Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Thursday, October 21, 2021

Belajar dari K.S.N



Hari-hari ini jagad perdrakoran dihebohkan dengan pengakuan seorang wanita yang mengatakan bahwa ada aktor K yang tidak sebaik apa yang dicitrakan dalam drama. Beberapa hari kemudian baru ketahuan bahwa aktor itu adalah Kim Seon Ho (KSN) yang melejit namanya lewat drakor Start-Up dan yang terbaru Hometown ChaCha.


Semua drakor mania pasti tahu kalau Kim Seon Ho itu citranya anak baik-baik. Senyum lesung pipitnya udah pasti bisa membuat para noona, eonni, dan ahjumma klepek-klepek. Tetapi semua itu berubah drastis dalam semalam ketika KSN tidak menyangkal apa yang dituduhkan dan dia malah meminta maaf.


Dari KSN kita bisa belajar bahwa pencitraan itu pada akhirnya akan terbongkar juga. Karier yang dibangun selama ini tiba-tiba hancur berantakan di depan mata. Sad. Semua brand tiba-tiba menyembunyikan semua postingan yang berhubungan dengan KSN. Beberapa drama yang akan dibintanginya langsung mencari peran pengganti. Netizen Korea memang terkenal kejam terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Satu hal positif yang dilakukan KSN adalah meminta maaf dan mengakui apa yang dia lakukan.


Ada dua hal yang bisa gw petik dari kejadian ini :


1. BE YOURSELF!

Jangan pernah pakai topeng dalam hidup. Capek gak sih lo kerjaannya pakai topeng tiap hari? Jadilah apa adanya. Setiap hal itu bisa dimanipulasi, termasuk perilaku tetapi akan ada waktunya semua terbongkar.
Setiap hari manusia itu berjuang sama dirinya sendiri untuk meredam penerimaan dan penolakan dari orang lain. Ada yang bisa menenangkan diri mereka, dan ada pula yang selalu kalah berakhir dengan depresi. Kuncinya adalah terima diri kita apa adanya. Allah udah bilang kok di dalam surat At Tin ayat 4 bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Kalau Allah saja sudah bilang : Kamu tuh Aku ciptakan dengan sebaik-baiknya, lho! Dan Allah itu yang paling tahu kita. Terus kenapa kita jadi ragu dengan apa yang udah dikasih oleh Allah? 

Langkah awal ketika kita bisa menerima diri kita apa adanya maka kita bisa berdamai dan bernegosiasi dengan segala krisis identitas diri tanpa ada intervensi dari orang lain. Percaya deh semua orang itu akan ganteng dan cantik pada waktunya. Termasuk segala hal yang berhubungan dengan fisik itu bisa dipermak/manipulasi. Yakinkan diri kita tuh unik, one of a kind! 

Kalau kita bisa menerima diri kita apa adanya, maka gak ada hal yang gak bisa dikompromikan. Istilahnya orang lain mau nerima kita atau gak itu bodo amat. Yang terpenting kita menerima diri kita sendiri. Amal perbuatan itu lebih penting daripada fisik semata. Toh nanti yang dibawa pulang ke akherat adalah amalan kita. Kita akan dihisab pun berdasarkan amalan bukan fisik. Jadi fisik itu bukan yang utama. Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah amal shaleh. Orang yang keliatannya seperti malaikat, tau-tau hatinya bagai seorang iblis. 

Sesempurna apapun mencitrakan diri, pasti suatu saat akan lelah dan kebongkar juga. Untuk itu kita wajib banget minta sama Allah untuk menutupi aib-aib kita, untuk kemudian tidak mengulangi lagi. Bukan malah dipelihara.

2. SPEAK UP!

Speak up ini penting banget! Istilahnya viralin dulu aja untuk menguak kebusukan. Mereka yang mengalami tindakan kejahatan pasti trauma banget. Terlebih jika mereka berhadapan dengan orang-orang yang punya citra baik, padahal melakukan kejahatan. Pasti ketika speak up banyak orang yang gak percaya, atau malah yang speak up malah dianggap mencari sensasi dan disalahkan balik. Kasian khan?

Orang yang mengalami tindakan kejahatan setiap hari pasti battling dengan diri mereka. Tentu mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri yang menganggap tidak bisa melawan. Jika ini terus terjadi maka dorongan untuk suicide itu akan kuat karena menganggap diri gak berguna.

Di satu sisi mereka ingin berbicara tetapi pasti akan ada penilaian-penilaian dari orang lain tentang diri mereka. Jadi semacam buah simalakama, diceritakan menjadi malu, tidak diceritakan menjadi beban hidupnya.

Salah satu cara terbaik untuk menaklukkan trauma adalah berhadapan langsung dengan trauma itu sendiri. Hadapi trauma ini dengan cara baik-baik. Cari poin-poin apa yang membuat kita trauma dan apa yang segera harus kita lakukan untuk mengatasi ini.  Kemudian speak up dengan cara yang kita bisa, lewat bicara atau tulisan. Tentu gak mudah, karena kita harus memutar kembali detik-detik hal yang kita gak ingin ingat lagi. Namun percaya deh, jika kita udah bisa speak up maka akan ada sedikit beban yang membuat kita lega. Masih ingat kan kasus pegawai KPI yang menyimpan semua traumanya hingga akhirnya dia berani mengungkapkan itu semua. Pasti tidak mudah karena banyak pertimbangan yang harus dia lakukan. Bahkan hingga dia diserang balik karena dianggap lemah dan baper.

Orang-orang yang ini pasti memerlukan pendampinga, untuk terus menguatkan diri mereka dan meyakinkan bahwa mereka not in the wrong side. Jika mereka tidak bisa berpikir panjang dan terus melemah maka sudah pasti memilih bunuh diri untuk mengakhiri ini semua.

***

Dua hal inilah yang bisa gw ambil dari kasusnya KSN. Tidak memakai topeng seperti yang dilakukan KSN dan speak up seperti wanita yang disebut mantan pacarnya KSN.

Dalam kasus gw sendiri, capek banget ketika gw harus make topeng agar dinilai baik sama orang lain. Gw berjuang pastinya menjadi diri sendiri dan tampil adanya. Banyak cercaan, hinaan, dan makian yang pernah gw dapet. Tapi di titik sekarang gw udah gak peduli orang mau ngomong apa selama gw in the right path! Nyatanya menjadi diri sendiri malah memberikan gw kekuatan untuk battling terhadap penerimaan dan penolakan orang lain. Ya, pasti gak mulus tapi paling gak ada masukan positif dari diri sendiri. Yang terbaik dalam hidup adalah menerima diri kita apa adanya dan menyadari kalau orang lain bisa berbuat salah.

Gw pun pernah mengalami trauma yang setiap hari harus gw hadapin hingga saat ini. Tapi proses ini semua yang akhirnya membuat gw bisa share kepada orang lain yang mengalami hal yang sama dengan yang gw alamin. Sampai akhir hidup pun kita bakalan berproses dan battling dengan masalah-masalah yang ada. Yang terpenting kita harus tetap berjuang dan berpikir positif dengan segala hal yang ada. Susaaaaaaahhhhhhh...... tapi inget ada prosesnya.

