Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts

Monday, March 19, 2018

The End Of A Journey (Part 1)


Deep meaning of My journey

“Jika hatimu lelah dengan rutinitas kehidupan, ambilah jeda barang sebentar. Lalu nikmati hari-harimu dengan apapun yang ingin kau lakukan. Lakukan apa yang kau mau dan jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaanmu,”


Ahhhhh… Saya lelah! Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah secara batin. Banyak hal yang belum bisa lakukan. Banyak orang yang belum bisa bantu. Banyak murid bermasalah yang belum bisa saya tangani. Banyak kewajiban yang belum bisa saya jalankan.

Lalu sepertinya sekejap kemudian beban itu menjadi bertambah berat dengan adanya omongan-omongan tidak sedap pada setiap hal yang menyangkut diri saya. Tidakkah mereka bisa membiarkan saya menjadi apa adanya tanpa perlu berpura-pura?


“Kapanpun dan dimanapun, akan datang orang-orang yang ingin selalu menjatuhkanmu, Yass. Tak peduli betapa pun sempurnanya dirimu. Mereka akan selalu hadir untuk menghancurkan kepercayaan dirimu dan melukai perasaanmu. Lalu ketika apa yang mereka inginkan sudah terlaksana maka mereka akan pergi dan mencari korban lainnya,”



Lalu bagaimana jika Saya kalah dan mereka menang?


“Jika kau memilih untuk kalah, maka tujuan mereka tercapai. Tinggal kau yang akan mengais lukamu sendiri. Padahal bisa saja kau menolak untuk kalah dan memenangkan pertandingan,”




Ahhhh… Saya seperti jatuh tersungkur. Semua hal yang menjadi beban di hati langsung saja saya tumpahkan pada Allah, agar Dia memberikan saya kekuatan. Bukankah Dia yang Maha Kuat? Lalu darimana kekuatan itu berasal, jika bukan dari Dia?

Untuk mereka yang berusaha menjatuhkanmu dan melukai hari-harimu? Saya percaya Allah akan membayarnya dengan kontan sesuai dengan berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk menjatuhkan orang itu.

Rasanya ingin terus berpikir positif, namun adakalanya pikiran negatif mengambil alih.

Jadilah saya memutuskan untuk melangkahkan kaki saya menuju suatu tempat, tidak jauh, Wonosobo Jawa Tengah. Ke Dieng tepatnya. Semuanya tidak direncanakan. Itenary pun dibuat 2 jam sebelum keberangkatan. Itupun hanya garis besarnya saja. Tiket, penginapan, dll tidak ada yang dibooking, biar semua dilakukan secara on the spot.

Perjalanan ini seperti membawa kenikmatan sendiri bagi saya. Menempuh perjalanan Bekasi – Wonosobo kurang lebih 9 jam (yang nyaris saja gagal berangkat), saya berusaha menikmatinya. Bertemu dengan seorang Ibu yang asli Wonosobo namun bekerja di Jakarta. Lalu kami mengobrol ngalor ngidul. Ah, serius, kalau bertemu dengan “ibu-ibu” bawaannya saya ingin mencium tangannya saja, lalu menangis mengenang Ibu saya.

Menuju Dieng pun saya menikmati perjalanan di mikrobis bertemu dengan ibu dan bapak petani dengan gembolan besarnya, atau keranjang sayurnya. Walaupun saya tidak paham Bahasa Jawa namun saya berusaha untuk menikmati guyonan-guyonan mereka. Saat saya terlihat pucat karena jalanan yang berkelok-kelok dan sopir yang mengerem mobil dnegan tidak baik, maka seorang Ibu memberikan saya permen.

Ketika sampai di Dieng, saya berjalan kaki menyusuri banyak rumah dan tempat homestay hingga saya menemukan satu tempat yang menurut saya sangat nyaman. Walaupun hanya sebuah hostel dengan 4 bunk bed, namun pada kenyataannya saya berada di kamar sendiri. Saya menikmati sendirian di kamar. Menulis buku diary, tilawah, mendengarkan musik ataupun tidur berselimut tebal untuk menahan dingin udara Dieng.

Mengelilingi Dieng pun saya ditemani oleh Mas Udin, seorang sopir mobil yang katanya baru pertama kali ini mengantar pakai motor. Dia juga yang mengambil foto-foto untuk saya di beberapa tempat. Jadilah, sebagai sopir ojek beliau merangkap sebagai fotografer saya. Hehehe… Tidak banyak tempat yang saya ingin datangi, yang terpenting saya bahagia dan senang berada di tempat itu. Bahkan ketika menanjak menuju Batu Pandang (spot tertinggi untuk melihat Dieng), saya menambahkan rasa syukur pada berat badan saya yang belakangan ini terus menyusut. Walaupun medannya tinggi, hujan deras, dan nafas yang terengah-engah karena menahan dingin, tetapi tubuh kurus saya mampu membawa saya ke atas bukit itu. Tidak terbayangkan jika tubuh saya masih gemuk, mungkin saya akan menyerah terlebih dahulu sebelum sampai puncaknya. Alhamdulillah, datangnya masalah dari murid-murid yang membuat saya malas makan membuat tubuh saya kehilangan beberapa kilo. 

Di balik foto yang bagus ada usaha yang bagus pula


Saat bangun jam 4 pagi, menuju Golden Sunrise Sikunir pun, lagi-lagi saya merasa bersyukur. Tidak terbayangkan jika perjalanan saya ini bukan tentang masalah menemukan semangat saya lagi, maka mungkin saya akan lebih memilih bergumul dengan selimut untuk menghalau dinginnya udara Dieng.

Sesampainya di Bukit Sikunir pun, ketika semua orang terlena dengan foto-foto dan memanfaatkan alam untuk membuat foto menjadi lebih bagus, saya lebih senang memutar musik lewat headphone lalu merenungi tentang ciptaan Allah yang berupa Matahari yang sebelum muncul didahului dengan garis horison. Lalu ketika matahari itu muncul perlahan, ketika orang-orang semakin heboh dengan foto-fotonya, maka saya malah menangis. Menangis untuk kesempatan menikmati Sunrise yang di Jakarta tidak bisa dapatkan. Lalu menangis ketika mengingat, bahwa suatu hari sinar itu akan punah dan matahari tidak akan muncul lagi. Allah, Engkaulah yang menciptakan apa yang ada menjadi tiada. 

