Showing posts with label duka sedalam cinta. Show all posts
Showing posts with label duka sedalam cinta. Show all posts

Tuesday, January 23, 2018

Jahat!! (Arrrgggghh!!!! Im very uncomfortable!)

  



(gak selamanya maksud baik, dianggap baik, grrrr!!!)

**

Baru aja selesai ngajar. Mood lagi bagus. Bagi-bagi permen. Seru-seruan. Eh, seusainya...

Tidak ada yang bicara, tetapi ada kata yang tak terucap : "Jangan deket-deket anak lagi, Pak!" titipan beberapa ortu. Guru kelas membela bahwa mereka berpikir terlalu jauh.


WTF!! Jahat!!

Pasalnya? Saya terlalu sering ngefans sama, sebut saja "Bambang" murid kelas 2 yg sopan, baik, dan pintar. Saya sering bangga-banggain dia dan posting foto di akun sosmed saya. Ada indikasi, ya you know lah, LGBT. Saya sudah besar, belum menikah, suka anak-anak. Arrrgggghh!!! Pengen rasanya marah-marah tapi..... Gak guna! Dan bukan ortu si "Bambang" yang protes. Aneh!

Baru kali ini saya dijahatin di sekolah kayak begitu. Dulu juga pernah ada yang menuduh saya seperti itu, tetapi dia khilaf dan sampai datang ke rumah saya bersama istrinya minta maaf. Sakit? Udah pasti. Sedih? Ngetik ini pun sambil nahan air mata. Marah? Pengen maki-maki itu orang tapi apa gunanya?

Andaikan orang itu tau, gimana gak nyamannya "sendirian" kayak begini. Belum lagi dibully sana-sini, lebih tepatnya disuruh cepat-cepat nikah. Kalau saya ceritain bisa-bisa mereka semua pasti stop membully saya. Tapi Im not kind of person like that. Selama masalah masih bisa ditanggung saya dan diadukan ke Allah, gak ada solusi yang lebih bagus daripada meneteskan air mata memohon dengan sangat pada-Nya. Saya tau pilihan Allah lebih baik daripada maunya saya. Waktu yang diberikan Allah akan lebih indah daripada waktu yang sudah saya terka-terka. Kalau sudah begini, siapa yang tak bisa menolak takdir.

Begitupun dengan murid2 saya. Saya gak bisa cuma "gitu-gitu" doang. Saya mau punya bond yang kuat dengan mereka. Membuat mereka nyaman, senang dan gembira. Saya ini Guru, sudah berapa banyak buku yang saya baca tentang "make comfortable class". Mengajar itu passion saya. Kalau bukan passion, ngapain saya bela-belain pagi-pagi berangkat dari Jakarta jam 05.30 pagi, pulang lagi jam 17.00. Niatan saya, they like English lesson. Mereka bahagia dan gak terbebani belajar Bahasa Inggris. Berapa banyak yang akhirnya terbantu di kelas saya. Mereka yang akhirnya mau mengerjakan tugas-tugas Bahasa Inggris, dll. Responnya? Ah, anak saya sudah pintar dari sananya. Yeah, You're RIGHT! Never WRONG!

Saya ini mengajar SD sudah nyaris 10 tahun. Sebelumnya saya ngajar SMA 5 tahun. Dan baru kali ini saya merasa gak nyaman dengan hal ini. Tapi tenang nanti kedepannya saya bakalan biasa lagi.

Tau gak zaman-zaman saya ngajar SMA? Seorang murid yang gak pernah sholat tiba-tiba pinjem sarung ke saya karena kangen sholat Ashar usai pendekatan persuasif saya. Dan dia anak yang paling ditakuti satu sekolah. Seorang murid yang lain tengah malam menelepon saya mengaku bahwa dia telah berzina (ini SMA loh!). Murid-murid wanita yang suka clubbing menangis rebutan mau ikut Rohani Islam usai saya putarkan film tentang kematian. Belum lagi yang tiba-tiba sms untuk sekedar curhat atau minta bantuan. Mereka bayar ke saya? Saya bukan tipikal yg mengharapkan bayaran. Kadang jika kasus sudah selesai saya memberi mereka hadiah. Bukan cuma seorang murid tapi banyak murid. Belum lagi menulis surat memberikan semangat untuk mereka. Apa saya mengharapkan imbalan?

Untuk anak-anak pun begitu. Ada yang tiba-tiba tanpa saya minta, curhat tentang keluarganya. Apa saya langsung suruh mereka musuhin ortunya? Yang ada saya selalu bilang, "Your parents are too kind. They truly love you but they don't know how to tell to you,"

Belum lagi yang pagi-pagi nyamperin saya bilang, "Can you give me a big hug?" anak perempuan, sebut saja Mawar. Apa saya harus menolak dia karena takut disebut LGBT? Yg ada saya malah berucap : “For sure!” Memeluknya tentu aja bukan karena maksud2 lain. Kalian tau pentingnya hugging bagi anak seumuran mereka?

Kali lain, setiap saya lewat anak-anak itu selalu mengejar-ngejar saya. Kalo saya menyebutnya pembully-an terhadap saya. Ini dilakukan rata-rata oleh anak-anak cowok kelas rendah. Menarik tangan saya, melompat ke punggung saya minta digendong, meluk-meluk kaki saya, dll. Apa saya marah-marah? Asalkan mereka senang, it’s ok for me. Ketika mereka sudah mulai keterlaluan, baru saya menasehatinya perlahan-lahan.

