Showing posts with label note. Show all posts
Showing posts with label note. Show all posts

Thursday, September 9, 2021

Lupakan, Berdamai, dan Tunggulah!


Sore ini saya mendapatkan telepon dari seseorang. Dia bercerita, seperti ada yang menyingkirkannya dari organisasi yang dia ikuti. Dia yang dulu pengurus organisasi itu, saat penggantian pengurus dia tidak diajak sama sekali dan bahkan tidak ada yang mengucapkan terima kasih padanya untuk apa yang dia lakukan selama ini. Semua pengurus baru pura-pura tidak menyadari kehadirannya dan "bersepakat" menyingkirkannya dengan sistematis. Seperti kacang lupa kulit. Padahal selama masa kepengurusannya dia termasuk salah seorang yang banyak membantu dan menyelamatkan organisasi.

Pikiran saya kembali ke beberapa tahun silam saat saya mengalami hal yang sama dengan seseorang tersebut. 

Di sebuah organisasi yang saya ikuti dari SMA hingga menjadi alumni, keberadaan saya seperti dipandang sebelah mata oleh para alumni yang lain. Mereka hanya menilai seseorang dari outlook nya saja. Hingga apapun yang saya lakukan untuk organisasi ini tidak pernah dianggap kebaikan dan pastinya selalu salah.

Saya ingat saat ketua organisasi terpilih tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya dan hanya mendiamkan organisasi, saya dan teman saya tetap membantu menjalankan organisasi ini berdua saja. Mengajak para anggota untuk tetap istiqomah, mengadakan acara untuk memperat ukhuwah anggota, mencari dana untuk membantu setiap kegiatan, dll. Tetapi no one's talking good. Ya, gak apa-apa sih sebenarnya, tapi lihat apa yang terjadi berikutnya.

Sebagian teman yang tidak tergabung dalam kepengurusan organisasi ini mengadakan gerilya dan mengkritisi saya dan teman saya yang dianggap jalan sendiri tanpa koordinasi (ya gimana gak jalan sendiri, organisasinya aja gak jalan). Hingga mereka mengumpulkan teman-teman lain yang bersebrangan dengan saya untuk membentuk kepengurusan tandingan (padahal saya bikin kepengurusan atau mengklaim sebagai ketua aja gak). Mereka yang katanya membawa aroma 'perubahan' memengaruhi anggota organisasi untuk bergabung dengan aliansi mereka. Tentu saja para anggota yang bertentangan dan tidak sepemikiran dengan saya mulai berkhianat. Entah gimana mereka, bisa berkhianat, tetapi jika saya dan teman saya mengadakan acara, para pengkhianat itu tetap ikut juga. Ewww....

Seorang guru saya pun menjadi bagian yang berpihak pada 'pembaharu' ini. Dia sempat bilang "Sudahlah, kamu sudah tidak masanya lagi berada di organisasi ini. Berikanlah kepada mereka yang baru-baru." Dan beberapa tahun kemudian dia menunjuk orang yang bahkan umurnya lebih tua daripada saat saya aktif dulu disana. Lol.

Dalam rapat organisasi yang membahas tentang tidak aktifnya ketua, mereka seolah menutup mata dengan peran saya dan teman saya dalam mengkover kegiatan organisasi selama ini. Bahkan mereka memilih pengurus dan ketua baru yang semangatnya bak "hangat-hangat tokai ayam". Kedepannya sudah pasti amburadul lagi.

Singkat cerita mereka menganggap apa yang saya dan teman saya lakukan untuk organisasi ini tidak ada maknanya. Mereka bahkan lupa caranya berterima kasih tentang apa yang seharusnya mereka lakukan tetapi mereka tidak lakukan. Mereka hanya menilai saya salah dan bukan siapa-siapa.

Bagaimana perasaan saya? Sudah pasti saat itu bergulat dengan rasa sedih, kecewa, sakit hati dan lainnya. Sudah gak kehitung lagi kayaknya ya berapa kali saya harus menahan sedih hingga mencucurkan air mata. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang mengkhianati saya dan ujung-ujungnya para pengkhianat ini malah mengkhianati organisasi. Ya, saya mengalami masa-masa tidak enak dan Alhamdulillah mampu melewatinya.

Hingga satu hari saya dengan tenang berhasil melepas organisasi ini. Tidak pernah merindukannya kecuali untuk beberapa kegiatan yang dulu pernah saya lakukan. Bahkan sampai titik "udah gak mau tahu lagi tentang organisasi ini".

Apakah mudah melepasnya? Kagak! Berkali-kali godaan untuk kembali ke organisasi itu datang. Berkali-kali pula terasa dendam membara melihat orang-orang yang menyingkirkan saya berada di pucuk organisasi ini. Beberapa kali bergelut dengan bathin untuk kembali ke organisasi ini. Sampai akhirnya waktu yang menjawab itu semua. 

Hari-hari yang dulu saya harapkan agar tidak mencintai organisasi ini menjadi nyata. Hari-hari di mana saya berdoa agar ditunjukkan yang benar itu benar dan salah itu salah. Bahkan organisasi ini sekarang seperti "Hidup segan mati tak mau". Walaupun saya gak sampai senyum jahat tetapi semua terlihat pada akhirnya. Beberapa tuduhan terhadap saya pun tak terbukti, justru para pembaharu itu yang kedapatan menjadi duri dalam daging organisasi.

Allah seakan menjawab dan menunjukkan semuanya. Terkadang pada awalnya kita merasa berat melepas seuatu yang sudah mendarah daging dalam hidup kita. Sesuatu yang menjadi bagian kita setiap hari. Sesuatu yang menoreh banyak kenangan dalam hidup kita. Bukan hanya kenangan manis, tetapi juga luka yang berdarah. Jika kita berusaha untuk ikhlas (yang pasti tidak semudah yang diucapkan), mengalihkan dengan sesuatu yang lebih baik, berhubungan dengan teman-teman baru yang lebih positif, sudah pasti semua proses melupakan itu akan bisa kita lewati. Kuncinya adalah meyakinkan diri kita bahwa di mana pun mutiara itu berada, dia akan selalu bersinar.

Sakit banget tentu dianggap sebagai angin lalu setelah berjuang jungkir balik, tetapi kelak ketika kita bisa melalui itu semua kita akan benar-benar tidak peduli dengan masa lalu. Jika bertemu dengan mereka yang bersinggungan di masa lalu, kita bisa tahu batas dan value yang ada pada orang itu. Tentu saya lebih memilih tidak berhubungan lagi dengan orang-orang ini demi tetap mempertahankan vibe positive. Bukan bermusuhan, tetapi meng-skip mereka. 

Mereka yang melupakanmu, berkhianat padamu, menuduhmu, mengabaikanmu, jika hati mereka terbuka, mereka akan menyesali itu semua. Apalagi jika orang-orang ini mengatakan "rindu deh waktu zaman sama kamu" dan kita dengan datar bilang "The past is in the past", semakin akan menimbulkan penyesalan terdalam pada mereka. Tetapi untuk mereka yang masih memiliki kesombongan dalam dadanya maka mereka akan tetap bersikap masa bodoh walaupun sebenarnya mereka sudah berada di tepi jurang kehancuran.

