Showing posts with label islami. Show all posts
Showing posts with label islami. Show all posts

Thursday, May 10, 2018

Movie Review 212 The Power Of Love : Sepotong Kisah Cinta Di Balik Aksi Super Damai




Hari Selasa, 1 Mei 2018, saya berkesempatan untuk menonton pertama kalinya film “212 Cinta Menggerakkan Segala” sebuah film layar lebar perdana dari Jastis Arimba. Sekedar catatan, Jastis pernah memenangi Eagle Award dan sering membuat film-film dokumenter.

Menilik beberapa bulan sebelumnya, saat menonton trailer filmnya saja saya sudah mbrebes mili dan makin penasaran ini filmnya bakal seperti apa. Kemudian ditambah lagi dengan membaca bukunya yang baru terbit saat IBF kemarin. Baru baca halaman awalnya saja saya sudah mengaru biru. Untuk review bukunya sendiri nanti saya tulis secara terpisah ya!

Kembali lagi ke kisah saya, eh kisah tentang filmnya (hehehe). Awalnya saya datang di Gala Premier hanya untuk bantu-bantu Mbak Ika dan Bunda Helvy Tiana Rosa. Namun pada show kedua saya “dipaksa” masuk untuk menonton film ini. Inginnya sih menonton saat tanggal 9 Mei nanti agar ada element of surprise nya. Nyatanya rasa penasaran saya malah memaksa saya untuk masuk ke studio 2 Epicentrum XXI.

Karena saya sudah membaca bukunya, maka saya tidak mau berekspetasi terlalu tinggi dengan film ini. Saya tahu, apa yang ada di novel tidak mungkin semuanya akan dituangkan dalam film. Dan saya lupa deh bawa tissu…hahaha…


Film dibuka dengan wajah sangar Adin (diperankan oleh Abdul Hakim) yang bergegas masuk ke dalam sebuah kantor media bernama Republik. Kita kemudian berkenalan dengan beberapa tokoh yang lain, Rahmat (si plontos yang hatinya kaku bagaikan kanebo kering. Lol), Rara (si gadis tomboi yang super cuek) dan Pak Bos (yang kurang berwibawa). Cerita lalu mengalir pada perdebatan untuk menerbitkan headline utama Majalah Republik. Rahmat si jurnalis terkenal lulusan Harvard yang bersikap liberal dan menyudutkan Islam lewat tulisannya, ditentang oleh teman-temannya yang lain termasuk oleh Pak Bos. Lewat tulisan sebelumnya yang anti Islam, Rahmat sebenarnya sudah mendapatkan banyak surat ancaman.

Kemudian scene beralih ke wilayah Ciamis, saat Rahmat terpaksa harus pulang karena suatu hal yang tidak bisa dia tidak hadiri. Di situlah Rahmat bertemu kembali dengan Kiai Zainal, seorang kiai termuka di Ciamis sekaligus ayahnya. Konflik pun bermula, ketika Kiai yang diketahui sedang sakit itu memaksa untuk bergabung dengan kafilah Ciamis untuk berjalan kaki ke Jakarta guna menghadiri aksi 212. Segalanya pun terkuak, tentang masa lalu Rahmat dan kenapa dia bisa sampai seperti sekarang. Di sini pulalah kita akan berkenalan dengan sosok Yasna (diperankan oleh Meyda Sefira), seorang muslimah yang cantik yang membuat Rahmat dan Adin terpana oleh kecantikan sekaligus kelembutan hatinya. Ada pula tokoh Abrar (diperankan oleh Hamas Syahid), adik Yasna, yang berdarah muda sekaligus mencurigai Rahmat yang dianggapnya akan melakukan tindakan provokatif. Ada pula Bi Nurul (diperankan dengan ciamik oleh Asma Nadia), bibi dari Yasna dan Abrar.

Rahmat pun mencoba untuk mencegah abahnya ikut “aksi gila” ini tetapi berkali-kali ajakan Rahmat ditolak Kiai Zainal. Hingga akhirnya Rahmat mengikuti abahnya dan di aksi 212 inilah akhirnya Rahmat mendapatkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kira-kira sesuatu itu apa ya? Dan apakah hubungan Rahmat dan Kiai Zainal bisa membaik atau malah Rahmat akan menyesal kehilangan ayahnya? Nah, jawabannya bisa kamu saksikan di bioskop-bioskop terdekat (link bioskopnya nanti saya sertain di bawah ya!).


