Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

Thursday, September 9, 2021

Lupakan, Berdamai, dan Tunggulah!


Sore ini saya mendapatkan telepon dari seseorang. Dia bercerita, seperti ada yang menyingkirkannya dari organisasi yang dia ikuti. Dia yang dulu pengurus organisasi itu, saat penggantian pengurus dia tidak diajak sama sekali dan bahkan tidak ada yang mengucapkan terima kasih padanya untuk apa yang dia lakukan selama ini. Semua pengurus baru pura-pura tidak menyadari kehadirannya dan "bersepakat" menyingkirkannya dengan sistematis. Seperti kacang lupa kulit. Padahal selama masa kepengurusannya dia termasuk salah seorang yang banyak membantu dan menyelamatkan organisasi.

Pikiran saya kembali ke beberapa tahun silam saat saya mengalami hal yang sama dengan seseorang tersebut. 

Di sebuah organisasi yang saya ikuti dari SMA hingga menjadi alumni, keberadaan saya seperti dipandang sebelah mata oleh para alumni yang lain. Mereka hanya menilai seseorang dari outlook nya saja. Hingga apapun yang saya lakukan untuk organisasi ini tidak pernah dianggap kebaikan dan pastinya selalu salah.

Saya ingat saat ketua organisasi terpilih tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya dan hanya mendiamkan organisasi, saya dan teman saya tetap membantu menjalankan organisasi ini berdua saja. Mengajak para anggota untuk tetap istiqomah, mengadakan acara untuk memperat ukhuwah anggota, mencari dana untuk membantu setiap kegiatan, dll. Tetapi no one's talking good. Ya, gak apa-apa sih sebenarnya, tapi lihat apa yang terjadi berikutnya.

Sebagian teman yang tidak tergabung dalam kepengurusan organisasi ini mengadakan gerilya dan mengkritisi saya dan teman saya yang dianggap jalan sendiri tanpa koordinasi (ya gimana gak jalan sendiri, organisasinya aja gak jalan). Hingga mereka mengumpulkan teman-teman lain yang bersebrangan dengan saya untuk membentuk kepengurusan tandingan (padahal saya bikin kepengurusan atau mengklaim sebagai ketua aja gak). Mereka yang katanya membawa aroma 'perubahan' memengaruhi anggota organisasi untuk bergabung dengan aliansi mereka. Tentu saja para anggota yang bertentangan dan tidak sepemikiran dengan saya mulai berkhianat. Entah gimana mereka, bisa berkhianat, tetapi jika saya dan teman saya mengadakan acara, para pengkhianat itu tetap ikut juga. Ewww....

Seorang guru saya pun menjadi bagian yang berpihak pada 'pembaharu' ini. Dia sempat bilang "Sudahlah, kamu sudah tidak masanya lagi berada di organisasi ini. Berikanlah kepada mereka yang baru-baru." Dan beberapa tahun kemudian dia menunjuk orang yang bahkan umurnya lebih tua daripada saat saya aktif dulu disana. Lol.

Dalam rapat organisasi yang membahas tentang tidak aktifnya ketua, mereka seolah menutup mata dengan peran saya dan teman saya dalam mengkover kegiatan organisasi selama ini. Bahkan mereka memilih pengurus dan ketua baru yang semangatnya bak "hangat-hangat tokai ayam". Kedepannya sudah pasti amburadul lagi.

Singkat cerita mereka menganggap apa yang saya dan teman saya lakukan untuk organisasi ini tidak ada maknanya. Mereka bahkan lupa caranya berterima kasih tentang apa yang seharusnya mereka lakukan tetapi mereka tidak lakukan. Mereka hanya menilai saya salah dan bukan siapa-siapa.

Bagaimana perasaan saya? Sudah pasti saat itu bergulat dengan rasa sedih, kecewa, sakit hati dan lainnya. Sudah gak kehitung lagi kayaknya ya berapa kali saya harus menahan sedih hingga mencucurkan air mata. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang mengkhianati saya dan ujung-ujungnya para pengkhianat ini malah mengkhianati organisasi. Ya, saya mengalami masa-masa tidak enak dan Alhamdulillah mampu melewatinya.

Hingga satu hari saya dengan tenang berhasil melepas organisasi ini. Tidak pernah merindukannya kecuali untuk beberapa kegiatan yang dulu pernah saya lakukan. Bahkan sampai titik "udah gak mau tahu lagi tentang organisasi ini".

Apakah mudah melepasnya? Kagak! Berkali-kali godaan untuk kembali ke organisasi itu datang. Berkali-kali pula terasa dendam membara melihat orang-orang yang menyingkirkan saya berada di pucuk organisasi ini. Beberapa kali bergelut dengan bathin untuk kembali ke organisasi ini. Sampai akhirnya waktu yang menjawab itu semua. 

Hari-hari yang dulu saya harapkan agar tidak mencintai organisasi ini menjadi nyata. Hari-hari di mana saya berdoa agar ditunjukkan yang benar itu benar dan salah itu salah. Bahkan organisasi ini sekarang seperti "Hidup segan mati tak mau". Walaupun saya gak sampai senyum jahat tetapi semua terlihat pada akhirnya. Beberapa tuduhan terhadap saya pun tak terbukti, justru para pembaharu itu yang kedapatan menjadi duri dalam daging organisasi.

Allah seakan menjawab dan menunjukkan semuanya. Terkadang pada awalnya kita merasa berat melepas seuatu yang sudah mendarah daging dalam hidup kita. Sesuatu yang menjadi bagian kita setiap hari. Sesuatu yang menoreh banyak kenangan dalam hidup kita. Bukan hanya kenangan manis, tetapi juga luka yang berdarah. Jika kita berusaha untuk ikhlas (yang pasti tidak semudah yang diucapkan), mengalihkan dengan sesuatu yang lebih baik, berhubungan dengan teman-teman baru yang lebih positif, sudah pasti semua proses melupakan itu akan bisa kita lewati. Kuncinya adalah meyakinkan diri kita bahwa di mana pun mutiara itu berada, dia akan selalu bersinar.

Sakit banget tentu dianggap sebagai angin lalu setelah berjuang jungkir balik, tetapi kelak ketika kita bisa melalui itu semua kita akan benar-benar tidak peduli dengan masa lalu. Jika bertemu dengan mereka yang bersinggungan di masa lalu, kita bisa tahu batas dan value yang ada pada orang itu. Tentu saya lebih memilih tidak berhubungan lagi dengan orang-orang ini demi tetap mempertahankan vibe positive. Bukan bermusuhan, tetapi meng-skip mereka. 

Mereka yang melupakanmu, berkhianat padamu, menuduhmu, mengabaikanmu, jika hati mereka terbuka, mereka akan menyesali itu semua. Apalagi jika orang-orang ini mengatakan "rindu deh waktu zaman sama kamu" dan kita dengan datar bilang "The past is in the past", semakin akan menimbulkan penyesalan terdalam pada mereka. Tetapi untuk mereka yang masih memiliki kesombongan dalam dadanya maka mereka akan tetap bersikap masa bodoh walaupun sebenarnya mereka sudah berada di tepi jurang kehancuran.

Satu-satunya penyesalan yang pernah saya lakukan adalah kenapa terlalu banyak meluangkan waktu untuk organisasi yang tidak menghargaimu? Tetapi itu hanya penyesalan sesat jika melihat dampak yang saya lakukan dan jejak kebaikan yang saya tinggalkan. Biarlah itu menjadi amal kebaikan yang akan terkenang selalu.

Pada akhirnya berdamai dengan hati lah yang membawa saya pada kemampuan untuk move on dan melupakan semua yang terjadi. Jika kita masih belum bisa berdamai dengan hati, sudah pasti kita akan berlama-lama dengan masalah yang tentu bukan hal yang bagus untuk mental health kita. Belajarlah berdamai dengan diri kita. Tidak instant pastinya, perlu proses yang mendalam dan lama. Hingga pada saat kita menikmati waktu berdamai dengan hati, semua akan terasa baik-baik saja. Tunggulah waktunya dan nikmati prosesnya.

Kembali kepada seseorang yang menelepon itu, maka akan ada banyak cerita juga solusi yang mungkin bisa saya share pada dirinya. Ketika saya sudah past through that scene and stand still in the edge of the cliff. 

Juga akan saya ceritakan bagaimana saya sudah bisa menjadi diri saya sendiri, proves them wrong, sedangkan mereka masih berpura-pura suci di balik noda yang mengkoyak-kayak nurani mereka.

Pada akhirnya, the loser is always standing small. You reap what you sow, dude! Just watch and see.