Satu-satunya penyesalan yang pernah saya lakukan adalah kenapa terlalu banyak meluangkan waktu untuk organisasi yang tidak menghargaimu? Tetapi itu hanya penyesalan sesat jika melihat dampak yang saya lakukan dan jejak kebaikan yang saya tinggalkan. Biarlah itu menjadi amal kebaikan yang akan terkenang selalu.

Pada akhirnya berdamai dengan hati lah yang membawa saya pada kemampuan untuk move on dan melupakan semua yang terjadi. Jika kita masih belum bisa berdamai dengan hati, sudah pasti kita akan berlama-lama dengan masalah yang tentu bukan hal yang bagus untuk mental health kita. Belajarlah berdamai dengan diri kita. Tidak instant pastinya, perlu proses yang mendalam dan lama. Hingga pada saat kita menikmati waktu berdamai dengan hati, semua akan terasa baik-baik saja. Tunggulah waktunya dan nikmati prosesnya.

Kembali kepada seseorang yang menelepon itu, maka akan ada banyak cerita juga solusi yang mungkin bisa saya share pada dirinya. Ketika saya sudah past through that scene and stand still in the edge of the cliff. 

Juga akan saya ceritakan bagaimana saya sudah bisa menjadi diri saya sendiri, proves them wrong, sedangkan mereka masih berpura-pura suci di balik noda yang mengkoyak-kayak nurani mereka.

Pada akhirnya, the loser is always standing small. You reap what you sow, dude! Just watch and see.

***

Bekasi, 9 September 2021

21.40 pm   

Karma is on the way, bitch!

#writingteacher #keepwriting #teacherjournal



Friday, November 8, 2019

Look, Who Is Smiling Right Now?



Beberapa hari belakangan ini saya sedang mencoba merapikan Hardisk External saya. Mencoba untuk membuatnya menjadi teratur dengan memisahkan masing-masing folder pictures, document, music dll. Setiap file dari masing-masing folder itu pun diberikan nama yang lebih spesifik agar ketika mencari file yang dibutuhkan langsung ketemu. Juga menghapus segala macam file, gambar , musik dan lainnya yang menurut saya udah gak ada faedahnya.

Hingga saat saya membuka folder yang berisi kumpulan screen shoot dari berbagai chattingan grup WA, FB, dan lainnya, saya tertawa geli sendiri melihatnya percakapan-percakapan di screen shoot itu. Sebagian besar percakapan itu berisi argumentasi, debat, bahkan sampai makian kasar antara saya dengan beberapa orang. Segera saja beberapa screen shoot itu saya pindahkan ke "Trash" agar dosa orang tersebut tidak mengalir terus, lagipula saya juga sudah memaafkan. Dan tawa saya semakin geli saat saya menemukan screen shoot dari beberapa orang yang bersekutu melawan saya. Pesan itu berisi penghinaan, halusinasi, sindiran dan kata-kata yang kurang baik. Saya membayangkan masa-masa itu, saat saya diserbu beramai-ramai dan dianggap duri dalam daging di sebuah grup. Ramai-ramia menyindir saya, beberapa di antaranya bermain aman dengan tidka memilih kedua belah pihak. Namun waktu telah membuktikan segalanya. Akhir dari cerita itu pun berakhir ironis. Saya sengaja membiarkan screen shoot ini dalam hardisk external. Lumayan lah, untuk "kenang-kenangan" bagaimana saya berhasil menghadapi para pengkhianat ini.

Kisah ini bermula dari masalah uang dan beda pendapat. Waktu itu kami hendak mengadakan suatu acara di suatu tempat. Kami tidak mengetahui satu sama lain selain dari grup WA. Kami pun bertemu dan mendiskusikan kegiatan yang ingin kami lakukan. Waktu itu sebagai modal awal saya meminjami tim kami ini sejumlah uang sebagai modal. Kami pun sepakat, acara yang akan kami adakan ini hanya menyewa satu tempat. Namun dalam perjalanannya, banyak peserta yang berminat menghadiri kegiatan ini. Kami pun berembuk kembali apakah akan menambah tempat atau bagimana? Saya pribadi memberikan pendapat agar kita bermain aman saja. Sedangkan dua orang itu, sebut saja "Teh" dan "Mbak", merasa bahwa memerlukan dua tempat karena peminatnya yang antusias. Pada satu titik temu diputuskan tetap satu tempat saja karena Mbak dan Teh juga tidak berani menanggung resiko jika ternyata menyewa dua tempat tetapi peserta tetap tidak penuh. Mulailah keduanya menyindir-nyindir saya di grup, padahal keputusan sudah dibuat bersama.

"Saya sih maunya dua, tapi gak ada yang dukung,"
"Tuh, kan, saya bilang juga apa, coba dua tempat aja!"

Dan sindiran-sindiran yang lain, yang intinya adalah menyalahkan saya. Padahal kondisi keuangan pada waktu itu pun masih belum jelas. Peserta banyak yang hanya booking tapi belum transfer. 

Saya pun yang merasa disindir-sindir terbawa emosi juga. Saya bilang kepada Teh yang memegang dan mengurus keuangan untuk segera mengembalikan uang pinjaman saya sebagai ancaman. Teh dan Mbak tambah marah dan semakin menjadi-jadi menyindir di grup. Bahkan mereka (menurut info) bercerita kepada teman-teman yang lain tentang kejadian ini.

Saya memasabodokan apa yang mereka lakukan. Saya tetap bekerja dan menganggap permasalahan itu tidak ada. Bahkan ketika acara usai pun saat makan-makan mereka enggan mengeluarkan uang.

Setelah kejadian ini Mbak dan Teh mulai bersekutu memusuhi saya. Bahkan Mbak ketika berbicara kasar tanpa tedeng aling aling langsung saja di grup. Saya sendiri sengaja menahan. Si Mbak malah berhalusinasi kalau saya mencoba mendekati dia (cuih!). Dia bilang agar saya tidak usah menghubungi dia lagi karena dia kesal di "ciye" in sama teman-teman yang lain. Dia juga berkata jangan pernah meng-add dia lagi di FB. 

Iyeeeuuu!!! Hellaww!! Dulu si Mbak ini yang meng-add saya di FB. Dia juga yang meminta kepada saya untuk memasukkannya ke dalam grup. Plessss dia juga yang sering japri-japri saya buat sesuatu yang menurut saya receh banget! Hadeeehh...

Sedangkan si Teh juga mendukung si Mbak. Si Teh masih baper tentang uang pinjaman. Dia juga tertangkap basah mengirim pesan yang menjelek-jelekkan saya ke grup yang seharusnya untuk japri. OMG! 

Kedua orang ini kemudian mendapat angin segar ketika beberapa teman di grup yang belum mengenal saya atau iri tanpa alasan dengan saya. Satu orang, kita sebut saja Tong, sering menyindir-nyindir saya dan bercanda dengan arah menyindir saya dengan Teh dan Mbak. Padahal usia Tong jauh di bawah saya. Dia selalu menjadi pion terdepan dalam bersekutu dengan Mbak dan Teh. Entah kenapa Tong tiba-tiba ikut terlibat dengan kekisruhan ini. Padahal awal saya mengenal dia, kami saling baik-baik saja. Teh dan Mbak tampaknya selalu menceritakan semua masalah kepada Tong, dan Tong yang akan memulai sindiran di grup yang lalu ditanggapi oleh Teh dan Mbak.