Jujur aja dari awal nonton film ini getaran aksi 212 nya udah kerasa banget. Film ini mengalir dengan lancar dengan konflik yang sederhana namun mencerahkan. Ditambah lagi dengan adanya footage-footage aksi 212 yang bikin tambah merinding disko. Berikut saya akan tulis kelebihan dan kekurangan dari film ini.



KELEBIHAN

1. Memory oh memory

Menonton film ini kita benar-benar dibawa pada peristiwa 2 tahun silam, di mana semua umat Islam (dan non Islam) berkumpul untuk melakukan aksi penistaan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh gubernur pada masa itu. Aura 212 nya sudah terasa ketika memasuki bioskop dengan penonton berpakaian putih-putih (#putihkanbioskop). Kemudian saat scene beralih dengan latar belakang aksi 212 dengan segala keistimewaannya, makanan yang dibagikan gratis, sampah yang dipunguti secara sukarela, dan non muslim yang ingin menikah dijaga dengan baik, itu langsung bener-bener bikin air mata susah berhenti. Apalagi pas adegan sholat di tengah hujan, itu bener-bener deh bikin hati gak tenang. Hahaha… Pokoknya nonton film ini kita dikembalikan kembali akan memori Aksi Bela Islam 3.

2. Cerita yang sederhana dan mengalir lancar

Dalam film ini kisah yang diketengahkan bukanlah aksi itu sendiri, tetapi bagaimana aksi ini telah membuka mata hati seseorang untuk bergerak karena cinta. Dan banyak orang yang akhirnya menemukan”cinta” mereka kembali pada aksi ini. Kisah Rahmat dan ayahnya yang penuh konflik berhasil diceritakan dengan lancar tanpa banyak adegan-adegan yang tidak perlu. Tambahan tokoh Adin, Rara, Yasna dan Abrar mempunyai perannya sendiri-sendiri yang tidak menganggu cerita utama. Semuanya saling mendukung sehingga membuat film ini menjadi semakin utuh. Hingga akhirnya tidak terasa film sudah mencapai ujungnya. Pengennya sih filmnya terus main sampai bioskop tutup. Hahaha.


3. Sinematografi yang bagus

Sebagai karya layar lebar pertama dari Jastis Arimba, beliau mampu membuat film dengan biaya sederhana ini menjadi layak untuk dihadirkan di bioskop. Sebagaimana yang sering saya saksikan, banyak film layar lebar yang kualitasnya adalah untuk sinetron tapi dipaksakan masuk bioskop (termasuk film sequel horror legendaris yang baru-baru ini tayang). Tapi film 212 ini dari sudut pengambilan gambar, cerita, dan sinematografinya benar-benar layak untuk masuk bioskop. Percaya deh, gak bakalan rugi ngeluarin uang 30-50 ribu untuk nonton film ini. Selain mendapatkan pencerahan, kita juga disajikan dengan gambar-gambar yang ciamik.


4. Akting yang natural dan cameo yang banyak.

Awal saya kenal Fauzi Baadilla adalah saat beliau berperan di film fenomenal “Mengejar Matahari”. Setelah itu saya bukanlah fans dari FB. Sampai kemudian timbul simpati saat beliau mulai secara intens bersentuhan dengan Islam yang kemudian diikuti oleh artis-artis yang lain. Namun, sesudah film ini saya langsung dan bakalan jadi big fans nya Bang Oji! Aktingnya natural dan nyebelin banget! Sikapnya yang apatis bener-bener bikin gregetan buat ditonjok. Hahaha. Apalagi saat scene dia menutup nasihat dari Bi Nurul dengan ucapan “omong kosong”, itu benar-benar kerasa banget liberalnya. Penampilan Abdul Hakim sebagai Adin juga baik. Karakter Adin lah yang akhirnya membuat film menjadi “festive” karena celetukan-celetukan beliau yang mengundang tawa penonton. Kesan rambut gondrong ditambah bewok penuh kesangaran menjadi lebih humanis.