Di kelas pun saya merasa “blend” dengan mereka. Sehingga saya bisa membantu mereka dalam belajar. Bermain mime, menari diirngi lagu bahasa Inggris sebagai media pembelajaran, dll. Hal ini tidak mungkin saya lakukan jika saya bersama orang dewasa. Saya malah merasa kikuk. Ketika bersama anak-anak saya menajdi lebih ekspressif. Intinya adalah membuat mereka senang dan gembira.

Pernah satu kasus, ada anak the rudest in the class, dia berbicara kotor. Sebelumnya saya sudah mengingatkan tetapi tidak diindahkan oleh dia. Hingga akhirnya saya benar-benar harus “marah” dan membuat semua anak di kelas terdiam. Tentu saja marah saya bukan marah betulan karena emosi, tetapi marah untuk mengingatkan. Di akhir kemarahan itu saya memeluk the rudest boy itu dan menasehatinya dengan lembut. Can you imagine, mengubah emosi menjadi ketenangan dalam seperkian menit? Cuma guru yang bisa! Kemudian hari, The rudest boy itu tidak berani lagi berbicara kotor di depan saya dan dia begitu semangat mengikuti pelajaran saya.

Untuk anak-anak kelas atas, apakah orang tua tahu betapa kotornya bahasa anak jaman now? Dan mereka kebanyakan berani mengucapkan itu di depan saya! Saya marah? Tak perlu marah, masih bisa menasehati. Mereka bahkan tidak mengerti maksud yang mereka ucapkan sendiri. Ke guru lain, saya tak yakin mereka berani mengatakannya. Mereka akan berpura-pura baik, tetapi mereka bisa berkata begitu pada saya, kenapa? Kenyamanan! Terus saya begitu saja membiarkan mereka berkata-kata buruk di depan saya? Yang sudah-sudah saya memberikan pujian bahwa mereka bisa berkata lebih baik, hal itu malah menghentikan omongan2 buruk mereka.

Lalu apakah mereka selesai sampai disitu? Tahukah kita betapa banyak anak yang feel lost? Itulah perasaan anak-anak jaman now. Solusi, kasih perhatian! Ingatkan mereka jika mereka melakukan kesalahan, puji mereka bila menemukan kebaikan. Give them hug! Tentu saja putra dengan putra dan perempuam dengan perempuan. Jika mereka masih kecil, hug sewajarnya dan perlahan2 kasih pengertian. Dalam sebuah pelatihan karakter yang saya ikuti, anak-anak TK itu memerlukan guru laki-laki. Ya, they need “daddy” image to build their characters. Jika daddy mereka yang masih perhatian saja bisa membuat mereka Lost, apalagi daddy mereka yang tak pernah perhatian.

Lalu datanglah virus LGBT. Tentu virus ini adalah salah satu protocol Zion yang dilancarkan untuk memuluskan aksi The World Order. Maka berpelukan lelaki dengan lelaki terasa weird. Semua penuh kecurigaan yang melewati batas. Tetapi hanya tinggal curiga tanpa bisa memberikan solusi yang konkret. Orang tua tetap sibuk, semua artikel tentang LGBT dibaca, tetapi hanya menyuruh sana sini tanpa mau peduli kondisi yang seharusnya mereka ketahui. Benar kata seorang teman, menjadi orang tua memang alami tapi tetap memerlukan ilmu untuk menghadapi kecanggihan kids jaman now.

Kata-kata tidak terucap itu bagi saya “menyakitkan”. Menuduh hanya berdasarkan kecurigaan yang tidak beralasan. Padahal semua yang saya lakukan tentu ada misinya. Mungkin kata-kata itu akan membuat saya terjerembab untuk beberapa saat. But they must be remember, words can bring me down. And It will affect nothing to myself. I am what I am no matter what. I want to be what I want to be, not others want to be. Your words and your prejudice will not take me over. But, anyway, Thank You so much. For me forgiveness is a nice things to do.

Ah, saya jadi teringat beberapa malam setelah mengoreksi Ulangan akhir semester anak-anak. Saya sibuk membeli berbagai macam panganan untuk dibagi-bagi dengan tujuan wajah-wajah itu semakin semangat. Dan tak lupa saya menulis kata-kata menyemangati mereka dalam lembar kecil, tentu dengan berbagai macam kata yang berbeda-beda dengan tujuan they enjoy my class and my lesson. Beberapa anak yang "tidak menonjol" sengaja saya menangkan untuk membuatnya percaya diri. And for the comment what I've done, I don’t give a damn!***(yas)



Bekasi, 22nd of January 2018
@teacher's room, 15.31
I just can't stop crying 😢😢😢



Some of photos me and my students :

  









Saturday, December 23, 2017

Ibu, maafkanlah aku... (A belated Mother's day greetings)

Here laid down my beloved mom


“Kamu merawat Ibumu sambil menunggu kematiannya. Sementara Ibumu merawatmu sembari mengharapkan kehidupanmu”.
— Umar bin Khattab Ra


“Yas, could you build me a home?”


Minggu itu adalah minggu terakhir kalinya Saya bertemu dengan dia. Seorang wanita yang berbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin tirus.

Saya tidak menyadari bahwa itu adalah tanda terakhir yang diberikan olehnya sebelum akhirnya dia pergi selama-lamanya. Saya sempat “memaksa” nya untuk makan sesuap nasi beserta sup dan pudding kesukaannya. Walaupun pada akhirnya semua makanan itu tumpah kembali lewat mulutnya berupa cairan hijau seperti “klorofil”. Entah kenapa, Saya yang biasanya sangat jijik dengan muntah, langsung menenangkan ibu yang panik karena lantai menjadi kotor dan seprai di kasur berubah warna.