Satunya, kali ini kita sebut Uda, sebagai pimpinan grup. Sangat disayangkan dia malah memihak kepada Teh dan Mbak. Ketika saya men-japri dia untuk membicarakan hal ini, dia tak sungkan-sungkan memberikan kata-kata kurang pantas kepada saya. Di grup pun dia selalu melemparkan tuduhan yang sellau tertuju kepada saya walaupun dia tidak mengatakan.

Serius, saat itu di grup bagaikan neraka. Padahal awalnya kami sangat akrab. Saya mencoba untuk menjadi pihak yang mengalah tetapi mereka tetap tidak peduli. Jika ada acara off air grup, maka saya harus bertemu dengan orang-orang itu. Saya mencoba bersikap baik dan biasa-biasa saja, berbeda dengan mereka yang jelas menjauhi saya. Ketika ada "spotlight" yang mengenai saya, maka seusai acara off air kebencian orang-orang itu akan semakin meningkat. Mereka pun seolah "playing victim" sebagai korban kebencian saya. 

Mereka pun membuat grup yang tidak melibatkan saya. Padahal mereka sendiri yang pernah bilang, jika ingin membuat grup harus menyertakan pengurus grup utama. Jika ada acara-acara off air, sebisa mungkin tidak melibatkan saya. Mereka pun semakin berani membuat candaan tentang saya di grup yang memang tanpa menyebutkan nama, orang pun sudah tahu siapa yang dimaksud. Juga saat saya bekerjasama dengan teman yang lain di grup itu untuk mengadakan suatu acara, mereka akan membuat candaan dan warning tentang saya. Tetapi itu bukan big problem bagi saya. Selamanya saya berusaha untuk bersikap biasa saja dan berdamai dengan diri saya. Jika "mereka" meminta ucapan doa di grup maka saya pun ikut mendoakan walaupun pada akhirnya tetap kena sindiran. Teh dan Mbak memutuskan pertemanan dengan saya di sosmed, memblok nomer saya dan juga akun sosmed saya. Menurut saya sih sudah overreacting, tetapi saya berusaha untuk mendiamkan saja.

Dalam suasana seperti ini, ketika teman-teman yang tahu kamu benar berada dalam posisi netral, dan suasana grup menjadi panas jika saya berbicara maka saya cukup diam saja. Tak henti-hentinya saya berdoa pada Allah agar yang benar itu ditunjukkan benar dan yang salah itu ditunjukkan salah. Saya tak henti berdoa dan yakin suatu saat Allah pasti akan membuka tabir semua itu. Dia akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hingga tahun pun berlalu. Allah menunjukkan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Mbak memutuskan keluar dari grup dengan alasan bla bla bla. Dia juga mengatakan akan tetap mensupport kegiatan off air grup yang pada kenyataannya adalah nol besar. Maybe she's found another group to make any mess. Lol! Kabarnya pun sudah tidak terdengar lagi. Padahal yang dulu berkata-kata setia kawan, loyal, dll adalah dia. Teh sendiri masih tetap bertahan di grup.

Di grup itu saya juga punya teman lain yang saya anggap lebih netral dan lebih baik. Pada saat kami bertiga sedang berkumpul untuk hangout, kata-kata itu pun keluar.

"Ih, males banget deh sama si Teh. Kemarin kan saya janjian sama Kak Nessa, eh di maksa ikut. Habis itu dia japri saya buat pinjamin dia uang buat ongkos ke tempat acara. Bilangnya minggu depan akan diganti, padahal uang yang sebulan lalu dipinjam aja belum diganti." ujar teman saya itu, sebut aja Kak Ara.

"Terus, Kak?" tanyaku.

"Ya, terpaksa deh saya bayarin." Kak Ara BT.

Saya tahu Kak Ara ini selain banyak uang juga tipe orang yang "gak enakan" sama orang lain. Jadi dia gampang banget untuk dimanfaatin.

"Betul banget! Waktu itu juga dia juga pinjam uang saya. Kalau ada acara dan ketemu dia sambil makan-makan, dia minta dibayarin dulu tapi uangnya gak pernah diganti." kali ini suara Mbak Atik.

Saya gak menyangka Mbak Atik akan angkat suara karena masalah ini adalah rahasia umum yang semua orang sudah tahu. Dan topik yang sangat sensitif sekali.

"Si Tong juga tuh! Kalau ada acara selalu rame di grup ingin ikut tetapi ujung-ujungnya selalu minta dibayarin. Bilangnya gak punya duit, padahal kalau jajan aja banyak banget!" Kak Ara lagi. Gayanya yang lucu dan repetisi kalimatnya bikin saya ketawa sendiri.

"Aduh... maaf nih Mas Yas, kita jadi curhat. Hahaha...."

Kita pun tertawa bersama. Saya juga tertawa, lebih tepatnya menertawakan betapa ironisnya kehidupan ini. Ujung-ujungya kita jadi membahas (membahas ya, bukan menggibah :) ) tentang grup dan karakter masing-masing personalnya. Mereka menahan itu semua karena ada orang yang lebih tua di grup yang ingin kami muliakan. Tidak enak rasanya jika ribut-ribut di grup.

Oiya, Uda juga masuk dalam topik pembicaraan karena gayanya yang memang "gak banget". Bahkan saat saya bertemu dengan seorang teman lain di kota lain, saya baru mengetahui rahasia kelam Uda. Bukan saya yang meminta diceritakan, tetapi seorang teman yang tiba-tiba bercerita begitu saja.

Pada akhirnya semua memiliki jalannya masing-masing. Mbak sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Dukungan yang akan dia berikan nyatanya hanya janji di atas janji. Teh masih berada di grup. Saya sendiri tidak tahu bagaimana urusan dia dengan yang lain. Saya pribadi sih gak mau tahu. Sempat dia membuat grup baru lagi yang tujuannya untuk "patungan" ketika ada acara. Tentu saja saya tidak dimasukkan dalam grup itu. Namun dua teman terdekat saya di grup memilih untuk tidak berpatungan dengan grup itu. Uda sendiri, masih tetap dengan gayanya yang "gak banget" tetapi dukungan untuk dia sepertinya sudah semakin meredam. Dan Tong, akhirnya kita ajak jika ada acara off air. Walaupun lebih banyak kita bertiga saja yang jalan. Karena ditinggal oleh Teh dan Mbak serta Uda maka Tong sudah tidak bernyali lagi. Saya pribadi pun jika dua teman saya meminta untuk mengajak Tong hangout, saya tidak keberatan sama sekali. 

Saya sendiri akhirnya menikmati pertemanan saya dengan beberapa orang saja. Kita sudah tidak terlalu membahas tentang grup, tetapi kami masih tetap menjadi supporter nomer 1 jika grup kami memiliki acara off air. Pada akhirnya terlihat siapa yang tulus dan siapa yang bulus. Saya memaafkan apa yang telah mereka lakukan dan saya tak segan untuk meminta maaf. Sedangkan mereka? Saya tidak pernah satu orang pun mengucapkan permintaan maaf. Walaupun dulu kata-kata mereka sangat menyakitkan, tetapi memberikan mereka maaf adalah kemenangan terbesar saya. Forgive but not forget!

