Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Saturday, December 23, 2017

Ibu, maafkanlah aku... (A belated Mother's day greetings)

Here laid down my beloved mom


“Kamu merawat Ibumu sambil menunggu kematiannya. Sementara Ibumu merawatmu sembari mengharapkan kehidupanmu”.
— Umar bin Khattab Ra


“Yas, could you build me a home?”


Minggu itu adalah minggu terakhir kalinya Saya bertemu dengan dia. Seorang wanita yang berbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin tirus.

Saya tidak menyadari bahwa itu adalah tanda terakhir yang diberikan olehnya sebelum akhirnya dia pergi selama-lamanya. Saya sempat “memaksa” nya untuk makan sesuap nasi beserta sup dan pudding kesukaannya. Walaupun pada akhirnya semua makanan itu tumpah kembali lewat mulutnya berupa cairan hijau seperti “klorofil”. Entah kenapa, Saya yang biasanya sangat jijik dengan muntah, langsung menenangkan ibu yang panik karena lantai menjadi kotor dan seprai di kasur berubah warna.

“It’s ok, mom. I’ll take over this.” ujar saya dan dengan segera membersihkan lantai dan mengganti seprai.

Andaikan Saya tahu ini adalah minggu terakhirku melihat wajahnya lagi, mungkin saya akan terus berada di rumah saja menemani hari-hari terakhirnya. Namun yang terjadi Saya malah kembali ke kost-an di Bekasi dan sibuk dengan segala hal.

Kemudian, Saya merasa enggan untuk pulang ke rumah minggu itu. Semua kakak-kakak saya sedang berkumpul di rumah untuk menghibur ibu. Saya ingin menyelesaikan beberapa urusan yang menunggu deadline nya, padahal itu adalah long weekend, Senin libur bertepatan dengan hari raya nyepi.

Tak lama, sebuah message masuk lewat ponsel saya, “Yas, mom sudah gak ada.” Pesan yang singkat dan padat dari kakak saya.

Pardon me? What actually did you mean?

Detik berikutnya ponsel saya kembali dibombardir dengan pesan-pesan serupa yang membuat Saya lemah tak berdaya. Saya menelepon balik kakak saya,

What did you mean? Are you serious? Don’t fool me!” Saya meradang keras. 

Namun kakak saya hanya mengatakan, “You can see her by your eyes!”. 

Saya menangis mearung-raung sendirian di dalam kamar kost. Minggu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kakak-kakak saya yang lain menyarankan “Don’t ride a motorbike in this situation. You won’t be focus,” Tapi Saya tak memedulikannya. Saya menangis sepanjang perjalanan. 

“Mom… why? Why you leave me? Why? Why?”

Saat Saya berada di Rumah sakit tempat beliau dibawa tadi, Saya melihat kakak saya sedang duduk di samping tubuh ibu yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang sudah ditutupi kain. Saya menangis sejadi-jadinya. 

“Mom….why? Why? I can’t bear this,” 

Yang ada pada saat itu adalah rasa penyesalan yang amat sangat kepada ibu saya. Kenapa saya tidak pulang dengan cepat? Kenapa saya masih sibuk bekerja? Kenapa saya… Kenapa saya?? Dan segudang penyesalan yang menggunung tinggi. Bahkan saat jenazah ibu dibawa pulang ke rumah pun, saya hanya jatuh tersungkur di kamar dan tak berhenti menangis. Beberapa kawan-kawan dan sahabat saya berusaha menghibur, namun I really feel nothing. I'm lose a single piece of puzzle in my heart. It tears me down, it breaks me so hard. Sampai ketika ibu saya dimasukkan ke dalam liang kuburnya pun saya seperti tak rela. Mengingat wajah tuanya saja sudah membuat saya susah untuk bernafas dan lagi-lagi….feel nothing!

Sehari setelah kepergiannya, gairah hidup saya menurun drastis. Saya berhenti makan untuk beberapa hari. Bahkan sesudahnya, usai makan saya selalu memuntahkan semua isi perut saya. Air mata selalu mengalir dalam kondisi apapun. Walaupun berusaha untuk tegar, kemudian saya akan berlari ke kamar mandi untuk menangis. Semangat hidup saya pun meredup. Mengingatnya kembali memberikan dampak yang sangat tidak baik bagi hidup saya. It really hard to move on! Sakitnya lebih sakit dari apapun, terlebih jika kau sangat akrab dengan ibumu. 

Selama 3 bulan dan kemudian 1 tahun perlahan-lahan saya mulai bangkit menata hati saya yang pecah. Walaupun sekarang mungkin sudah utuh kembali, tetapi bekasnya itu masih kentara. Layaknya sebuah gelas yang pecah dan kau menambal pecahannya agar utuh kembali, namun gelas itu masih ada bekasnya bukan?