“It’s ok, mom. I’ll take over this.” ujar saya dan dengan segera membersihkan lantai dan mengganti seprai.

Andaikan Saya tahu ini adalah minggu terakhirku melihat wajahnya lagi, mungkin saya akan terus berada di rumah saja menemani hari-hari terakhirnya. Namun yang terjadi Saya malah kembali ke kost-an di Bekasi dan sibuk dengan segala hal.

Kemudian, Saya merasa enggan untuk pulang ke rumah minggu itu. Semua kakak-kakak saya sedang berkumpul di rumah untuk menghibur ibu. Saya ingin menyelesaikan beberapa urusan yang menunggu deadline nya, padahal itu adalah long weekend, Senin libur bertepatan dengan hari raya nyepi.

Tak lama, sebuah message masuk lewat ponsel saya, “Yas, mom sudah gak ada.” Pesan yang singkat dan padat dari kakak saya.

Pardon me? What actually did you mean?

Detik berikutnya ponsel saya kembali dibombardir dengan pesan-pesan serupa yang membuat Saya lemah tak berdaya. Saya menelepon balik kakak saya,

What did you mean? Are you serious? Don’t fool me!” Saya meradang keras. 

Namun kakak saya hanya mengatakan, “You can see her by your eyes!”. 

Saya menangis mearung-raung sendirian di dalam kamar kost. Minggu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kakak-kakak saya yang lain menyarankan “Don’t ride a motorbike in this situation. You won’t be focus,” Tapi Saya tak memedulikannya. Saya menangis sepanjang perjalanan. 

“Mom… why? Why you leave me? Why? Why?”

Saat Saya berada di Rumah sakit tempat beliau dibawa tadi, Saya melihat kakak saya sedang duduk di samping tubuh ibu yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang sudah ditutupi kain. Saya menangis sejadi-jadinya. 

“Mom….why? Why? I can’t bear this,” 

Yang ada pada saat itu adalah rasa penyesalan yang amat sangat kepada ibu saya. Kenapa saya tidak pulang dengan cepat? Kenapa saya masih sibuk bekerja? Kenapa saya… Kenapa saya?? Dan segudang penyesalan yang menggunung tinggi. Bahkan saat jenazah ibu dibawa pulang ke rumah pun, saya hanya jatuh tersungkur di kamar dan tak berhenti menangis. Beberapa kawan-kawan dan sahabat saya berusaha menghibur, namun I really feel nothing. I'm lose a single piece of puzzle in my heart. It tears me down, it breaks me so hard. Sampai ketika ibu saya dimasukkan ke dalam liang kuburnya pun saya seperti tak rela. Mengingat wajah tuanya saja sudah membuat saya susah untuk bernafas dan lagi-lagi….feel nothing!

Sehari setelah kepergiannya, gairah hidup saya menurun drastis. Saya berhenti makan untuk beberapa hari. Bahkan sesudahnya, usai makan saya selalu memuntahkan semua isi perut saya. Air mata selalu mengalir dalam kondisi apapun. Walaupun berusaha untuk tegar, kemudian saya akan berlari ke kamar mandi untuk menangis. Semangat hidup saya pun meredup. Mengingatnya kembali memberikan dampak yang sangat tidak baik bagi hidup saya. It really hard to move on! Sakitnya lebih sakit dari apapun, terlebih jika kau sangat akrab dengan ibumu. 

Selama 3 bulan dan kemudian 1 tahun perlahan-lahan saya mulai bangkit menata hati saya yang pecah. Walaupun sekarang mungkin sudah utuh kembali, tetapi bekasnya itu masih kentara. Layaknya sebuah gelas yang pecah dan kau menambal pecahannya agar utuh kembali, namun gelas itu masih ada bekasnya bukan?

Hanya Allah lah yang akhirnya menguatkan kaki ini untuk berdiri tegak kembali dan menatap sinar pada ujung sebuah kegelapan.

***

Saya dan ibu bisa dikatakan sangat akrab. Saking akrabnya, seorang sahabat pernah berkata, 

“Yas, ada gak ya hubungan anak dan ibu yang segila kamu?” 

Ya, saya sangat akrab. Bila ibu saya sedang makan dan saya melihat makanan yang dimakannya enak, pasti saya langsung minta disuapin dari piring ibu saya. Kadang saya tidur bersama ibu saya sambil menganggap tubuhnya sebagai guling. Kalau saya sedang gemes, pasti pipi ibu saya yang mulai keriput itu menjadi sasaran saya. Sering juga bergelayut manja di bahunya atau sekedar mencandainya. Jika ibu saya sedang marah, maka saya selalu meniru gesture-nya sehingga membuat ibu saya makin tambah marah. Tak lama kemudian tertawa. Kalau sedang gajian, sering membelikannya makanan yang enak-enak, yang ujung-ujung tak pernah dimakannya melainkan diserbu oleh keponakan-keponakan saya. Jika melihat baju daster pasti maunya beli untuk ibu saya. Maka dari itu teman saya merasa hubungan saya dan ibu saya “gila” karena bisa bercanda layaknya teman.

Suatu malam saat saya masih kuliah di Yogjakarta, telepon di rumah kost saya berdering. Waktu itu pukul satu malam dan saya masih asyik berkutat dengan tugas kuliah. Bapak kost yang mengangkat waktu itu dan suaranya terdengar sampai kamar saya yang kebetulan berada tak jauh dari tempat telepon itu berada. Tak lama Bapak kost itu memanggil saya, “Yas, telepon dari Jakarta.” Saya agak kaget karena jika telepon tengah malam itu biasanya mengabarkan berita yang kurang enak. Saya pun menerima telepon itu. Suara bapak saya.