Saya bersyukur Allah menunjukkan semua ini. Segala info itu, tentu saja tanpa saya mengorek-korek nya, datang sendiri menghampiri saya. Semuanya terjadi tanpa saya sangka. Apa yang saya minta  tentang kebenaran ditunjukkan oleh Allah.

Jadi kalau kita memiliki keyakinan bahwa kita benar dan banyak orang menganggap kita salah, tetaplah yakin bahwa kita benar.  Doa yang kita panjatkan atas kedzaliman yang mereka lakukan, Insya Allah akan berbalas. Intinya harus yakin dan sabar. Segala tangis, sakit hati, kemarahan dan lainnya akan berganti dengan senyum dan keceriaan. Bila  kita mengingat kembali hal itu malahan akan menjadi suatu kenangan yang lucu dan "gak banget!". Hahaha.

Selamat tinggal, para kuman! Allah telah menunjukkan jalan. Hingga hari ini pun kalian hanya bisa berbicara tanpa memberikan bukti. Juga masih mencari korban kalian selanjutnya. So sad... Ingin rasanya saya membantu kalian tetapi, maaf, the breaking glasses will never be the sama again. Juga ingin berteriak memaki kalian, tapi harga diri saya lebih tinggi daripada melakukan berbuatan rendah seperti itu. 

At first when I see you cry
It makes me smile
Yeah, it makes me smile
At worst I feel bad for awhile
But then I just smile
I go ahead and smile


-Lily Allen-


One thing, I really want to tell you : 

LOOK, WHO IS SMILING RIGHT NOW???***(yas)




Bekasi, 6th of November 2019
09.43 am



Sebagian isi percakapan pribadi yang harus saya edit dulu sebelum diposting, ya guys!


Awal mulanya nih nih... jreeng jreeng...

Ungkapin dong unek-unek saya

Unek-unek yang daripada disimpan sendiri mending diungkapin langsung

Sindiran-sindiran yang PENTING banget dibawa ke grup oleh Teh

Ini Tong, yang kalau di grup berani langsung negor saya. Kalo ada teman lain, dia gak mau dan berani. Haiyaaa....

Uda yang sok bijak, tapi gak punya attitude sama yang lebih tua. Tong nambahin yang bawahnya, yang "SEHARUSNYA BERFIKIR....."

Mbak yang gak sopan dan nyuruh orang yang lebih tua. Boro2 buka aib, yang bawa2 justru dia dengan membalutnya seolah Islami

Awalnya si Mbak bilang seseorang "statusnya pedas dan tajam", ntar liat deh dia ngomong beda lagi.

Mbak yang bilang "Iya saya jadi nyesel...." , dibales langsung dong sama orang yang lebih tua di grup "klo unfriend ga perlu..." Check mate!

Minta diperhatiin banget sok sok an merendah gitu


Dih ke GR an!! Iyeeeuuuuu.... siapa elu!

Selalu bawa masalah pribadi ke grup, tapi pas diingetin selalu PLAYING VICTIM! Duh!

And taraaaa!!!! Di sini dia bilang seseorang itu "bukan tipe mulut pedas", lah tadi di atas dia bilang "Pedas dan tajam!" Kalo mau playing victim itu konsisten aduh Mbak! Plesss ini yang ditanya apa, jelasinnya jaka sembung bawa golok ples curhat. Masa bodo amat siapa mau minang siapa. Satu lagi, dibalut tulisan Islami biar......... 

Uda yang membabi buta ngebela Mbak dan Teh. Padahal saya gak punya konflik pribadi sama dia.

Seolah2 cerdas, tapi attitude sama orang tua RENDAH! Baper dikacangin, komunikasi aja jarang. Ujung2nya masuk tim Mbak dan Teh. Poor you!

Englishnya, tentu aja ngikutin saya. Jadi yakin, dia marah2 gak jelas gitu karena takut tersaingi. Cuihhh... saya mah gak ada kepengenan nyaingin orang bro!


Di grup kembali nyindir walaupun pakai inisal nama saya! Lah gw yang mau liburan pake uang gue kenapa situ yang repot??? Minta sama grup atau siapa pun gue kagak pernah eh situ yang ketakutan masalah keuangannya terbongkar ya?
Liat siapa yang mulutnya jahat? Tapi kalau ketemu saya............ Uda uda...





Monday, March 19, 2018

The End Of A Journey (Part 1)


Deep meaning of My journey

“Jika hatimu lelah dengan rutinitas kehidupan, ambilah jeda barang sebentar. Lalu nikmati hari-harimu dengan apapun yang ingin kau lakukan. Lakukan apa yang kau mau dan jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaanmu,”


Ahhhhh… Saya lelah! Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah secara batin. Banyak hal yang belum bisa lakukan. Banyak orang yang belum bisa bantu. Banyak murid bermasalah yang belum bisa saya tangani. Banyak kewajiban yang belum bisa saya jalankan.

Lalu sepertinya sekejap kemudian beban itu menjadi bertambah berat dengan adanya omongan-omongan tidak sedap pada setiap hal yang menyangkut diri saya. Tidakkah mereka bisa membiarkan saya menjadi apa adanya tanpa perlu berpura-pura?


“Kapanpun dan dimanapun, akan datang orang-orang yang ingin selalu menjatuhkanmu, Yass. Tak peduli betapa pun sempurnanya dirimu. Mereka akan selalu hadir untuk menghancurkan kepercayaan dirimu dan melukai perasaanmu. Lalu ketika apa yang mereka inginkan sudah terlaksana maka mereka akan pergi dan mencari korban lainnya,”



Lalu bagaimana jika Saya kalah dan mereka menang?


“Jika kau memilih untuk kalah, maka tujuan mereka tercapai. Tinggal kau yang akan mengais lukamu sendiri. Padahal bisa saja kau menolak untuk kalah dan memenangkan pertandingan,”




Ahhhh… Saya seperti jatuh tersungkur. Semua hal yang menjadi beban di hati langsung saja saya tumpahkan pada Allah, agar Dia memberikan saya kekuatan. Bukankah Dia yang Maha Kuat? Lalu darimana kekuatan itu berasal, jika bukan dari Dia?

Untuk mereka yang berusaha menjatuhkanmu dan melukai hari-harimu? Saya percaya Allah akan membayarnya dengan kontan sesuai dengan berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk menjatuhkan orang itu.

Rasanya ingin terus berpikir positif, namun adakalanya pikiran negatif mengambil alih.

Jadilah saya memutuskan untuk melangkahkan kaki saya menuju suatu tempat, tidak jauh, Wonosobo Jawa Tengah. Ke Dieng tepatnya. Semuanya tidak direncanakan. Itenary pun dibuat 2 jam sebelum keberangkatan. Itupun hanya garis besarnya saja. Tiket, penginapan, dll tidak ada yang dibooking, biar semua dilakukan secara on the spot.