Sedangkan proses speak up gw jika mengalami sesuatu hal yang gak gw suka adalah dengan tulisan atau berbicara langsung. Paling gak setelah itu gw merasa plong. Serius temen bicara yang berempati itu penting banget. Itulah kenapa Allah menciptakan 2 kuping dan satu mulut, guna untuk kita mendengar lebih daripada berbicara.

Jadi... buat kalian yang hari ini masih memakai topeng, sampai kapan kalian akan terus hidup dalam bayang-bayang dan kemunafikan?

Btw, Kim Seon Ho harusnya belajar Bahasa Indonesia, jadi klo ada kontroversi seperti ini dia masih bisa diterima. Hahahaha... Iya, kayaknya cuma Indonesia aja yang masih mau menerima orang-orang kontroversi (dan malah mereka bangga). Sedangkan negara lain, sekali berbuat salah, TIADA MAAF BAGIMU!

Save your mental health, buddies!

***

Bekasi, 21st August 2021
At my office, 11.07 am.
Yang sabar ya Kim... 

Friday, November 8, 2019

Look, Who Is Smiling Right Now?



Beberapa hari belakangan ini saya sedang mencoba merapikan Hardisk External saya. Mencoba untuk membuatnya menjadi teratur dengan memisahkan masing-masing folder pictures, document, music dll. Setiap file dari masing-masing folder itu pun diberikan nama yang lebih spesifik agar ketika mencari file yang dibutuhkan langsung ketemu. Juga menghapus segala macam file, gambar , musik dan lainnya yang menurut saya udah gak ada faedahnya.

Hingga saat saya membuka folder yang berisi kumpulan screen shoot dari berbagai chattingan grup WA, FB, dan lainnya, saya tertawa geli sendiri melihatnya percakapan-percakapan di screen shoot itu. Sebagian besar percakapan itu berisi argumentasi, debat, bahkan sampai makian kasar antara saya dengan beberapa orang. Segera saja beberapa screen shoot itu saya pindahkan ke "Trash" agar dosa orang tersebut tidak mengalir terus, lagipula saya juga sudah memaafkan. Dan tawa saya semakin geli saat saya menemukan screen shoot dari beberapa orang yang bersekutu melawan saya. Pesan itu berisi penghinaan, halusinasi, sindiran dan kata-kata yang kurang baik. Saya membayangkan masa-masa itu, saat saya diserbu beramai-ramai dan dianggap duri dalam daging di sebuah grup. Ramai-ramia menyindir saya, beberapa di antaranya bermain aman dengan tidka memilih kedua belah pihak. Namun waktu telah membuktikan segalanya. Akhir dari cerita itu pun berakhir ironis. Saya sengaja membiarkan screen shoot ini dalam hardisk external. Lumayan lah, untuk "kenang-kenangan" bagaimana saya berhasil menghadapi para pengkhianat ini.

Kisah ini bermula dari masalah uang dan beda pendapat. Waktu itu kami hendak mengadakan suatu acara di suatu tempat. Kami tidak mengetahui satu sama lain selain dari grup WA. Kami pun bertemu dan mendiskusikan kegiatan yang ingin kami lakukan. Waktu itu sebagai modal awal saya meminjami tim kami ini sejumlah uang sebagai modal. Kami pun sepakat, acara yang akan kami adakan ini hanya menyewa satu tempat. Namun dalam perjalanannya, banyak peserta yang berminat menghadiri kegiatan ini. Kami pun berembuk kembali apakah akan menambah tempat atau bagimana? Saya pribadi memberikan pendapat agar kita bermain aman saja. Sedangkan dua orang itu, sebut saja "Teh" dan "Mbak", merasa bahwa memerlukan dua tempat karena peminatnya yang antusias. Pada satu titik temu diputuskan tetap satu tempat saja karena Mbak dan Teh juga tidak berani menanggung resiko jika ternyata menyewa dua tempat tetapi peserta tetap tidak penuh. Mulailah keduanya menyindir-nyindir saya di grup, padahal keputusan sudah dibuat bersama.

"Saya sih maunya dua, tapi gak ada yang dukung,"
"Tuh, kan, saya bilang juga apa, coba dua tempat aja!"

Dan sindiran-sindiran yang lain, yang intinya adalah menyalahkan saya. Padahal kondisi keuangan pada waktu itu pun masih belum jelas. Peserta banyak yang hanya booking tapi belum transfer. 

Saya pun yang merasa disindir-sindir terbawa emosi juga. Saya bilang kepada Teh yang memegang dan mengurus keuangan untuk segera mengembalikan uang pinjaman saya sebagai ancaman. Teh dan Mbak tambah marah dan semakin menjadi-jadi menyindir di grup. Bahkan mereka (menurut info) bercerita kepada teman-teman yang lain tentang kejadian ini.

Saya memasabodokan apa yang mereka lakukan. Saya tetap bekerja dan menganggap permasalahan itu tidak ada. Bahkan ketika acara usai pun saat makan-makan mereka enggan mengeluarkan uang.

Setelah kejadian ini Mbak dan Teh mulai bersekutu memusuhi saya. Bahkan Mbak ketika berbicara kasar tanpa tedeng aling aling langsung saja di grup. Saya sendiri sengaja menahan. Si Mbak malah berhalusinasi kalau saya mencoba mendekati dia (cuih!). Dia bilang agar saya tidak usah menghubungi dia lagi karena dia kesal di "ciye" in sama teman-teman yang lain. Dia juga berkata jangan pernah meng-add dia lagi di FB. 

Iyeeeuuu!!! Hellaww!! Dulu si Mbak ini yang meng-add saya di FB. Dia juga yang meminta kepada saya untuk memasukkannya ke dalam grup. Plessss dia juga yang sering japri-japri saya buat sesuatu yang menurut saya receh banget! Hadeeehh...

Sedangkan si Teh juga mendukung si Mbak. Si Teh masih baper tentang uang pinjaman. Dia juga tertangkap basah mengirim pesan yang menjelek-jelekkan saya ke grup yang seharusnya untuk japri. OMG! 

Kedua orang ini kemudian mendapat angin segar ketika beberapa teman di grup yang belum mengenal saya atau iri tanpa alasan dengan saya. Satu orang, kita sebut saja Tong, sering menyindir-nyindir saya dan bercanda dengan arah menyindir saya dengan Teh dan Mbak. Padahal usia Tong jauh di bawah saya. Dia selalu menjadi pion terdepan dalam bersekutu dengan Mbak dan Teh. Entah kenapa Tong tiba-tiba ikut terlibat dengan kekisruhan ini. Padahal awal saya mengenal dia, kami saling baik-baik saja. Teh dan Mbak tampaknya selalu menceritakan semua masalah kepada Tong, dan Tong yang akan memulai sindiran di grup yang lalu ditanggapi oleh Teh dan Mbak.

Satunya, kali ini kita sebut Uda, sebagai pimpinan grup. Sangat disayangkan dia malah memihak kepada Teh dan Mbak. Ketika saya men-japri dia untuk membicarakan hal ini, dia tak sungkan-sungkan memberikan kata-kata kurang pantas kepada saya. Di grup pun dia selalu melemparkan tuduhan yang sellau tertuju kepada saya walaupun dia tidak mengatakan.