“Ada apa, Pak?”

“Ini, ibumu terbangun di tengah malam dan ingat kamu,”

“Terus?”

“Dia nangis dan mau tau kabar kamu,”



Begitulah ibu saya. Selalu kepikiran sama anaknya. Bahkan sampai tengah malam di jarak 350 kilometer.

Beberapa ribu jam setelahnya saat saya pulang ke rumah pada masa libur kuliah, beberapa orang menceritakan kepada saya bahwa ibu saya tidak makan karena selalu mengingat saya! Bagi saya itu mungkin terlihat mengharukan sekaligus lebai apalagi saya bukan tipikal drama king.

Dan setelah kepergian ibu saya maka wajarlah bagi saya begitu kehilangan beliau. Setiap hari saya merinduinya, menangis untuknya dan terdiam untuknya. Rasa sakit itu begitu susah dilupakan hingga kini. Melihat fotonya saja atau berziarah ke kuburnya langsung mengungkit luka lama. It hurts me bad! Even I didn’t want to live anymore!

Teringatlah dosa-dosa saya pada ibu saya. Dulu saya sering sekali meninggalkannya di rumah dengan alasan sibuk berdakwah di luar rumah. Sering menyakiti hatinya dengan kata-kata setajam pisau. Pernah tidak mematuhi apa yang menjadi nasehatnya. Pernah membohonginya dan lainnya. Bahkan saya tidak pernah memahami bahasa diamnya yang menandakan dia tidak suka. Tangis kekhawatirannya seringkali saya anggap sebagai suatu hal yang berlebihan. Omelannya yang merupakan rasa kasih sayang sering saya anggap sebagai makian untuk saya. Ahhh… Ibu, andaikan kau ada disini, ingin aku memelukmu lagi dan mendekap tubuhmu erat.


Ibu, maafkanlah aku…

Sungguh engkau merawatku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang surga. 
Engkau merawatku dan membesarkanku dengan cinta yang terbuat dari permata yang tiada tandingannya. 
Namun, aku merawatmu tidak dengan sungguh-sungguh.

Ibu, maafkanlah aku…

Adakah jalan yang bisa kulalui agar kutahu bahwa kau redho dengan apa yang kulakukan? 
Adakah kesempatan bagiku untuk meminta maaf kepadamu lagi? 
Adakah kesempatan bagiku untuk melihat senyummu lagi?

Ibu, maafkanlah aku… 

Kau mendoakan aku dengan sepenuh hatimu. 
Kau meminta kepada Allah dengan keredhoan langit dan bumi. 
Kau meminta perlindungan yang paling hakiki agar aku tak salah jalan dan tersesat. 
Namun, aku begitu sombong untuk selalu menolak apa yang menjadi titahmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau berjalan menembus malam hanya untuk mencari cahaya untukku. 
Kau tertatih menahan perih demi aku anakmu terhindar dari kesusahan. 
Kau tersenyum dengan senyum paling purnama yang menghalau resah dihatiku.

Ibu, maafkanlah aku…

Pada saat aku tak bisa lagi berbicara denganmu, 
pada saat aku tak bisa lagi menatap wajahmu, 
pada saat aku tak bisa lagi membaui khas tubuhmu, 
pada saat aku kehilangan arah, rasa sesal itu pun hinggap dan menghancurkan hari-hariku. 
Rasa penyesalan yang terus menggerogoti diriku akan betapa nista dan bodohnya aku, 
tak sempat meminta maaf hingga akhir hayatmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Walaupun ku yakin kau sudah berbahagia di sana, 
namun aku akan selalu rindu…rindu dan rindu. 
Rindu berdetik banyak dan tak akan mungkin terbalaskan. 
Hanya lantunan doa yang menjadi penghubung rindu kita. 
Ku yakin kau sudah aman di sisi Allah.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau merawat aku dengan penuh kasih 
dan aku merawatmu untuk menunggu kematianmu.


Oh, can you hear it in my voice?
Oh, can you see in my eyes?
Love for you is alive in me.
Oh, can you feel it in my touch
Know that I always have enough
Your love is alive in me…


Ibu… Ibu… Ibu… I really miss you so bad***(yas)







Bekasi, 23rd of December 2017
@Chicking Giant, 18.46 pm
Ibu aku rindu setengah mati…
Daffi bpk juga rinduuu….



Disinilah Ibu saya berbaring untuk selamanya


Seperti enggan melanjutkan hidup

Kau merawatku sambil menunggu kehidupanku

The last photo when she visited Mekkah




Saturday, November 18, 2017

Jatuh Cinta Pada Puisi (Duka Sedalam Cinta Seorang Wanita yang Menari dengan Puisi)

My Best friend is myself, I don't need nobody else to be there for me, care for meand for my best time is to be all alone and sit thinking I'm in love with me
-Meja-

Dua buku yang membuat saya menari dan bersedih

Buku puisi? Kalau pertanyaan ini ditujukan waktu zaman putih abu-abu mungkin saya akan menggelengkan kepala dan bilang, "Thanks!". Bagi saya baca buku puisi yang penuh filosofi tersembunyi dan pesan-pesan intristik itu bikin mumet. Baca buku itu kan buat penyegaran ya, bukan malah bikin pusing. Jadilah zaman-zaman itu saya anti banget baca buku puisi. Baca puisi oke, tapi kalo baca buku puisi, gak deh.