***

Bekasi, 9 September 2021

21.40 pm   

Karma is on the way, bitch!

#writingteacher #keepwriting #teacherjournal



Friday, September 3, 2021

Khatam dan Proses Seorang Anak


"Wah, hebat ya, sudah khatam berkali-kali"

Saya agak tergelitik juga dengan ucapan itu. Memori saya lalu kembali pada kenangan beberapa puluh tahun silam (udah tua juga yee...).

Saya teringat baru bisa baca Al-Quran dengan lancar saat masuk Rohis. Saat mengikuti pesantren kilat di kelas 1 SMA, saya tersiksa sekali ketika harus baca 1 halaman Al-Quran yang seumur-umur baru saya baca hari itu. Orang tua saya memang beragama Islam tetapi dulu yang menjalankan praktek keislaman hanya Ibu sama dan kakak-kakak saya. Bapak saya dulu jarang sholat, dan baru mendapatkan hidayah sholat 5 waktu dan membaca Al-Quran saat saya duduk di kelas 3 SMA.

Di rumah pun Ibu saya tidak memaksa untuk sholat atau mengaji. Dia hanya mengingatkan, dan kami pun akhirnya mengikuti karena, ya, kalau orang Islam harus sholat. That's it!

Maka tidak heran saya belum bisa mengaji saat kelas 1 SMA. Bahkan waktu di SMP ada kegiatan bimbingan membaca Quran yang dilaksanakan setiap Jum'at, saya selalu skip karena gak menarik dan gak paham. Dari SD ikut pengajian tiap malam tetapi yang dibaca hanya Juz Amma aja. Hafalan, doa, bacaan sholat pun bisa karena dihafal bukan dibaca.

Dan tergeraklah hati saya saat menjadi pengurus Rohis. Seolah ada beban yang mengatakan

"Masa pengurus Rohis gak bisa baca Qur'an dengan lancar sih? Malu-maluin!"

Maka saya pun berusaha giat melancarkan bacaan Quran. Saya ingat suatu hari di Ramadan, saya membaca 1 surat panjang dari Al-Quran terjemahan yang ada di masjid sekolah. Saat itulah saya merasa damai dan terjadi ikatan batin dengan Al-Quran. Motivasi dari kakak-kakak alumni juga membuat saya semakin giat untuk terus membaca Al-Quran hingga akhirnya di penghujung Ramadan tahun itu, SAYA KHATAM! Itu adalah khatam Al-Quran pertama kali dalam sejarah hidup saya. Saya sujud syukur dan semakin termotivasi untuk membaca lagi.

Saat kelas 3 SMA saya baru ikut kelas Tahfidz dan semakin saya mengenal Makhrojul Huruf, hukum-hukum bacaan, dll yang sebenarnya sudah diajarkan saat SMP tetapi karena saya malas maka saya baru mempelajarinya saat kelas 3 SMA. Sejak saat itulah motivasi saya mempelajari Al-Quran, menghafalnya, dan berusaha mengamalkannya. Hingga dari khatam pertama sampai sekarang saya selalu memasang target, minimal khatam 1x setahun.

Maka saya selalu terkagum-kagum dengan pengumuman yang mengatakan"Alhamdulillah, telah khatam Al-Quran ananda bla bla bla sebanyak 37x!"

Wow! Tentu saja saat saya berada di umur anak itu, yang belum lagi lulus sekolah dasar, menjadi kagum. Hati kecil saya memang tergelitik juga untuk bertanya "Ah, bener tuh khatam? Masa iya sih kemaren baru khatam sekarang sudah khatam lagi?" Tapi berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berhusnudzon. Walaupun saya harus melihat kenyataan ketika anak yang khatam Quran banyak itu ketika disuruh baca memang lancar tetapi banyak makhrojul huruf, hukum bacaan dan panjang pendeknya yang belepotan. Sepertinya memang KUANTITAS yang dikejar, bukan KUALITAS. Wajar sih karena masih anak-anak.

Kali lain ada anak yang tiap minggu khatam! Jika kita memiliki program one day one juz, pada hari ketiga puluh kita baru bisa khatam. Kalau khatam dalam seminggu? Berarti anak itu minimal sehari membaca 4-5 juz. 1 juz sekitar 10 lembar atau 20 halaman. 4 juz berarti 40 lembar dan 80 halaman. Jika satu lembar dibaca standar dengan makhrojul huruf dan panjang pendek yang benar sekitar 3 menit, maka untuk menghabiskan 4 juz dalam sehari sekitar 240 menit atau 4 jam dalam sehari. Dengan kesibukan sekolah yang standar, menghabiskan baca Al-Quran 4-5 juz per hari SANGAT LUAR BIASA sekali!

Iseng saya bertanya pada si anak, "Bener kamu baca tiap hari 4 juz?" Si anak cuma nyengir dan mengaku "Kata guru ngaji saya boleh dilongkap-longkap, Pak!" Hmmm.... Walaupun tentu tidak semua anak seperti ini. Banyak juga anak yang memang betul membaca.

Ada seorang anak yang menyeletuk, "Pak, saya juga khatam tiap hari?" Mendegar ini membuat mata saya melotot. "Iya, Pak, kan kalau kita baca Surat Al-Ikhlas, Al Falaq, sama An-Nas dianggap membaca 1 Al-Quran full, Pak. Jadi saya baca itu aja tiap hari."

Iya sih bener.... tapi gak gitu juga keless!

Sayangnya lagi-lagi karena KUANTITAS maka anak-anak diberikan pemahaman khatam terus tanpa tahu makna indah yang tersurat dalam Al-Quran itu sendiri.

Lalu bagaimana membiasakan anak-anak membaca A-Qur'an? Tentu semua ada prosesnya.

Tidak sama dengan orang dewasa, anak perlu pemahaman ketika mereka diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Anak yang kritis tentu akan berkata "Kenapa Aku harus baca Al-Quran?" Orang tua yang tidak siap akan menjawab "Karena itu kitab suci umat Islam."

Anak yang patuh tentu akan langsung membaca tanpa perlu tanya sana sini lagi. Tetapi bagaimana dengan kebanyakan anak? Orang tua pasti memerlukan efforts lebih untuk meminta anak itu membaca Al-Quran. Orang Tua yang kreatif akan menjelaskan keutaman membaca Al-Quran dengan cerita sejarah turunnya Al-Quran, atau memberikan reward setiap anak baca Al-Quran. Tetapi ada juga tipe orang tuanya yang hanya menyuruh saja tanpa perlu ditanya balik. "Kalau Bapak bilang baca, ya baca. Klo Ibu bilang baca, ya baca". Apalagi jika ada tambahan "Waktu ayah masih kecil, ayah rajin baca Quran. Sekarang kamu baca Quran aja males banget!" Yang pasti anak auto menjawab dalam hati "Ya, zaman ayah dulu kan belom ada handphone, belum kenal internet, belum ada mall," wkwkwkw.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa anak bagaikan kertas putih. Orang tua dan lingkungan yang mewarnai kertas tersebut. Rasulullah juga mengatakan anak yang kita miliki bukanlah milik kita tetapi milik zaman mereka. Jadi tentu mendidik mereka tidak harus sama dengan cara kita dididik.

Satu hal yang perlu orang tua pahami bahwa anak bukan ROBOT. Bukan berarti karena kita yang melahirkan, memberi makan, menyekolahkan, dll maka kita BERHAK atas segala jalan hidup anak kita. Banyak orang tua yang memotong hak berpendapat anak, apalagi jika pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat mereka. Padahal anak perlu didengar, perlu dimintai pendapat, perlu diajak berbicara. Anak semakin dilarang semakin mereka penasaran. Semakin mereka dibilang GAK BOLEH, akan membuat mereka mencari tahu. Apalagi anak sekarang, pintarnya bukan main. Di depan kita kelihatan baik dan sholeh/sholeha tetapi di luar pengelihatan kita mereka bisa menjadi bertolak belakang dengan apa yang kita bayangkan.

Anak-anak itu butuh didengar, dihargai setiap proses yang mereka lakukan, diberikan contoh, dan diperhatikan. Karena mereka akan meniru orang yang dekat dengan mereka begitu mereka kelak dewasa. Selagi orang tua bisa memberikan semua itu (walaupun porsinya tidak banyak) maka tunaikanlah hak anak. Dengan begitu mereka akan mudah untuk kita tarik dalam jangkauan kita.

