will happy or whether they will full of sad, moaning, and grumbling. Berpikir matang itu bagus dan tidak salah, tapi kalau kematangan jadi gosong juga kali yee… Jika gagal menaklukkan tantangan, at least you have learnt from what you did.

Push your limit juga jangan lupa ya, perhitungan baik buruknya dan resiko yang bakal kita hadapi. Jangan asal puh the limit aja. Make a fast decision in the shortest time. Kalau kiranya kita gak mampu dan bukan kita banget, better let it go! Tapi kalau kita mampu tapi belum PD aja, take a risk and conquer the challenge! (kompor.com)

Intinya adalah state of your mind. Cobalah untuk tidak overthinking dan just do it. Sometime kita perlu membiarkan intuisi kita berjalan tanpa perlu memikirkan apa-apa. Karena kalau kebanyakan mikir sudah pasti akan kehilangan kesempatan. Berpikir boleh asal jangan kebanyakan. Mending banyak makan daripada banyak pikiran…hahaha…

Sebenarnya masih banyak cerita yang membuat saya menabrak limit diri saya sendiri, namun gak mungkin kali yee diceritain semua disini. Beberapanya mungkin akan saya ceritakan secara terpisah. Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri dan tidak usah berpikir macam-macam. Ingat saja Allah, karena kalau mengingat Dia hati akan merasa tenang. Karena semuanya sudah ditetapkan dan diatur oleh-Nya. Tugas kita hanya menjalankan apa yang sudah menjadi takdir-Nya. Ingat, You only live once, don’t make it in vain and don’t be regret!! Enjoy your life, take a challenge and push your limit!!***(yass)



Jakarta, 11th of November 2017
@Transmart , 18.01 pm
Waiting “Duka Sedalam Cinta”
Bicara latsar, jadi inget Kak Panji. Di mana ya beliau sekarang?



Ps. 
My another pictures of conquer the challenges!



Nyelem dan berenang2 ria di Pulau Sempu yang jalannya aja bikin lapar 7 hari

Jangan pernah nawarin saya flying fox pada saya yang aerophobia.
Tapi akhirnya nyoba ini juga karena : PENASARAN

Di atas bukit di Pulau Sempu yang monyetnya bejibun dengan latar belakang samudra hindia.


Saturday, July 22, 2017

Between Chester and Cornell (Depresi dan mereka yang memutuskan mengakhiri hidup)


Chris Cornell dan Chester Bennington. Chris committed suicide on May, Chester on July.

Crawling in my skin
These wounds they will not heal
Fear is how I fall
Confusing what is real
Crawling - Linkin Park 

***

Sebuah status itu berseliweran di beranda facebook saya. Pemilik status itu menceritakan seorang artis yang memutuskan untuk suicide. Sayangnya nama si artis tidak ditulis, sehingga membuat saya penasaran. Tak lama kemudian saya berhasil mendapatkan jawabannya, Chester Bennington! Vokalis Linkin Park itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri! OMG! 😱😱😱

Saya tahu Chester Bennington (CB) ini sejak LP mengeluarkan Album "Hybrid Theory" dengan lagu andalannya "Crawling". Waktu itu saya masih duduk bangku SMA. Zaman itu grup boyband "beneran" masih banyak beredar, semisal Smashing Pumpkin, Limp Bizkit, Gorilla, Blink 182, dll. Lagu Crawling pun langsung booming. Perpaduan suara khas Bennington dipadu dengan rap Mike Shinoda dan kecerdasan bermusik Jo Hahn, Brad Delson, Dave Farrell, dan Rob Bourdon membuat grup ini langsung memiliki penggemar tersendiri. Saya yang anti band urakan aja sempat suka sama grup ini. Grup ini satu2 yang saya ikuti di official Line nya.

Saya tersesat pada tanya. Apa yang membuat Chester memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Chester sudah popular bersama grupnya. Banyak yang menggila-gilainya juga. Banyak uang? Sudah pasti. Apapun yang diinginkannya pasti bisa diraih. So, whatt???

Ternyata Chester memiliki masa lalu yang menyeramkan. Tercatat dia pernah mengalami pelecehan seksual dan perundungan (bullying) pada saat beliau anak-anak dan remaja. Dia juga sempat kecanduan obat-obatan terlarang. Diperparah lagi dengan kehidupan perkawinannya yang tidak baik. Chester tercatat beberapa kali menikah dan bercerai. Hal ini bisa jadi dipengaruhi pengalaman di masa lalu saat kedua orang tuanya juga bercerai.

Sebelum Chester, beberapa nama selebrita terkenal banyak yang juga menjalani hal sama, commit Suicide. Teman se-lintingan Chester, Chris Cornell, yang sekaligus vokalis di Band Audisolave juga mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri (Saya sendiri kalau inget Audioslave jadi inget..... hahaha.... abaikan). Lainnya ada Kurt Cobain, Amy Winehouse (bukan bunuh diri tetapi OD), Michael Hutchence, dll.