Perjalanan ini seperti membawa kenikmatan sendiri bagi saya. Menempuh perjalanan Bekasi – Wonosobo kurang lebih 9 jam (yang nyaris saja gagal berangkat), saya berusaha menikmatinya. Bertemu dengan seorang Ibu yang asli Wonosobo namun bekerja di Jakarta. Lalu kami mengobrol ngalor ngidul. Ah, serius, kalau bertemu dengan “ibu-ibu” bawaannya saya ingin mencium tangannya saja, lalu menangis mengenang Ibu saya.

Menuju Dieng pun saya menikmati perjalanan di mikrobis bertemu dengan ibu dan bapak petani dengan gembolan besarnya, atau keranjang sayurnya. Walaupun saya tidak paham Bahasa Jawa namun saya berusaha untuk menikmati guyonan-guyonan mereka. Saat saya terlihat pucat karena jalanan yang berkelok-kelok dan sopir yang mengerem mobil dnegan tidak baik, maka seorang Ibu memberikan saya permen.

Ketika sampai di Dieng, saya berjalan kaki menyusuri banyak rumah dan tempat homestay hingga saya menemukan satu tempat yang menurut saya sangat nyaman. Walaupun hanya sebuah hostel dengan 4 bunk bed, namun pada kenyataannya saya berada di kamar sendiri. Saya menikmati sendirian di kamar. Menulis buku diary, tilawah, mendengarkan musik ataupun tidur berselimut tebal untuk menahan dingin udara Dieng.

Mengelilingi Dieng pun saya ditemani oleh Mas Udin, seorang sopir mobil yang katanya baru pertama kali ini mengantar pakai motor. Dia juga yang mengambil foto-foto untuk saya di beberapa tempat. Jadilah, sebagai sopir ojek beliau merangkap sebagai fotografer saya. Hehehe… Tidak banyak tempat yang saya ingin datangi, yang terpenting saya bahagia dan senang berada di tempat itu. Bahkan ketika menanjak menuju Batu Pandang (spot tertinggi untuk melihat Dieng), saya menambahkan rasa syukur pada berat badan saya yang belakangan ini terus menyusut. Walaupun medannya tinggi, hujan deras, dan nafas yang terengah-engah karena menahan dingin, tetapi tubuh kurus saya mampu membawa saya ke atas bukit itu. Tidak terbayangkan jika tubuh saya masih gemuk, mungkin saya akan menyerah terlebih dahulu sebelum sampai puncaknya. Alhamdulillah, datangnya masalah dari murid-murid yang membuat saya malas makan membuat tubuh saya kehilangan beberapa kilo. 

Di balik foto yang bagus ada usaha yang bagus pula


Saat bangun jam 4 pagi, menuju Golden Sunrise Sikunir pun, lagi-lagi saya merasa bersyukur. Tidak terbayangkan jika perjalanan saya ini bukan tentang masalah menemukan semangat saya lagi, maka mungkin saya akan lebih memilih bergumul dengan selimut untuk menghalau dinginnya udara Dieng.

Sesampainya di Bukit Sikunir pun, ketika semua orang terlena dengan foto-foto dan memanfaatkan alam untuk membuat foto menjadi lebih bagus, saya lebih senang memutar musik lewat headphone lalu merenungi tentang ciptaan Allah yang berupa Matahari yang sebelum muncul didahului dengan garis horison. Lalu ketika matahari itu muncul perlahan, ketika orang-orang semakin heboh dengan foto-fotonya, maka saya malah menangis. Menangis untuk kesempatan menikmati Sunrise yang di Jakarta tidak bisa dapatkan. Lalu menangis ketika mengingat, bahwa suatu hari sinar itu akan punah dan matahari tidak akan muncul lagi. Allah, Engkaulah yang menciptakan apa yang ada menjadi tiada. 

Sunrise di Sikunir


Saya sungguh menikmati perjalanan saya kali ini. Berinteraksi dengan orang lain dan menjalankan apa yang ingin saya jalankan. Tidak terikat dengan dengan itenary yang super detail ataupun “mewajibkan” diri ke spot-spot tertentu. Saya hanya menikmati setiap langkah yang saya lakukan dan menikmati sapaan-sapaan dari setiap orang yang berinteraksi dengan saya. Bahkan saya yang biasanya super rempong untuk urusan kenyamanan, mencoba menerima apa yang saya dapatkan. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya berusaha untuk membuatnya menjadi nyaman. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan keinginan saya, maka alih-alih meluapkan emosi, saya hanya berusaha untuk mengambil nafas panjang dan berbisik “Lord knows what’s best for you!”.
“I start my journey when You forgive me
I swear my whole world stops.
You are in my heart and, I’m so glad that its fine
You are One truly kind…”



-With You, Raef-

Semakin saya yakin kalau Allah menginginkan saya berjalan di muka bumi, selain untuk mengenal ciptaan-Nya, juga agar saya semakin menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Lalu, bersyukur untuk yang saya dapatkan setiap harinya. Ketimbang membandingkan kehidupan saya dengan orang lain, Allah menginkan saya untuk menerima apa adanya apa yang sudah menjadi catatan rizki saya. Sehingga syukur yang saya lakukan akan membuat nikmat-Nya bertambah. Allah, adakah ketenangan yang kudapatkan selain dari diri-Mu?


Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu"

QS. Al – An’am ayat 11


Maka saya memutuskan untuk bahagia. Saya memutuskan untuk menikmati hari-hari saya. Saya memutuskan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitar saya. Saya memutuskan untuk menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya. I only live once! Maka jika sudah tiba akhir perjalanan hidup saya, maka saya tidak akan menyesali apapun. Menumbuhkan cinta dalam hati lalu memberikan yang terbaik bagi semua orang adalah perbuatan terpuji yang sering dilakukan oleh

Rasulullah SAW. Lalu bagaimana sikap kita dengan orang-orang nyinyir yang suka mencela? Biarkan mereka mencela dan nyinyir jika bisa membuat mereka bahagia. Biarkan apa yang mereka lakukan itu sebagai pembelajaran dan menjadikan kita lebih kuat. No words can’t bring me down!


Your heart is too heavy from things you carry a long time,
You been up you been down, tired and you don't know why,
But you're never gonna go back, you only live one life
Let go, let go, let go


-Live Like A Warrior, Matisyahu-

Sesungguhnya hidup hanya sekejap mata saja, maka jika kita tidak menikmatinya maka sungguh terasa sia-sia. Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan yang akan berhenti pada suatu titik bernama kematian. Berdoalah untuk kematian yang damai, tenang dan khusnul khotimah. Insya Allah***(yas)





Yogyakarta, 19th of March 2018 
@Balai Kopi Jogokarian, 17.02 
Kangen dan rindu semoga cepat berlalu.





Motto Buya Hamka yang saya temui di sebuah kedai kopi


Menikmati pemandangan dari atas setelah bersusah payah menanjak

Thursday, January 25, 2018

Bang Kapten! (Untuk Dia yang sedang termenung)





"Berapa menit lagi Kev, waktunya?"

"Paling 2 menit lagi, paak"

Tak lama pluit berbunyi panjang. Aufa menangis, Garin menangis, Hafidz juga, Razandy ikutan menangis. Aku mencari Bang Kapten, belum menangis tetapi wajahnya sudah memerah.