Apakah orang tua yang suka menyuruh anaknya salah? Tentu tidak 100% salah. Orang tua belajar dari apa yang mereka alami di masa lalu dan mereka ingin/tidak ingin mengulangi yang sama dengan anak mereka. Misal jika dulu orang tuanya selalu belajar 3 jam sehari, maka anak pasti akan diminta melaksanakan apa yang dulu mereka lakukan. Jika dulu orang tuanya terlalu banyak nonton TV dan dia yakin itu suatu kesalahan, maka tentu dia tidak mau hal itu terjadi pada anaknya. Tiap kali anak menonton TV pasti akan ada sergahan yang sebenarnya adalah menyalahkan tindakannya di masa lalu.

Tetapi anak-anak tidak bisa diperlakukan seperti ini. Menganggap mereka sebagai objek, atau mini me yang harus sama seperti kita. Dalam beberapa hal genetik mungkin akan ada sikap dan sifat yang sama, tetapi pengembangannya, anak berhak untuk diberikan pilihan untuk dirinya sendiri.

Hal ini menjadi saling bertentangan pada akhirnya. Anak berpikir orang tua otoriter, sedangkan orang tua berpikir anak pembangkang. Jika hal ini tidak diselesaikan maka akan banyak anak yang dikorbankan untuk masa depan mereka.

"Ah, saya otoriter, tapi anak saya semuanya jadi tuh!"

Dalam beberapa kasus mungkin benar. Tetapi tetap akan ada luka di hati si anak yang akan bergelut sampai mereka dewasa. Pada satu titik ketika anak tidak bisa menerima akan ada perlawanan frontal yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Mungkin ketika sudah tua maka orang tua menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah ketika mereka melihat cucu mereka diperlakukan yang sama dengan anak mereka. Jadi semacam lingkaran setan.

Atau anak tidak melawan tetapi ada unfinished bussiness yang disimpan dalam hati mereka, yang kelak menghantui hidup mereka selamanya jika tidak diselesaikan. Atau lagi ada rasa kasih dan sayang yang tak terbentuk dengan sempurna sehingga hubungan anak dan orang tua terasa TASTELESS. Hubungan hanya sekadar orang tua dan anak saja tanpa bumbu-bumbu cinta dan kasih sayang.

Saya teringat ketika ada orang tua mengambil raport. Saya dan teman saya memberitahukan perilaku anaknya di sekolah yang melampaui batas. Orang tua itu tidak terima karena dia merasa bahwa anaknya selalu bersikap baik di hadapan mereka. Padahal ketika berada di sekolah anak itu berperilaku sangat melampaui batas. Tentu kami mempunyai bukti-bukti autentik yang memperlihatkan perilaku anak itu di sekolah.

Anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai kasih sayang, pengertian, penghargaan sekecil apapun, maka anak akan berkembang dengan penuh percaya diri dan penuh kesadaran ketika melakukan sesuatu. Ketika orang tua memintanya untuk melakukan sesuatu dengan cara yang baik maka anak akan melakukannya tanpa perlu bertanya-tanya lagi.

Coba bandingkan percakapan berikut :


Percakapan 1


"Kak, kayaknya Ayah belum lihat kamu baca Quran deh. Katanya kamu mau khatam? Bangga deh kak, kalau kamu bisa khatam."

Bahasa yang digunakan tidak menyuruh tetapi mengingatkan, sehingga anak merasa tidak diperintah. Apalagi di akhir kalimat ada rasa bangga jika si anak bisa menyelesaikan tugasnya.


Percakapan 2


"Kak, kok belum baca Al-Quran? Udah kelas 6 bukannya harus khatam ya?"


"Bentar, yah. Lagi nanggung nih filmnya."


"Ayah kasih waktu 30 menit lagi ya, setelah itu lanjutin baca Al-Qur'annya."


"Yah, ayaaahh... 1 jam lagi deh!"


"Ya udah, ayah kasih waktu 40 menit lagi ya!"


Di sini anak merasa diajak berdiskusi dan diberikan ultimatum tanpa perlu marah. Jika anak akhirnya melanggar waktu tenggang yang diberikan, maka harus ada konsekuensi yang didapatkan si anak.

"Hmmm... Kakak melanggar waktu dari Ayah nih. Besok berarti jatah nonton kakak dikurangin yaah..."

Disini anak akan berpikir 2x untuk melanggar waktu yang diberikan si orang tua. Tapi yang perlu diingat adalah konsistensi dan keluwesan. Jika anak selama tiga hari melanggar terus maka orang tua harus konsisten memberikan punishment. Next time, ketika anak sudah berusaha tetapi masih melanggar sedikit saja maka kasih keluwesan.

"Hmmm... Kakak melanggar waktu dari Ayah nih. Tetapi karena selama ini Ayah lihat kakak selalu konsisten, maka hari ini kakak ayah bebasin deh dari punishment. Tetapi besok-besok jangan diulangi lagi ya!

Di poin ini anak akan mengingat, kalau berbuat konsisten pasti nanti akan ada kemudahan dari orang tua. Jadi anak akan merasa orang tuanya sudah berbuat bijak.


Percakapan 3


"Kakak ayo baca Quran, biar terus khatam. Lihat tuh temen kamu si fulan, kemarin dia udah khatam lagi. Kamu, khatam sekali aja susahnya minta ampun."


Dari kalimat ini akan ada pemberontakan dan tidak terima pada diri si anak. Apalagi dibandingkan dengan anak lain. Akan lebih parah jika yang dibandingkan adalah saingannya. Selain merasa tidak dihargai, juga akan timbul rasa dendam si anak pada saingannya. Kemungkinan dari percakapan ini ada 2. Pertama, si anak akan mengerjakan dengan terpaksa dan bersungut-sungut. Kedua, si anak tidak akan mengerjakan jika ucapan itu sudah berulang kali diucapkan tanpa ada punishment yang jelas. Ini adalah bentuk perlawanan anak yang tidak suka dibandingkan.

Tentu melakukan percakapan dengan pola yang benar tidak gampang. Apalagi jika orang tua yang merasa malu dan tidak pandai bercakap-cakap. Mau tidak mau orang tua harus mulai belajar berkomunikasi dengan anak. Tidak harus berubah drastis tetapi dengan beberapa penyesuaian dan pembiasaan. Semua bisa karena terbiasa bukan? Karena menjadi orang tua itu perlu belajar, it's not taken for granted. Hanya orang tua yang hebatlah yang mau belajar demi masa depan anak-anak yang lebih baik. Namun jika ingin anak begitu-begitu saja dan mati dalam penyesalan maka lakukanlah hal-hal yang kebanyakan orang lakukan. Mumpung belum terlambat. Ketika anak masih belum beranjak dewasa maka mereka masih bisa dibentuk dan ditanamkan dengan nilai-nilai kebaikan. Orang tua lah yang berperan untuk dalam hal ini semua. Jangan sampai anak-anak dimasukkan nilai-nilai oleh orang lain dan bahkan lebih parahnya oleh game dan televisi.

Pastikan ketika kita meminta anak membaca Al-Quran maka kita juga terbiasa membaca Al-Quran. Jika kita meminta anak tidak main hape terlalu sering, pastikan kita tidak bermain hape terlalu sering di depan anak-anak. Karena anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan lebih tertarik jika diminta melakukan kebaikan dengan mencontoh orang tua. Sediakan waktu untuk tilawah bersama, belajar bersama, dll. Biarkan proses itu berjalan dan nikmati setiap prosesnya. Mungkin anak kita belum bisa rutin membaca Al-Quran tahun ini, siapa tahu tahun depan mereka sudah mulai terbiasa rutin. Yang terpenting jangan putus asa.

Ajarkan untuk mencintai Al-Quran bukan hanya sekedar membacanya. Cintalah yang akhirnya membuat mereka rindu untuk membaca Al-Qur'an berulang-ulang. Hari ini mungkin bukan anak kita yang bisa khatam berkali-kali, tapi suatu hari nanti akan ada waktunya mereka bersinar. Biarkan mereka berproses. Tugas orang tua adalah membimbingnya, bukan mendiktenya. Anak yang dibesarkan dengan proses kelak mereka akan menghargai setiap proses yang mereka lakukan. Saat SD belum terikat dengan Al Quran, saat SMP, SMA, Kuliah, bekerja mungkin mereka akan terikat. Semua ada saat dan masanya. Allah bilang : DON'T LOSE YOUR HOPE! Jangan pernah putus harapan.

Anak yang sekarang khatam berkali-kali tidak ada jaminan di masa depan mereka masih bisa membaca jika membaca Al-Quran nya hanya berdasarkan "JANGAN MAU KALAH DENGAN TEMAN KAMU". Sebaliknya anak yang sekarang tampak terbata-bata membaca Al-Qur'an, jarang khatam, suatu saat ketika hidayah itu datang maka dia akan menjadi orang yang paling baik bacaan Quran nya dan paling sering mengamalkan isinya. Karena khatam tanpa mengamalkan isinya akan terasa kehilangan ruh-nya. Fitrah anak adalah pada kebaikan, maka dekatkan mereka selalu dengan kebaikan.