Serius, saat itu di grup bagaikan neraka. Padahal awalnya kami sangat akrab. Saya mencoba untuk menjadi pihak yang mengalah tetapi mereka tetap tidak peduli. Jika ada acara off air grup, maka saya harus bertemu dengan orang-orang itu. Saya mencoba bersikap baik dan biasa-biasa saja, berbeda dengan mereka yang jelas menjauhi saya. Ketika ada "spotlight" yang mengenai saya, maka seusai acara off air kebencian orang-orang itu akan semakin meningkat. Mereka pun seolah "playing victim" sebagai korban kebencian saya. 

Mereka pun membuat grup yang tidak melibatkan saya. Padahal mereka sendiri yang pernah bilang, jika ingin membuat grup harus menyertakan pengurus grup utama. Jika ada acara-acara off air, sebisa mungkin tidak melibatkan saya. Mereka pun semakin berani membuat candaan tentang saya di grup yang memang tanpa menyebutkan nama, orang pun sudah tahu siapa yang dimaksud. Juga saat saya bekerjasama dengan teman yang lain di grup itu untuk mengadakan suatu acara, mereka akan membuat candaan dan warning tentang saya. Tetapi itu bukan big problem bagi saya. Selamanya saya berusaha untuk bersikap biasa saja dan berdamai dengan diri saya. Jika "mereka" meminta ucapan doa di grup maka saya pun ikut mendoakan walaupun pada akhirnya tetap kena sindiran. Teh dan Mbak memutuskan pertemanan dengan saya di sosmed, memblok nomer saya dan juga akun sosmed saya. Menurut saya sih sudah overreacting, tetapi saya berusaha untuk mendiamkan saja.

Dalam suasana seperti ini, ketika teman-teman yang tahu kamu benar berada dalam posisi netral, dan suasana grup menjadi panas jika saya berbicara maka saya cukup diam saja. Tak henti-hentinya saya berdoa pada Allah agar yang benar itu ditunjukkan benar dan yang salah itu ditunjukkan salah. Saya tak henti berdoa dan yakin suatu saat Allah pasti akan membuka tabir semua itu. Dia akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hingga tahun pun berlalu. Allah menunjukkan dengan cara yang tidak pernah kita duga. Mbak memutuskan keluar dari grup dengan alasan bla bla bla. Dia juga mengatakan akan tetap mensupport kegiatan off air grup yang pada kenyataannya adalah nol besar. Maybe she's found another group to make any mess. Lol! Kabarnya pun sudah tidak terdengar lagi. Padahal yang dulu berkata-kata setia kawan, loyal, dll adalah dia. Teh sendiri masih tetap bertahan di grup.

Di grup itu saya juga punya teman lain yang saya anggap lebih netral dan lebih baik. Pada saat kami bertiga sedang berkumpul untuk hangout, kata-kata itu pun keluar.

"Ih, males banget deh sama si Teh. Kemarin kan saya janjian sama Kak Nessa, eh di maksa ikut. Habis itu dia japri saya buat pinjamin dia uang buat ongkos ke tempat acara. Bilangnya minggu depan akan diganti, padahal uang yang sebulan lalu dipinjam aja belum diganti." ujar teman saya itu, sebut aja Kak Ara.

"Terus, Kak?" tanyaku.

"Ya, terpaksa deh saya bayarin." Kak Ara BT.

Saya tahu Kak Ara ini selain banyak uang juga tipe orang yang "gak enakan" sama orang lain. Jadi dia gampang banget untuk dimanfaatin.

"Betul banget! Waktu itu juga dia juga pinjam uang saya. Kalau ada acara dan ketemu dia sambil makan-makan, dia minta dibayarin dulu tapi uangnya gak pernah diganti." kali ini suara Mbak Atik.

Saya gak menyangka Mbak Atik akan angkat suara karena masalah ini adalah rahasia umum yang semua orang sudah tahu. Dan topik yang sangat sensitif sekali.

"Si Tong juga tuh! Kalau ada acara selalu rame di grup ingin ikut tetapi ujung-ujungnya selalu minta dibayarin. Bilangnya gak punya duit, padahal kalau jajan aja banyak banget!" Kak Ara lagi. Gayanya yang lucu dan repetisi kalimatnya bikin saya ketawa sendiri.

"Aduh... maaf nih Mas Yas, kita jadi curhat. Hahaha...."

Kita pun tertawa bersama. Saya juga tertawa, lebih tepatnya menertawakan betapa ironisnya kehidupan ini. Ujung-ujungya kita jadi membahas (membahas ya, bukan menggibah :) ) tentang grup dan karakter masing-masing personalnya. Mereka menahan itu semua karena ada orang yang lebih tua di grup yang ingin kami muliakan. Tidak enak rasanya jika ribut-ribut di grup.

Oiya, Uda juga masuk dalam topik pembicaraan karena gayanya yang memang "gak banget". Bahkan saat saya bertemu dengan seorang teman lain di kota lain, saya baru mengetahui rahasia kelam Uda. Bukan saya yang meminta diceritakan, tetapi seorang teman yang tiba-tiba bercerita begitu saja.

Pada akhirnya semua memiliki jalannya masing-masing. Mbak sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Dukungan yang akan dia berikan nyatanya hanya janji di atas janji. Teh masih berada di grup. Saya sendiri tidak tahu bagaimana urusan dia dengan yang lain. Saya pribadi sih gak mau tahu. Sempat dia membuat grup baru lagi yang tujuannya untuk "patungan" ketika ada acara. Tentu saja saya tidak dimasukkan dalam grup itu. Namun dua teman terdekat saya di grup memilih untuk tidak berpatungan dengan grup itu. Uda sendiri, masih tetap dengan gayanya yang "gak banget" tetapi dukungan untuk dia sepertinya sudah semakin meredam. Dan Tong, akhirnya kita ajak jika ada acara off air. Walaupun lebih banyak kita bertiga saja yang jalan. Karena ditinggal oleh Teh dan Mbak serta Uda maka Tong sudah tidak bernyali lagi. Saya pribadi pun jika dua teman saya meminta untuk mengajak Tong hangout, saya tidak keberatan sama sekali. 

Saya sendiri akhirnya menikmati pertemanan saya dengan beberapa orang saja. Kita sudah tidak terlalu membahas tentang grup, tetapi kami masih tetap menjadi supporter nomer 1 jika grup kami memiliki acara off air. Pada akhirnya terlihat siapa yang tulus dan siapa yang bulus. Saya memaafkan apa yang telah mereka lakukan dan saya tak segan untuk meminta maaf. Sedangkan mereka? Saya tidak pernah satu orang pun mengucapkan permintaan maaf. Walaupun dulu kata-kata mereka sangat menyakitkan, tetapi memberikan mereka maaf adalah kemenangan terbesar saya. Forgive but not forget!

Saya bersyukur Allah menunjukkan semua ini. Segala info itu, tentu saja tanpa saya mengorek-korek nya, datang sendiri menghampiri saya. Semuanya terjadi tanpa saya sangka. Apa yang saya minta  tentang kebenaran ditunjukkan oleh Allah.