Saya jadi penasaran, apa yang menyebabkan mereka menginginkan bunuh diri? Depressi! Banyak dari mereka yang mengalami depressi akut. Depressi yang berkelanjutan dan mereka tidak menemukan solusi. Sebagian mungkin memang ada yang terlibat juga dengan narkoba dan alkohol, namun dengan rehabilitasi mereka berhasil dinyatakan"clean". Seorang teman saya mengatakan : " depresi itu lebih bahaya dari narkoba dan alkohol karena tidak ada obatnya." Ya, narkoba dan alkohol bisa dilakukan banyak terapi yang menyembuhkan mereka. Seseorang pemakai narkoba dan alkohol pasti akan mengalami masa puncaknya. Konsekuensinya yang mereka hadapi hanya overdose atau jenuh dan kembali ke jalan yang benar. Kemarin saat saya menaiki UBER menuju Munasharah Palestine di Masjid Al Azhar, saya mendapatkan sopir yang mantan pemakai narkoba. Dia mengatakan pada saat puncaknya (alias pada saat kejayaannya dan dia tidak peduli lagi pada kehidupan) maka kemungkinan yang terjadi pada masa itu hanya dua : overdose atau merasa jenuh. Pak sopir itu kemudian memilih untuk menuju ke jalan yang benar.

Bagaimana dengan depressi? Depressi sendiri berarti : is a state of low mood and aversion to activity that can affect a person's thoughts, behavior, feelings, and sense of well-being. Sesuatu yang memengaruhi mood kita, perasaan kita, serta perilaku kita. Seseorang yang mengalami depresi biasanya feeling guilty akan sesuatu, low minded, dan tak percaya diri. Seolah banyak orang berkata dipikiran mereka dan menunjukkan semua kesalahannya. Maka semuanya akan berpengaruh terhadap pada perilaku mereka. Cenderung tertutup dan minder. Pada kasus yang lain, banyak yang menyembunyikan depresi mereka dengan lebih banyak tertawa, bersenang-senang, namun sebenarnya mereka menyembunyikan kesedihan mereka (jadi jangan gampang iri ya dengan orang lain yang kelihatannya senang).

Kesalahan terbesar mereka yang mengalami depresi adalah mereka hanya menyembunyikan masalah itu sendiri. Padahal jika memiliki masalah dan menganggap over weight burdens of life, mereka seharusnya menemukan orang yang tepat untuk menolong mereka. Bercerita kepada orang yang tepat paling tidak akan mengurangi beban mereka, jika orang lain memberikan solusi dan jalan keluar maka itu akan lebih baik lagi bagi mereka. Paling tidak dont let yourself think that you are alone and there are no solutions.

Empat tahun yang lalu saya memiliki teman online yang berasal dari South Carolina, US. Dia seorang dosen Bahasa Inggris di sebuah universitas. Usianya masih muda dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dia juga mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, walaupun dia agnosis. Dalam foto-foto yang ada di akun facebooknya, dia terlihat ceria dan memiliki teman-teman yang tulus. Setiap kali saya bertanya padanya tentang Bahasa Inggris, maka dia akan menjawabnya dengan cepat. Sosok pribadi yang menyenangkan.

Percakapan saya dengan beliau yang seringkali saya panggil "Teacher"

alasan kenapa dia mendudkung Palestina


Saya tidak pernah menyangka kalau ternyata dia memiliki depresi yang akut. Beberapa saat sebelum kematiannya, dia mengganti cover facebooknya dengan gambar Evelyn McHale yang kematiannya mendapat  predikat The Most Beautiful Suicide.  Saya bertanya padanya, dan dia memberikan link sebuah grup di facebook yang berisi tentang orang-orang mati. Namun saya tidak berpikir dia akan bertindak nekat. Another case, saya melihat tangannya tergores-gores, namun dia hanya mengatakan "It's only cat's sratch".

Tak lama kemudian, lagi-lagi secara tak sengaja sebuah postingannya seorang temannya lewat di beranda saya, mengatakan "in deep condolence". Ternyata teman saya itu telah pergi. Setelah menelisik informasi, akhirnya didapatkan kabar bahwa teman saya tersebut committ suicide dengan cara menghirup gas. Saya amat sangat tak menduganya. Belakangan, sang ibu menghubungi saya lewat messenger dan mengatakan bahwa anaknya tersebut memiliki depressi yang ditutupinya. 😢😢😢

Saya juga pernah mengalami depresi. Ketika itu segala hal yang saya lakukan saya anggap "useless". Kemana-mana selalu tidak percaya diri dan merasa kalah dari orang lain. Keluarga dan teman saya rasa menganggap saya tak berguna. Mau ngapa2in rasanya salah dan gak nyaman. Bangun salah, tidur salah, aktivitas salah, diam pun salah. Kemudian apa yang bisa saya lakukan? Menangis, menyesali hidup, dan menyalah-nyalahkan semua orang. Hingga pada satu titik berpikiran, die is better for me. Astaghfirullah!