Hanya Allah lah yang akhirnya menguatkan kaki ini untuk berdiri tegak kembali dan menatap sinar pada ujung sebuah kegelapan.

***

Saya dan ibu bisa dikatakan sangat akrab. Saking akrabnya, seorang sahabat pernah berkata, 

“Yas, ada gak ya hubungan anak dan ibu yang segila kamu?” 

Ya, saya sangat akrab. Bila ibu saya sedang makan dan saya melihat makanan yang dimakannya enak, pasti saya langsung minta disuapin dari piring ibu saya. Kadang saya tidur bersama ibu saya sambil menganggap tubuhnya sebagai guling. Kalau saya sedang gemes, pasti pipi ibu saya yang mulai keriput itu menjadi sasaran saya. Sering juga bergelayut manja di bahunya atau sekedar mencandainya. Jika ibu saya sedang marah, maka saya selalu meniru gesture-nya sehingga membuat ibu saya makin tambah marah. Tak lama kemudian tertawa. Kalau sedang gajian, sering membelikannya makanan yang enak-enak, yang ujung-ujung tak pernah dimakannya melainkan diserbu oleh keponakan-keponakan saya. Jika melihat baju daster pasti maunya beli untuk ibu saya. Maka dari itu teman saya merasa hubungan saya dan ibu saya “gila” karena bisa bercanda layaknya teman.

Suatu malam saat saya masih kuliah di Yogjakarta, telepon di rumah kost saya berdering. Waktu itu pukul satu malam dan saya masih asyik berkutat dengan tugas kuliah. Bapak kost yang mengangkat waktu itu dan suaranya terdengar sampai kamar saya yang kebetulan berada tak jauh dari tempat telepon itu berada. Tak lama Bapak kost itu memanggil saya, “Yas, telepon dari Jakarta.” Saya agak kaget karena jika telepon tengah malam itu biasanya mengabarkan berita yang kurang enak. Saya pun menerima telepon itu. Suara bapak saya.

“Ada apa, Pak?”

“Ini, ibumu terbangun di tengah malam dan ingat kamu,”

“Terus?”

“Dia nangis dan mau tau kabar kamu,”



Begitulah ibu saya. Selalu kepikiran sama anaknya. Bahkan sampai tengah malam di jarak 350 kilometer.

Beberapa ribu jam setelahnya saat saya pulang ke rumah pada masa libur kuliah, beberapa orang menceritakan kepada saya bahwa ibu saya tidak makan karena selalu mengingat saya! Bagi saya itu mungkin terlihat mengharukan sekaligus lebai apalagi saya bukan tipikal drama king.

Dan setelah kepergian ibu saya maka wajarlah bagi saya begitu kehilangan beliau. Setiap hari saya merinduinya, menangis untuknya dan terdiam untuknya. Rasa sakit itu begitu susah dilupakan hingga kini. Melihat fotonya saja atau berziarah ke kuburnya langsung mengungkit luka lama. It hurts me bad! Even I didn’t want to live anymore!

Teringatlah dosa-dosa saya pada ibu saya. Dulu saya sering sekali meninggalkannya di rumah dengan alasan sibuk berdakwah di luar rumah. Sering menyakiti hatinya dengan kata-kata setajam pisau. Pernah tidak mematuhi apa yang menjadi nasehatnya. Pernah membohonginya dan lainnya. Bahkan saya tidak pernah memahami bahasa diamnya yang menandakan dia tidak suka. Tangis kekhawatirannya seringkali saya anggap sebagai suatu hal yang berlebihan. Omelannya yang merupakan rasa kasih sayang sering saya anggap sebagai makian untuk saya. Ahhh… Ibu, andaikan kau ada disini, ingin aku memelukmu lagi dan mendekap tubuhmu erat.


Ibu, maafkanlah aku…

Sungguh engkau merawatku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang surga. 
Engkau merawatku dan membesarkanku dengan cinta yang terbuat dari permata yang tiada tandingannya. 
Namun, aku merawatmu tidak dengan sungguh-sungguh.

Ibu, maafkanlah aku…

Adakah jalan yang bisa kulalui agar kutahu bahwa kau redho dengan apa yang kulakukan? 
Adakah kesempatan bagiku untuk meminta maaf kepadamu lagi? 
Adakah kesempatan bagiku untuk melihat senyummu lagi?