Jadi kalau kita memiliki keyakinan bahwa kita benar dan banyak orang menganggap kita salah, tetaplah yakin bahwa kita benar.  Doa yang kita panjatkan atas kedzaliman yang mereka lakukan, Insya Allah akan berbalas. Intinya harus yakin dan sabar. Segala tangis, sakit hati, kemarahan dan lainnya akan berganti dengan senyum dan keceriaan. Bila  kita mengingat kembali hal itu malahan akan menjadi suatu kenangan yang lucu dan "gak banget!". Hahaha.

Selamat tinggal, para kuman! Allah telah menunjukkan jalan. Hingga hari ini pun kalian hanya bisa berbicara tanpa memberikan bukti. Juga masih mencari korban kalian selanjutnya. So sad... Ingin rasanya saya membantu kalian tetapi, maaf, the breaking glasses will never be the sama again. Juga ingin berteriak memaki kalian, tapi harga diri saya lebih tinggi daripada melakukan berbuatan rendah seperti itu. 

At first when I see you cry
It makes me smile
Yeah, it makes me smile
At worst I feel bad for awhile
But then I just smile
I go ahead and smile


-Lily Allen-


One thing, I really want to tell you : 

LOOK, WHO IS SMILING RIGHT NOW???***(yas)




Bekasi, 6th of November 2019
09.43 am



Sebagian isi percakapan pribadi yang harus saya edit dulu sebelum diposting, ya guys!


Awal mulanya nih nih... jreeng jreeng...

Ungkapin dong unek-unek saya

Unek-unek yang daripada disimpan sendiri mending diungkapin langsung

Sindiran-sindiran yang PENTING banget dibawa ke grup oleh Teh

Ini Tong, yang kalau di grup berani langsung negor saya. Kalo ada teman lain, dia gak mau dan berani. Haiyaaa....

Uda yang sok bijak, tapi gak punya attitude sama yang lebih tua. Tong nambahin yang bawahnya, yang "SEHARUSNYA BERFIKIR....."

Mbak yang gak sopan dan nyuruh orang yang lebih tua. Boro2 buka aib, yang bawa2 justru dia dengan membalutnya seolah Islami

Awalnya si Mbak bilang seseorang "statusnya pedas dan tajam", ntar liat deh dia ngomong beda lagi.

Mbak yang bilang "Iya saya jadi nyesel...." , dibales langsung dong sama orang yang lebih tua di grup "klo unfriend ga perlu..." Check mate!

Minta diperhatiin banget sok sok an merendah gitu


Dih ke GR an!! Iyeeeuuuuu.... siapa elu!

Selalu bawa masalah pribadi ke grup, tapi pas diingetin selalu PLAYING VICTIM! Duh!

And taraaaa!!!! Di sini dia bilang seseorang itu "bukan tipe mulut pedas", lah tadi di atas dia bilang "Pedas dan tajam!" Kalo mau playing victim itu konsisten aduh Mbak! Plesss ini yang ditanya apa, jelasinnya jaka sembung bawa golok ples curhat. Masa bodo amat siapa mau minang siapa. Satu lagi, dibalut tulisan Islami biar......... 

Uda yang membabi buta ngebela Mbak dan Teh. Padahal saya gak punya konflik pribadi sama dia.

Seolah2 cerdas, tapi attitude sama orang tua RENDAH! Baper dikacangin, komunikasi aja jarang. Ujung2nya masuk tim Mbak dan Teh. Poor you!

Englishnya, tentu aja ngikutin saya. Jadi yakin, dia marah2 gak jelas gitu karena takut tersaingi. Cuihhh... saya mah gak ada kepengenan nyaingin orang bro!


Di grup kembali nyindir walaupun pakai inisal nama saya! Lah gw yang mau liburan pake uang gue kenapa situ yang repot??? Minta sama grup atau siapa pun gue kagak pernah eh situ yang ketakutan masalah keuangannya terbongkar ya?
Liat siapa yang mulutnya jahat? Tapi kalau ketemu saya............ Uda uda...





Wednesday, November 6, 2019

Konsep Diri : Asking Myself Fun Questions!




Salam!

Udah lama juga gak nulis di blog, padahal awal buat blog baru ini mau lebih konsisten buat nulis. Ternyata hanya janji-janji saja layaknya para politisi ketiba musim kampanye tiba :)

Nah, untuk permulaan back to writing, kita main tanya-tanyaan aja ya. Sekedar membangun konsep diri dan to having fun!

Let's do it!


Question 1: When did you screw everything up, but no one ever found out it was you?
Ini kayaknya semacam malik teriak maling kayaknya ya? Hahaha... Pernah sih, ketika ngelakuin sesuatu eh malah kacau, trus pas ditanya siapa yang bikin kacau pura-pura gak tau dan malah ikutan sibuk nyari pelakunya. Hahaha... Kejadiannya mungkin secara rinci dan detailnya gak inget tapi ini kayaknya dilakukan pas zaman-zaman muda dulu deh (sekarang emang udah tua ya?) Tapi satu contoh hal yang nyata adalah : ketika kentut di ruangan terbuka and everyone smells bad for it. Langsung pura2 gak ngaku dan nuduh-nuduh yang lain. Hahaha...
Question 2: What would you name your boat if you had one?
The Morning Glory. Gak tau kenapa pilih itu. Kepikiran itu aja sih. 
Question 3: What will finally break the internet?
Apa ya? Mungkin pas mau ke kamar mandi. Atau pas nyadar, "ya ampyun udah mau subuh masih asyik main internet, padahal besok masuk pagi! OMG!" 
Question 4: What celebrity would you rate as a perfect 10?
TAYLOR SWIFT!!
Question 5: Which fictional character would be the most boring to meet in real life?
Have no idea!
Question 6: What is the best and worst purchases you’ve ever made?
the best : book, book, book, and book! And for those books that I've bought in Melbourne with the lower prices!

the worst : a shirt, I bought just because it cheaps but actually I really don't need it.
Question 7: If you had to change your name, what would your new name be, and why would you choose that name?
Hmmm... let me think for a second. I thought it would be Faris, Faiz or something common but unique.

Question 8: What are some things that sound like compliments but are actually insults?
Kamu rapih banget ya, saking rapihnya ruangan kamu jadi gak ada apa-apa... hahaha...
Question 9: What’s a body part that you wouldn’t mind losing?
Pimpless!!! And black spot on my face!!
Question 10: What’s your biggest screw up in the kitchen?
Masukin mangkok plastik ke microwave! Untung keburu ketauan saudara, jadinya itu microwave gak meledak... wkwkwkwk

Question 11: What’s the worst commercial you’ve recently seen? Why is it so bad?
Iklan partai *****do. Itu soooo irritating!
Question 12: What’s the closest thing to real magic?
instant message and video call.
Question 13: What is the craziest thing one of your teachers has done?
Gave me the answers of my exams! Even I didn't aware what she did, but at the end I realized she gave me the whole answers.
Question 14: Who is the messiest person you know?
I know for sure! He is one of my pupil. I dont want to give a name :)
Question 15: What problem or situation did TV / movies make you think would be common, but when you grew up you found out it wasn’t?
crying or hug with other people. It isn't easy in real life. Sometimes I feel embarrased, another time I feel awkward.
Question 16: What quote or saying do people spout but is complete BS?
"What's yours will find you!" - Ali Bin Abi Thalib

Monday, March 19, 2018

The End Of A Journey (Part 1)


Deep meaning of My journey

“Jika hatimu lelah dengan rutinitas kehidupan, ambilah jeda barang sebentar. Lalu nikmati hari-harimu dengan apapun yang ingin kau lakukan. Lakukan apa yang kau mau dan jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaanmu,”


Ahhhhh… Saya lelah! Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah secara batin. Banyak hal yang belum bisa lakukan. Banyak orang yang belum bisa bantu. Banyak murid bermasalah yang belum bisa saya tangani. Banyak kewajiban yang belum bisa saya jalankan.