Baru kemudian saat saya masuk jurusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai menyukai puisi. Puisi yang saya sukai juga puisi yang simpel dan gak ribet. Waktu itu saya jatuh cinta dengan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono. Puisi beliau simpel, sarat makna, ngena di hati dan daleeemmm.... Pemakaian diksi dan majas nya pun tidak berbelit-belit dan njelimet. Ditambah lagi puisi SDD kebanyakan romantis jadinya semakin asyik deh. Saya pun melahap buku kumpulan puisi beliau yang menjadi salah satu buku puisi favorit saya, "HUJAN BULAN JUNI".

Saya pun memulai memburu puisi-puisi yang saya kategorikan "gak njelimet" ini. Saya mendapatkan buku kumpulan puisi lainnya, namun saya lupa judul dan pengarangnya. Kalau tidak salah judul bukunya SYUHADA tapi saya lupa nama pengarangnya (Poor me). Saat saya pulang ke Jakarta, maka Perpustakaan Daerah Jakarta yang terletak di Kuningan menjadi tempat favorit saya untuk membaca buku kumpulan puisi. Selain membaca buku2 itu, saya juga menyalin beberapa yang menjadi favorit di dalam buku diary dan kadang pada saat teman, sahabat, berulang tahun tak lupa saya menyelipkan kutipan-kutipan puisi itu. Untuk penyair luar yang saya suka adalah Edgar Allan Poe. Kutipan-kutipan puisi beliau selalu setia menempel di binder favorit saya.

Saya pun belajar membuat puisi. Ya, masih abal-abal sih. Kadang membuat puisi ini bisa sangat produktif saat sedang.................. patah hati! 😆😆  Bisa produktif banget! Atau ketika pas jatuh cinta. Hadeeehh....mikirin si dia itu bisa jadi berlembar-lembar puisi deh...hahaha...

Saya sempat juga membukukan kumpulan puisi alay saya tersebut secara pribadi. Judul puisi utamanya pas lagi hopeless banget sama seseorang...hahaha... dan saya kasih ke gebetan saya...😅😅 maksud hati biar dia peka tapi nyatanya dia malah gak peka-peka...hahaha... nasib banget ya!

Sayangnya kumpulan puisi tersebut bersatu dengan PC saya yang hardisknya rusak. Saya sepertinya juga menyimpannya di dalam sebuah disket (OMG, jadulnya!) namun you know kan, zaman sekarang mana bisa disket itu diselamatkan. Hardisk saya yang rusak pun juga tak bisa diselamatkan bersama dengan sebuah naskah novel kurang lebih 250 halaman 😭😭  Beberapa memang ada yang masih tertera di dalam buku-buku catatan saya. Namun ya itu tadi, masih puisi ala-ala yang alaynya minta ampun. Sempat saya publikasikan via blog dan catatan facebook saya, tapi ya sepi komen dan respon..hahaha...

Sejak itulah hidup saya penuh dengan puisi-puisi yang sederhana namun menyentil dan menyentuh. Jangan lupa faktor melow dan memotivasi juga penting jika saya membaca sebuah puisi. Puisi yang berisikan kemolekan tubuh ataupun cinta-cinta yang tanpa didasari kecintaan pada-Nya, bagi saya adalah gak banget! Karena membaca puisi itu berarti meresapi makna, menggelayuti perasaan, menciptakan momen, dan menari dalam imajinasi diri kita sendiri. Bebas, lepas dan tanpa terikat dengan norma-norma. Menciptakan sesuatu imajinasi yang liar di dalam benak kita lalu membiarkannya menghalusinasikan kita. Halah, bahasa Vicky Prasetio banget ya...hehehe...

Kemudian bertemulah saya dengan Bunda Helvy Tiana Rosa saat saya pertama kali membaca Puisinya yang berjudul "Fisabilillah" dalam sebuah buku berjudul PELANGI NURANI. Jleb! Ini puisi simpel tapi kena banget! Lalu semakin intens saat Bunda membacakan puisi untuk Rahmat Abdullah, bikin saya makin takjub sama Bunda. Puisi-puisi beliau pun pada awalnya hanyalah berbentuk "single" karena di mana ada momen pasti sering muncul puisi bunda. Contohnya saat Palestina sedang membara, maka munculah Puisi Mahanazi. Reaksi saya saat membaca puisi itu, langsung bleber air mata. Seolah saya terasa banget sakitnya seperti orang-orang Palestina di sana.

Bunda kemudian menerbitkan kumpulan buku puisi pertamanya (bener gak ya?) yang berjudul : MATA KETIGA CINTA. Buku ber-cover ungu itu berisi puisi-puisi beliau yang dikumpulkan dalam satu buku. Berkali-kali saya membacanya, maka berkali-kali pula saya menemukan "cara" untuk membacanya dengan berbagai gaya.

Buku kumpulan puisi bunda berikutnya yang terbit adalah DUKA SEDALAM CINTA, yang merupakan kumpulan tulisan bunda dari zaman masih muda hingga sekarang. Bisa dipastikan bagi saya sendiri, ini adalah THE MOST AWAITING BOOK OF THE YEAR. Saat buku itu masih berupa pre-order, saya sudah gak sabar ingin membacanya. Pun setelah buku itu ready, saya ingin segera memilikinya. Layaknya seorang kekasih tak sabar menunggu orang yang dicintainya (eeaaa....eaaa...). Buku itu saya pesan sebanyak 3 eksemplar, karena saya ingin memberikan 2 sisanya untuk orang "spesial" (uhuuuyyy).