Ibu, maafkanlah aku… 

Kau mendoakan aku dengan sepenuh hatimu. 
Kau meminta kepada Allah dengan keredhoan langit dan bumi. 
Kau meminta perlindungan yang paling hakiki agar aku tak salah jalan dan tersesat. 
Namun, aku begitu sombong untuk selalu menolak apa yang menjadi titahmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau berjalan menembus malam hanya untuk mencari cahaya untukku. 
Kau tertatih menahan perih demi aku anakmu terhindar dari kesusahan. 
Kau tersenyum dengan senyum paling purnama yang menghalau resah dihatiku.

Ibu, maafkanlah aku…

Pada saat aku tak bisa lagi berbicara denganmu, 
pada saat aku tak bisa lagi menatap wajahmu, 
pada saat aku tak bisa lagi membaui khas tubuhmu, 
pada saat aku kehilangan arah, rasa sesal itu pun hinggap dan menghancurkan hari-hariku. 
Rasa penyesalan yang terus menggerogoti diriku akan betapa nista dan bodohnya aku, 
tak sempat meminta maaf hingga akhir hayatmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Walaupun ku yakin kau sudah berbahagia di sana, 
namun aku akan selalu rindu…rindu dan rindu. 
Rindu berdetik banyak dan tak akan mungkin terbalaskan. 
Hanya lantunan doa yang menjadi penghubung rindu kita. 
Ku yakin kau sudah aman di sisi Allah.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau merawat aku dengan penuh kasih 
dan aku merawatmu untuk menunggu kematianmu.


Oh, can you hear it in my voice?
Oh, can you see in my eyes?
Love for you is alive in me.
Oh, can you feel it in my touch
Know that I always have enough
Your love is alive in me…


Ibu… Ibu… Ibu… I really miss you so bad***(yas)







Bekasi, 23rd of December 2017
@Chicking Giant, 18.46 pm
Ibu aku rindu setengah mati…
Daffi bpk juga rinduuu….



Disinilah Ibu saya berbaring untuk selamanya


Seperti enggan melanjutkan hidup

Kau merawatku sambil menunggu kehidupanku

The last photo when she visited Mekkah




Saturday, July 22, 2017

Between Chester and Cornell (Depresi dan mereka yang memutuskan mengakhiri hidup)


Chris Cornell dan Chester Bennington. Chris committed suicide on May, Chester on July.

Crawling in my skin
These wounds they will not heal
Fear is how I fall
Confusing what is real
Crawling - Linkin Park 

***

Sebuah status itu berseliweran di beranda facebook saya. Pemilik status itu menceritakan seorang artis yang memutuskan untuk suicide. Sayangnya nama si artis tidak ditulis, sehingga membuat saya penasaran. Tak lama kemudian saya berhasil mendapatkan jawabannya, Chester Bennington! Vokalis Linkin Park itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri! OMG! 😱😱😱

Saya tahu Chester Bennington (CB) ini sejak LP mengeluarkan Album "Hybrid Theory" dengan lagu andalannya "Crawling". Waktu itu saya masih duduk bangku SMA. Zaman itu grup boyband "beneran" masih banyak beredar, semisal Smashing Pumpkin, Limp Bizkit, Gorilla, Blink 182, dll. Lagu Crawling pun langsung booming. Perpaduan suara khas Bennington dipadu dengan rap Mike Shinoda dan kecerdasan bermusik Jo Hahn, Brad Delson, Dave Farrell, dan Rob Bourdon membuat grup ini langsung memiliki penggemar tersendiri. Saya yang anti band urakan aja sempat suka sama grup ini. Grup ini satu2 yang saya ikuti di official Line nya.

Saya tersesat pada tanya. Apa yang membuat Chester memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Chester sudah popular bersama grupnya. Banyak yang menggila-gilainya juga. Banyak uang? Sudah pasti. Apapun yang diinginkannya pasti bisa diraih. So, whatt???

Ternyata Chester memiliki masa lalu yang menyeramkan. Tercatat dia pernah mengalami pelecehan seksual dan perundungan (bullying) pada saat beliau anak-anak dan remaja. Dia juga sempat kecanduan obat-obatan terlarang. Diperparah lagi dengan kehidupan perkawinannya yang tidak baik. Chester tercatat beberapa kali menikah dan bercerai. Hal ini bisa jadi dipengaruhi pengalaman di masa lalu saat kedua orang tuanya juga bercerai.

Sebelum Chester, beberapa nama selebrita terkenal banyak yang juga menjalani hal sama, commit Suicide. Teman se-lintingan Chester, Chris Cornell, yang sekaligus vokalis di Band Audisolave juga mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri (Saya sendiri kalau inget Audioslave jadi inget..... hahaha.... abaikan). Lainnya ada Kurt Cobain, Amy Winehouse (bukan bunuh diri tetapi OD), Michael Hutchence, dll.