Lalu sepertinya sekejap kemudian beban itu menjadi bertambah berat dengan adanya omongan-omongan tidak sedap pada setiap hal yang menyangkut diri saya. Tidakkah mereka bisa membiarkan saya menjadi apa adanya tanpa perlu berpura-pura?


“Kapanpun dan dimanapun, akan datang orang-orang yang ingin selalu menjatuhkanmu, Yass. Tak peduli betapa pun sempurnanya dirimu. Mereka akan selalu hadir untuk menghancurkan kepercayaan dirimu dan melukai perasaanmu. Lalu ketika apa yang mereka inginkan sudah terlaksana maka mereka akan pergi dan mencari korban lainnya,”



Lalu bagaimana jika Saya kalah dan mereka menang?


“Jika kau memilih untuk kalah, maka tujuan mereka tercapai. Tinggal kau yang akan mengais lukamu sendiri. Padahal bisa saja kau menolak untuk kalah dan memenangkan pertandingan,”




Ahhhh… Saya seperti jatuh tersungkur. Semua hal yang menjadi beban di hati langsung saja saya tumpahkan pada Allah, agar Dia memberikan saya kekuatan. Bukankah Dia yang Maha Kuat? Lalu darimana kekuatan itu berasal, jika bukan dari Dia?

Untuk mereka yang berusaha menjatuhkanmu dan melukai hari-harimu? Saya percaya Allah akan membayarnya dengan kontan sesuai dengan berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk menjatuhkan orang itu.

Rasanya ingin terus berpikir positif, namun adakalanya pikiran negatif mengambil alih.

Jadilah saya memutuskan untuk melangkahkan kaki saya menuju suatu tempat, tidak jauh, Wonosobo Jawa Tengah. Ke Dieng tepatnya. Semuanya tidak direncanakan. Itenary pun dibuat 2 jam sebelum keberangkatan. Itupun hanya garis besarnya saja. Tiket, penginapan, dll tidak ada yang dibooking, biar semua dilakukan secara on the spot.

Perjalanan ini seperti membawa kenikmatan sendiri bagi saya. Menempuh perjalanan Bekasi – Wonosobo kurang lebih 9 jam (yang nyaris saja gagal berangkat), saya berusaha menikmatinya. Bertemu dengan seorang Ibu yang asli Wonosobo namun bekerja di Jakarta. Lalu kami mengobrol ngalor ngidul. Ah, serius, kalau bertemu dengan “ibu-ibu” bawaannya saya ingin mencium tangannya saja, lalu menangis mengenang Ibu saya.

Menuju Dieng pun saya menikmati perjalanan di mikrobis bertemu dengan ibu dan bapak petani dengan gembolan besarnya, atau keranjang sayurnya. Walaupun saya tidak paham Bahasa Jawa namun saya berusaha untuk menikmati guyonan-guyonan mereka. Saat saya terlihat pucat karena jalanan yang berkelok-kelok dan sopir yang mengerem mobil dnegan tidak baik, maka seorang Ibu memberikan saya permen.

Ketika sampai di Dieng, saya berjalan kaki menyusuri banyak rumah dan tempat homestay hingga saya menemukan satu tempat yang menurut saya sangat nyaman. Walaupun hanya sebuah hostel dengan 4 bunk bed, namun pada kenyataannya saya berada di kamar sendiri. Saya menikmati sendirian di kamar. Menulis buku diary, tilawah, mendengarkan musik ataupun tidur berselimut tebal untuk menahan dingin udara Dieng.

Mengelilingi Dieng pun saya ditemani oleh Mas Udin, seorang sopir mobil yang katanya baru pertama kali ini mengantar pakai motor. Dia juga yang mengambil foto-foto untuk saya di beberapa tempat. Jadilah, sebagai sopir ojek beliau merangkap sebagai fotografer saya. Hehehe… Tidak banyak tempat yang saya ingin datangi, yang terpenting saya bahagia dan senang berada di tempat itu. Bahkan ketika menanjak menuju Batu Pandang (spot tertinggi untuk melihat Dieng), saya menambahkan rasa syukur pada berat badan saya yang belakangan ini terus menyusut. Walaupun medannya tinggi, hujan deras, dan nafas yang terengah-engah karena menahan dingin, tetapi tubuh kurus saya mampu membawa saya ke atas bukit itu. Tidak terbayangkan jika tubuh saya masih gemuk, mungkin saya akan menyerah terlebih dahulu sebelum sampai puncaknya. Alhamdulillah, datangnya masalah dari murid-murid yang membuat saya malas makan membuat tubuh saya kehilangan beberapa kilo. 

Di balik foto yang bagus ada usaha yang bagus pula


Saat bangun jam 4 pagi, menuju Golden Sunrise Sikunir pun, lagi-lagi saya merasa bersyukur. Tidak terbayangkan jika perjalanan saya ini bukan tentang masalah menemukan semangat saya lagi, maka mungkin saya akan lebih memilih bergumul dengan selimut untuk menghalau dinginnya udara Dieng.

Sesampainya di Bukit Sikunir pun, ketika semua orang terlena dengan foto-foto dan memanfaatkan alam untuk membuat foto menjadi lebih bagus, saya lebih senang memutar musik lewat headphone lalu merenungi tentang ciptaan Allah yang berupa Matahari yang sebelum muncul didahului dengan garis horison. Lalu ketika matahari itu muncul perlahan, ketika orang-orang semakin heboh dengan foto-fotonya, maka saya malah menangis. Menangis untuk kesempatan menikmati Sunrise yang di Jakarta tidak bisa dapatkan. Lalu menangis ketika mengingat, bahwa suatu hari sinar itu akan punah dan matahari tidak akan muncul lagi. Allah, Engkaulah yang menciptakan apa yang ada menjadi tiada. 

Sunrise di Sikunir


Saya sungguh menikmati perjalanan saya kali ini. Berinteraksi dengan orang lain dan menjalankan apa yang ingin saya jalankan. Tidak terikat dengan dengan itenary yang super detail ataupun “mewajibkan” diri ke spot-spot tertentu. Saya hanya menikmati setiap langkah yang saya lakukan dan menikmati sapaan-sapaan dari setiap orang yang berinteraksi dengan saya. Bahkan saya yang biasanya super rempong untuk urusan kenyamanan, mencoba menerima apa yang saya dapatkan. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya berusaha untuk membuatnya menjadi nyaman. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan keinginan saya, maka alih-alih meluapkan emosi, saya hanya berusaha untuk mengambil nafas panjang dan berbisik “Lord knows what’s best for you!”.
“I start my journey when You forgive me
I swear my whole world stops.
You are in my heart and, I’m so glad that its fine
You are One truly kind…”



-With You, Raef-

Semakin saya yakin kalau Allah menginginkan saya berjalan di muka bumi, selain untuk mengenal ciptaan-Nya, juga agar saya semakin menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Lalu, bersyukur untuk yang saya dapatkan setiap harinya. Ketimbang membandingkan kehidupan saya dengan orang lain, Allah menginkan saya untuk menerima apa adanya apa yang sudah menjadi catatan rizki saya. Sehingga syukur yang saya lakukan akan membuat nikmat-Nya bertambah. Allah, adakah ketenangan yang kudapatkan selain dari diri-Mu?


Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu"

QS. Al – An’am ayat 11


Maka saya memutuskan untuk bahagia. Saya memutuskan untuk menikmati hari-hari saya. Saya memutuskan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitar saya. Saya memutuskan untuk menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya. I only live once! Maka jika sudah tiba akhir perjalanan hidup saya, maka saya tidak akan menyesali apapun. Menumbuhkan cinta dalam hati lalu memberikan yang terbaik bagi semua orang adalah perbuatan terpuji yang sering dilakukan oleh

Rasulullah SAW. Lalu bagaimana sikap kita dengan orang-orang nyinyir yang suka mencela? Biarkan mereka mencela dan nyinyir jika bisa membuat mereka bahagia. Biarkan apa yang mereka lakukan itu sebagai pembelajaran dan menjadikan kita lebih kuat. No words can’t bring me down!


Your heart is too heavy from things you carry a long time,
You been up you been down, tired and you don't know why,
But you're never gonna go back, you only live one life
Let go, let go, let go


-Live Like A Warrior, Matisyahu-

Sesungguhnya hidup hanya sekejap mata saja, maka jika kita tidak menikmatinya maka sungguh terasa sia-sia. Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan yang akan berhenti pada suatu titik bernama kematian. Berdoalah untuk kematian yang damai, tenang dan khusnul khotimah. Insya Allah***(yas)





Yogyakarta, 19th of March 2018 
@Balai Kopi Jogokarian, 17.02 
Kangen dan rindu semoga cepat berlalu.





Motto Buya Hamka yang saya temui di sebuah kedai kopi


Menikmati pemandangan dari atas setelah bersusah payah menanjak

Friday, February 16, 2018

Bunda Cinta 2 Kodi : Harta yang paling berharga adalah ...



Pernah bertanya-tanya darimana nama produk busana “KEKE” didapat? Kalau pernah berarti anda sama dengan saya. Kalau anda belum tahu jawabannya, maka mulai tanggal 8 Februari 2018 hadir film “Bunda : Cinta 2 Kodi” yang merupakan film biopik dari pengusaha Ika Kartika, pemilik produk busana muslim “Keke”.

Film dibuka dengan perkenalan singkat, antara Tika dengan Farid di sebuah kereta jabodetabek. Kemudian mereka menjalin pernikahan dan memiliki anak. Namun saat Tika sedang mengandung anak kedua, Farid meminta izin Tika untuk emnikah dengan wanita pilihan ibunya, Alina. Tika yang tidak mau dimadu akhirnya meminta Farid untuk meninggalkan rumahnya.

Tika adalah wanita yang sangat tangguh, dia masih melakukan pekerjaan walaupun sedang hamil tua. Setelah anak keduanya, Alda, lahir, Farid kembali lagi kepada Tika. Tika akhirnya mengizinkan Farid untuk kembali lagi padanya dan membina rumah tangga. Ide untuk membuat busana muslim hadir saat Tika melihat rancangan baju yang dibuat oleh Amanda, anaknya. Ditambah lagi saat itu ibu-ibu yang berada di lingkungan rumahnya meminta bantuan pekerjaan dari Tika. Maka Tika pun memiliki ide untuk membuat baju muslim untuk anak.

Ternyata dalam perjalanan membangun usahanya, Tika mendapatkan banyak kendala yang bahkan mengancam keharmonisan rumah tangganya. Sifat Tika yang keras, ego tinggi, dan ambisius membuat Farid merasa direndahkan, apalagi Farid belum memiliki pekerjaan tetap. Maka akan suatu klimaks, Farid memutuskan untuk pergi dari Tika.

Tika nyaris putus asa dan merasa gagal, namun dorongan dari asisten rumah tangganya dan ibu-ibu yang telah ditolongnya, maka Tika akhirnya bangkit kembali. Pada satu moment yang sangat dinanti-nantikan, Kids Fashion Week, Tika harus memutuskan apakah memilih untuk tetap berada di acara bergengsi tersebut atau memilih kembali kepada keluarganya?

***

Film ini diangkat berdasarkan dari novel laris “Cinta 2 Kodi” karya Asma Nadia yang menceritakan awal mula perintisan produk Keke dari 2 kodi saja. Penyutradaraan diserahkan kepada Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo yang merupakan pendatang baru bagi perfilman Indonesia. Ada beberapa catatan yang ingin saya tulis usai menonton film ini. Berikut adalah ulasan saya.

KEKURANGAN

1. Cerita yang menurut saya terlalu datar. Sosok Tika yang sebenarnya sangat inspirasional itu menurut saya dibuat dengan standar saja. Padahal jika film ini difokuskan pada usaha Tika dan keberhasilan membina keluarga, maka akan sangat booming sekali. Walaupun film ini masih asik ditonton tapi menurut saya belum total banget mengangkat sosok Tika-nya.

2. Klimaks yang kurang greget. Klimaksnya menurut saya adalah saat Farid memutuskan untuk membawa anak-anaknya pergi ke Jepang, dan Tika sudah menyerah dengan keadaan. Ditambah lagi saat itu hadir Lina yang justru menimbulkan kecemburuan dari Tika. Namun kesombongan Tika justru yang akhirnya membuat dia semakin kehilangan keluarganya. Di adegan ini sebenarnya bisa dibuat lebih berdarah-darah yang menguras air mata penonton, tetapi baru aja air mata keluar tiba-tiba udah berganti adegan lain. Jadinya nanggung dan kurang greget.


Sejauh saya nonton film ini mungkin hanya ini yang mengganggu saya. Sekarang saya akan memberikan beberapa kelebihan dari film ini.


KELEBIHAN

1. Sinematografi yang sangat bagus sekali. Serius tidaknya film itu dibuat biasanya dilihat dari sinematografinya. Untuk film ini benar-benar memanjakan mata saya dalam urusan sinematografinya. Gambar-gambar kereta yang diambil dengan angle yang bagus dan gambar-gambar penunjang lainnya yang menurut saya keren abis. Camera close in dan close up nya pun bagus sehingga saya benar-benar bisa menikmati film ini.

2. Akting yang kuat. Acha Septriasa menunjukkan jam terbangnya yang tinggi sebagai salah satu artis terbaik negeri ini. Perannya sebagai seorang wanita karier sekaligus Ibu rumah tangga membuat saya yang menontonnya bener-bener menyelami perasaan Tika. Terutama saat adegan Tika menjemput anak-anak di tempat Farid bekerja dan anak-anak memutuskan tidak mau pulang. Itu meleleh bangetss! Bener-bener juara deh aktingnya Acha! Akting Ario Bayu pun tak kalah apik. Ario yang biasanya berperan akting atau drama aksi, kali ini menunjukkan kelasnya sebagai aktor yang bisa memerankan seorang ayah yang baik. Peran-peran tambahan yang lain pun juga baik, termasuk anak-anak Tika dan Farid.