Jadilah dalam perjalanan pulang seusai mengambil buku DSC di rumah Bunda, saya komat kamit sendiri di dalam kereta. Kurang afdol rasanya jika membaca buku puisi tapi tidak ikut menyenandungkannya. Bolak-balik, bolak-balik, buku itu menjadi teman keseharian saya sampai kemanapun saya pergi buku itu selalu berada di dalam tas saya! Beberapa puisi yang "gw banget" langsung saya tandai. Kemudian saya membacanya dengan berbagai gaya dan intonasi. Membiarkan diri saya "menari" bersama susunan kata-kata yang menjelma seorang sahabat. Kata-kata itu berlarian dengan liar bersama dengan imajinasi saya. Visualisasi saya pun ikut bermain. Setiap puisi yang saya baca akan saya kaitkan dengan suatu peristiwa atau "seseorang" (perlu banget ya, seseorangnya itu saya kasih tanda kutip...hehehe). Beberapa puisi pun akhirnya saya coba rekam.

Judul buku yang saya suka dari buku ini adalah : Jauh, Merayakan Kangen, Selamat Pagi Kamu, Tak Ada Tahun Baru di Suriah, Kamu Puisi, Lelaki Paling Biasa dan Lelaki Puisi. Setiap isi puisi ini seolah mempresentasikan kegalauan dan kegundahan saya serta menyatakan isi hati saya yang paling dalam (duile...).

Puisi "Jauh" seolah mempresentasikan jiwa saya yang gampang gusar ketika berjauhan dengan "seseorang". Jauh juga menggambarkan hati saya yang mudah rindu pada siapapun. Namun pada akhirnya semua kerinduan yang "Jauh" itu hanya terlabuhkan pada doa-doa yang terlafadzkan setiap rakaat.

Puisi kedua "Merayakan Kangen" juga gue bangets! Saya seperti tergila-gila dengan puisi ini. Pada suatu pagi yang jernih di daerah Sentul, saya mengumpet sendirian di tengah kebun rerumputan hanya untuk membaca puisi ini saja. Kangen saya seperti tak terbilang.

Lalu "Selamat Pagi, Kamu" yang bikin memori saya melayang kembali...hahaha... Saat membaca puisi ini, memori saya melayang pada peristiwa tujuh tahunan lalu, saat saya sering bertemu dengan "seseorang" di dalam bis setiap pagi hari.

Kemudian ada "Tak Ada Tahun Baru di Suriah" yang paling susah untuk saya baca. Saya selalu terhenti pada suatu kata dan menahan nafas dalam. Sungguh, saya lebih suka men-skip puisi-puisi tentang dunia Islam yang teraniaya. Membacanya dalam hati saja saya sudah tak kuat, apalagi jika harus dibaca nyaring.

Kelima, puisi "Kamu Puisi" yang seolah ikut berderap-derap di dada saya dengan kalimat repertoirnya. Awalannya garang, tapi di akhirnya meloowww bangetss.

Keenam, puisi "Lelaki Paling Biasa Di Bumi" yang mengingatkan saya akan seorang abang yang....aaahhhh.....mengingatnya aja bikin nangis (semoga Allah menempatkanmu di surga ya, Bang!).

Terakhir, "Lelaki Puisi" yang saya gambarkan sebagai representasi ucapan terima kasih saya terhadap para "lelaki" ini yang telah membantu suka dukanya kehidupan saya.

Pokoknya membaca buku DSC ini bener2 membuat saya menari dengan imajinasi saya deh. Hingga bisa saya katakan bahwa buku ini adalah one of my best friend. Layaknya seorang sahabat yang merupakan diri sendiri, bersama buku ini seperti lupa ada orang lain di sekitar...hehehe...(lebay.com)

Tak lama setelah buku DSC terbit, hadirlah buku "A Lady Dance With Poetry" karya Bunda Helvy juga. OMG! Ini beneran bacanya kayak mau ikutan nari-nari. Serius!

Saat membaca beberapa puisi di dalam buku ini saya langsung menari sendiri. Sebait lagu yang menemani saya membaca puisi ini, membuat saya menari dengan irama saya sendiri. It feels : dance like no one elses. Dunia seolah milik saya dan buku itu aja.

Puisi-puisi yang ada di dalam buku ini sebenarnya juga ada di dalam buku Duka Sedalam Cinta, namun buku ini dwibahasa, alias setiap puisi ada terjemahan Bahasa Inggrisnya. Ada juga beberapa puisi yang tidak ada di dalam buku DSC, salah satunya adalah 'Wanita yang menari dengan Puisi' atau 'A Lady Dance With Poetry'. Judul yang terakhir ini sekaligus yang menjadi favorit saya. Apalagi saat ada aransemen musiknya, waaahhh, makin tambah suka saya!

Pada akhirnya saya benar-benar jatuh cinta pada puisi. Ya, puisi yang bisa membuat saya menari mengikuti bait-bait kata yang tersusun rapi dalam makna yang kadang kita sulit pahami. Kata-kata yang saya ucapkan seolah menjelma menjadi kawan terbaik yang kemudian mengajak saya menari dan membuana ke sebuah tempat jauh di kehidupan nyata saya. Dia membawa saya memasuki dimensi terjauh dalam hidup saya dan membuat saya lupa akan dunia dalam sekejap. Sungguh, kata-kata itu bagaikan mantra ajaib yang menyihir saya untuk berdansa.