Pemeran Kiai Zainal pun berakting dengan sangat baik sebagai ayah sekaligus kiai ternama. Aktingnya lagi-lagi ditampilkan secara natural. Meyda Safira sudah tidak perlu diragukan lagi aktingnya. Penampilannya sebagai Yasna yang sholehah dan lembut melekat kuat pada karakter Meyda yang sesungguhnya. Cameo yang hadir pun semakin memperkuat karakter-karakter dalam film ini. Jadi semakin memperkuat bahwa film ini bukan kelas “sinetron” melainkan memang layaknya film. Salah satu akting yang mencuri perhatian saya adalah akting dari Bunda Asma Nadia, yang sejak kemunculan pertamanya di “Duka Sedalam Cinta” kemampuan akting beliau menjadi semakin prima walaupun peran yang dimainkan beliau hanya sekejap saja.

5. Scene Ciamis yang bikin gerimis

Pada saat scene perjalanan dari Ciamis menuju Jakarta lagi-lagi bikin merinding. Ditambah dengan narasi yang menceritakan banyak orang-orang yang berusaha untuk membantu para mujahid long march ini, semakin deh getaran tangisnya menjadi-jadi. Beneran deh, scene ini bikin kita jadi tahu kalau dalam perjalanan mereka itu banyak hal besar yang harus mereka kesampingkan. Semuanya mereka lakukan demi cinta, dan cinta pula yang menggerakkan mereka menuju Jakarta dengan kondisi yang berdarah-darah. Dari scene ini aja sudah semakin menjauhkan dari paranoia bahwa aksi ini penuh muatan politik. Nyatanya, para kiai dan santri yang berangkat semuanya dikarenakan kecintaan kepada Al-Qur’an. Quote terdahsyatnya adalah : Hari ini kita membela Al-Qur’an, maka nanti di alam kubur Al Quran yang akan membela kita. Ya ampun langsung deh saya merinding disko.

6. Soundtrack yang menawan

Awalnya saya mengira soundtrack yang mengalun di Epicentrum ini adalah lagu dari Iwan Fals. Agak sempat BT karena sebelumnya XXI sedang memutar lagu-lagu Celine Dion. Tapi lirik yang terdengar kok gak Iwan Fals banget ya? Malah lirik nya sederhana namun puitis. Akhirnya diketahui bahwa “Doa di Busur Hujan” yang dibawakan Pagi Hati adalah OST dari 212 CMS. Serius suara vokalisnya Pagi Hati ini mirip banget sama suaranya Iwan Fals! Musiknya yang “merakyat” banget ini saat disatukan dengan sebuah scene bener-bener (lagi-lagi) bikin mellow. Bagi saya OST yang disajikan ini menawan dan tepat. Lagunya enak saat didengarkan pada saat hati sedang galau. Hehehe.


Itu adalah sebagian kelebihan dari film ini. Bagaimana dengan kekurangannya? Karena saya sibuk menghapus air mata sepanjang film berlangsung maka saya tidak terlalu “ngeh” dengan kekurangannya (hehehe…). Tapi ada beberapa catatan tentang kekurangan film ini. Yuk, disimak.



KEKURANGAN

1. Scene 212 yang kurang porsinya

Karena saya menonton di gelombang kedua, maka saya sempat bertanya pada teman saya hal apa yang kurang dari film ini. Beliau menjawab scene aksi 212 kurang dieksplor secara full. Karena bagi dia nama “212” dianggap akan menggambarkan tentang aksi 212 yang heroik itu. Nyatanya aksi ini muncul belakangan. Tidak salah juga dia beranggapan seperti itu sih. Tapi kalau membayangkan film ini full utuh tentang aksi 212 kalian bakalan kecewa deh. Film ini adalah kisah yang terjadi dengan latar belakang aksi 212. Ceritanya sangat worth it dan yang pasti menyentuh banget!