Sampai sini mungkin akan ada yang berkomentar,

"Halah... lo bisa nulis doang! Lo kan belum ngerasain punya anak sendiri."

Tentu yang berkata seperti ini tidak salah. Saya menulis ini berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak dan orang tua. Menulis ini juga merupakan proses bagi diri saya untuk belajar menjadi orang tua yang baik di kemudian hari.

Saya pun merasakan apa yang orang tua rasakan. Saat itu seorang anak yang saya bimbing hafalan Al-Quran, di penghujung tahun ajaran sudah tinggal 1 surat lagi untuk melengkapi menjadi satu juz. Nyatanya hingga dua tahun berikutnya anak itu belum juga selesai. Tentu saya tidak berhenti "menceramahi" nya.

"Ganbatte!! Ayo tinggal 40 ayat lagi!"
"Ayo pokoknya nanti klo gak selesai, bapak jitak!"
"Tinggal 2 lagi nih ayo semangat!!"

Hingga anak itu mengabarkan bahwa dia sudah melengkapi juz 30.

"Wow keren!! Akhirnyaaaaaaaa..... Masya Allah akhirnya selesai juga. Huhuhu terharu..."


Berkomunikasilah dengan bahasa yang paling mereka pahami dan nyaman. Setelahnya saya semakin belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Karena tentu usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Selamat menjadi sahabat terbaik anak!


***

Bekasi, 2 September 2021
My kos, 23.36 pm

Monday, June 21, 2021

Values VS Results!

 



"Sebaiknya menggunakan dua device aja, hape dan laptop agar tidak terjadi kecurangan"
"Wah kok bisa ya, anak itu nilainya 100 semua? Padahal khan...."

Obrolan ini beberapa kali sering saya dengar dari rekan-rekan saya. Belajar online menciptakan murid-murid baru yang memiliki nilai yang fantastis padahal selama ini jika belajar tatap muka anak itu memiliki nilai yang pas-pasan bahkan cenderung di bawah KKM.

Saya teringat kejadian beberapa puluh tahun lalu saat Ujian nasional kelulusan SMA. Saya yang waktu itu tercatat sebagai juara umum prodi IPS berhasil dikalahkan oleh seorang teman saya yang ranking di kelas aja kagak. Waktu itu dia menjadi pemilik NEM tertinggi seangkatan. Bayangkan aja NEM nya dia itu rata2 9 koma. Ulala...

Waktu zaman itu memang bocoran merebak luas dan seorang teman sekelas saya sampai minta bantuan saya untuk mengisi soal bocoran itu. Yekaleee.... Saya sempat melihat sekilas soal itu dan ternyata plek ketiplek sama dengan soal yang keluar pada hari H. Teman saya itu kebetulan orang tuanya memiliki percetakan yang mencetak soal UN tersebut! OMG!

Kecewa? Tentu aja. Bagaimana bisa temen yang malas belajar dapat nilai tinggi sedangkan saya nomor kesekiannya. Sempat beredar UN mau diulang, tapi you know lah... Pemerintah Indonesia getooo....

Kemudian hari saya baru tersadar saat ada orang yang berkata pada saya : "Nilai tinggi jika dilakukan dengan cara yang tidak benar tentu tidak ada barokahnya. Suatu yang dimulai dengan kecurangan maka orang tersebut akan terus melakukan kecurangan. Tentu kita tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang curang khan? Tau sendiri kan bagaimana Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang curang."

Saya pribadi saat menjalankan kelas online ini memberikan kepercayaan penuh kepada anak dan orang tua. Jika ulangan harian maupun PTS dan UAS, saya tidak akan ikut campur dengan bagaimana melaksanakannya. Saya hanya menekankan "kejujuran yang utama" karena kita sama sekali tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di seberang laptop, khan? Mau pakai hape atau laptop bersamaan, jika memang value anak itu sudah tidak jujur maka akan menjadi habbit bagi anak itu yang menjadi cerminan dari orang tuanya.

Ada anak yang di real class biasa-biasa aja tapi selama online learning ini nilainya perfect 100 semua. Saya gak bisa berbuat banyak, karena memang yang muncul di result GF saya, anak itu memang menjawab semua pertanyaan dengan benar. Prosesnya? Wallahu'alam bishowab.

Anak yang pintar? Ada yang perfect juga dan ada yang salah satu atau dua nomer.

Paling saat nilai dirilis saya akan mengingatkan pada murid-murid, "Inget ya, kejujuran yang utama. Murid dapat nilai 100 itu udah banyak, tapi murid yang memiliki nilai-nilai kejujuran itu langka." atau pura2 nuduh sambil bercanda.

Saya berusaha memberikan dan mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan kepercayan kepada mereka. Memang saya tidak tahu prosesnya, tapi kan ada Allah yang meihat. Jika mereka yang diberikan kepercayaan lalu melakukan kecurangan, itu bukan kerugian bagi saya itu tetapi problem hidup dia yang terbiasa berbuat curang. Jika ketahuan, akan saya tandai dan jika tidak ketahuan, itu urusan dia sama Allah.

Apalagi yang saya ajarkan anak-anak kecil (SD). Cukup latih dia dengan memberikan kepercayaan dan nilai-nilai kejujuran. Maksa-maksa pake banyak device cuma akan membuat mereka tambah tertekan. Yang kita lihat proses bukan result. Kalau mereka tidak jujur atau menyalahgunakan kepercayaan, biarkan aja. Toh dalam proses itu tidak harus selalu lurus khan? Cukup nasehati mereka jika ketahuan. Itu akan menjadi patokan mereka untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Tapi bagaimana anak-anak kelas 1 atau 2 SD bisa melakukan kecurangan dan tindakan tidak jujur? Mereka meniru! Siapa yang ditiru? ORANG TUA!

Banyak orang tua yang takut anaknya dapat nilai jelek, jadi mereka berusaha mati-matian membantu sang anak agar nilainya tetap bagus. Jika dalam ulangan ada soal yang disalahkan padahal jawabannya sudah dikasih tahu orang tua, alih alih anaknya yang protes, malah orang tuanya yang protes. Sebagian orang mungkin menganggap ini wajar karena mewakili anaknya yang masih kecil dan belum berani. Jutru hal ini, bagi saya, mematikan keberanian dan sikap kritis anak. Orang tua akan berkata "Kok disalahkan sih jawabannya? Sini mama tanya guru kamu!" dengan begini si anak setiap ada permasalahan secara tidak langsung akan membiarkan orang tua nya untuk menyelesaikan masalahnya. Jika dari awal si anak yang disuruh maju untuk bertanya pada gurunya, maka selain melatih keberanian juga akan tertanam nilai : kalo merasa ada yang salah kamu harus menyelesaikan sendiri.

Gw pernah loh diteror orang tua. Di WA berkali-kali dengan kata-kata mengintimidasi seolah dia adalah orang yang paling benar. Sampai bilang "Kalau sampai anak saya depresi bagaimana?" padahal anak itu pernah menulis saya sebagai guru favoritnya. Dalam hati, saya bilang "Iya, depressi gegara punya ortu kek elo!" wkwkwk

Ketika orang tua mulai membantu anak dalam ulangan online atau yang lebih parahnya menyewa orang atau lagi mengerjakan ulangan si anak, maka si anak akan mencontoh apa yang dilakukan si orang tua. Otak mereka akan merekam bahwa "berbuat curang itu gak apa apa loh, orang tua saya aja melakukannya."

Duh, akhirnya terbentuklah mindset pada anak itu yang jika tidak diingatkan dan diluruskan akan terus terbawa dalam karakternya.

Anak-anak pintar tentu tidak akan kesulitan jika mengerjakan ulangan online tanpa didampingi orang tua. Atau jika orang tua yang menemani mereka benar, maka mereka yang menjadi perwakilan dari gurunya untuk mengawasi ulangan. Baik belajar online ataupun offline, orang tua tipe seperti ini akan tetap menekankan nilai-nilai kejujuran dan kerja sendiri. Jadi orang tua adalah kunci.

Saya pernah mendapati teman yang ingin memberikan piagam ala ala buat anak-anak di kelas yang nilainya 100. Terus saya kasih masukan deh : "Belajar online kayak begini jarang yang nilainya murni, ngapain juga ngasih penghargaan nilai tertinggi untuk anak yang belum tentu mengerjakannya dengan jujur. Bisa-bisa mereka menganggap harus mendapatka nilai 100 dengan cara apapun agar bisa mendapat penghargaan."