"Bu Yen, ayo bu deketin mereka," ujarku pada Bu Yen, Kepsek kami yang juga jadi supporter di pinggir lapangan tadi. Bu Yen berjalan menuju kursi pemain.

Melihat para pemain menangis, aku ikutan menangis (tapi dalam hati... hahaha). Sedih melihat mereka kecewa. Aku pun mengekori Bu Yen di belakang. Kevino yang kucari-cari sudah tidak ada. Aku menuju ke satu titik, Bang Kapten.

"Waahh, kalian hebat loh tadi! Keren banget!! Keceh Badai! You all did well! Semangat!" ujarku dengan suara dikuat-kuatkan... hahahah...

Hafidz berjalan gontai diikuti mamanya. Razandy dihibur mamanya. Aku melihat Bang Kapten berjalan memegang sobat terbaiknya, Si "celana bolong". Aku segera menuju dia.

Beberapa waktu seusai sholat jumat tadi aku sempat berpesan pada Bang Kapten yg sengaja kusuruh duduk di sampingku. "Sebelum keluar, doa dulu Kapten" Dia mengangguk dan berdoa dengan khusyuk. Kemudian, "Give me a hug!" ujarku lagi. And he did. “Do the best!” ujarku sebelum dia pergi.

Usai itu dia segera keluar bersama dengan teman-temannya. Aku pergi ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa urusan yang belum selesai. Pertandingan belum dimulai jadi aku masih ada waktu untuk mengerjakan beberapa hal sebelum mendukung tim Bang Kapten.

Tak lama suaranya terdengar lagi memanggilku, menanyakan pelatihnya yang juga rekan kerjaku. Aku memberi tahunya kemudian dia pergi.

**

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat keriuhan terdengar di lapangan. Beberapa anak yang sedari tadi kuminta untuk mendukungnya sudah duduk di pinggir lapangan, termasuk si "celana bolong, sahabat Bang Kapten. Aku segera bergabung dengan keriuhan itu. Di dekatku ada Kevino dan beberapa anak yang lain. "Celana bolong" duduk di pinggir lapangan, berteriak-teriak menyemangati sahabatnya.

Pertandingan berjalan seru. Lawan di final adalah SDIT Thariq Bin Ziyad. Di atas lapangan mungkin Tim Bang Kapten bisa menang, tetapi tim lawan menurunkan kekuatan penuh.

Beberapa saat kemudian kebuntuan permainan berakhir dengan gol dari Bang Kapten. Kami yang menonton berteriak-teriak senang. Aku mengelu-elukan nama Bang Kapten. Kevino yang ada di sampingku protes karena aku terlalu heboh, katanya. Hahaha…

Aku berteriak-teriak memanggil Bang Kapten, jika acapkali dia melakukan tendangan. Aku memanggil Razandy, Aufa, Garin, siapapun yang kubisa kupanggil pasti kuteriaki namanya. Tak lupa teriakan khas ku, “Come on!! You can do it!”

Tetapi permainan semakin tegang. Gol pun bersarang di gawang Aufa, menjadikan kedudukan menjadi 1-1. Kami terus berteriak-teriak memanggil-manggil setiap orang yang bisa kupanggil. Bang Kapten yang paling utama. Gawang tim Bang Kapten semakin dibombardir lawan. Beberapa peluang bagus gagal dieksekusi Razandy, Garin, dan Bang Kapten. Permainan Aufa semakin menurun dan terlihat tegang. Beberapa kali shoot yang dilakukannya dari gawang melenceng jauh ke sebelah kiri atau kanan gawang lawan. Raifa berusaha keras menahan gempuran bola. Razandy nyaris membuat gol kalau tidak berhasil ditepis oleh kiper lawan. Semua terlihat frustasi. Pak Budi, pelatih mereka teriak-teriak. Kami di pinggir lapangan ikutan tegang dan teriakanku semakin kencang, “Focus!! Focus!! Focus!!” teriakku melihat kekacauan tim kami. Dan petaka itu datang. Gol kedua berhasil disarangkan oleh tim lawan. Pemain semakin tertekan dan nervous. Kami di pinggir lapangan semakin deg deg-an.

"Si Celana Bolong" berteriak-teriak mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang lawan. Aku mengingatinya, “Hoi, jangan sampai kita sudah kalah terus ditambah menjadi buruk dengan perkataan yang tidak baik ya, Celana Bolong.” Si "Celana Bolong" menurut. Kami memberikan semngat lagi.

Hafidz masuk menggantikan Razandy. Kami semakin berteriak-teriak. Bang Kapten semakin lincah mengawal bola tetapi selalu dihadang oleh tim lawan. Aufa semakin melakukan banyak kesalahan dengan shoot nya. Terlihat sekali tim kami sangat tegang dan tidak santai. Aku lagi-lagi menoleh pada Kevino menanyakan waktu. Pak Wi, wakil kepala sekolah kami memberitahu bahwa waktu sudah masuk injury time and it will be so hard to win. Akhirnya wasit meniupkan peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Tim lawan sujud syukur dan bersorak kegirangan. Bang Kapten dan teman-temannya juga sujud tetapi penuh dengan air mata. Pertama yang kutangkap menangis, Aufa, diikuti Garin, Hafidz, Razandy dan… Bang Kapten. Tetapi Bang Kapten berusaha terlihat tegar.

Setelah itu aku mengikutinya dari belakang saat dia berjalan memegang bahu "Celana Bolong". Aku menangkapnya, “Wah….Bang Kapten hebat banget! Tapi memang belum beruntung aja. Tetap semangat ya!” Dia menahan tangis. Aku mengikutinya dan duduk di pinggir tangga gedung 2.

Celana Bolong mencoba menghiburnya. Aku memeluknya dan memberikan kata-kata motivasi. Si "Celana Bolong" membuat lelucon tentang tim lawan, Bang Kapten tertawa mendengarnya. Aku selalu memerhatikan mereka berdua. Celana Bolong membuat lawakan (yang menurutku jayus), yang tertawa sudah pasti sahabatnya, Bang Kapten. Aku ikut tertawa bukan karena lelucon Celana Bolong, tapi melihat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Kemudian aku memotret Bang Kapten dengan posisi termenung seperti itu.

Sebelum aku meninggalkan Bang Kapten, aku memberinya semangat kembali. Razandy mendekat, dan aku pun memberinya ucapan selamat dan menyemangatinya. Kemudian aku pergi karena ada acara lagi. Pada akhirnya aku sedikit menyesal karena tidak memotret Bang Kapten dan Si Celana Bolong lebih banyak. Termasuk Razandy juga.

***

Mungkin kekalahan yang sekarang tidak terlalu menyakitkan bagi Bang Kapten. Mereka sudah bermain dengan bagus dan maksimal, namun takdir menentukan mereka harus kalah.

Aku teringat sebulan sebelumnya, di tempat yang sama, kelas Bang Kapten juga mengalami kekalahan. Mungkin itu hanya pertandingan antar kelas yang tidak begitu bergengsi, tetapi kelas Bang Kapten waktu itu adalah kelas yang diunggulkan karena banyak anak bola di dalamnya. Tetapi di final, kelas Bang Kapten kalah. Mungkin kekalahan itu akan menjadi biasa-biasa saja pada umumnya, tetapi menjadi sangat menyakitkan karena AKU (PURA-PURA) TIDAK MENDUKUNGNYA!