Sunrise di Sikunir


Saya sungguh menikmati perjalanan saya kali ini. Berinteraksi dengan orang lain dan menjalankan apa yang ingin saya jalankan. Tidak terikat dengan dengan itenary yang super detail ataupun “mewajibkan” diri ke spot-spot tertentu. Saya hanya menikmati setiap langkah yang saya lakukan dan menikmati sapaan-sapaan dari setiap orang yang berinteraksi dengan saya. Bahkan saya yang biasanya super rempong untuk urusan kenyamanan, mencoba menerima apa yang saya dapatkan. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya berusaha untuk membuatnya menjadi nyaman. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan keinginan saya, maka alih-alih meluapkan emosi, saya hanya berusaha untuk mengambil nafas panjang dan berbisik “Lord knows what’s best for you!”.
“I start my journey when You forgive me
I swear my whole world stops.
You are in my heart and, I’m so glad that its fine
You are One truly kind…”



-With You, Raef-

Semakin saya yakin kalau Allah menginginkan saya berjalan di muka bumi, selain untuk mengenal ciptaan-Nya, juga agar saya semakin menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Lalu, bersyukur untuk yang saya dapatkan setiap harinya. Ketimbang membandingkan kehidupan saya dengan orang lain, Allah menginkan saya untuk menerima apa adanya apa yang sudah menjadi catatan rizki saya. Sehingga syukur yang saya lakukan akan membuat nikmat-Nya bertambah. Allah, adakah ketenangan yang kudapatkan selain dari diri-Mu?


Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu"

QS. Al – An’am ayat 11


Maka saya memutuskan untuk bahagia. Saya memutuskan untuk menikmati hari-hari saya. Saya memutuskan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitar saya. Saya memutuskan untuk menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya. I only live once! Maka jika sudah tiba akhir perjalanan hidup saya, maka saya tidak akan menyesali apapun. Menumbuhkan cinta dalam hati lalu memberikan yang terbaik bagi semua orang adalah perbuatan terpuji yang sering dilakukan oleh

Rasulullah SAW. Lalu bagaimana sikap kita dengan orang-orang nyinyir yang suka mencela? Biarkan mereka mencela dan nyinyir jika bisa membuat mereka bahagia. Biarkan apa yang mereka lakukan itu sebagai pembelajaran dan menjadikan kita lebih kuat. No words can’t bring me down!


Your heart is too heavy from things you carry a long time,
You been up you been down, tired and you don't know why,
But you're never gonna go back, you only live one life
Let go, let go, let go


-Live Like A Warrior, Matisyahu-

Sesungguhnya hidup hanya sekejap mata saja, maka jika kita tidak menikmatinya maka sungguh terasa sia-sia. Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan yang akan berhenti pada suatu titik bernama kematian. Berdoalah untuk kematian yang damai, tenang dan khusnul khotimah. Insya Allah***(yas)





Yogyakarta, 19th of March 2018 
@Balai Kopi Jogokarian, 17.02 
Kangen dan rindu semoga cepat berlalu.





Motto Buya Hamka yang saya temui di sebuah kedai kopi


Menikmati pemandangan dari atas setelah bersusah payah menanjak

Sunday, December 24, 2017

Review Ayat-ayat Cinta 2 : Antara Tetap Setia atau Melupakan Masa Lalu

Pilih yang mana ya?

"Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" 
 (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Setelah hampir 10 tahun sejak film pertamanya muncul, akhirnya Ayat-ayat Cinta 2 kembali hadir di bioskop mulai tanggal 21 Desember. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket di hari pertama pemutarannya yang hampir semua bioskop full house. Keuntungan nonton sendiri, ya itu, bisa dapat kursi walaupun bioskop sudah penuh. Hehehe…

Saya ingat tahun 2008, animo masyarakat begitu antusias dengan kehadiran film yang dilabeli “islami” ini. Saya yang saat itu gak pernah ke bioskop akhirnya kembali nonton ke bioskop. Waktu itu usai mengaji mingguan yang selesai pukul 11 malam, saya bersama seorang teman menonton A2C jam 23.45 di Setiabudi 21. Kemudian saking sukanya sama film ini nonton untuk kedua dan ketiga kalinya. Walaupun saya tidak habis membaca novelnya, tapi bagi saya film ini sangat bagus pada zamannya. Sempet ngedumel juga sih dengan beberapa pemain filmnya yang menurut saya kurang cocok, tapi tetap saja film ini masuk kategori bagus bagi saya. Oiya, karena film ini pula saya jadi rajin ke bioskop. Hahaha…


 
Poster film A2C2 yang ada dimana-mana (mahal boo)


Film A2C2 kali ini hampir 80% mempunyai karakter yang berbeda. Fahri tetap diperankan oleh Fedi Nuril (and he’s acting so well), Aisha kali ini bukan diperankan Riyanti Cartwright melainkan oleh Dewi Sandra. Peran tambahan yang baru ada di novel keduanya adalah Hulusi (diperankan Pandji P), Hulya (Tatjanan Saphira), Keira (Chelsea Islan), Misbah (Arie K. Untung), Nenek Chatarina (Ade Irawan), Brenda (Nur Fazura), dan lainnya. Sutradaranya pun berganti ke Guntur Soeharjanto dari sebelumnya Hanung Bramantyo. Kali ini Kang Abik turut mengawasi pembutan film ini.

Kisah dibuka dengan suasana konflik di Palestina. Aisha berada di daerah yang sedang dibombardir oleh Israel itu. Scene pun berganti saat Aisha terjatuh. Selanjutnya digambarkan kehidupan Fahri yang sekarang sudah menjadi Professor di Universitas Edinburgh. Kehidupan Fahri begitu sempurna, harta yang banyak, rumah yang mewah, usaha yang banyak, teman-teman yang baik, otak yang cerdas, dan banyak dikagumi oleh wanita. Inilah yang akhirnya menjadi konflik utama dalam film ini, hubungan Fahri dengan wanita-wanita itu. Sementara Fahri berusaha setiap dengan Aisha yang kondisinya tidak diketahui, namun wanita-wanita itu terus berada di sekeliling Fahri. Terus setia atau melupakan masa lalu. Cerita pun ditambahi dengan bumbu-bumbu rasisme, konflik Palestina-Israel dan hubungan antar manusia. Jika sudah membaca novelnya pasti akan mudah langsung menebak akhir dari cerita ini. Kalau saya, sebelumnya googling dulu cari spoiler isi bukunya jadi secara garis besar sudah tau isi ceritanya. Hehehe…

 
Foto "keluarga" jaman now. Btw, TS cantik ya pake hijab.