Salah satu dampak buruk dari sistem reward dan ranking adalah menciptakan anak yang ambisius, bersaing, patah semangat, pendendam dan menghalalkan segala cara untuk menjadi yang terbaik. Di sekolah IHF (Indonesia Heritage Foundation) tempat saya pernah mengikuti pelatihan karakter, menghilangkan sistem ranking dan tidak memberikan hasil ulangan kepada anak-anak. Semua nilai akan dikasih tahu kepada orang tua. Mereka menekankan value bukan result. Mereka membentuk karakter anak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Nilai dan lain-lain hanyalah pelengkap saja. Jadi anak-anak benar-benar menikmati proses belajar tanpa penuh tekanan.

Mungkin jika ulangannya dilakukan secara offline di kelas sebagaimana biasanya, boleh-boleh aja memberikan piagam untuk nilai terbaik karena mereka mengerjakan di kelas dan terpantau oleh guru.

Sayangnya sistem pendidkan di Indonesia ya seperti itu. Semua ingin menjadii yang terbaik hingga segala cara dilakukan. Gonta ganti kurikulum sehingga guru dan murid disibukkan dengan teori sampai mabok. Semua tujuannya adalah nilai, nilai dan nilai. Akhlak bobrok? Gak peduli! Maka orang-orang akan berpikir : gak apa-apa bobrok yang penting pintar, yang penting juara, yang penting menang!"

Daaaaan.... lihatlah generasi Z sekarang. Terbiasa mengucapkan kata-kata kasar ataupun jorok serta bertingkah laku nyebelin. Lihat aja di tiktok, bejibun sound dengan kata-kata kotor atau video "artis" dadakan yang gak berisi sama sekali. Lihat juga komentar di akun-akun gossip dari netizen yang bikin gw istighfar. Ya karena tadi, akhlak itu bukan nilai utama. Value itu bukan hal penting.

Kalau udah begini siapa yang salah? Gue? Temen-temen gue? Emak gue?? (kibas rambut ala Cinta di A2DC).

Jadi... ayo jangan terbalik-balik. Bukan "Gak apa-apa akhlak bobrok, gak apa-apa gak jujur, gak apa-apa nyontek, gak apa-apa berbuat curang, yang penting bisa juara kelas, bisa jadi direktur, bisa jadi PNS, bisa masuk PTN, dll dll." Coba diubah dengan : "Nilai tinggi, jabatan tinggi, jadi PNS, masuk PTN favorit, akan kehilangan makna jika dilakukan dengan cara curang dan tidak jujur. Karena berawal dari akhlak yang baiklah maka kehidupan kita akan menjadi baik. Insya Allah."

Tapi paling klo gw ingetin gini biasanya dijawab : "Halah... orang lain juga ngelakuin, bukan gue doang!"

Kalo jawabannya udah begitu, ya udah, terserah lo sama keluarga lo aja! Wkwkwk.
***

Bekasi, 21st of June 2021, 11.20 am
@ My office

#keepwriting #teacherjournal #talk2talk


Friday, November 8, 2019

Look, Who Is Smiling Right Now?



Beberapa hari belakangan ini saya sedang mencoba merapikan Hardisk External saya. Mencoba untuk membuatnya menjadi teratur dengan memisahkan masing-masing folder pictures, document, music dll. Setiap file dari masing-masing folder itu pun diberikan nama yang lebih spesifik agar ketika mencari file yang dibutuhkan langsung ketemu. Juga menghapus segala macam file, gambar , musik dan lainnya yang menurut saya udah gak ada faedahnya.

Hingga saat saya membuka folder yang berisi kumpulan screen shoot dari berbagai chattingan grup WA, FB, dan lainnya, saya tertawa geli sendiri melihatnya percakapan-percakapan di screen shoot itu. Sebagian besar percakapan itu berisi argumentasi, debat, bahkan sampai makian kasar antara saya dengan beberapa orang. Segera saja beberapa screen shoot itu saya pindahkan ke "Trash" agar dosa orang tersebut tidak mengalir terus, lagipula saya juga sudah memaafkan. Dan tawa saya semakin geli saat saya menemukan screen shoot dari beberapa orang yang bersekutu melawan saya. Pesan itu berisi penghinaan, halusinasi, sindiran dan kata-kata yang kurang baik. Saya membayangkan masa-masa itu, saat saya diserbu beramai-ramai dan dianggap duri dalam daging di sebuah grup. Ramai-ramia menyindir saya, beberapa di antaranya bermain aman dengan tidka memilih kedua belah pihak. Namun waktu telah membuktikan segalanya. Akhir dari cerita itu pun berakhir ironis. Saya sengaja membiarkan screen shoot ini dalam hardisk external. Lumayan lah, untuk "kenang-kenangan" bagaimana saya berhasil menghadapi para pengkhianat ini.

Kisah ini bermula dari masalah uang dan beda pendapat. Waktu itu kami hendak mengadakan suatu acara di suatu tempat. Kami tidak mengetahui satu sama lain selain dari grup WA. Kami pun bertemu dan mendiskusikan kegiatan yang ingin kami lakukan. Waktu itu sebagai modal awal saya meminjami tim kami ini sejumlah uang sebagai modal. Kami pun sepakat, acara yang akan kami adakan ini hanya menyewa satu tempat. Namun dalam perjalanannya, banyak peserta yang berminat menghadiri kegiatan ini. Kami pun berembuk kembali apakah akan menambah tempat atau bagimana? Saya pribadi memberikan pendapat agar kita bermain aman saja. Sedangkan dua orang itu, sebut saja "Teh" dan "Mbak", merasa bahwa memerlukan dua tempat karena peminatnya yang antusias. Pada satu titik temu diputuskan tetap satu tempat saja karena Mbak dan Teh juga tidak berani menanggung resiko jika ternyata menyewa dua tempat tetapi peserta tetap tidak penuh. Mulailah keduanya menyindir-nyindir saya di grup, padahal keputusan sudah dibuat bersama.

"Saya sih maunya dua, tapi gak ada yang dukung,"
"Tuh, kan, saya bilang juga apa, coba dua tempat aja!"

Dan sindiran-sindiran yang lain, yang intinya adalah menyalahkan saya. Padahal kondisi keuangan pada waktu itu pun masih belum jelas. Peserta banyak yang hanya booking tapi belum transfer. 

Saya pun yang merasa disindir-sindir terbawa emosi juga. Saya bilang kepada Teh yang memegang dan mengurus keuangan untuk segera mengembalikan uang pinjaman saya sebagai ancaman. Teh dan Mbak tambah marah dan semakin menjadi-jadi menyindir di grup. Bahkan mereka (menurut info) bercerita kepada teman-teman yang lain tentang kejadian ini.

Saya memasabodokan apa yang mereka lakukan. Saya tetap bekerja dan menganggap permasalahan itu tidak ada. Bahkan ketika acara usai pun saat makan-makan mereka enggan mengeluarkan uang.

Setelah kejadian ini Mbak dan Teh mulai bersekutu memusuhi saya. Bahkan Mbak ketika berbicara kasar tanpa tedeng aling aling langsung saja di grup. Saya sendiri sengaja menahan. Si Mbak malah berhalusinasi kalau saya mencoba mendekati dia (cuih!). Dia bilang agar saya tidak usah menghubungi dia lagi karena dia kesal di "ciye" in sama teman-teman yang lain. Dia juga berkata jangan pernah meng-add dia lagi di FB. 

Iyeeeuuu!!! Hellaww!! Dulu si Mbak ini yang meng-add saya di FB. Dia juga yang meminta kepada saya untuk memasukkannya ke dalam grup. Plessss dia juga yang sering japri-japri saya buat sesuatu yang menurut saya receh banget! Hadeeehh...

Sedangkan si Teh juga mendukung si Mbak. Si Teh masih baper tentang uang pinjaman. Dia juga tertangkap basah mengirim pesan yang menjelek-jelekkan saya ke grup yang seharusnya untuk japri. OMG! 

Kedua orang ini kemudian mendapat angin segar ketika beberapa teman di grup yang belum mengenal saya atau iri tanpa alasan dengan saya. Satu orang, kita sebut saja Tong, sering menyindir-nyindir saya dan bercanda dengan arah menyindir saya dengan Teh dan Mbak. Padahal usia Tong jauh di bawah saya. Dia selalu menjadi pion terdepan dalam bersekutu dengan Mbak dan Teh. Entah kenapa Tong tiba-tiba ikut terlibat dengan kekisruhan ini. Padahal awal saya mengenal dia, kami saling baik-baik saja. Teh dan Mbak tampaknya selalu menceritakan semua masalah kepada Tong, dan Tong yang akan memulai sindiran di grup yang lalu ditanggapi oleh Teh dan Mbak.