2. Bioskop yang menayangkan sedikit

Sayangnya lagi-lagi film positif ini (dan jauh dari kepentingan politis) tidak diapresiasi dengan baik. Pada rilis nama-nama bioskop yang menayangkan film ini, hanya terbatas XXI, CVG dan Cinemaxx tertentu saja. Padahal jika dibandingkan dengan film-film yang jauh dari nilai positif (semacam film hantu, pergaulan bebas, dll), film ini layak banget untuk ditonton. Mungkin kedepannya pihak bioskop bisa meninjau ulang kembali untuk menayangkan film-film dengan content positif lebih banyak. Sayang aja, nilai-nilai kebaikan yang ada di film ini terkalahkan dengan sikap menye-menye, alay, dari film-film yang justru gak sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 9/10
Skenario 9/10
Cinematografi 9/10
Overall 9/10



Mungkin ini saja review yang bisa saya tulis. Yang pasti film ini jauh dari muatan politis dan bisa ditonton oleh semua kalangan dan agama manapun. Kita pun yang alumni maupun bukan alumni 212 sebisa mungkin mendukung film bagus ini. Paling tidak jika kita tidak bisa mendukung, janganlah sampai membencinya atau malah melakukan fitnah. Karena bagi saya sebagai seorang pengajar, film-film bermuatan positif seperti ini harus didukung untuk mengalahkan film-film yang mendangkalkan akidah. Intinya, hayooo kita nonton film 212 The Power Of Love!***(yas) 




Jakarta, 10th of May 2018
08.16 am @myroom
Semoga sukses!




Ketika Mas Gagah menjadi Abrar

Launching di Epicentrum

Tonton filmnya, baca bukunya.

Ketemu Mbak Yasna yang asli maupun gak tetep sholehah


Ketemu Bang Benny penulis bukunya.

Mejeng dulu ya...

Ketemu Hagrid eh Addin

Foto yang disirikin banyak murid-murid saya

Helviers dimanapun dan kapanpun selalu mendukung bunda Helvy

Helviers dong yang selalu dukung. Walaupun cuma jadi tim hore.

Ketemu Pemeran Kiai Zainal yang udah kayak bokap sendiri

Cuma berani ngasih bunga ke bunda aja.... wkwkwk

Sunday, December 24, 2017

Review Ayat-ayat Cinta 2 : Antara Tetap Setia atau Melupakan Masa Lalu

Pilih yang mana ya?

"Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" 
 (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Setelah hampir 10 tahun sejak film pertamanya muncul, akhirnya Ayat-ayat Cinta 2 kembali hadir di bioskop mulai tanggal 21 Desember. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket di hari pertama pemutarannya yang hampir semua bioskop full house. Keuntungan nonton sendiri, ya itu, bisa dapat kursi walaupun bioskop sudah penuh. Hehehe…

Saya ingat tahun 2008, animo masyarakat begitu antusias dengan kehadiran film yang dilabeli “islami” ini. Saya yang saat itu gak pernah ke bioskop akhirnya kembali nonton ke bioskop. Waktu itu usai mengaji mingguan yang selesai pukul 11 malam, saya bersama seorang teman menonton A2C jam 23.45 di Setiabudi 21. Kemudian saking sukanya sama film ini nonton untuk kedua dan ketiga kalinya. Walaupun saya tidak habis membaca novelnya, tapi bagi saya film ini sangat bagus pada zamannya. Sempet ngedumel juga sih dengan beberapa pemain filmnya yang menurut saya kurang cocok, tapi tetap saja film ini masuk kategori bagus bagi saya. Oiya, karena film ini pula saya jadi rajin ke bioskop. Hahaha…


 
Poster film A2C2 yang ada dimana-mana (mahal boo)


Film A2C2 kali ini hampir 80% mempunyai karakter yang berbeda. Fahri tetap diperankan oleh Fedi Nuril (and he’s acting so well), Aisha kali ini bukan diperankan Riyanti Cartwright melainkan oleh Dewi Sandra. Peran tambahan yang baru ada di novel keduanya adalah Hulusi (diperankan Pandji P), Hulya (Tatjanan Saphira), Keira (Chelsea Islan), Misbah (Arie K. Untung), Nenek Chatarina (Ade Irawan), Brenda (Nur Fazura), dan lainnya. Sutradaranya pun berganti ke Guntur Soeharjanto dari sebelumnya Hanung Bramantyo. Kali ini Kang Abik turut mengawasi pembutan film ini.