Dari film ini ada beberapa catatan dari saya baik kelebihan maupun kekurangannya. Berikut yang menjadi catatan saya :


KELEBIHAN

1. Film ini berani mengangkat isu Palestina – Israel yang secara kebetulan kondisinya sesuai dengan keadaan sekarang. Hal ini menurut saya cukup BERANI, karena PH yang memproduksi film ini adalah PH terkenal. Jarang-jarang ada PH yang mau menampilkan masalah dunia islam. Bagi Mas Guntur ini adalah film keduanya yang mengangkat isu Palestina setelah film “Jilbab Traveler Love Sparks In Korea”. Fahri menggambarkan muslim yang sangat toleransi terhadap agama apapun. Bahkan ada adegan yang Fahri menyebutkan, “Bukan Yahudinya yang kita benci, tetapi gerakan Zionis nya”. Itu bagi saya keren bingits! Lalu saat Baruch mengusir ibu tirinya, Chatarina, Fahri yang datang dan menolongnya. Padahal awalnya Chatarina sangat jutek pada Fahri. Pada saat debat pun Chatarina yang Yahudi yang menolong Fahri dari tuduhan Baruch. Pokoknya scene ini informatif banget deh!


2. Sinematografi yang ciamik. Entah kenapa kalau Mas Guntur yang jadi sutradara, saya selalu terhibur dengan gambar-gambar yang ada di filmnya. Pengambilan gambarnya indah dan suasananya asyik banget khas Mas Guntur banget deh. Mas Guntur berhasil menggambarkan Kota Edinburgh yang klasik, indah dan nyaman. Seorang teman yang dulu pernah kuliah di Inggris sampai baper saat menonton film ini, pengen kembali ke Edinburgh. Tapi benar ciamik apa yang ditampilkan di film ini. Lagi-lagi jadi bikin saya mupeng kesana.


3. Akting yang keren. Akting paling keren menurut saya adalah Fedi Nuril, yang hampir setiap scene sedih dia menguarkan air mata secara alami. Jadinya saya yang nonton ikutan sedih. Akting Tatjana Saphira, Chelsea Islan, dan Dewi Sandra juga bagus tapi menurut saya belum istimewa. Sebagai perbandingan yang disebut istimewa menurut saya adalah akting Laudya Cintya Bella di Film Surga Yang Tak Dirindukan. Akting mencuri perhatian justru datang dari Nur Fazura (kali ini bukan Nora Danish lagi yang dipakai) aktor asal negeri jiran yang walaupun kebagian peran kecil tapi bagi saya sangat memorable. Akting Pandji dan Arie juga bagus termasuk pula akting Ade Irawan. Tapi tetap belum istimewa. Catatan lainnya, akting para pemain bulenya pun tidak ada yang kaku. Beda dengan film BTDA yang menurut saya akting para bule nya “aneh”. Bahkan Milene Fernandez berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan logat british yang menambah totalitas akting mereka.


4. Jalan cerita lancar dan mengalir. Nonton film A2C2 kali ini saya bener-bener gak pengen selesai. Seperti membaca buku yang difilmkan. Cerita mengalir lancar dan menarik. Tidak banyak adegan-adegan yang menurut saya tidak perlu. Sampai di akhir cerita pun terus mengalir dan lancar tanpa hambatan. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya “ilogical” tapi untuk penonton umum mungkin masih bisa diterima.


5. Sarat hikmah. Udah gak perlu diraguan lagi kalau ini ya. Secara yang nulis kan Kang Abik, lulusan Al Azhar Mesir. Adegan sarat makna yang paling saya suka adalah saat Fahri sudah hampir putus asa dan dia meminta nasehat kepada Misbah di pelataran masjid. Juga saat seorang Imam yang bacaannya salah, diperbaiki oleh Fahri dan Imam itu tidak marah melainkan malah berterima kasih (padahal itu Imam Besar). Hal ini semakin menggambarkan bahwa Islam itu indah (jama'ah oh jama'ah...).


Nah, selanjutnya ini beberapa kekurangan yang saya temukan dalam film ini :

KEKURANGAN 

1. The Too Perfect Fahri. Tokoh Fahri bagi saya terlalu sempurna dan hanya akan ada di kehidupan novel saja (wajar ya, kalau penulis bisa melakukan apa saja dengan si tokoh). Sudah ganteng, pinter dan kaya pula. Setiap hal yang dilakukan Fahri pasti baik. Selain itu Fahri juga setia. Dia masih susah beranjak dari Aisha yang entah masih hidup atau sudah tiada. Kehadiran Hulya, Brenda dan Keira pun tak lantas membuat Fahri menjadi centil pada wanita-wanita itu, sebaliknya Fahri malah merasa risih dan menjaga jarak. Maka tak heran ketika Fahri meminang Hulya, tidak banyak penonton yang mempermasalahkan poligami ini. Padahal kalau karakter Fahri digambarkan jahat dan kejam, udah pasti langsung kena perundungan. Hehehe.


2. Beberapa jalan cerita yang dipaksakan. Misal ketika Sabina menjadi asisten rumah tangga di rumah Fahri, masa iya, Fahri tidak mengenali kalau itu Aisha? Padahal tokoh Sabina gak terlalu ketutup banget, malah matanya terlihat jelas. Masa sih Fahri tak mengenali mata istrinya cuma gegara istrinya sudah menjadi buruk rupa (kalau di film buruknya gak terlalu ketara sih). Katanya si Fahri cinta…hehehe. Kemudian saat Hulya meminta Aisha untuk face off wajah, apa iya penampilan itu yang paling utama sehingga Aisha yang berwajah buruk mesti cantik dulu agar cocok sama Fahri? Dan hasil face off nya yang 100% sama dengan wajah Hulya ditambah proses face off nya yang cepet bingits! Bagi penonton kritis seperti saya mungkin ini amat sangat mengganggu. Tapi dibandingkan dengan keseluruhan cerita, mungkin hal ini bisa tertutupi dengan baik.


3. Musik yang megah, penuh diva tetapi forgetable. Untuk sountrack film kali ini, pihak PH sampai meminta 4 diva terkenal, Raisa, Krisdayanti, Rosa, dan Isyana Saraswati. Tapi menurut saya lagunya belum ada yang makjleb. Berbeda saat A2C 1 yang hanya diisi Rosa dan Sherina, lagu-lagunya sampai sekarang pun masih terngiang dengan jelas. Sountrack nya yang sekarang memang mewah sih tapi bagi saya forgetable.