Satunya, kali ini kita sebut Uda, sebagai pimpinan grup. Sangat disayangkan dia malah memihak kepada Teh dan Mbak. Ketika saya men-japri dia untuk membicarakan hal ini, dia tak sungkan-sungkan memberikan kata-kata kurang pantas kepada saya. Di grup pun dia selalu melemparkan tuduhan yang sellau tertuju kepada saya walaupun dia tidak mengatakan.

Serius, saat itu di grup bagaikan neraka. Padahal awalnya kami sangat akrab. Saya mencoba untuk menjadi pihak yang mengalah tetapi mereka tetap tidak peduli. Jika ada acara off air grup, maka saya harus bertemu dengan orang-orang itu. Saya mencoba bersikap baik dan biasa-biasa saja, berbeda dengan mereka yang jelas menjauhi saya. Ketika ada "spotlight" yang mengenai saya, maka seusai acara off air kebencian orang-orang itu akan semakin meningkat. Mereka pun seolah "playing victim" sebagai korban kebencian saya. 

Mereka pun membuat grup yang tidak melibatkan saya. Padahal mereka sendiri yang pernah bilang, jika ingin membuat grup harus menyertakan pengurus grup utama. Jika ada acara-acara off air, sebisa mungkin tidak melibatkan saya. Mereka pun semakin berani membuat candaan tentang saya di grup yang memang tanpa menyebutkan nama, orang pun sudah tahu siapa yang dimaksud. Juga saat saya bekerjasama dengan teman yang lain di grup itu untuk mengadakan suatu acara, mereka akan membuat candaan dan warning tentang saya. Tetapi itu bukan big problem bagi saya. Selamanya saya berusaha untuk bersikap biasa saja dan berdamai dengan diri saya. Jika "mereka" meminta ucapan doa di grup maka saya pun ikut mendoakan walaupun pada akhirnya tetap kena sindiran. Teh dan Mbak memutuskan pertemanan dengan saya di sosmed, memblok nomer saya dan juga akun sosmed saya. Menurut saya sih sudah overreacting, tetapi saya berusaha untuk mendiamkan saja.

Dalam suasana seperti ini, ketika teman-teman yang tahu kamu benar berada dalam posisi netral, dan suasana grup menjadi panas jika saya berbicara maka saya cukup diam saja. Tak henti-hentinya saya berdoa pada Allah agar yang benar itu ditunjukkan benar dan yang salah itu ditunjukkan salah. Saya tak henti berdoa dan yakin suatu saat Allah pasti akan membuka tabir semua itu. Dia akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hingga tahun pun berlalu. Allah menunjukkan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Mbak memutuskan keluar dari grup dengan alasan bla bla bla. Dia juga mengatakan akan tetap mensupport kegiatan off air grup yang pada kenyataannya adalah nol besar. Maybe she's found another group to make any mess. Lol! Kabarnya pun sudah tidak terdengar lagi. Padahal yang dulu berkata-kata setia kawan, loyal, dll adalah dia. Teh sendiri masih tetap bertahan di grup.

Di grup itu saya juga punya teman lain yang saya anggap lebih netral dan lebih baik. Pada saat kami bertiga sedang berkumpul untuk hangout, kata-kata itu pun keluar.

"Ih, males banget deh sama si Teh. Kemarin kan saya janjian sama Kak Nessa, eh di maksa ikut. Habis itu dia japri saya buat pinjamin dia uang buat ongkos ke tempat acara. Bilangnya minggu depan akan diganti, padahal uang yang sebulan lalu dipinjam aja belum diganti." ujar teman saya itu, sebut aja Kak Ara.

"Terus, Kak?" tanyaku.

"Ya, terpaksa deh saya bayarin." Kak Ara BT.

Saya tahu Kak Ara ini selain banyak uang juga tipe orang yang "gak enakan" sama orang lain. Jadi dia gampang banget untuk dimanfaatin.

"Betul banget! Waktu itu juga dia juga pinjam uang saya. Kalau ada acara dan ketemu dia sambil makan-makan, dia minta dibayarin dulu tapi uangnya gak pernah diganti." kali ini suara Mbak Atik.

Saya gak menyangka Mbak Atik akan angkat suara karena masalah ini adalah rahasia umum yang semua orang sudah tahu. Dan topik yang sangat sensitif sekali.

"Si Tong juga tuh! Kalau ada acara selalu rame di grup ingin ikut tetapi ujung-ujungnya selalu minta dibayarin. Bilangnya gak punya duit, padahal kalau jajan aja banyak banget!" Kak Ara lagi. Gayanya yang lucu dan repetisi kalimatnya bikin saya ketawa sendiri.

"Aduh... maaf nih Mas Yas, kita jadi curhat. Hahaha...."

Kita pun tertawa bersama. Saya juga tertawa, lebih tepatnya menertawakan betapa ironisnya kehidupan ini. Ujung-ujungya kita jadi membahas (membahas ya, bukan menggibah :) ) tentang grup dan karakter masing-masing personalnya. Mereka menahan itu semua karena ada orang yang lebih tua di grup yang ingin kami muliakan. Tidak enak rasanya jika ribut-ribut di grup.

Oiya, Uda juga masuk dalam topik pembicaraan karena gayanya yang memang "gak banget". Bahkan saat saya bertemu dengan seorang teman lain di kota lain, saya baru mengetahui rahasia kelam Uda. Bukan saya yang meminta diceritakan, tetapi seorang teman yang tiba-tiba bercerita begitu saja.

Pada akhirnya semua memiliki jalannya masing-masing. Mbak sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Dukungan yang akan dia berikan nyatanya hanya janji di atas janji. Teh masih berada di grup. Saya sendiri tidak tahu bagaimana urusan dia dengan yang lain. Saya pribadi sih gak mau tahu. Sempat dia membuat grup baru lagi yang tujuannya untuk "patungan" ketika ada acara. Tentu saja saya tidak dimasukkan dalam grup itu. Namun dua teman terdekat saya di grup memilih untuk tidak berpatungan dengan grup itu. Uda sendiri, masih tetap dengan gayanya yang "gak banget" tetapi dukungan untuk dia sepertinya sudah semakin meredam. Dan Tong, akhirnya kita ajak jika ada acara off air. Walaupun lebih banyak kita bertiga saja yang jalan. Karena ditinggal oleh Teh dan Mbak serta Uda maka Tong sudah tidak bernyali lagi. Saya pribadi pun jika dua teman saya meminta untuk mengajak Tong hangout, saya tidak keberatan sama sekali. 

Saya sendiri akhirnya menikmati pertemanan saya dengan beberapa orang saja. Kita sudah tidak terlalu membahas tentang grup, tetapi kami masih tetap menjadi supporter nomer 1 jika grup kami memiliki acara off air. Pada akhirnya terlihat siapa yang tulus dan siapa yang bulus. Saya memaafkan apa yang telah mereka lakukan dan saya tak segan untuk meminta maaf. Sedangkan mereka? Saya tidak pernah satu orang pun mengucapkan permintaan maaf. Walaupun dulu kata-kata mereka sangat menyakitkan, tetapi memberikan mereka maaf adalah kemenangan terbesar saya. Forgive but not forget!

Saya bersyukur Allah menunjukkan semua ini. Segala info itu, tentu saja tanpa saya mengorek-korek nya, datang sendiri menghampiri saya. Semuanya terjadi tanpa saya sangka. Apa yang saya minta  tentang kebenaran ditunjukkan oleh Allah.

Jadi kalau kita memiliki keyakinan bahwa kita benar dan banyak orang menganggap kita salah, tetaplah yakin bahwa kita benar.  Doa yang kita panjatkan atas kedzaliman yang mereka lakukan, Insya Allah akan berbalas. Intinya harus yakin dan sabar. Segala tangis, sakit hati, kemarahan dan lainnya akan berganti dengan senyum dan keceriaan. Bila  kita mengingat kembali hal itu malahan akan menjadi suatu kenangan yang lucu dan "gak banget!". Hahaha.

Selamat tinggal, para kuman! Allah telah menunjukkan jalan. Hingga hari ini pun kalian hanya bisa berbicara tanpa memberikan bukti. Juga masih mencari korban kalian selanjutnya. So sad... Ingin rasanya saya membantu kalian tetapi, maaf, the breaking glasses will never be the sama again. Juga ingin berteriak memaki kalian, tapi harga diri saya lebih tinggi daripada melakukan berbuatan rendah seperti itu. 