Memang, kebanyakan mereka yang mengalami depressi memiliki solusi singkat : committ suicide alias bunuh diri. Bagi mereka berada di dunia sudah tak ada artinya lagi maka kematian akan mendamaikan mereka. Padahal, andaikan mereka tahu, betapa meruginya orang-orang yang bunuh diri. Tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah masalah.

Mereka yang masih bisa bertahan dari depresi ini mencari jalan penyelesaian dengan mengikuti seuatu yang bisa fresh their mind semisal Yoga, pilates, dll. Walaupun pada kenyataannya banyak juga yang tetap depressi setelah mengikuti hal-hal tersebut.

 Lalu, apa solusinya? Islam sendiri memberikan solusi yang sangat bagus sekali. Tercatat dalam surat Al Baqarah ayat 153 :

 “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Baqarah : 153).

Sholat adalah "ritual" yang sangat bagus jika kita melaksanakannya dengan sangat baik dan penuh kekhusyuan. Meditasi yang waktunya sudah terjadwal dan memberikan kita kekuatan berlipat-lipat. Ditambah lagi dengan dzikir maka akan menghadirkan kedamaian yang luar bisa.


“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Rad'u ayat 28)

Dan semua permasalahan dikembalikan kepada diri kita sendiri. Setangguh apa kita bisa menghadapinya? Apakah kita akan bertekuk lutut di bawah masalah, atau masalah yang akan bertekuk lutut di hadapan kita. Jika kita beriman pada Allah, maka semua janji Nya dalam Al-Qur'an adalah benar. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada seseorang diluar kemampuan dirinya, setiap kesulitan akan ada kemudahan, dan tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya.

Bunuh diri? It's terrible solution! Dalam Islam perbuatan itu dinilai haram dan dibenci Allah. Orang-orang yang bunuh diri, maka arwah mereka tidak akan diterima langit maupun bumi. Jika sudah putus asa sekali maka Allah pun berkata :

" ... Dan, jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (QS. Yuusuf : 87)

Beruntunglah Cat Steven atau Yusuf Islam, yang melarikan kegalauannya sebagai seorang musisi ternama di zamannya dengan berpindah pada Islam. Beruntunglah Kristianne Backer, seorang pembaca acara MTV ternama yang melarikan kegalauannya juga pada Islam. Sehingga mereka tidak termasuk orang-orang merugi yang membuang bakat dan kemampuan mereka dengan sia-sia. Islam membuat mereka damai, tidak menghilangkan stress, tetapi selalu ada solusi yang indah dalam Islam untuk setiap permasalahan yang hadir.

Ah, Bang Chester dan Bang Cornell, sayang sekali ya anugrah yang diberikan padamu itu terbuang sia-sia. Padahal syair-syair yang kalian nyanyikan kadangkala jadi pelecut motivasi saya juga loh! Tapi nyatanya kalian sendiri malah tidak terselamatkan.

Kalian memiliki banyak orang di sekitar kalian yang bisa membantu kalian mengurangi rasa depressi itu tapi kalian malah committ suicide. Sebegitu kesendiran kah kalian? Kalau kalian deket sama saya, saya mau deh dengerin curhat kalian 😅😅

Manusia pada dasarnya memang hanya perlu didengar dan dimengerti. Itulah kenapa Allah menciptakan dua buah telinga dan satu mulut. Agar kita lebih banyak mendengar dan memahami orang lain tanpa perlu berkata-kata. Saya jadi teringat, ketika dulu masih memiliki binaan (halaqoh), setiap di akhir sesi usai qadhaya, saya selalu berpesan pada mereka, " jika kalian memiliki masalah atau apapun jangan segan-segan untuk menghubungi Bang Yas, ya!" Karena saya tahu, pada usia-usia muda masalah itu mulai muncul dan semakin mengakar pada saat bertambahnya umur. Maka dari itu selagi masalah itu belum membesar, masa sedari dini sudah harus ditolong dan dicarikan solusinya.

Allah... Engkaulah tempat segala resah bermuara. Tempat kembali seorang hamba membawa masalah yang dihadapinya, dan kemudian Kau hancurkan masalah itu berkeping-keping. Jangan pernah tinggalkan hamba, Ya Allah..




Rabbana la tuzigh qulubana ba’da iz hadaitana wahab lana mil ladunka rahmah, innaka antal wahab.

“Ya tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah maha pemberi (karunia)”.



Sebuah petikan dari lirik lagu "Somewhere I belong" mungkin pertanda juga dari Bang Chester :

I wanna heal, I wanna feel what I thought was never realI wanna let go of the pain I've felt so long(Erase all the pain 'til it's gone)I wanna heal, I wanna feel like I'm close to something realI wanna find something I've wanted all alongSomewhere I belong

Selamat jalan Bang Chester dan Bang Cornell. My biggest question, Are all of you feeling peace NOW?***(yas)



Bekasi, 22nd of July 2017
@my office, 14.41 pm
Kangen tapi aye gak mau ngomong 😘😘