Puisi adalah pengejawantahan dari suara hati yang sunyi. Mengeluarkannya pada kata-kata penuh imajinasi yang membuat kita menari tanpa perlu mengerutkan dahi. Lalu setelah kata-kata itu tertuang dalam sebuah kertas ataupun layar komputer, maka seolah diri ini merasa plong dengan keadaan yang terjadi. Aihhh....benaran, jadi pengen jago bikin puisi.

Akhirnya, saya terpaksa harus terus membawa buku DSC dan ALDWP kemana pun saya melangkahkan kaki. Semakin saya membaca buku ini, semakin saya senang menari dalam balutan kata-kata ajaib. Dipadu dengan musik soundtrack kehidupan saya, maka semakin mantaplah tarian yang saya lakukan. Membaca buku ini, membuat saya jatuh cinta kembali pada puisi. Menatapinya dalam-dalam kata-kata yang berbaris itu, lalu bergumam sendiri dalam diam mengulangi kata-kata itu. Kalau sudah begini, kedua buku itu bagaikan diri saya sendiri, bagikana sahabat terbaik saya sendiri. Rasanya tak perlu lagi ada orang lain, kan dunia sudah milik sendiri... hehehe...

Aku jatuh cinta
Aku jatuh cinta pada puisi
yang ditulis sepenuh hati
lewat tangan seorang malaikat
yang membuat kata-kata itu menjelma mantra ajaib
hingga aku menari sendiri
dan menemukan teman terbaik dalam puisi

Tuh, kan. Seperti yang saya bilang di awal tadi, kalau sedang jatuh cinta pasti deh saya produktif bikin puisi...hehehe... Selamat menikmati puisi dan selamat membaca buku 'ajaib' itu. Lalu biarkan dirimu menari dengan kata-kata ajaib itu. Ahhh... Saya jatuh cinta pada PUISI!***(yas)




Jakarta, 18th of November 2017
@my room, 22.24 pm
Jadi pengen nulis puisi lagi.
Apa kabar Pak Rahmat Djoko Pradopo ya?
     





Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...

Sunday, October 15, 2017

5 Alasan Kamu Harus (Banget) nonton Film Duka Sedalam Cinta

Poster Duka Sedalam Cinta

Yeay!!! Alhamdulillah.... akhirnya film DUKA SEDALAM CINTA yang saya tunggu-tunggu akan hadir juga. Film ini bisa dikatakan sebagai THE MOST AWAITED MOVIE OF THE YEAR bagi saya, karena selain merupakan kelanjutan dari film KETIKA MAS GAGAH PERGI (KMGP), konon film DSC ini lebih seru dari KMGP dan yang paling uniknya, bisa ditonton tanpa harus kita nonton yang pertama. Gimana gak bikin penasaran kan tuh?

Film KMGP sendiri adalah THE BEST MOVIE OF THE YEAR bagi saya. Can you imagine, I watched this movie more than 30 times! Aje gile! Saking saya tergila-gila nya sama ini film (and little bit obsessed) hampir tiap hari aye pergi terus ke bioskop. Mulai dari yang nonton bertigaan aja satu studio, sampai yang penuh seabrek2 sampai duduk di tangga... hahaha... Padahal waktu itu mood nonton saya lagi low banget alias gak gampang ngasih review "BAGUS" ke film yang saya tonton. Film sebangsa Spiderman aja waktu itu saya bilang : "Film apaan sih ini? Gaje bingits!" Apalagi nonton film Indonesia. Anti banget! Abis filmnya rata2 standar dan banyak unsur2 gak jelasnya. Rugi banget ngeluarin uang 30-50 ribu buat nonton film Indonesia di bioskop. Saya lebih memilih film Hollywood yang gak jelas daripada nonton film Indonesia. Sadis kan?

Abis film KMGP itu bagus sih! Unsurnya nano-nano bingits! Film nya juga gak ngasal dibuat kayak film "Islami" lainnya yang seminggu sebelumnya saya tonton. Akting beberapa pemainnya keren abis! Gambar2 sinematografinya bener2 memanjakan mata saya. Efek reuni dengan Mas Gagah yang dulu menjadi batu loncatan utuk hijrah juga ngena banget! Kayak semacam reuni dan mengingat kehidupan zaman-zaman tarbiyah dulu. Jadi pas nonton film ini kayak ketemu mantan yang udah lama banget gak ketemu dan elo rindu banget sama itu mantan dan itu mantan ngerasain hal yang sama, eh tetiba ketemu deh! Gimana deh tuh perasaannya? Hahahah....

Nah, sekarang muncul lagi nih film DUKA SEDALAM CINTA yang notabene sequel dari film KMGP sekaligus yang bisa berdiri sendiri. Aihhh.... pas nonton trailernya aja saya udah kejang-kejang, apalagi pas tanggal 19 Oktober film itu muncul ya? hehehe... Sekarang saya mau kasih alasan nih kenapa saya (dan kamu) mesti banget nonton ini film. Check it out!


1. Karya dan masterpiece dari Helvy Tiana Rosa (sastrahelvy.com)

Aye sukaaaaaaaakkkk (suka nya pake "k" di belakang yg artinya aye overdose suka) bangets sama karya2 bunda Helvy karena apa yg beliau tulis itu selalu pakai hati jadi bisa ditangkep juga dengan hati. Dan DSC ini adalah masterpiece nya dia dlm bidang film! OMG!! Can you imagine how this movie works out? Love love love bingits deh!
Bunda Helvy Tiana Rosa itu sendiri adalah 500 Influence People from all over the world. Dia yang juga memelopori novel dan cerpen Islami waktu awal yang baru pertama kali booming. Dan film ini juga bener2 dijaga sama beliau jadi gak ecek-ecek!