Saya jadi penasaran, apa yang menyebabkan mereka menginginkan bunuh diri? Depressi! Banyak dari mereka yang mengalami depressi akut. Depressi yang berkelanjutan dan mereka tidak menemukan solusi. Sebagian mungkin memang ada yang terlibat juga dengan narkoba dan alkohol, namun dengan rehabilitasi mereka berhasil dinyatakan"clean". Seorang teman saya mengatakan : " depresi itu lebih bahaya dari narkoba dan alkohol karena tidak ada obatnya." Ya, narkoba dan alkohol bisa dilakukan banyak terapi yang menyembuhkan mereka. Seseorang pemakai narkoba dan alkohol pasti akan mengalami masa puncaknya. Konsekuensinya yang mereka hadapi hanya overdose atau jenuh dan kembali ke jalan yang benar. Kemarin saat saya menaiki UBER menuju Munasharah Palestine di Masjid Al Azhar, saya mendapatkan sopir yang mantan pemakai narkoba. Dia mengatakan pada saat puncaknya (alias pada saat kejayaannya dan dia tidak peduli lagi pada kehidupan) maka kemungkinan yang terjadi pada masa itu hanya dua : overdose atau merasa jenuh. Pak sopir itu kemudian memilih untuk menuju ke jalan yang benar.

Bagaimana dengan depressi? Depressi sendiri berarti : is a state of low mood and aversion to activity that can affect a person's thoughts, behavior, feelings, and sense of well-being. Sesuatu yang memengaruhi mood kita, perasaan kita, serta perilaku kita. Seseorang yang mengalami depresi biasanya feeling guilty akan sesuatu, low minded, dan tak percaya diri. Seolah banyak orang berkata dipikiran mereka dan menunjukkan semua kesalahannya. Maka semuanya akan berpengaruh terhadap pada perilaku mereka. Cenderung tertutup dan minder. Pada kasus yang lain, banyak yang menyembunyikan depresi mereka dengan lebih banyak tertawa, bersenang-senang, namun sebenarnya mereka menyembunyikan kesedihan mereka (jadi jangan gampang iri ya dengan orang lain yang kelihatannya senang).

Kesalahan terbesar mereka yang mengalami depresi adalah mereka hanya menyembunyikan masalah itu sendiri. Padahal jika memiliki masalah dan menganggap over weight burdens of life, mereka seharusnya menemukan orang yang tepat untuk menolong mereka. Bercerita kepada orang yang tepat paling tidak akan mengurangi beban mereka, jika orang lain memberikan solusi dan jalan keluar maka itu akan lebih baik lagi bagi mereka. Paling tidak dont let yourself think that you are alone and there are no solutions.

Empat tahun yang lalu saya memiliki teman online yang berasal dari South Carolina, US. Dia seorang dosen Bahasa Inggris di sebuah universitas. Usianya masih muda dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dia juga mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, walaupun dia agnosis. Dalam foto-foto yang ada di akun facebooknya, dia terlihat ceria dan memiliki teman-teman yang tulus. Setiap kali saya bertanya padanya tentang Bahasa Inggris, maka dia akan menjawabnya dengan cepat. Sosok pribadi yang menyenangkan.

Percakapan saya dengan beliau yang seringkali saya panggil "Teacher"

alasan kenapa dia mendudkung Palestina


Saya tidak pernah menyangka kalau ternyata dia memiliki depresi yang akut. Beberapa saat sebelum kematiannya, dia mengganti cover facebooknya dengan gambar Evelyn McHale yang kematiannya mendapat  predikat The Most Beautiful Suicide.  Saya bertanya padanya, dan dia memberikan link sebuah grup di facebook yang berisi tentang orang-orang mati. Namun saya tidak berpikir dia akan bertindak nekat. Another case, saya melihat tangannya tergores-gores, namun dia hanya mengatakan "It's only cat's sratch".

Tak lama kemudian, lagi-lagi secara tak sengaja sebuah postingannya seorang temannya lewat di beranda saya, mengatakan "in deep condolence". Ternyata teman saya itu telah pergi. Setelah menelisik informasi, akhirnya didapatkan kabar bahwa teman saya tersebut committ suicide dengan cara menghirup gas. Saya amat sangat tak menduganya. Belakangan, sang ibu menghubungi saya lewat messenger dan mengatakan bahwa anaknya tersebut memiliki depressi yang ditutupinya. 😢😢😢

Saya juga pernah mengalami depresi. Ketika itu segala hal yang saya lakukan saya anggap "useless". Kemana-mana selalu tidak percaya diri dan merasa kalah dari orang lain. Keluarga dan teman saya rasa menganggap saya tak berguna. Mau ngapa2in rasanya salah dan gak nyaman. Bangun salah, tidur salah, aktivitas salah, diam pun salah. Kemudian apa yang bisa saya lakukan? Menangis, menyesali hidup, dan menyalah-nyalahkan semua orang. Hingga pada satu titik berpikiran, die is better for me. Astaghfirullah!