4. Ada adegan yang gak banget. Dan adegan ini ada di film A2C 1 maupun yang sekarang, yaitu adegan usai Fahri dan Hulya sholat sunnah bersama (saya gak mau jelasin maksudnya apa ya). Bagi saya itu langsung ngerusak isi film. Pentingnya apa dan apa perlu digambarkan seperti itu? Apalagi ini film Islami loh! Banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton juga menambah ke “enggak banget” an adegan ini. Kalaupun di cut kayaknya gak akan mengganggu jalan cerita deh.


Secara keseluruhan film A2C2 ini masuk kategori bagus dan layak ditonton. Tentu saja film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena mereka bakalan ruwet dengan masalah cinta orang dewasa. Hahaha… Mewahnya film ini memang dapet dan sepertinya budgetnya gila-gilaan. Promosinya pun gak kalah gila. Itu poster film ada mulai dari di bilboard gede, kereta api, dll. Iklannya pun berseliweran di tivi-tivi nasional jadi gak akan mengherankan jika film ini nanti bakalan tembus 1 juta penonton. Mudah-mudahan aja bukan cuma kemewahannya aja yang di dapat oleh penonton tetapi hikmah yang ada di film ini juga bisa ditangkap.

Sekarang saya kasih score untuk film ini :

Akting 8.5/10
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.8/10


In the end, wajiblah ya bagi kita mendukung film-film Indonesia yang sehat dan bagus. Apalagi film ini berlabel “islami” jadi mesti banget didukung. Bukan malah menjelek-jelekkan atau mengajak orang untuk tidak menonton film ini. Beberapa kekurangan wajarlah ya, asalkan secara umum jalan ceritanya masih bagus dan dapat diterima. Saya sendiri merekomendasikan untuk menonton film ini. Yuk, nonton film ini dan bagi anda yang suami istri bisa-bisa jadi tambah lengket. Sedangkan bagi yang sendiri, siap-siap baper dan caper ya! Lol***(yas)





Bogor, 24th of December 2017
@RiceBowl BSB, 17.26 pm
Selamat ulang tahun Kendryo sayaangg….



 
Film kali ini diangkat dari buku AAC2 yang laris manis bak kacang goreng.


Tuesday, November 28, 2017

Review Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak : Antara Sup Ayam, Kepala Buntung dan Curhat Para Feminis

Kill Bill versi Indonesia


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”
(HR Muslim: 3729)

***

Pernah menonton film-film karya Quentin Tarantino? Kill Bill, misalnya, di mana seorang wanita yg dikhianati oleh teman-temannya menuntut balas dan membunuhi mereka semua satu persatu. Dalam film MSPD4B tampaknya sutradara Mouly Surya terinspirasi dengan gaya penyutradaan ala Quentin Tarantino. Beberapa unsur musik, yg salah satunya memasukkan musik suasana khas koboi, atau suasana gersang namun indah, juga pernah saya saksikan di beberapa film QT yg ada di film MSPD4B. Berikut Saya akan mengulas sedikit tentang film ini.


Marlina baru saja kehilangan suami dan anaknya saat Markus, seorang perampok datang dan berencana memperkosanya bersama teman-temannya yang lain yang akan datang ke rumah Marlina. Jenazah sang suami belum lagi dikuburkan karena Marlina masih mengumpulkan uang untuk upacara adat kematian suaminya tersebut. Mayat itu dibiarkan Marlina duduk memeluk kakinya (yang sepertinya menjadi adat dari masyarakat Sumba untuk mendudukkan mayat hingga upacara adat dilaksanakan) di sudut ruangan rumahnya. Ketika teman-teman Markus datang, Marlina memberikan sup ayam sesuai permintaan Markus. Tanpa dinyata mereka, Marlina telah mencampurkan racun ke dalam sup ayam tersebut dan langsung menewaskan 4 teman Markus yang memakannya. Namun saat dia hendak mengantarkan sup ayam untuk Markus yang sedang tidur di kamarnya, tanpa sengaja sup tersebut tumpah saat Markus terbangun ketika Marlina hendak memberikannya. Markus pun menistakan keperawanan Marlina. Tak disangka ternyata Marlina telah mempersiapkan parang yang dengan sekali tebas, kepala Markus pun jatuh ke lantai. Selanjutnya, Marlina ingin mengadukan perbuatan Markus dan kawan-kawannya kepada polisi. Dia pergi dengan membawa kepala Markus. Dalam perjalanannya inilah penggalan kisah Marlina dimulai. Mulai dari bertemu Novi, Franz, dan sebagainya. Untuk lengkapnya saksikan sendiri di bioskop ya!


Selamat makan malam! Enak gak sup nya?


Film ini mengangkat tema woman violent yang marak terjadi pada wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah. Marlina digambarkan sebagai pribadi malang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Dia baru saja kehilangan anak dan suaminya, lalu kedatangan perampok yang menginginkan kehormatannya. Para lelaki di film ini pun digambarkan sebagai lambang superior di mana wanita hanyalah sebagai objek seks dan ketidakberdayaan saja. Hadirnya film ini selain ingin menampakkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, juga sebagai lambang perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan selama ini. Sehingga film ini bisa dikatakan "teriakan" para wanita agar nasib mereka lebih diperhatikan.


Beberapa kelebihan di film ini yang berhasil saya tangkap adalah :


1. Cinematografi yang sangat bagus.
Penggambaran kehidupan Marlina yang sendirian serasa berdampingan dengan alam Sumba yang kering namun indah. Setiap scene menggambarkan padang stepa luas dengan daun-daun yang menguning. Penggambaran ini mengingatkan saya akan film "Aisyah Biarkan Kami Bersaudara" yang juga memakai latar belakang NTT. Sutradara dan sinematografer berhasil memadukan kekuatan akting dengan lingkungan sekitar yang membuata mata dimanjakan dengan gambar yang indah selama film berlangsung.