Kisah dibuka dengan suasana konflik di Palestina. Aisha berada di daerah yang sedang dibombardir oleh Israel itu. Scene pun berganti saat Aisha terjatuh. Selanjutnya digambarkan kehidupan Fahri yang sekarang sudah menjadi Professor di Universitas Edinburgh. Kehidupan Fahri begitu sempurna, harta yang banyak, rumah yang mewah, usaha yang banyak, teman-teman yang baik, otak yang cerdas, dan banyak dikagumi oleh wanita. Inilah yang akhirnya menjadi konflik utama dalam film ini, hubungan Fahri dengan wanita-wanita itu. Sementara Fahri berusaha setiap dengan Aisha yang kondisinya tidak diketahui, namun wanita-wanita itu terus berada di sekeliling Fahri. Terus setia atau melupakan masa lalu. Cerita pun ditambahi dengan bumbu-bumbu rasisme, konflik Palestina-Israel dan hubungan antar manusia. Jika sudah membaca novelnya pasti akan mudah langsung menebak akhir dari cerita ini. Kalau saya, sebelumnya googling dulu cari spoiler isi bukunya jadi secara garis besar sudah tau isi ceritanya. Hehehe…

 
Foto "keluarga" jaman now. Btw, TS cantik ya pake hijab.

Dari film ini ada beberapa catatan dari saya baik kelebihan maupun kekurangannya. Berikut yang menjadi catatan saya :


KELEBIHAN

1. Film ini berani mengangkat isu Palestina – Israel yang secara kebetulan kondisinya sesuai dengan keadaan sekarang. Hal ini menurut saya cukup BERANI, karena PH yang memproduksi film ini adalah PH terkenal. Jarang-jarang ada PH yang mau menampilkan masalah dunia islam. Bagi Mas Guntur ini adalah film keduanya yang mengangkat isu Palestina setelah film “Jilbab Traveler Love Sparks In Korea”. Fahri menggambarkan muslim yang sangat toleransi terhadap agama apapun. Bahkan ada adegan yang Fahri menyebutkan, “Bukan Yahudinya yang kita benci, tetapi gerakan Zionis nya”. Itu bagi saya keren bingits! Lalu saat Baruch mengusir ibu tirinya, Chatarina, Fahri yang datang dan menolongnya. Padahal awalnya Chatarina sangat jutek pada Fahri. Pada saat debat pun Chatarina yang Yahudi yang menolong Fahri dari tuduhan Baruch. Pokoknya scene ini informatif banget deh!


2. Sinematografi yang ciamik. Entah kenapa kalau Mas Guntur yang jadi sutradara, saya selalu terhibur dengan gambar-gambar yang ada di filmnya. Pengambilan gambarnya indah dan suasananya asyik banget khas Mas Guntur banget deh. Mas Guntur berhasil menggambarkan Kota Edinburgh yang klasik, indah dan nyaman. Seorang teman yang dulu pernah kuliah di Inggris sampai baper saat menonton film ini, pengen kembali ke Edinburgh. Tapi benar ciamik apa yang ditampilkan di film ini. Lagi-lagi jadi bikin saya mupeng kesana.


3. Akting yang keren. Akting paling keren menurut saya adalah Fedi Nuril, yang hampir setiap scene sedih dia menguarkan air mata secara alami. Jadinya saya yang nonton ikutan sedih. Akting Tatjana Saphira, Chelsea Islan, dan Dewi Sandra juga bagus tapi menurut saya belum istimewa. Sebagai perbandingan yang disebut istimewa menurut saya adalah akting Laudya Cintya Bella di Film Surga Yang Tak Dirindukan. Akting mencuri perhatian justru datang dari Nur Fazura (kali ini bukan Nora Danish lagi yang dipakai) aktor asal negeri jiran yang walaupun kebagian peran kecil tapi bagi saya sangat memorable. Akting Pandji dan Arie juga bagus termasuk pula akting Ade Irawan. Tapi tetap belum istimewa. Catatan lainnya, akting para pemain bulenya pun tidak ada yang kaku. Beda dengan film BTDA yang menurut saya akting para bule nya “aneh”. Bahkan Milene Fernandez berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan logat british yang menambah totalitas akting mereka.