Memang, kebanyakan mereka yang mengalami depressi memiliki solusi singkat : committ suicide alias bunuh diri. Bagi mereka berada di dunia sudah tak ada artinya lagi maka kematian akan mendamaikan mereka. Padahal, andaikan mereka tahu, betapa meruginya orang-orang yang bunuh diri. Tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah masalah.

Mereka yang masih bisa bertahan dari depresi ini mencari jalan penyelesaian dengan mengikuti seuatu yang bisa fresh their mind semisal Yoga, pilates, dll. Walaupun pada kenyataannya banyak juga yang tetap depressi setelah mengikuti hal-hal tersebut.

 Lalu, apa solusinya? Islam sendiri memberikan solusi yang sangat bagus sekali. Tercatat dalam surat Al Baqarah ayat 153 :

 “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Baqarah : 153).

Sholat adalah "ritual" yang sangat bagus jika kita melaksanakannya dengan sangat baik dan penuh kekhusyuan. Meditasi yang waktunya sudah terjadwal dan memberikan kita kekuatan berlipat-lipat. Ditambah lagi dengan dzikir maka akan menghadirkan kedamaian yang luar bisa.


“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Rad'u ayat 28)

Dan semua permasalahan dikembalikan kepada diri kita sendiri. Setangguh apa kita bisa menghadapinya? Apakah kita akan bertekuk lutut di bawah masalah, atau masalah yang akan bertekuk lutut di hadapan kita. Jika kita beriman pada Allah, maka semua janji Nya dalam Al-Qur'an adalah benar. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada seseorang diluar kemampuan dirinya, setiap kesulitan akan ada kemudahan, dan tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya.

Bunuh diri? It's terrible solution! Dalam Islam perbuatan itu dinilai haram dan dibenci Allah. Orang-orang yang bunuh diri, maka arwah mereka tidak akan diterima langit maupun bumi. Jika sudah putus asa sekali maka Allah pun berkata :

" ... Dan, jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (QS. Yuusuf : 87)

Beruntunglah Cat Steven atau Yusuf Islam, yang melarikan kegalauannya sebagai seorang musisi ternama di zamannya dengan berpindah pada Islam. Beruntunglah Kristianne Backer, seorang pembaca acara MTV ternama yang melarikan kegalauannya juga pada Islam. Sehingga mereka tidak termasuk orang-orang merugi yang membuang bakat dan kemampuan mereka dengan sia-sia. Islam membuat mereka damai, tidak menghilangkan stress, tetapi selalu ada solusi yang indah dalam Islam untuk setiap permasalahan yang hadir.

Ah, Bang Chester dan Bang Cornell, sayang sekali ya anugrah yang diberikan padamu itu terbuang sia-sia. Padahal syair-syair yang kalian nyanyikan kadangkala jadi pelecut motivasi saya juga loh! Tapi nyatanya kalian sendiri malah tidak terselamatkan.

Kalian memiliki banyak orang di sekitar kalian yang bisa membantu kalian mengurangi rasa depressi itu tapi kalian malah committ suicide. Sebegitu kesendiran kah kalian? Kalau kalian deket sama saya, saya mau deh dengerin curhat kalian 😅😅

Manusia pada dasarnya memang hanya perlu didengar dan dimengerti. Itulah kenapa Allah menciptakan dua buah telinga dan satu mulut. Agar kita lebih banyak mendengar dan memahami orang lain tanpa perlu berkata-kata. Saya jadi teringat, ketika dulu masih memiliki binaan (halaqoh), setiap di akhir sesi usai qadhaya, saya selalu berpesan pada mereka, " jika kalian memiliki masalah atau apapun jangan segan-segan untuk menghubungi Bang Yas, ya!" Karena saya tahu, pada usia-usia muda masalah itu mulai muncul dan semakin mengakar pada saat bertambahnya umur. Maka dari itu selagi masalah itu belum membesar, masa sedari dini sudah harus ditolong dan dicarikan solusinya.

Allah... Engkaulah tempat segala resah bermuara. Tempat kembali seorang hamba membawa masalah yang dihadapinya, dan kemudian Kau hancurkan masalah itu berkeping-keping. Jangan pernah tinggalkan hamba, Ya Allah..