Alih-alih Aku malah sengaja mendukung tim lawan. Mental mereka pun down. Mereka kalah, dan mereka memusuhiku! Sedihnya. Padahal begitu peluit panjang terdengar, yang ingin kulakukan adalah satu, memeluk mereka dan menenangi mereka. Dan mereka pun marah kepadaku. This is the very worst episode of my life.

Setelah itu kami “bermusuhan”. Namun permusuhan itu selesai setelah aku berusaha untuk memaafkan dan menyadari kesalahanku. “Mereka masih anak-anak, Yas. They even didn’t know what they did it’s hurt you,” ujar seorang temanku. Tak lama aku pun akrab kembali dengan mereka. Celana Bolong yang paling sportif dan dia yang paling dewasa (cubit pipi Rey).

Dengan Bang Kapten? Setelah kejadian ini aku menjadi ingin selalu memerhatikannya. Kami menjadi dekat. Dia anak yang baik. He just doesn’t know how to act as a good person. Mungkin terlihat jutek diluarnya, tetapi percaya deh, dia anak yang baik.

Hubungan kami pada awalnya memang biasa-biasa saja. Dia sepupu dari Razandy dan setiap kali aku menegur Razandy, maka aku pun ikut menegurnya. Padahal aku tak pernah mengajarnya sampai kelas 5 sekarang. Hingga akhirnya dia berada di kelas di mana aku menjadi wali kelas kedua. Awalnya pun biasa-biasa saja. 

Di ulang tahunnya, Oktober 2017, entah kenapa tiba-tiba aku merasa ingin memerhatikannya saja. Hal itu datang tiba-tiba. Kemudian kami pun menjadi akrab. Sebagai seorang guru dengan murid dan juga sebagai sahabat.

Empat tahun sebelumnya aku juga akrab dengan seorang anak bernama “A”. Sekarang dia sudah duduk di kelas 3 SMP dan kami jarang berkomunikasi lagi. Dia menjadi anak yang “aneh” dan “liar” bagiku sekarang. Dulu waktu dia kelas 1 sampai kelas 5 aku begitu intens memerhatikannya. Mengajarinya mengaji, membantunya belajar Bahasa Inggris maupun pelajaran lainnya. Lagi-lagi sebenarnya “A” adalah anak yang baik, namun pengaruh lingkungan yang akhirnya membuat dia menjadi “tidak baik”. Kami sempat bermain petasan di rumahnya dan bukber bareng, tetapi aku gagal merengkuhnya saat dia berjalan terlalu jauh dan menjadi liar. Aku segan untuk menegurnya dengan perasaan malu dan memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain bila aku terlalu memerhatikannya. Padahal jika kuingat lagi, untuk apa perkataan tidak penting orang-orang itu kuperhatikan, pada akhirnya malah menimbulkan penyesalan tidak bisa menolongnya. Terkadang orang hanya bisa berkomentar pedas yang membuat hati kita menjadi luka. Padahal mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Akan selalu ada orang yang berkomentar pedas untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. Just get over it!

Sekarang aku tak ingin hubungan “istimewa” dengan Bang Kapten berakhir seperti “A”. Bang Kapten anak yang baik dan memiliki keluarga yang baik pula. Aku yakin jika dia dikembalikan kepada fitrahnya menuju kebaikan, maka dia akan bisa terus menjadi baik. Aku yakin dan sangat yakin. Aku akan mencoba mengawasinya. Walaupun waktuku bersamanya mungkin tak lebih dari 4 bulan lagi tetapi aku akan mencoba untuk terus berkomunikasi dengannya. Anak yang baik pasti akan menemukan jalan yang baik juga.

Semangat terus ya, Bang Kapten! Aku akan selalu mendukungmu! Kamu hebat! Kamu keren! Dan yang lebih penting, kamu baik! Kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Melajulah terus, Bang Kapten! Aku ingin melihat dirimu memegang piala itu dan berkata, “Kemenangan ini kupersembahkan untuk Pak Yass yang ganteng abiss!” Hahahah....***(yas)




Jakarta-Bogor-Bekasi, 23-25th of January 2018
@My room, Mujigae, office, 08.18 am
Persembahan untuk Bang Kapten.
Love you full to the moon and back! 



Ps. Celana Bang Kapten sengaja ditutup emoticon biar nutupin auratnya :)



Tuesday, January 23, 2018

Jahat!! (Arrrgggghh!!!! Im very uncomfortable!)

  



(gak selamanya maksud baik, dianggap baik, grrrr!!!)

**

Baru aja selesai ngajar. Mood lagi bagus. Bagi-bagi permen. Seru-seruan. Eh, seusainya...

Tidak ada yang bicara, tetapi ada kata yang tak terucap : "Jangan deket-deket anak lagi, Pak!" titipan beberapa ortu. Guru kelas membela bahwa mereka berpikir terlalu jauh.


WTF!! Jahat!!

Pasalnya? Saya terlalu sering ngefans sama, sebut saja "Bambang" murid kelas 2 yg sopan, baik, dan pintar. Saya sering bangga-banggain dia dan posting foto di akun sosmed saya. Ada indikasi, ya you know lah, LGBT. Saya sudah besar, belum menikah, suka anak-anak. Arrrgggghh!!! Pengen rasanya marah-marah tapi..... Gak guna! Dan bukan ortu si "Bambang" yang protes. Aneh!

Baru kali ini saya dijahatin di sekolah kayak begitu. Dulu juga pernah ada yang menuduh saya seperti itu, tetapi dia khilaf dan sampai datang ke rumah saya bersama istrinya minta maaf. Sakit? Udah pasti. Sedih? Ngetik ini pun sambil nahan air mata. Marah? Pengen maki-maki itu orang tapi apa gunanya?

Andaikan orang itu tau, gimana gak nyamannya "sendirian" kayak begini. Belum lagi dibully sana-sini, lebih tepatnya disuruh cepat-cepat nikah. Kalau saya ceritain bisa-bisa mereka semua pasti stop membully saya. Tapi Im not kind of person like that. Selama masalah masih bisa ditanggung saya dan diadukan ke Allah, gak ada solusi yang lebih bagus daripada meneteskan air mata memohon dengan sangat pada-Nya. Saya tau pilihan Allah lebih baik daripada maunya saya. Waktu yang diberikan Allah akan lebih indah daripada waktu yang sudah saya terka-terka. Kalau sudah begini, siapa yang tak bisa menolak takdir.

Begitupun dengan murid2 saya. Saya gak bisa cuma "gitu-gitu" doang. Saya mau punya bond yang kuat dengan mereka. Membuat mereka nyaman, senang dan gembira. Saya ini Guru, sudah berapa banyak buku yang saya baca tentang "make comfortable class". Mengajar itu passion saya. Kalau bukan passion, ngapain saya bela-belain pagi-pagi berangkat dari Jakarta jam 05.30 pagi, pulang lagi jam 17.00. Niatan saya, they like English lesson. Mereka bahagia dan gak terbebani belajar Bahasa Inggris. Berapa banyak yang akhirnya terbantu di kelas saya. Mereka yang akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas Bahasa Inggris, dll. Responnya? Ah, anak saya sudah pintar dari sananya. Yeah, You're RIGHT! Never WRONG!