2. Akting yang menawan.

Beberapa aktor yang hadir di film ini menyuguhkan akting yang sangat menawan. Marsha Timothy, misalnya yang diganjar sebagai best actreess dalam sebuah festival film di Catalonia, Spanyol. Marsha berhasil menggambarkan sosok Marlina yang nestapa namun tidak cengeng dan tetap tegar. Ditambah lagi akting pemeran pembantunya, Dea Panendra yang berperan sebagai Novi, juga menampilkan karakter yang lugu, teguh pendirian dan polos. Dia melengkapi perlawanan Marlina dengan ikut menolong Marlina di scene terakhir. Hampir dari semua aktor yang berada di dalam film ini menampilkan karakter yang baik termasuk pemeran sekilas semacam Tofan si gadis kecil anak pemilik warung makan, mamak yang akan menghadiri pernikahan keponakannya, dll.


3. Berani mengungkapkan fakta yang banyak terdapat di Indonesia.
Beberapa adegan di film ini mengungkapkan fakta-fakta yang ada di Indonesia. Karena film ini mengangkat tentang perempuan, maka isu yang dikemukakan sudah tentu menyorot penderitaan kaum perempuan. Misal, bagaimana orang yang sudah menderita seperti Marlina, harus menanggung "perayaan" kematian suaminya padahal hutang dari kematian anaknya juga belum lunas. Di tengah himpitan ekonomi seperti itu sepertinya "adat" tetaplah sesuatu yang penting, padahal makan untuk besok saja belum tentu ada. Sehingga masyarakat terkesan memaksakan apa yang sebenarnya mereka tidak mampu.


Fakta berikutnya adalah superior laki-laki terhadap perempuan yang hanya dilihat (kebanyakan) sebagai objek seksual saja. Ini digambarkan saat Markus dkk ingin merenggut kesucian Marlina dengan kalimat yang intinya, "Kamu akan menang banyak malam ini, Marlina!" Juga saat Franz ingin memperkosa Marlina di scene akhir, padahal Marlina sudah berbaik hati mengembalikan "kepala" Markus. Termasuk saat Novi dengan kehamilan 10 bulannya yang belum keluar juga yang membuat Ambu, suaminya, marah dan meninggalkannya. Ambu pun percaya bahwa anak yang dikandung Novi tidak bisa keluar karena Novi berselingkuh. Ya, walaupun di jaman sekarang ini faktanya banyak perempuan juga yang sengaja "menjual" dirinya demi kenyamanan, tetapi tidak sedikit pula yang merasa penghargaan diluar seksualitas itu lebih tinggi. Maka dari itu timbullah emansipasi wanita yang menginginkan keadilan dan kesamarataan dengan laki-laki.


Fakta lain yang diangkat dalam film ini adalah kebobrokannya sistem kepolisian. Saat Marlina sampai di kepolisian, dia harus menunggu lama agar laporannya dibuat karena para polisi itu sedang "sibuk" bermain pingpong. Pada akhirnya saat salah seorang polisi itu menerima laporan Marlina, itu pun hanya sekedar ink on the page, sekedar menerima aduan masyarakat saja. Marlina bahkan disalahkan saat tidak melawan Markus yang digambarkan olehnya kurus dan kecil.


4. Musik etnik yang menarik.

Film tanpa musik mungkin tidak akan menarik. Film MSPD4B ini menjadi semakin menarik dengan musik etnik yang khas selama adegan berlangsung. Adanya musik ini menguatkan ke-Indonesia-an dari film ini. Dalam beberapa bagian bahkan tokoh Franz bersenandung dengan bahasa Sumba.


Beberapa hal inilah yang menurut saya menjadi kekuatan dari film MSPD4B. Mouly Surya berhasil mengangkat isu yang sering diteriak-teriakkan kaum feminis. Walaupun ada beberapa tanya juga di benak saya, namun itu mungkin tidak terlalu kentara.



Siapa yang mau jadi korban berikutnya?


Sekarang beberapa kekurangan film ini yang berhasil saya tangkap :


1. Alur yang lambat.
Semua adegan dari Marlina membunuh Markus sampai Marlina akhirnya balik kembali ke rumahnya untuk menolong Novi yang disandera Franz hanya dilakukan kurun dalam waktu 24 jam. Padahal Marlina sudah berjalan jauh naik truk, lalu dilanjutkan berkuda (kudanya jalan ya, bukan berlari seperti di film koboi) semuanya seperti tidak masuk akal karena dilakukan hanya 24 jam. Mungkin jika Marlina naik motor pulang balik, masih masuk akal. Namun berkuda yang kudanya juga hanya jalan lalu berhasil kembali ke rumahnya dengan mampir dulu ke restoran Tofan, tidur siang bersama Tofan, dll agak mustahil dilakukan dalam 24 jam saja.


2. Beberapa hal yang tidak masuk akal.

Selama berjalan Marina terus menjinjing kepala Markus tanpa kebauan. Begitu juga saat orang-orang yang ditemani Marlina tidak merasa kebauan dengan bangkai kepala itu. Padahal saat Franz dan Niko, dua perampok lainnya, masuk ke dalam rumah Marlina, Franz sampai muntah-muntah. Ini penggambaran bahwa dia kuat atau gimana saya kurang paham. Marlina juga menemukan peti yang akhirnya dijadikan tempat menaruh kepala Markus. Adegan kepala itu ada di dalam peti juga saat dia berjalan bersama kuda tanpa pelana. Semakin mustahil saja.

Adegan lainnya, pakaian Marlina masih bersih padahal kepala itu sempat didudukkan di atas pangkuannya. Detil mungkin, tapi bagian ini justru yang membuat saya bertanya-tanya. Marlina juga lewat dari pandangan Franz dan Niko yang mengejarnya dengan sepeda motor saat truk yang membawa Marlina berhenti untuk buang air. Supir truk tersebut pun seakan dengan mudahnya menjadi pembela Marlina, padahal awalnya mereka sempat adu mulut.

Bagi saya detil seperti itu penting demi menjaga jalan cerita yang tetap masuk akal dan sesuai nalar.


3. Sosok yang lemah sekaligus kuat (membingungkan).
Marlina awalnya digambarkan sebagai wanita yang lemah yang dengan begitu saja menerima kedatangan para perampok. Satu hal yang saya herankan, saat Marlina hendak digagahi oleh Markus dia tidak mencoba melawan sekuat tenaga malah dia berada di posisi "woman on top". Bagi wanita yang sedang diperkosa rasanya aneh dengan hal seperti itu. Walaupun kemudian dengan posisi itu Marlina berhasil menebas leher Markus. Tetapi tetap saja menurut saya adegan seperti itu bukanlah adegan penting. Bisa saja Marlina berlari dan mengambil parang kemudian langsung menebas leher Markus tanpa perlu Markus menggagahi nya. Di lain kesempatan, Marlina malah tidak berdaya saat akan digagahi Franz. Bisa saja sebelum Franz sempat menggagahinya, dia sudah menebas leher Franz terlebih dahulu kan? Bagi saya karakter ini malah membuat bingung peran Marlina sendiri, sebagai wanita lemah tertindas atau wanita kuat?