Rabbana la tuzigh qulubana ba’da iz hadaitana wahab lana mil ladunka rahmah, innaka antal wahab.

“Ya tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah maha pemberi (karunia)”.



Sebuah petikan dari lirik lagu "Somewhere I belong" mungkin pertanda juga dari Bang Chester :

I wanna heal, I wanna feel what I thought was never realI wanna let go of the pain I've felt so long(Erase all the pain 'til it's gone)I wanna heal, I wanna feel like I'm close to something realI wanna find something I've wanted all alongSomewhere I belong

Selamat jalan Bang Chester dan Bang Cornell. My biggest question, Are all of you feeling peace NOW?***(yas)



Bekasi, 22nd of July 2017
@my office, 14.41 pm
Kangen tapi aye gak mau ngomong 😘😘


Saturday, February 25, 2017

One Step Closer



" Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [his desire]. And what is the life of this world except the enjoyment of delusion "
***

Telepon rumah saya berdering. Pagi itu baru saja subuh berlalu dan orang-orang baru pulang dari masjid. Saya enggan mengangkat telepon itu. Telepon di rumah memang sudah jarang digunakan. Alat itu hanya digunakan untuk menyambung jaringan internet saja. Terlebih semua anggota rumah sudah memiliki ponsel, jadi semakin jarang yang menggunakan telepon itu.

Ayah saya yang mengangkat. Kakak saya yang menelepon. Dia mengabarkan bahwa suaminya sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Kakak saya meminta untuk diberitahukan kepada anggota keluarga yang lain karena saat menghubungi lewat ponsel tidak ada yang mengangkat. Mungkin wajar, karena waktu masih pagi sekali.

Ayah saya bergegas mengeluarkan motornya dan berangkat menuju rumah sakit tempat kakak ipar saya dirawat. Saya meneruskan aktivitas pagi saya sebelum berangkat kerja, mandi, berpakaian, dan pergi ke tempat kerja. Sehari sebelumnya saya sudah tidak masuk kerja karena banjir yang masuk ke rumah kami. Jadi saya mengurungkan niat untuk membersamai ayah saya. Saya pikir mungkin sepulang mengajar saya bisa mampir.

Kakak ipar saya memang sedang mengalami masalah dengan kesehatannya. Sudah bolak balik rumah sakit dan menjalani pengobatan yang panjang. Beberapa kali dibawa ke UGD dan sehat kembali. Namun yang sekarang tampaknya lebih serius, karena sudah beberapa hari di rumah sakit dan belum diperbolehkan pulang. Dari informasi yang sempat saya tanyakan, paru-paru kakak ipar saya sudah terendam. Dulu dia salah seorang perokok namun sudah berhenti beberapa tahun yang lalu.

Motor saya baru saja dikeluarkan, lalu terdengar suara mikrofon dari masjid terdengar menyeruak di angkasa. 

"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..."

I felt bad after hear this. Dan benar saja, pengumuman di masjid itu mengabarkan bahwa kakak ipar saya telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun. Hanya kepada Mu lah kami semua akan kembali.

***

Beberapa tahun sebelumnya, saya kehilangan Ibu saya. Saya masih ingat betul hari itu. Minggu menjelang malam, untuk pertama kalinya saya enggan untuk pulang ke rumah dari kost saya. Biasanya saya memang selalu pulang ke rumah setiap minggu, tapi entah kenapa minggu itu saya terasa berat sekali pulang ke rumah. Hari itu menjadi THE WORST day of my life. MY VERY VERY VERY BAD DAY! Losing your love one feels like loosing your soul. There's no need to do everything except crying all day. Omg! Worst...worst...worst...

Saya dan ibu saya memang sangat akrab.Tapi saya tak pernah terbuka padanya, bagi saya agak risih aja kalau menceritakan pengalaman pribadi ke ibu. Karena saya anak terakhir maka saya sering bermanja-manja padanya. Seringkali saya juga bercanda dengannya, semisal dengan mencubit pipinya dan lainnya. Sobat akrab saya, Aris, sampai sering tertawa ngakak melihat keakraban saya dengan ibu saya yang sering saya bercandain. 

"Ente sama mommy ente bener-bener akrab ya, Yas. Ada gak ya ikhwan yang keakrabannya kayak ente sama mommy ente," ujar si Aris.