Saya ini mengajar SD sudah nyaris 10 tahun. Sebelumnya saya ngajar SMA 5 tahun. Dan baru kali ini saya merasa gak nyaman dengan hal ini. Tapi tenang nanti kedepannya saya bakalan biasa lagi.

Tau gak zaman-zaman saya ngajar SMA? Seorang murid yang gak pernah sholat tiba-tiba pinjem sarung ke saya karena kangen sholat Ashar usai pendekatan persuasif saya. Dan dia anak yang paling ditakuti satu sekolah. Seorang murid yang lain tengah malam menelepon saya mengaku bahwa dia telah berzina (ini SMA loh!). Murid-murid wanita yang suka clubbing menangis rebutan mau ikut Rohani Islam usai saya putarkan film tentang kematian. Belum lagi yang tiba-tiba sms untuk sekedar curhat atau minta bantuan. Mereka bayar ke saya? Saya bukan tipikal yg mengharapkan bayaran. Kadang jika kasus sudah selesai saya memberi mereka hadiah. Bukan cuma seorang murid tapi banyak murid. Belum lagi menulis surat memberikan semangat untuk mereka. Apa saya mengharapkan imbalan?

Untuk anak-anak pun begitu. Ada yang tiba-tiba tanpa saya minta, curhat tentang keluarganya. Apa saya langsung suruh mereka musuhin ortunya? Yang ada saya selalu bilang, "Your parents are too kind. They truly love you but they don't know how to tell to you,"

Belum lagi yang pagi-pagi nyamperin saya bilang, "Can you give me a big hug?" anak perempuan, sebut saja Mawar. Apa saya harus menolak dia karena takut disebut LGBT? Yg ada saya malah berucap : “For sure!” Memeluknya tentu aja bukan karena maksud2 lain. Kalian tau pentingnya hugging bagi anak seumuran mereka?

Kali lain, setiap saya lewat anak-anak itu selalu mengejar-ngejar saya. Kalo saya menyebutnya pembully-an terhadap saya. Ini dilakukan rata-rata oleh anak-anak cowok kelas rendah. Menarik tangan saya, melompat ke punggung saya minta digendong, meluk-meluk kaki saya, dll. Apa saya marah-marah? Asalkan mereka senang, it’s ok for me. Ketika mereka sudah mulai keterlaluan, baru saya menasehatinya perlahan-lahan.

Di kelas pun saya merasa “blend” dengan mereka. Sehingga saya bisa membantu mereka dalam belajar. Bermain mime, menari diirngi lagu bahasa Inggris sebagai media pembelajaran, dll. Hal ini tidak mungkin saya lakukan jika saya bersama orang dewasa. Saya malah merasa kikuk. Ketika bersama anak-anak saya menajdi lebih ekspressif. Intinya adalah membuat mereka senang dan gembira.

Pernah satu kasus, ada anak the rudest in the class, dia berbicara kotor. Sebelumnya saya sudah mengingatkan tetapi tidak diindahkan oleh dia. Hingga akhirnya saya benar-benar harus “marah” dan membuat semua anak di kelas terdiam. Tentu saja marah saya bukan marah betulan karena emosi, tetapi marah untuk mengingatkan. Di akhir kemarahan itu saya memeluk the rudest boy itu dan menasehatinya dengan lembut. Can you imagine, mengubah emosi menjadi ketenangan dalam seperkian menit? Cuma guru yang bisa! Kemudian hari, The rudest boy itu tidak berani lagi berbicara kotor di depan saya dan dia begitu semangat mengikuti pelajaran saya.

Untuk anak-anak kelas atas, apakah orang tua tahu betapa kotornya bahasa anak jaman now? Dan mereka kebanyakan berani mengucapkan itu di depan saya! Saya marah? Tak perlu marah, masih bisa menasehati. Mereka bahkan tidak mengerti maksud yang mereka ucapkan sendiri. Ke guru lain, saya tak yakin mereka berani mengatakannya. Mereka akan berpura-pura baik, tetapi mereka bisa berkata begitu pada saya, kenapa? Kenyamanan! Terus saya begitu saja membiarkan mereka berkata-kata buruk di depan saya? Yang sudah-sudah saya memberikan pujian bahwa mereka bisa berkata lebih baik, hal itu malah menghentikan omongan2 buruk mereka.

Lalu apakah mereka selesai sampai disitu? Tahukah kita betapa banyak anak yang feel lost? Itulah perasaan anak-anak jaman now. Solusi, kasih perhatian! Ingatkan mereka jika mereka melakukan kesalahan, puji mereka bila menemukan kebaikan. Give them hug! Tentu saja putra dengan putra dan perempuam dengan perempuan. Jika mereka masih kecil, hug sewajarnya dan perlahan2 kasih pengertian. Dalam sebuah pelatihan karakter yang saya ikuti, anak-anak TK itu memerlukan guru laki-laki. Ya, they need “daddy” image to build their characters. Jika daddy mereka yang masih perhatian saja bisa membuat mereka Lost, apalagi daddy mereka yang tak pernah perhatian.

Lalu datanglah virus LGBT. Tentu virus ini adalah salah satu protocol Zion yang dilancarkan untuk memuluskan aksi The World Order. Maka berpelukan lelaki dengan lelaki terasa weird. Semua penuh kecurigaan yang melewati batas. Tetapi hanya tinggal curiga tanpa bisa memberikan solusi yang konkret. Orang tua tetap sibuk, semua artikel tentang LGBT dibaca, tetapi hanya menyuruh sana sini tanpa mau peduli kondisi yang seharusnya mereka ketahui. Benar kata seorang teman, menjadi orang tua memang alami tapi tetap memerlukan ilmu untuk menghadapi kecanggihan kids jaman now.

Kata-kata tidak terucap itu bagi saya “menyakitkan”. Menuduh hanya berdasarkan kecurigaan yang tidak beralasan. Padahal semua yang saya lakukan tentu ada misinya. Mungkin kata-kata itu akan membuat saya terjerembab untuk beberapa saat. But they must be remember, words can bring me down. And It will affect nothing to myself. I am what I am no matter what. I want to be what I want to be, not others want to be. Your words and your prejudice will not take me over. But, anyway, Thank You so much. For me forgiveness is a nice things to do.

Ah, saya jadi teringat beberapa malam setelah mengoreksi Ulangan akhir semester anak-anak. Saya sibuk membeli berbagai macam panganan untuk dibagi-bagi dengan tujuan wajah-wajah itu semakin semangat. Dan tak lupa saya menulis kata-kata menyemangati mereka dalam lembar kecil, tentu dengan berbagai macam kata yang berbeda-beda dengan tujuan they enjoy my class and my lesson. Beberapa anak yang "tidak menonjol" sengaja saya menangkan untuk membuatnya percaya diri. And for the comment what I've done, I don’t give a damn!***(yas)



Bekasi, 22nd of January 2018
@teacher's room, 15.31
I just can't stop crying 😢😢😢



Some of photos me and my students :