4. Jalan cerita lancar dan mengalir. Nonton film A2C2 kali ini saya bener-bener gak pengen selesai. Seperti membaca buku yang difilmkan. Cerita mengalir lancar dan menarik. Tidak banyak adegan-adegan yang menurut saya tidak perlu. Sampai di akhir cerita pun terus mengalir dan lancar tanpa hambatan. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya “ilogical” tapi untuk penonton umum mungkin masih bisa diterima.


5. Sarat hikmah. Udah gak perlu diraguan lagi kalau ini ya. Secara yang nulis kan Kang Abik, lulusan Al Azhar Mesir. Adegan sarat makna yang paling saya suka adalah saat Fahri sudah hampir putus asa dan dia meminta nasehat kepada Misbah di pelataran masjid. Juga saat seorang Imam yang bacaannya salah, diperbaiki oleh Fahri dan Imam itu tidak marah melainkan malah berterima kasih (padahal itu Imam Besar). Hal ini semakin menggambarkan bahwa Islam itu indah (jama'ah oh jama'ah...).


Nah, selanjutnya ini beberapa kekurangan yang saya temukan dalam film ini :

KEKURANGAN 

1. The Too Perfect Fahri. Tokoh Fahri bagi saya terlalu sempurna dan hanya akan ada di kehidupan novel saja (wajar ya, kalau penulis bisa melakukan apa saja dengan si tokoh). Sudah ganteng, pinter dan kaya pula. Setiap hal yang dilakukan Fahri pasti baik. Selain itu Fahri juga setia. Dia masih susah beranjak dari Aisha yang entah masih hidup atau sudah tiada. Kehadiran Hulya, Brenda dan Keira pun tak lantas membuat Fahri menjadi centil pada wanita-wanita itu, sebaliknya Fahri malah merasa risih dan menjaga jarak. Maka tak heran ketika Fahri meminang Hulya, tidak banyak penonton yang mempermasalahkan poligami ini. Padahal kalau karakter Fahri digambarkan jahat dan kejam, udah pasti langsung kena perundungan. Hehehe.


2. Beberapa jalan cerita yang dipaksakan. Misal ketika Sabina menjadi asisten rumah tangga di rumah Fahri, masa iya, Fahri tidak mengenali kalau itu Aisha? Padahal tokoh Sabina gak terlalu ketutup banget, malah matanya terlihat jelas. Masa sih Fahri tak mengenali mata istrinya cuma gegara istrinya sudah menjadi buruk rupa (kalau di film buruknya gak terlalu ketara sih). Katanya si Fahri cinta…hehehe. Kemudian saat Hulya meminta Aisha untuk face off wajah, apa iya penampilan itu yang paling utama sehingga Aisha yang berwajah buruk mesti cantik dulu agar cocok sama Fahri? Dan hasil face off nya yang 100% sama dengan wajah Hulya ditambah proses face off nya yang cepet bingits! Bagi penonton kritis seperti saya mungkin ini amat sangat mengganggu. Tapi dibandingkan dengan keseluruhan cerita, mungkin hal ini bisa tertutupi dengan baik.


3. Musik yang megah, penuh diva tetapi forgetable. Untuk sountrack film kali ini, pihak PH sampai meminta 4 diva terkenal, Raisa, Krisdayanti, Rosa, dan Isyana Saraswati. Tapi menurut saya lagunya belum ada yang makjleb. Berbeda saat A2C 1 yang hanya diisi Rosa dan Sherina, lagu-lagunya sampai sekarang pun masih terngiang dengan jelas. Sountrack nya yang sekarang memang mewah sih tapi bagi saya forgetable.


4. Ada adegan yang gak banget. Dan adegan ini ada di film A2C 1 maupun yang sekarang, yaitu adegan usai Fahri dan Hulya sholat sunnah bersama (saya gak mau jelasin maksudnya apa ya). Bagi saya itu langsung ngerusak isi film. Pentingnya apa dan apa perlu digambarkan seperti itu? Apalagi ini film Islami loh! Banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton juga menambah ke “enggak banget” an adegan ini. Kalaupun di cut kayaknya gak akan mengganggu jalan cerita deh.