Namunhari kehilangan beliau benar-benar raga saya kehilangan segalanya. Mengingatnya saja sekarang sudah membuat saya ingin menangis. Mengenangnya... ah, sepertinya saya tidak sanggup. Hari ini semua perasaan sesal, sedih, kehilangan, dll seolah menjadi satu. Melihat orang yang sangat dekat denganmu dan amat sangat kita cintai membujur kaku dihadapan kita tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi jika kita merasa bersalah besar pada orang itu. Menangis pun rasanya USELESS. Benar-benar tak ada gairah hidup setelahnya. Merenung berhari-hari di kamar, kemudian saat bekerja mencuri waktu ke toilet dan menangis kembali saat mengingatnya, kehilangan nafsu untuk makan, merasa seperti half of my soul has taken away! The most enermous sadness!

Tak lama setelah kehilangan Ibu, saya kehilangan Murobbi saya. Beliau memang sudah beberapa tahun terkena kanker nesofaring dan pada saat kematian beliau, beberapa kali beliau mengalami kondisi tak sadarkan diri. Namun semangat beliau amat sangat luar biasa! Dia adalah orang yang paling bersemangat yang pernah saya kenal. Bahkan di saat sakit beliau, beliau masih merasa optimis dan anti mellow. Beliau masih sibuk membantu orang lain. Semangat beliau itulah yang kadang membuat saya kangen pada beliau. Teringat suatu malam saat saya sedang ada masalah berat, saya datang ke rumah beliau dan mencurahkan semua uneg-uneg sama sambil menangis sejadi-jadinya. Atau teringat kenangan pada saat saya tinggal jauh di Yogyakarta dan homesick, beliau yang selalu menguatkan. Benar-benar kangen sekangen-kangennya dengan beliau.

Waktu itu hari Jum'at. Jam mengajar saya full jadi saya tidak sempat membuka-buka ponsel saya. Seusai sholat Jum'at, di layar ponsel saya tertera beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan via wa yang membanjiri ponsel saya. Saya benar-benar tidak ada feeling apa-apa saat membukanya. Ternyata di grup wa teman-teman SMA angkatan saya sudah banyak yang berkirim ucapan istirja. Saya belum paham siapa yang meninggal, sampai akhirnya saya menemukan nama Murobbi saya tertera disana.

Setelah mencari kepastian dengan menelepon sahabat-sahabat saya, maka saya segera melarikan motor saya ke tempat murobbi saya. Perjalanan Bekasi - Depok yang jauh terasa semakin jauh dengan mengingat wajah murobbi saya. Sepanjang perjalanan saya menangis mengingat kebaikan beliau pada saya. Hingga akhirnya saya harus berpisah dengannya di makam itu, rasaya ingin sekali membuka mata saya dan mengatakan bahwa ini adalam mimpi. Sometimes reality bites harder!

Kehilangan yang terlampau sakit lainnya juga saya rasakan saat saya kehilangan kakak saya. Terlebih saat itu saya sedang mengalami heart feeling dengannya. Lagi-lagi berita itu saya terima pagi-pagi. Kakak saya sedang dibawa ke UGD. Namun saya masih malas untuk menjenguknya karena heart feeling itu. Tak lama setelah saya selesai mengajar, saya menerima wa yang isinya mengabarkan bahwa kakak saya telah tiada. It's really pounding my heart. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Feel guilty nya itulah yang membuat saya merasa tersiksa. Perlu beberapa waktu untuk akhirnya berdamai dengan keadaan ini. 

***

Memaknai kematian sepertinya susah untuk dijelaskan. Bisa jadi itu terlampau cepat, bisa jadi pula itu terlampau lama. Bisa jadi orang yang pergi itu baru saja berada di hadapanmu, dan detik berikutnya dia sudah membujur kaku di depanmu. Bisa jadi senyumnya adalah pertanda yang terakhir kali namun kita tidak memahaminya. Bisa jadi pula, dia mengucapkan sesuatu yang memberikan kita kode tapi kita baru menyadarinya setelah dia pergi untuk selamanya. Selamanya, kematian adalah sebuah misteri.

Allah sendiri sudah menjelaskan semuanya dalam Al-Qur'an bahwa kematian itu cepat atau lambat pasti akan datang menghampiri kita. Dengan berbagai cara yang kita tidak tahu. Kematian seseorang itu akan mengikuti kebiasaan dari orang tersebut (Naudzubillahi Min Dzalik). Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kita makhluk bernyawa, dan kita pasti akan merasakan mati.

Saya teringat akan kisah Nabi Sulaiman dengan Malaikat Maut. Waktu itu Malaikat maut sedang berkunjung ke tempat Nabi Sulaiman. Salah seorang teman Nabi Sulaiman juga sedang berkunjung. Saat itu Malaikat maut kaget menatap teman Nabi Sulaiman. Dia memandang orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sang teman yang merasa diperhatikan dengan seksama itu merasa tidak sendiri. Dia merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu kalau itu adalah Malaikat Maut, namun pandangannya yang tajam membuat dia menjadi ketakutan sendiri. Dia pun mendekati Nabi Sulaiman dan membisikinya.