3. Inspiratif. Ceritanya memang sederhana, bagaimana perjuangan Tika membangun bisnisnya sekaligus merawat rumah tangganya. Paling tidak ini bisa menjadi inspirasi bagi wanita-wanita karier di luar sana bahwa menjadi wanita karier itu penting tapi jangan sampai mengorbankan rumah tangga. Perjuangan Tika juga menggambarkan bahwa impian itu bisa diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh.

4. Menguras air mata. Iya, beneran. Bukan menguras air banjir ya…hehehe… Awal air mata itu dikuras adalah saat Farid meminta izin kepada Tika untuk menikah lagi, seterusnya dan seterusnya sampai adegan yang benar-benar saya gak bisa lagi untuk menahan air mata (awalnya saya tahan-tahan…hahaha). Jadi dijamin banget usai kamu nonton film ini, mata bakalan sembab, terutama buat kaum hawa. Yang pasti juga kita akan rindu dengan ibu kita dan membayangkan perjuangan beliau yang sungguh luar biasa hebat.


Intinya film ini adalah reccomended bangets! Sederhana tetapi penuh makna. Intinya adalah seperti motto dari keluarga cemara, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Bener bangets! Bagaimanapun suksesnya karier kita, maka jika tidak diimbangi dengan keluarga yang penuh cinta sama saja bohong. 


Keluarga adalah di mana kita merasa nyaman dan dicintai. Benarlah apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an : jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. At-Tahrim : 6). Karena itu kita diperintahkan untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Setiap orang tua akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan anak-anaknya. Semoga saja kita bisa menjaga keluarga kita agar tidak masuk ke dalam api neraka.


Btw, tentang keluarga, saya sendiri belum berkeluarga loh…hahaha… Jadi curhat deh (doain segera ya!). Ya, udah yang penting nonton film “Bunda, Cinta 2 Kodi” ya! Film bagus bagi yang sudah berkeluarga maupun belum berkeluarga. Pokoknya banyak hikmah dan inspirasinya deh usai nonton film ini.

Berikut nilai yang saya berikan untuk film ini :

Akting 9/10
Skenario 8.6/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.5/10


Hayuk nonton segera sebelum turun layar!***(yas)




Bekasi, 16th of February 2018
16.10 @MhCoffee
Itu orang kangen gak yaa…. LOL.



Thursday, January 25, 2018

Bang Kapten! (Untuk Dia yang sedang termenung)





"Berapa menit lagi Kev, waktunya?"

"Paling 2 menit lagi, paak"

Tak lama pluit berbunyi panjang. Aufa menangis, Garin menangis, Hafidz juga, Razandy ikutan menangis. Aku mencari Bang Kapten, belum menangis tetapi wajahnya sudah memerah.

"Bu Yen, ayo bu deketin mereka," ujarku pada Bu Yen, Kepsek kami yang juga jadi supporter di pinggir lapangan tadi. Bu Yen berjalan menuju kursi pemain.

Melihat para pemain menangis, aku ikutan menangis (tapi dalam hati... hahaha). Sedih melihat mereka kecewa. Aku pun mengekori Bu Yen di belakang. Kevino yang kucari-cari sudah tidak ada. Aku menuju ke satu titik, Bang Kapten.

"Waahh, kalian hebat loh tadi! Keren banget!! Keceh Badai! You all did well! Semangat!" ujarku dengan suara dikuat-kuatkan... hahahah...

Hafidz berjalan gontai diikuti mamanya. Razandy dihibur mamanya. Aku melihat Bang Kapten berjalan memegang sobat terbaiknya, Si "celana bolong". Aku segera menuju dia.

Beberapa waktu seusai sholat jumat tadi aku sempat berpesan pada Bang Kapten yg sengaja kusuruh duduk di sampingku. "Sebelum keluar, doa dulu Kapten" Dia mengangguk dan berdoa dengan khusyuk. Kemudian, "Give me a hug!" ujarku lagi. And he did. “Do the best!” ujarku sebelum dia pergi.

Usai itu dia segera keluar bersama dengan teman-temannya. Aku pergi ke ruang guru untuk menyelesaikan beberapa urusan yang belum selesai. Pertandingan belum dimulai jadi aku masih ada waktu untuk mengerjakan beberapa hal sebelum mendukung tim Bang Kapten.

Tak lama suaranya terdengar lagi memanggilku, menanyakan pelatihnya yang juga rekan kerjaku. Aku memberi tahunya kemudian dia pergi.

**

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat keriuhan terdengar di lapangan. Beberapa anak yang sedari tadi kuminta untuk mendukungnya sudah duduk di pinggir lapangan, termasuk si "celana bolong, sahabat Bang Kapten. Aku segera bergabung dengan keriuhan itu. Di dekatku ada Kevino dan beberapa anak yang lain. "Celana bolong" duduk di pinggir lapangan, berteriak-teriak menyemangati sahabatnya.

Pertandingan berjalan seru. Lawan di final adalah SDIT Thariq Bin Ziyad. Di atas lapangan mungkin Tim Bang Kapten bisa menang, tetapi tim lawan menurunkan kekuatan penuh.

Beberapa saat kemudian kebuntuan permainan berakhir dengan gol dari Bang Kapten. Kami yang menonton berteriak-teriak senang. Aku mengelu-elukan nama Bang Kapten. Kevino yang ada di sampingku protes karena aku terlalu heboh, katanya. Hahaha…

Aku berteriak-teriak memanggil Bang Kapten, jika acapkali dia melakukan tendangan. Aku memanggil Razandy, Aufa, Garin, siapapun yang kubisa kupanggil pasti kuteriaki namanya. Tak lupa teriakan khas ku, “Come on!! You can do it!”

Tetapi permainan semakin tegang. Gol pun bersarang di gawang Aufa, menjadikan kedudukan menjadi 1-1. Kami terus berteriak-teriak memanggil-manggil setiap orang yang bisa kupanggil. Bang Kapten yang paling utama. Gawang tim Bang Kapten semakin dibombardir lawan. Beberapa peluang bagus gagal dieksekusi Razandy, Garin, dan Bang Kapten. Permainan Aufa semakin menurun dan terlihat tegang. Beberapa kali shoot yang dilakukannya dari gawang melenceng jauh ke sebelah kiri atau kanan gawang lawan. Raifa berusaha keras menahan gempuran bola. Razandy nyaris membuat gol kalau tidak berhasil ditepis oleh kiper lawan. Semua terlihat frustasi. Pak Budi, pelatih mereka teriak-teriak. Kami di pinggir lapangan ikutan tegang dan teriakanku semakin kencang, “Focus!! Focus!! Focus!!” teriakku melihat kekacauan tim kami. Dan petaka itu datang. Gol kedua berhasil disarangkan oleh tim lawan. Pemain semakin tertekan dan nervous. Kami di pinggir lapangan semakin deg deg-an.

"Si Celana Bolong" berteriak-teriak mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang lawan. Aku mengingatinya, “Hoi, jangan sampai kita sudah kalah terus ditambah menjadi buruk dengan perkataan yang tidak baik ya, Celana Bolong.” Si "Celana Bolong" menurut. Kami memberikan semngat lagi.