4. Banyak adegan yang tidak perlu.

Beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu salah satunya adalah adegan pemerkosaan yang dilakukan Markus kepada Marlina. Bagi saya itu "gak Indonesia banget!". Sutradara seharusnya bisa menginterpretasikan hal tersebut dengan sesuatu yang lain tanpa harus secara vulgar menyajikan hal seperti itu. Tanpa hal itu pun sepertinya film akan tetap lancar, misal dengan langsung masuk ke adegan menebas leher Markus. Bagi saya adegan ini adalah "tempelan" dan "pemanis" film saja yang tanpa divisualkan pun bukan masalah besar. Film ini layaknya film Hollywood kebanyakan yang memasukkan unsur "sex" dalam film-film mereka. Sangat disayangkan film sebagus ini, bagi saya, menjadi "rusak" dengan adegan tak penting itu. Padahal jika adegan itu tidak ada maka cakupan penonton film ini bisa lebih luas lagi. Contoh saja film PASIR BERBISIK besutan Nan T.Achnas yang bagus tanpa perlu memasukkan unsur seksualitas.

Adegan lainnya yang menurut saya mengganggu adalah ucapan-ucapan kotor, yang walaupun ini adalah fakta yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, namun seharusnya Sutradara bisa meramunya dengan sesuatu yang lebih bermakna. Disini ungkapan-ungkapan seputar ranjang pun kerap dibicarakan, semisal saat Novi dan Marlina berdialog di truk atau saat mereka berdua sedang buang air kecil. Sehingga secara tidak langsung, lagi-lagi film ini mengangkat unsur "sex" agar lebih laris. Makian mungkin masih bisa saya maklumi, tetapi untuk hal-hal berbau seksualitas, di negara Indonesia mungkin tidak. Ya, kecuali jika film ini memang pangsa pasarnya adalah luar Indonesia. Oiya, adanya kucuran dana dari Perancis mungkin juga memengaruhi idealisme film ini.


5. Terlalu Quentin Tarantino

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas jika film ini sangat QT. Unsur-unsur yang membuat saya bisa menyimpulkan hal ini adalah pengambilan gambarnya, kekelamannya, dan yang paling jelas pemenggalan babak dalam film ini yang memakai judul besar pada pergantian babak. Pemakaian judul itu mirip sekali dengan film Kill Bill, ketika QT memenggal setiap adegan untuk Beatrix pada setiap musuh yang dihabisinya. Namun, sutradara berhasil mengambil gambar yang ciamik yang menggambarkan suasana indah Sumba.


Kesimpulannya adalah film ini adalah teriakan kaum Feminis akan penindasan yang terjadi pada wanita. Untung saja sutradara tidak terjebak membawa film ini dengan mengaitkan pada agama tertentu (seperti yang terjadi di film NAURA DAN GANK JUARA). Kalaupun ada tentang agama, itu hanya sekedar saran dari Novi saja tetapi tidak menyinggung. Para feminis memenangkan tokoh wanita yang berhasil keluar dari intimidasi para lelaki.

Dalam agama yang saya anut, Islam, wanita memiliki kedudukan yang penting dan keberadaannya sangat dihargai bukan sekedar berkembang biak saja. Para lelaki diharuskan menghormati wanita dan memuliakan mereka. Al-Qur'an sendiri memasukkan banyak surat yang bertemakan tentang wanita, semisal surat An-Nisa. Jikapun dalam realita modern sekarang ini banyak penindasan terhadap wanita muslim, bisa dipastikan mereka tidak menjalankan Islam secara baik. Untuk memukul saja Rasulullah melarangnya, apalagi sampai menganiaya. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah feminisme karena semua hak wanita terjamin dengan baik.

Sedangkan untuk korban pelecehan dan KDRT seperti yang dialami Marlina, menurut saya solusinya adalah perlawanan dari diri si korban terlebih dahulu. Orang lain mungkin bisa saja membantu, tapi jika tidak ada "will" dari korban akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Perlawanan adalah salah satunya. Seperti yang diperlihatkan Marlina, ketika dia menjadi korban superior dari para lelaki perampok itu, dia melakukan perlawanan dengan membuatkan sup beracun dan memenggal kepala Markus. Novi pun melakukan perlawanan yang sama, saat sang suami memukulnya, dia melakukan perlawanan. Korban diluar sana mungkin tidak setangguh Marlina dan Novi, disitulah fungsinya LSM yang memberikan dukungan untuk para korban bukan malah mengompori korban dan mengambil alih segalanya dengan merasa yang paling tahu.

Film ini memang seharusnya masuk kelas festival ke festival bukan komersial. Dan bagi saya, hanya cocok ditonton orang dewasa serta movie maniak yang suka menonton film-film absurd semacam ini. Jika anda bukan pencinta film, sudah bisa dipastikan film MSPD4B ini boring as hell.***(yas)


Nilai :
Akting 8/10
Skenario 8.5/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.3/10




Jakarta, 28 November 2017
@myroom 21.11 pm
Selesai dalam dua hari. lamonyooo...








Saturday, November 18, 2017

Jatuh Cinta Pada Puisi (Duka Sedalam Cinta Seorang Wanita yang Menari dengan Puisi)

My Best friend is myself, I don't need nobody else to be there for me, care for meand for my best time is to be all alone and sit thinking I'm in love with me
-Meja-

Dua buku yang membuat saya menari dan bersedih

Buku puisi? Kalau pertanyaan ini ditujukan waktu zaman putih abu-abu mungkin saya akan menggelengkan kepala dan bilang, "Thanks!". Bagi saya baca buku puisi yang penuh filosofi tersembunyi dan pesan-pesan intristik itu bikin mumet. Baca buku itu kan buat penyegaran ya, bukan malah bikin pusing. Jadilah zaman-zaman itu saya anti banget baca buku puisi. Baca puisi oke, tapi kalo baca buku puisi, gak deh.