2. Jalan ceritanya gak mainstream melainkan out of the box.

Addduuhhh aye bosen deh sama film yg gitu2 aje. Film sekelas SPIDERMAN aje aye bilang ngebosenin dan gaje. Tapi film ini bener2 gak biasa, artinya belum ada yang menawarkan konsep film seperti ini sebelumnya. Cinta yang ditawarkan dalam film ini bukan cinta cemen antara anak-anak abegeh gak jelas, tapi cinta yang bisa bikin lo tersadar betapa beruntungnya lo selama ini. Penasaran kan? Sekarang bisa lo bayangin kan ini film kayak apa kalo aye aja yang "jutek" sama film Indonesia bisa tergila2 (even addicted!) sama ini film.

3. Baper abissss...!!

Dari nonton trailernya aja saya bisa nangis segayung apalagi klo saya nonton aslinya, bisa2 nangis seember deh.. hahaha... Bener-bener bawa perubahan banget! Sama pas ketika nonton film KMGP, usai nonton film itu, di rumah, saya bener2 merenungkan tentang "HIJRAH" saya. Ahhhh....beneran bikin kita jadi mikir dan ingin berbuat dan menjadi baik deh...

4. Gambar2 nya aduhaaaiii bangets deh! 

Saya yang suka traveling bener2 dimanjain sama gambar di film nya deh. Sumpah, film ini beneran dibuat degan niat bangetttsss!! Bener-bener profesional banget! Sudut-sudut pengambilan gambarnya gak terpikirkan sama film2 Indonesia yang lain. Jadi sepanjang nonton trailernya, saya berkata dalam hati : ini beneran di Indonesia? Ya, film ini menyorot keindahan Halmahera, Maluku Utara. Kalo film KMGP memotret indahnya Ternate, sekarang giliran Halmahera yang kebagian dipotret keindahannya. Ahh... tuh kan jadi baper, ke Ternate aja aye belum kesampaian eh ini udah ada Halmahera *liat saldo tabungan kemudian menangis sedalam sumur.... hehehehe






5. Kepuasan hati! 

Gimana gak puas klo saya bisa nonton film bagus dan hasil dari film ini buat pendidikan di Indonesia Timur? Nonton berkali2 juga saya gak bakalan feeling guilty. Malah klo perlu nonton tiap hari biar dananya lebih banyak yang bisa disumbangkan. Udah dapat hiburan islami, membawa perubahan, eh kamu tercatat juga sebagai bagian orang yang menyumbang dana untuk bantu pendidikan saudara2 kita di Indonesia Timur. Gimana gak menang banyak tuh kita?

Jadiii.... rugi banget kalau kamu sampe ketinggalan nonton film ini. Jarang2 loh ada film Indonesia ideal dan baik ples bagus seperti ini. Sok, catat tanggal mainnya ya, mulai 19 OKTOBER 2017 di bioskop2 terdekat. Nontonnya jangan sendirian, nanti kamu disangkain JONES lagi....hehehe... ajak juga temen, kerabat, saudara, dll dll. Selain kamu dapat kebaikan dari film ini, kamu juga mau kan temen, kerabat, saudara yang kamu ajak dapat kebaikan juga dari film ini. Ahhhhh....senangnya kalau berbuat baik eh kamu dapat yang terbaik juga.

Yukkkkk.... kita serbu bioskop! Jangan biarkan film bagus macam DUKA SEDALAM CINTA menjadi sia2 dan kalah dengan film2 abal2 yang mengusung tema hantu, pacaran atau cerita gak jelas. See you in theatre ya!***(yas)



Jakarta, 15th of October 2017
21.49 pm @myroom
Semangat!!!


*********

Berikut jadwal tayang Film DUKA SEDALAM CINTA

CINEMAXX

  • Maxxbox Lippo Village, Tangerang
  • WTC Matahari, Tangerang
  • Metropolis Town, Tangerang
  • Orange County Cikarang
  • Ponorogo
  • Palembang Icon, Palembang
  • Lombok City Center, Lombok 
  • Plaza Kupang, Kupang
  • Lippo Plaza Buton, Baubau
  • Lippo Plaza, Batu
  • Citimall Sampit, Sampit

CGV BLITZ MEGAPLEX
`
  • CGV Blitz — Jakarta
  • CGV Trans Mart — Cempaka Putih
  • CGV Bekasi Cyber Park – Bekasi
  • CGV Bekasi Trade Centre - Bekasi
  • CGV Depok Mall - Depok
  • CGV Eco Plaza Cikupa – Tangerang
  • CGV Teras Kota - Tangerang
  • CGV Festive Walk – Karawang
  • CGV Sunrise Mall – Mojokerto
  • CGV Miko Mall – Bandung
  • CGV Grage City Mall – Cirebon
  • CGV Sahid Jwalk - Yogyakarta
  • CGV Transmart Tegal – Tegal

Trailer Film Duka Sedalam Cinta





BONUSS!!! Foto-foto zaman KMGP 😀😀😀😀

Pose bareng Bunda Helvy Tiana Rosa, dan pertemuan pertama kali setelah sekian tahun


Bareng pak sutradara Firmansyah yang kece badai


Eh selesai nonton di Planet Hollywood ketemu Hamas. Awalnya saya sih biasa2 aja, eh temen ngajakin foto bareng, ya udah ikutan juga...hahahah

Ketemu Masaji di Bekasi di hari2 terakhir penayangan. Yeay! Bekasi jadi benteng terakhir film KMGP

Ketemu Noy yang orangnya asyik dan enerjik dan sekarang sudah berhijab.