Hafidz masuk menggantikan Razandy. Kami semakin berteriak-teriak. Bang Kapten semakin lincah mengawal bola tetapi selalu dihadang oleh tim lawan. Aufa semakin melakukan banyak kesalahan dengan shoot nya. Terlihat sekali tim kami sangat tegang dan tidak santai. Aku lagi-lagi menoleh pada Kevino menanyakan waktu. Pak Wi, wakil kepala sekolah kami memberitahu bahwa waktu sudah masuk injury time and it will be so hard to win. Akhirnya wasit meniupkan peluit panjang tanda pertandingan berakhir. Tim lawan sujud syukur dan bersorak kegirangan. Bang Kapten dan teman-temannya juga sujud tetapi penuh dengan air mata. Pertama yang kutangkap menangis, Aufa, diikuti Garin, Hafidz, Razandy dan… Bang Kapten. Tetapi Bang Kapten berusaha terlihat tegar.

Setelah itu aku mengikutinya dari belakang saat dia berjalan memegang bahu "Celana Bolong". Aku menangkapnya, “Wah….Bang Kapten hebat banget! Tapi memang belum beruntung aja. Tetap semangat ya!” Dia menahan tangis. Aku mengikutinya dan duduk di pinggir tangga gedung 2.

Celana Bolong mencoba menghiburnya. Aku memeluknya dan memberikan kata-kata motivasi. Si "Celana Bolong" membuat lelucon tentang tim lawan, Bang Kapten tertawa mendengarnya. Aku selalu memerhatikan mereka berdua. Celana Bolong membuat lawakan (yang menurutku jayus), yang tertawa sudah pasti sahabatnya, Bang Kapten. Aku ikut tertawa bukan karena lelucon Celana Bolong, tapi melihat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Kemudian aku memotret Bang Kapten dengan posisi termenung seperti itu.

Sebelum aku meninggalkan Bang Kapten, aku memberinya semangat kembali. Razandy mendekat, dan aku pun memberinya ucapan selamat dan menyemangatinya. Kemudian aku pergi karena ada acara lagi. Pada akhirnya aku sedikit menyesal karena tidak memotret Bang Kapten dan Si Celana Bolong lebih banyak. Termasuk Razandy juga.

***

Mungkin kekalahan yang sekarang tidak terlalu menyakitkan bagi Bang Kapten. Mereka sudah bermain dengan bagus dan maksimal, namun takdir menentukan mereka harus kalah.

Aku teringat sebulan sebelumnya, di tempat yang sama, kelas Bang Kapten juga mengalami kekalahan. Mungkin itu hanya pertandingan antar kelas yang tidak begitu bergengsi, tetapi kelas Bang Kapten waktu itu adalah kelas yang diunggulkan karena banyak anak bola di dalamnya. Tetapi di final, kelas Bang Kapten kalah. Mungkin kekalahan itu akan menjadi biasa-biasa saja pada umumnya, tetapi menjadi sangat menyakitkan karena AKU (PURA-PURA) TIDAK MENDUKUNGNYA!

Alih-alih Aku malah sengaja mendukung tim lawan. Mental mereka pun down. Mereka kalah, dan mereka memusuhiku! Sedihnya. Padahal begitu peluit panjang terdengar, yang ingin kulakukan adalah satu, memeluk mereka dan menenangi mereka. Dan mereka pun marah kepadaku. This is the very worst episode of my life.

Setelah itu kami “bermusuhan”. Namun permusuhan itu selesai setelah aku berusaha untuk memaafkan dan menyadari kesalahanku. “Mereka masih anak-anak, Yas. They even didn’t know what they did it’s hurt you,” ujar seorang temanku. Tak lama aku pun akrab kembali dengan mereka. Celana Bolong yang paling sportif dan dia yang paling dewasa (cubit pipi Rey).

Dengan Bang Kapten? Setelah kejadian ini aku menjadi ingin selalu memerhatikannya. Kami menjadi dekat. Dia anak yang baik. He just doesn’t know how to act as a good person. Mungkin terlihat jutek diluarnya, tetapi percaya deh, dia anak yang baik.

Hubungan kami pada awalnya memang biasa-biasa saja. Dia sepupu dari Razandy dan setiap kali aku menegur Razandy, maka aku pun ikut menegurnya. Padahal aku tak pernah mengajarnya sampai kelas 5 sekarang. Hingga akhirnya dia berada di kelas di mana aku menjadi wali kelas kedua. Awalnya pun biasa-biasa saja. 

Di ulang tahunnya, Oktober 2017, entah kenapa tiba-tiba aku merasa ingin memerhatikannya saja. Hal itu datang tiba-tiba. Kemudian kami pun menjadi akrab. Sebagai seorang guru dengan murid dan juga sebagai sahabat.

Empat tahun sebelumnya aku juga akrab dengan seorang anak bernama “A”. Sekarang dia sudah duduk di kelas 3 SMP dan kami jarang berkomunikasi lagi. Dia menjadi anak yang “aneh” dan “liar” bagiku sekarang. Dulu waktu dia kelas 1 sampai kelas 5 aku begitu intens memerhatikannya. Mengajarinya mengaji, membantunya belajar Bahasa Inggris maupun pelajaran lainnya. Lagi-lagi sebenarnya “A” adalah anak yang baik, namun pengaruh lingkungan yang akhirnya membuat dia menjadi “tidak baik”. Kami sempat bermain petasan di rumahnya dan bukber bareng, tetapi aku gagal merengkuhnya saat dia berjalan terlalu jauh dan menjadi liar. Aku segan untuk menegurnya dengan perasaan malu dan memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain bila aku terlalu memerhatikannya. Padahal jika kuingat lagi, untuk apa perkataan tidak penting orang-orang itu kuperhatikan, pada akhirnya malah menimbulkan penyesalan tidak bisa menolongnya. Terkadang orang hanya bisa berkomentar pedas yang membuat hati kita menjadi luka. Padahal mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Akan selalu ada orang yang berkomentar pedas untuk setiap kebaikan yang kita lakukan. Just get over it!

Sekarang aku tak ingin hubungan “istimewa” dengan Bang Kapten berakhir seperti “A”. Bang Kapten anak yang baik dan memiliki keluarga yang baik pula. Aku yakin jika dia dikembalikan kepada fitrahnya menuju kebaikan, maka dia akan bisa terus menjadi baik. Aku yakin dan sangat yakin. Aku akan mencoba mengawasinya. Walaupun waktuku bersamanya mungkin tak lebih dari 4 bulan lagi tetapi aku akan mencoba untuk terus berkomunikasi dengannya. Anak yang baik pasti akan menemukan jalan yang baik juga.

Semangat terus ya, Bang Kapten! Aku akan selalu mendukungmu! Kamu hebat! Kamu keren! Dan yang lebih penting, kamu baik! Kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Melajulah terus, Bang Kapten! Aku ingin melihat dirimu memegang piala itu dan berkata, “Kemenangan ini kupersembahkan untuk Pak Yass yang ganteng abiss!” Hahahah....***(yas)




Jakarta-Bogor-Bekasi, 23-25th of January 2018
@My room, Mujigae, office, 08.18 am
Persembahan untuk Bang Kapten.
Love you full to the moon and back! 



Ps. Celana Bang Kapten sengaja ditutup emoticon biar nutupin auratnya :)