At first when I see you cry
It makes me smile
Yeah, it makes me smile
At worst I feel bad for awhile
But then I just smile
I go ahead and smile


-Lily Allen-


One thing, I really want to tell you : 

LOOK, WHO IS SMILING RIGHT NOW???***(yas)




Bekasi, 6th of November 2019
09.43 am



Sebagian isi percakapan pribadi yang harus saya edit dulu sebelum diposting, ya guys!


Awal mulanya nih nih... jreeng jreeng...

Ungkapin dong unek-unek saya

Unek-unek yang daripada disimpan sendiri mending diungkapin langsung

Sindiran-sindiran yang PENTING banget dibawa ke grup oleh Teh

Ini Tong, yang kalau di grup berani langsung negor saya. Kalo ada teman lain, dia gak mau dan berani. Haiyaaa....

Uda yang sok bijak, tapi gak punya attitude sama yang lebih tua. Tong nambahin yang bawahnya, yang "SEHARUSNYA BERFIKIR....."

Mbak yang gak sopan dan nyuruh orang yang lebih tua. Boro2 buka aib, yang bawa2 justru dia dengan membalutnya seolah Islami

Awalnya si Mbak bilang seseorang "statusnya pedas dan tajam", ntar liat deh dia ngomong beda lagi.

Mbak yang bilang "Iya saya jadi nyesel...." , dibales langsung dong sama orang yang lebih tua di grup "klo unfriend ga perlu..." Check mate!

Minta diperhatiin banget sok sok an merendah gitu


Dih ke GR an!! Iyeeeuuuuu.... siapa elu!

Selalu bawa masalah pribadi ke grup, tapi pas diingetin selalu PLAYING VICTIM! Duh!

And taraaaa!!!! Di sini dia bilang seseorang itu "bukan tipe mulut pedas", lah tadi di atas dia bilang "Pedas dan tajam!" Kalo mau playing victim itu konsisten aduh Mbak! Plesss ini yang ditanya apa, jelasinnya jaka sembung bawa golok ples curhat. Masa bodo amat siapa mau minang siapa. Satu lagi, dibalut tulisan Islami biar......... 

Uda yang membabi buta ngebela Mbak dan Teh. Padahal saya gak punya konflik pribadi sama dia.

Seolah2 cerdas, tapi attitude sama orang tua RENDAH! Baper dikacangin, komunikasi aja jarang. Ujung2nya masuk tim Mbak dan Teh. Poor you!

Englishnya, tentu aja ngikutin saya. Jadi yakin, dia marah2 gak jelas gitu karena takut tersaingi. Cuihhh... saya mah gak ada kepengenan nyaingin orang bro!


Di grup kembali nyindir walaupun pakai inisal nama saya! Lah gw yang mau liburan pake uang gue kenapa situ yang repot??? Minta sama grup atau siapa pun gue kagak pernah eh situ yang ketakutan masalah keuangannya terbongkar ya?
Liat siapa yang mulutnya jahat? Tapi kalau ketemu saya............ Uda uda...





Thursday, May 10, 2018

Movie Review 212 The Power Of Love : Sepotong Kisah Cinta Di Balik Aksi Super Damai




Hari Selasa, 1 Mei 2018, saya berkesempatan untuk menonton pertama kalinya film “212 Cinta Menggerakkan Segala” sebuah film layar lebar perdana dari Jastis Arimba. Sekedar catatan, Jastis pernah memenangi Eagle Award dan sering membuat film-film dokumenter.

Menilik beberapa bulan sebelumnya, saat menonton trailer filmnya saja saya sudah mbrebes mili dan makin penasaran ini filmnya bakal seperti apa. Kemudian ditambah lagi dengan membaca bukunya yang baru terbit saat IBF kemarin. Baru baca halaman awalnya saja saya sudah mengaru biru. Untuk review bukunya sendiri nanti saya tulis secara terpisah ya!

Kembali lagi ke kisah saya, eh kisah tentang filmnya (hehehe). Awalnya saya datang di Gala Premier hanya untuk bantu-bantu Mbak Ika dan Bunda Helvy Tiana Rosa. Namun pada show kedua saya “dipaksa” masuk untuk menonton film ini. Inginnya sih menonton saat tanggal 9 Mei nanti agar ada element of surprise nya. Nyatanya rasa penasaran saya malah memaksa saya untuk masuk ke studio 2 Epicentrum XXI.

Karena saya sudah membaca bukunya, maka saya tidak mau berekspetasi terlalu tinggi dengan film ini. Saya tahu, apa yang ada di novel tidak mungkin semuanya akan dituangkan dalam film. Dan saya lupa deh bawa tissu…hahaha…


Film dibuka dengan wajah sangar Adin (diperankan oleh Abdul Hakim) yang bergegas masuk ke dalam sebuah kantor media bernama Republik. Kita kemudian berkenalan dengan beberapa tokoh yang lain, Rahmat (si plontos yang hatinya kaku bagaikan kanebo kering. Lol), Rara (si gadis tomboi yang super cuek) dan Pak Bos (yang kurang berwibawa). Cerita lalu mengalir pada perdebatan untuk menerbitkan headline utama Majalah Republik. Rahmat si jurnalis terkenal lulusan Harvard yang bersikap liberal dan menyudutkan Islam lewat tulisannya, ditentang oleh teman-temannya yang lain termasuk oleh Pak Bos. Lewat tulisan sebelumnya yang anti Islam, Rahmat sebenarnya sudah mendapatkan banyak surat ancaman.

Kemudian scene beralih ke wilayah Ciamis, saat Rahmat terpaksa harus pulang karena suatu hal yang tidak bisa dia tidak hadiri. Di situlah Rahmat bertemu kembali dengan Kiai Zainal, seorang kiai termuka di Ciamis sekaligus ayahnya. Konflik pun bermula, ketika Kiai yang diketahui sedang sakit itu memaksa untuk bergabung dengan kafilah Ciamis untuk berjalan kaki ke Jakarta guna menghadiri aksi 212. Segalanya pun terkuak, tentang masa lalu Rahmat dan kenapa dia bisa sampai seperti sekarang. Di sini pulalah kita akan berkenalan dengan sosok Yasna (diperankan oleh Meyda Sefira), seorang muslimah yang cantik yang membuat Rahmat dan Adin terpana oleh kecantikan sekaligus kelembutan hatinya. Ada pula tokoh Abrar (diperankan oleh Hamas Syahid), adik Yasna, yang berdarah muda sekaligus mencurigai Rahmat yang dianggapnya akan melakukan tindakan provokatif. Ada pula Bi Nurul (diperankan dengan ciamik oleh Asma Nadia), bibi dari Yasna dan Abrar.

Rahmat pun mencoba untuk mencegah abahnya ikut “aksi gila” ini tetapi berkali-kali ajakan Rahmat ditolak Kiai Zainal. Hingga akhirnya Rahmat mengikuti abahnya dan di aksi 212 inilah akhirnya Rahmat mendapatkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kira-kira sesuatu itu apa ya? Dan apakah hubungan Rahmat dan Kiai Zainal bisa membaik atau malah Rahmat akan menyesal kehilangan ayahnya? Nah, jawabannya bisa kamu saksikan di bioskop-bioskop terdekat (link bioskopnya nanti saya sertain di bawah ya!).


Jujur aja dari awal nonton film ini getaran aksi 212 nya udah kerasa banget. Film ini mengalir dengan lancar dengan konflik yang sederhana namun mencerahkan. Ditambah lagi dengan adanya footage-footage aksi 212 yang bikin tambah merinding disko. Berikut saya akan tulis kelebihan dan kekurangan dari film ini.



KELEBIHAN

1. Memory oh memory

Menonton film ini kita benar-benar dibawa pada peristiwa 2 tahun silam, di mana semua umat Islam (dan non Islam) berkumpul untuk melakukan aksi penistaan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh gubernur pada masa itu. Aura 212 nya sudah terasa ketika memasuki bioskop dengan penonton berpakaian putih-putih (#putihkanbioskop). Kemudian saat scene beralih dengan latar belakang aksi 212 dengan segala keistimewaannya, makanan yang dibagikan gratis, sampah yang dipunguti secara sukarela, dan non muslim yang ingin menikah dijaga dengan baik, itu langsung bener-bener bikin air mata susah berhenti. Apalagi pas adegan sholat di tengah hujan, itu bener-bener deh bikin hati gak tenang. Hahaha… Pokoknya nonton film ini kita dikembalikan kembali akan memori Aksi Bela Islam 3.