Baru kemudian saat saya masuk jurusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai menyukai puisi. Puisi yang saya sukai juga puisi yang simpel dan gak ribet. Waktu itu saya jatuh cinta dengan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono. Puisi beliau simpel, sarat makna, ngena di hati dan daleeemmm.... Pemakaian diksi dan majas nya pun tidak berbelit-belit dan njelimet. Ditambah lagi puisi SDD kebanyakan romantis jadinya semakin asyik deh. Saya pun melahap buku kumpulan puisi beliau yang menjadi salah satu buku puisi favorit saya, "HUJAN BULAN JUNI".

Saya pun memulai memburu puisi-puisi yang saya kategorikan "gak njelimet" ini. Saya mendapatkan buku kumpulan puisi lainnya, namun saya lupa judul dan pengarangnya. Kalau tidak salah judul bukunya SYUHADA tapi saya lupa nama pengarangnya (Poor me). Saat saya pulang ke Jakarta, maka Perpustakaan Daerah Jakarta yang terletak di Kuningan menjadi tempat favorit saya untuk membaca buku kumpulan puisi. Selain membaca buku2 itu, saya juga menyalin beberapa yang menjadi favorit di dalam buku diary dan kadang pada saat teman, sahabat, berulang tahun tak lupa saya menyelipkan kutipan-kutipan puisi itu. Untuk penyair luar yang saya suka adalah Edgar Allan Poe. Kutipan-kutipan puisi beliau selalu setia menempel di binder favorit saya.

Saya pun belajar membuat puisi. Ya, masih abal-abal sih. Kadang membuat puisi ini bisa sangat produktif saat sedang.................. patah hati! 😆😆  Bisa produktif banget! Atau ketika pas jatuh cinta. Hadeeehh....mikirin si dia itu bisa jadi berlembar-lembar puisi deh...hahaha...

Saya sempat juga membukukan kumpulan puisi alay saya tersebut secara pribadi. Judul puisi utamanya pas lagi hopeless banget sama seseorang...hahaha... dan saya kasih ke gebetan saya...😅😅 maksud hati biar dia peka tapi nyatanya dia malah gak peka-peka...hahaha... nasib banget ya!

Sayangnya kumpulan puisi tersebut bersatu dengan PC saya yang hardisknya rusak. Saya sepertinya juga menyimpannya di dalam sebuah disket (OMG, jadulnya!) namun you know kan, zaman sekarang mana bisa disket itu diselamatkan. Hardisk saya yang rusak pun juga tak bisa diselamatkan bersama dengan sebuah naskah novel kurang lebih 250 halaman 😭😭  Beberapa memang ada yang masih tertera di dalam buku-buku catatan saya. Namun ya itu tadi, masih puisi ala-ala yang alaynya minta ampun. Sempat saya publikasikan via blog dan catatan facebook saya, tapi ya sepi komen dan respon..hahaha...

Sejak itulah hidup saya penuh dengan puisi-puisi yang sederhana namun menyentil dan menyentuh. Jangan lupa faktor melow dan memotivasi juga penting jika saya membaca sebuah puisi. Puisi yang berisikan kemolekan tubuh ataupun cinta-cinta yang tanpa didasari kecintaan pada-Nya, bagi saya adalah gak banget! Karena membaca puisi itu berarti meresapi makna, menggelayuti perasaan, menciptakan momen, dan menari dalam imajinasi diri kita sendiri. Bebas, lepas dan tanpa terikat dengan norma-norma. Menciptakan sesuatu imajinasi yang liar di dalam benak kita lalu membiarkannya menghalusinasikan kita. Halah, bahasa Vicky Prasetio banget ya...hehehe...

Kemudian bertemulah saya dengan Bunda Helvy Tiana Rosa saat saya pertama kali membaca Puisinya yang berjudul "Fisabilillah" dalam sebuah buku berjudul PELANGI NURANI. Jleb! Ini puisi simpel tapi kena banget! Lalu semakin intens saat Bunda membacakan puisi untuk Rahmat Abdullah, bikin saya makin takjub sama Bunda. Puisi-puisi beliau pun pada awalnya hanyalah berbentuk "single" karena di mana ada momen pasti sering muncul puisi bunda. Contohnya saat Palestina sedang membara, maka munculah Puisi Mahanazi. Reaksi saya saat membaca puisi itu, langsung bleber air mata. Seolah saya terasa banget sakitnya seperti orang-orang Palestina di sana.

Bunda kemudian menerbitkan kumpulan buku puisi pertamanya (bener gak ya?) yang berjudul : MATA KETIGA CINTA. Buku ber-cover ungu itu berisi puisi-puisi beliau yang dikumpulkan dalam satu buku. Berkali-kali saya membacanya, maka berkali-kali pula saya menemukan "cara" untuk membacanya dengan berbagai gaya.

Buku kumpulan puisi bunda berikutnya yang terbit adalah DUKA SEDALAM CINTA, yang merupakan kumpulan tulisan bunda dari zaman masih muda hingga sekarang. Bisa dipastikan bagi saya sendiri, ini adalah THE MOST AWAITING BOOK OF THE YEAR. Saat buku itu masih berupa pre-order, saya sudah gak sabar ingin membacanya. Pun setelah buku itu ready, saya ingin segera memilikinya. Layaknya seorang kekasih tak sabar menunggu orang yang dicintainya (eeaaa....eaaa...). Buku itu saya pesan sebanyak 3 eksemplar, karena saya ingin memberikan 2 sisanya untuk orang "spesial" (uhuuuyyy).

Jadilah dalam perjalanan pulang seusai mengambil buku DSC di rumah Bunda, saya komat kamit sendiri di dalam kereta. Kurang afdol rasanya jika membaca buku puisi tapi tidak ikut menyenandungkannya. Bolak-balik, bolak-balik, buku itu menjadi teman keseharian saya sampai kemanapun saya pergi buku itu selalu berada di dalam tas saya! Beberapa puisi yang "gw banget" langsung saya tandai. Kemudian saya membacanya dengan berbagai gaya dan intonasi. Membiarkan diri saya "menari" bersama susunan kata-kata yang menjelma seorang sahabat. Kata-kata itu berlarian dengan liar bersama dengan imajinasi saya. Visualisasi saya pun ikut bermain. Setiap puisi yang saya baca akan saya kaitkan dengan suatu peristiwa atau "seseorang" (perlu banget ya, seseorangnya itu saya kasih tanda kutip...hehehe). Beberapa puisi pun akhirnya saya coba rekam.