"Wahai Nabi Sulaiman, tolong pindahkan ke sebuah gunung yang tinggi. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan temanmu itu," ujar teman Nabi Sulaiman sambil memandang Malaikat Maut yang belum berhenti menatapnya.

Nabi Sulaiman pun dengan kemampuannya segera memindahkan sang teman sesuai permintaannya. Kemudian dia mendekati Malaikat Maut yang masih tampak kebingungan.

"Wahai Malaikat Maut, kenapa kau memandangi orang itu dengan tatapan aneh. Adakah yang salah dengannya?" ujar Nabi Sulaiman.

Malaikat Maut menatapnya dan mengatakan, "Aku merasa heran. Hari ini aku menerima perintah untuk mencabut nyawanya di sebuah pegunungan yang tinggi, tetapi kenapa orang itu ada disini,".

Masya Allah... sungguh maut itu tidak mengenal tempat dan waktu. Jika memang sudah waktunya maka pasti tak akan bisa digeser walaupun sedetik. Tak bisa ditunda, tak bisa dinegosiasi, tak bisa dialihkan. Semua tunduk pada ketetapan Nya. Dialah yang menjadi pemutus kenikmatan dunia, pemutus hubungan anak dan orang tua, pemutus kesenangan yang sementara yaitu dunia.

Pada awal kita menerima berita kelahiran, kedatangan seorang bayi mungil, yang kemudian menjadi besar dan dewasa. Kita menerima kabar-kabar kebahagiaan dengan hadirnya orang-orang disekeliling kita yang membuat kita tertawa, menangis, bahagia, sedih, dan lainnya. Namun kemudian kita menghitung kehilangan kita. Satu per satu mulai meninggalkan kita tanpa kita pernah bisa menduganya. Kelahiran seseorang itu bisa diprediksi, namun kematian seseorang itu hanya Allah yang tahu. 

Perlahan-lahan saat umur kita semakin bertambah, orang-orang disekeliling kita pergi satu persatu. Pada saatnya maut itu akan menghampiri kita juga. Hari-hari kita adalah hari-hari di mana kita mendekat selangkah demi selangkah menuju titik kita kembali kepada Nya. Bagi orang yang beriman, kematian adalah sesuatu yang membahagiakan karena disitulah tempat mereka bisa bertemu dengan Rab yang selalu mereka rindukan setiap waktu. Sedangkan bagi mereka yang terlampau jauh dari Allah (I think, I'm one of them 😭  ), kematian adalah suatu hal yang menakutkan, mengingat banyaknya kesalahan yang telah dilakukan. Alangkah indahnya jika taubat menjadi pintu perubahan dan titik balik dari kita sebelum maut menghampiri. Insya Allah. Semoga Allah selalu mempermudah kita pada saat detik-detik kematian kita, dan meridhoi amalan yang kita lakukan. Pada saat waktu itu datang, semoga saya dalam keadaan baik Ya Allah. Aamiin Ya Rabbal Alamin

***

Pada saat kondisi sakratul mautnya, Nabi Muhammad meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan semua sakratul maut ummatnya hanya kepadaya. Beliau merasakan betapa dahsyatnya sakratul Maut ini sehingga beliau merasa umatnya tak akan sanggup memikulnya.

Namun Malaikat Jibril menolaknya. Dia mengatakan bahwa semua jiwa akan merasakan betapa dahsyatnya sakratul maut. Nabi Muhammad pun berlinang air mata.

Ya Rasulullah, jika engkau saja yang maksum merasakan dahsyatnya sakratul maut, bagaimana dengan kami ummat mu, Ya Rasul? Tak sanggup bagi kami untuk membayanginya 😭😭😭  

Sebuah bait nasyid, Pergi Tak Kembali, dari Rabbani semoga bisa menjadi penguat kita untuk terus memperbaiki diri agar bisa menemui kematian dengan cara yang baik.

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baiklah atau sebaliknya
Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi


Kami berserah diri kepada Mu, Ya Allah. Jadikan kematian itu mudah bagi kami dan bukan sesuatu yang kami takuti. Jadikan ia sebagai jalan menuju puncak kerinduan kami untuk bertemu dengan Mu, Wahai Tuhan Semesta Alam***(yas)


Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran : 185)


Jakarta, 27th of February 2017
18.03 @Carl's Junior Buaran



They are Who had already gone 😭😭

The worst day in my life. It still hurts whenever I remember this

He laid down here. I miss him everyday and still counting

Im feeling guilty to her. If I could change this feeling. It sucks!