2. Cerita yang sederhana dan mengalir lancar

Dalam film ini kisah yang diketengahkan bukanlah aksi itu sendiri, tetapi bagaimana aksi ini telah membuka mata hati seseorang untuk bergerak karena cinta. Dan banyak orang yang akhirnya menemukan”cinta” mereka kembali pada aksi ini. Kisah Rahmat dan ayahnya yang penuh konflik berhasil diceritakan dengan lancar tanpa banyak adegan-adegan yang tidak perlu. Tambahan tokoh Adin, Rara, Yasna dan Abrar mempunyai perannya sendiri-sendiri yang tidak menganggu cerita utama. Semuanya saling mendukung sehingga membuat film ini menjadi semakin utuh. Hingga akhirnya tidak terasa film sudah mencapai ujungnya. Pengennya sih filmnya terus main sampai bioskop tutup. Hahaha.


3. Sinematografi yang bagus

Sebagai karya layar lebar pertama dari Jastis Arimba, beliau mampu membuat film dengan biaya sederhana ini menjadi layak untuk dihadirkan di bioskop. Sebagaimana yang sering saya saksikan, banyak film layar lebar yang kualitasnya adalah untuk sinetron tapi dipaksakan masuk bioskop (termasuk film sequel horror legendaris yang baru-baru ini tayang). Tapi film 212 ini dari sudut pengambilan gambar, cerita, dan sinematografinya benar-benar layak untuk masuk bioskop. Percaya deh, gak bakalan rugi ngeluarin uang 30-50 ribu untuk nonton film ini. Selain mendapatkan pencerahan, kita juga disajikan dengan gambar-gambar yang ciamik.


4. Akting yang natural dan cameo yang banyak.

Awal saya kenal Fauzi Baadilla adalah saat beliau berperan di film fenomenal “Mengejar Matahari”. Setelah itu saya bukanlah fans dari FB. Sampai kemudian timbul simpati saat beliau mulai secara intens bersentuhan dengan Islam yang kemudian diikuti oleh artis-artis yang lain. Namun, sesudah film ini saya langsung dan bakalan jadi big fans nya Bang Oji! Aktingnya natural dan nyebelin banget! Sikapnya yang apatis bener-bener bikin gregetan buat ditonjok. Hahaha. Apalagi saat scene dia menutup nasihat dari Bi Nurul dengan ucapan “omong kosong”, itu benar-benar kerasa banget liberalnya. Penampilan Abdul Hakim sebagai Adin juga baik. Karakter Adin lah yang akhirnya membuat film menjadi “festive” karena celetukan-celetukan beliau yang mengundang tawa penonton. Kesan rambut gondrong ditambah bewok penuh kesangaran menjadi lebih humanis.

Pemeran Kiai Zainal pun berakting dengan sangat baik sebagai ayah sekaligus kiai ternama. Aktingnya lagi-lagi ditampilkan secara natural. Meyda Safira sudah tidak perlu diragukan lagi aktingnya. Penampilannya sebagai Yasna yang sholehah dan lembut melekat kuat pada karakter Meyda yang sesungguhnya. Cameo yang hadir pun semakin memperkuat karakter-karakter dalam film ini. Jadi semakin memperkuat bahwa film ini bukan kelas “sinetron” melainkan memang layaknya film. Salah satu akting yang mencuri perhatian saya adalah akting dari Bunda Asma Nadia, yang sejak kemunculan pertamanya di “Duka Sedalam Cinta” kemampuan akting beliau menjadi semakin prima walaupun peran yang dimainkan beliau hanya sekejap saja.

5. Scene Ciamis yang bikin gerimis

Pada saat scene perjalanan dari Ciamis menuju Jakarta lagi-lagi bikin merinding. Ditambah dengan narasi yang menceritakan banyak orang-orang yang berusaha untuk membantu para mujahid long march ini, semakin deh getaran tangisnya menjadi-jadi. Beneran deh, scene ini bikin kita jadi tahu kalau dalam perjalanan mereka itu banyak hal besar yang harus mereka kesampingkan. Semuanya mereka lakukan demi cinta, dan cinta pula yang menggerakkan mereka menuju Jakarta dengan kondisi yang berdarah-darah. Dari scene ini aja sudah semakin menjauhkan dari paranoia bahwa aksi ini penuh muatan politik. Nyatanya, para kiai dan santri yang berangkat semuanya dikarenakan kecintaan kepada Al-Qur’an. Quote terdahsyatnya adalah : Hari ini kita membela Al-Qur’an, maka nanti di alam kubur Al Quran yang akan membela kita. Ya ampun langsung deh saya merinding disko.

6. Soundtrack yang menawan

Awalnya saya mengira soundtrack yang mengalun di Epicentrum ini adalah lagu dari Iwan Fals. Agak sempat BT karena sebelumnya XXI sedang memutar lagu-lagu Celine Dion. Tapi lirik yang terdengar kok gak Iwan Fals banget ya? Malah lirik nya sederhana namun puitis. Akhirnya diketahui bahwa “Doa di Busur Hujan” yang dibawakan Pagi Hati adalah OST dari 212 CMS. Serius suara vokalisnya Pagi Hati ini mirip banget sama suaranya Iwan Fals! Musiknya yang “merakyat” banget ini saat disatukan dengan sebuah scene bener-bener (lagi-lagi) bikin mellow. Bagi saya OST yang disajikan ini menawan dan tepat. Lagunya enak saat didengarkan pada saat hati sedang galau. Hehehe.


Itu adalah sebagian kelebihan dari film ini. Bagaimana dengan kekurangannya? Karena saya sibuk menghapus air mata sepanjang film berlangsung maka saya tidak terlalu “ngeh” dengan kekurangannya (hehehe…). Tapi ada beberapa catatan tentang kekurangan film ini. Yuk, disimak.



KEKURANGAN

1. Scene 212 yang kurang porsinya

Karena saya menonton di gelombang kedua, maka saya sempat bertanya pada teman saya hal apa yang kurang dari film ini. Beliau menjawab scene aksi 212 kurang dieksplor secara full. Karena bagi dia nama “212” dianggap akan menggambarkan tentang aksi 212 yang heroik itu. Nyatanya aksi ini muncul belakangan. Tidak salah juga dia beranggapan seperti itu sih. Tapi kalau membayangkan film ini full utuh tentang aksi 212 kalian bakalan kecewa deh. Film ini adalah kisah yang terjadi dengan latar belakang aksi 212. Ceritanya sangat worth it dan yang pasti menyentuh banget!


2. Bioskop yang menayangkan sedikit

Sayangnya lagi-lagi film positif ini (dan jauh dari kepentingan politis) tidak diapresiasi dengan baik. Pada rilis nama-nama bioskop yang menayangkan film ini, hanya terbatas XXI, CVG dan Cinemaxx tertentu saja. Padahal jika dibandingkan dengan film-film yang jauh dari nilai positif (semacam film hantu, pergaulan bebas, dll), film ini layak banget untuk ditonton. Mungkin kedepannya pihak bioskop bisa meninjau ulang kembali untuk menayangkan film-film dengan content positif lebih banyak. Sayang aja, nilai-nilai kebaikan yang ada di film ini terkalahkan dengan sikap menye-menye, alay, dari film-film yang justru gak sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 9/10
Skenario 9/10
Cinematografi 9/10
Overall 9/10



Mungkin ini saja review yang bisa saya tulis. Yang pasti film ini jauh dari muatan politis dan bisa ditonton oleh semua kalangan dan agama manapun. Kita pun yang alumni maupun bukan alumni 212 sebisa mungkin mendukung film bagus ini. Paling tidak jika kita tidak bisa mendukung, janganlah sampai membencinya atau malah melakukan fitnah. Karena bagi saya sebagai seorang pengajar, film-film bermuatan positif seperti ini harus didukung untuk mengalahkan film-film yang mendangkalkan akidah. Intinya, hayooo kita nonton film 212 The Power Of Love!***(yas) 




Jakarta, 10th of May 2018
08.16 am @myroom
Semoga sukses!




Ketika Mas Gagah menjadi Abrar

Launching di Epicentrum

Tonton filmnya, baca bukunya.

Ketemu Mbak Yasna yang asli maupun gak tetep sholehah


Ketemu Bang Benny penulis bukunya.

Mejeng dulu ya...

Ketemu Hagrid eh Addin

Foto yang disirikin banyak murid-murid saya

Helviers dimanapun dan kapanpun selalu mendukung bunda Helvy

Helviers dong yang selalu dukung. Walaupun cuma jadi tim hore.

Ketemu Pemeran Kiai Zainal yang udah kayak bokap sendiri

Cuma berani ngasih bunga ke bunda aja.... wkwkwk