Judul buku yang saya suka dari buku ini adalah : Jauh, Merayakan Kangen, Selamat Pagi Kamu, Tak Ada Tahun Baru di Suriah, Kamu Puisi, Lelaki Paling Biasa dan Lelaki Puisi. Setiap isi puisi ini seolah mempresentasikan kegalauan dan kegundahan saya serta menyatakan isi hati saya yang paling dalam (duile...).

Puisi "Jauh" seolah mempresentasikan jiwa saya yang gampang gusar ketika berjauhan dengan "seseorang". Jauh juga menggambarkan hati saya yang mudah rindu pada siapapun. Namun pada akhirnya semua kerinduan yang "Jauh" itu hanya terlabuhkan pada doa-doa yang terlafadzkan setiap rakaat.

Puisi kedua "Merayakan Kangen" juga gue bangets! Saya seperti tergila-gila dengan puisi ini. Pada suatu pagi yang jernih di daerah Sentul, saya mengumpet sendirian di tengah kebun rerumputan hanya untuk membaca puisi ini saja. Kangen saya seperti tak terbilang.

Lalu "Selamat Pagi, Kamu" yang bikin memori saya melayang kembali...hahaha... Saat membaca puisi ini, memori saya melayang pada peristiwa tujuh tahunan lalu, saat saya sering bertemu dengan "seseorang" di dalam bis setiap pagi hari.

Kemudian ada "Tak Ada Tahun Baru di Suriah" yang paling susah untuk saya baca. Saya selalu terhenti pada suatu kata dan menahan nafas dalam. Sungguh, saya lebih suka men-skip puisi-puisi tentang dunia Islam yang teraniaya. Membacanya dalam hati saja saya sudah tak kuat, apalagi jika harus dibaca nyaring.

Kelima, puisi "Kamu Puisi" yang seolah ikut berderap-derap di dada saya dengan kalimat repertoirnya. Awalannya garang, tapi di akhirnya meloowww bangetss.

Keenam, puisi "Lelaki Paling Biasa Di Bumi" yang mengingatkan saya akan seorang abang yang....aaahhhh.....mengingatnya aja bikin nangis (semoga Allah menempatkanmu di surga ya, Bang!).

Terakhir, "Lelaki Puisi" yang saya gambarkan sebagai representasi ucapan terima kasih saya terhadap para "lelaki" ini yang telah membantu suka dukanya kehidupan saya.

Pokoknya membaca buku DSC ini bener2 membuat saya menari dengan imajinasi saya deh. Hingga bisa saya katakan bahwa buku ini adalah one of my best friend. Layaknya seorang sahabat yang merupakan diri sendiri, bersama buku ini seperti lupa ada orang lain di sekitar...hehehe...(lebay.com)

Tak lama setelah buku DSC terbit, hadirlah buku "A Lady Dance With Poetry" karya Bunda Helvy juga. OMG! Ini beneran bacanya kayak mau ikutan nari-nari. Serius!

Saat membaca beberapa puisi di dalam buku ini saya langsung menari sendiri. Sebait lagu yang menemani saya membaca puisi ini, membuat saya menari dengan irama saya sendiri. It feels : dance like no one elses. Dunia seolah milik saya dan buku itu aja.

Puisi-puisi yang ada di dalam buku ini sebenarnya juga ada di dalam buku Duka Sedalam Cinta, namun buku ini dwibahasa, alias setiap puisi ada terjemahan Bahasa Inggrisnya. Ada juga beberapa puisi yang tidak ada di dalam buku DSC, salah satunya adalah 'Wanita yang menari dengan Puisi' atau 'A Lady Dance With Poetry'. Judul yang terakhir ini sekaligus yang menjadi favorit saya. Apalagi saat ada aransemen musiknya, waaahhh, makin tambah suka saya!

Pada akhirnya saya benar-benar jatuh cinta pada puisi. Ya, puisi yang bisa membuat saya menari mengikuti bait-bait kata yang tersusun rapi dalam makna yang kadang kita sulit pahami. Kata-kata yang saya ucapkan seolah menjelma menjadi kawan terbaik yang kemudian mengajak saya menari dan membuana ke sebuah tempat jauh di kehidupan nyata saya. Dia membawa saya memasuki dimensi terjauh dalam hidup saya dan membuat saya lupa akan dunia dalam sekejap. Sungguh, kata-kata itu bagaikan mantra ajaib yang menyihir saya untuk berdansa.

Puisi adalah pengejawantahan dari suara hati yang sunyi. Mengeluarkannya pada kata-kata penuh imajinasi yang membuat kita menari tanpa perlu mengerutkan dahi. Lalu setelah kata-kata itu tertuang dalam sebuah kertas ataupun layar komputer, maka seolah diri ini merasa plong dengan keadaan yang terjadi. Aihhh....benaran, jadi pengen jago bikin puisi.

Akhirnya, saya terpaksa harus terus membawa buku DSC dan ALDWP kemana pun saya melangkahkan kaki. Semakin saya membaca buku ini, semakin saya senang menari dalam balutan kata-kata ajaib. Dipadu dengan musik soundtrack kehidupan saya, maka semakin mantaplah tarian yang saya lakukan. Membaca buku ini, membuat saya jatuh cinta kembali pada puisi. Menatapinya dalam-dalam kata-kata yang berbaris itu, lalu bergumam sendiri dalam diam mengulangi kata-kata itu. Kalau sudah begini, kedua buku itu bagaikan diri saya sendiri, bagikana sahabat terbaik saya sendiri. Rasanya tak perlu lagi ada orang lain, kan dunia sudah milik sendiri... hehehe...

Aku jatuh cinta
Aku jatuh cinta pada puisi
yang ditulis sepenuh hati
lewat tangan seorang malaikat
yang membuat kata-kata itu menjelma mantra ajaib
hingga aku menari sendiri
dan menemukan teman terbaik dalam puisi

Tuh, kan. Seperti yang saya bilang di awal tadi, kalau sedang jatuh cinta pasti deh saya produktif bikin puisi...hehehe... Selamat menikmati puisi dan selamat membaca buku 'ajaib' itu. Lalu biarkan dirimu menari dengan kata-kata ajaib itu. Ahhh... Saya jatuh cinta pada PUISI!***(yas)




Jakarta, 18th of November 2017
@my room, 22.24 pm
Jadi pengen nulis puisi lagi.
Apa kabar Pak Rahmat Djoko Pradopo ya?