Secara keseluruhan film A2C2 ini masuk kategori bagus dan layak ditonton. Tentu saja film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena mereka bakalan ruwet dengan masalah cinta orang dewasa. Hahaha… Mewahnya film ini memang dapet dan sepertinya budgetnya gila-gilaan. Promosinya pun gak kalah gila. Itu poster film ada mulai dari di bilboard gede, kereta api, dll. Iklannya pun berseliweran di tivi-tivi nasional jadi gak akan mengherankan jika film ini nanti bakalan tembus 1 juta penonton. Mudah-mudahan aja bukan cuma kemewahannya aja yang di dapat oleh penonton tetapi hikmah yang ada di film ini juga bisa ditangkap.

Sekarang saya kasih score untuk film ini :

Akting 8.5/10
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.8/10


In the end, wajiblah ya bagi kita mendukung film-film Indonesia yang sehat dan bagus. Apalagi film ini berlabel “islami” jadi mesti banget didukung. Bukan malah menjelek-jelekkan atau mengajak orang untuk tidak menonton film ini. Beberapa kekurangan wajarlah ya, asalkan secara umum jalan ceritanya masih bagus dan dapat diterima. Saya sendiri merekomendasikan untuk menonton film ini. Yuk, nonton film ini dan bagi anda yang suami istri bisa-bisa jadi tambah lengket. Sedangkan bagi yang sendiri, siap-siap baper dan caper ya! Lol***(yas)





Bogor, 24th of December 2017
@RiceBowl BSB, 17.26 pm
Selamat ulang tahun Kendryo sayaangg….



 
Film kali ini diangkat dari buku AAC2 yang laris manis bak kacang goreng.


Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...

Sunday, October 15, 2017

5 Alasan Kamu Harus (Banget) nonton Film Duka Sedalam Cinta

Poster Duka Sedalam Cinta

Yeay!!! Alhamdulillah.... akhirnya film DUKA SEDALAM CINTA yang saya tunggu-tunggu akan hadir juga. Film ini bisa dikatakan sebagai THE MOST AWAITED MOVIE OF THE YEAR bagi saya, karena selain merupakan kelanjutan dari film KETIKA MAS GAGAH PERGI (KMGP), konon film DSC ini lebih seru dari KMGP dan yang paling uniknya, bisa ditonton tanpa harus kita nonton yang pertama. Gimana gak bikin penasaran kan tuh?

Film KMGP sendiri adalah THE BEST MOVIE OF THE YEAR bagi saya. Can you imagine, I watched this movie more than 30 times! Aje gile! Saking saya tergila-gila nya sama ini film (and little bit obsessed) hampir tiap hari aye pergi terus ke bioskop. Mulai dari yang nonton bertigaan aja satu studio, sampai yang penuh seabrek2 sampai duduk di tangga... hahaha... Padahal waktu itu mood nonton saya lagi low banget alias gak gampang ngasih review "BAGUS" ke film yang saya tonton. Film sebangsa Spiderman aja waktu itu saya bilang : "Film apaan sih ini? Gaje bingits!" Apalagi nonton film Indonesia. Anti banget! Abis filmnya rata2 standar dan banyak unsur2 gak jelasnya. Rugi banget ngeluarin uang 30-50 ribu buat nonton film Indonesia di bioskop. Saya lebih memilih film Hollywood yang gak jelas daripada nonton film Indonesia. Sadis kan?

Abis film KMGP itu bagus sih! Unsurnya nano-nano bingits! Film nya juga gak ngasal dibuat kayak film "Islami" lainnya yang seminggu sebelumnya saya tonton. Akting beberapa pemainnya keren abis! Gambar2 sinematografinya bener2 memanjakan mata saya. Efek reuni dengan Mas Gagah yang dulu menjadi batu loncatan utuk hijrah juga ngena banget! Kayak semacam reuni dan mengingat kehidupan zaman-zaman tarbiyah dulu. Jadi pas nonton film ini kayak ketemu mantan yang udah lama banget gak ketemu dan elo rindu banget sama itu mantan dan itu mantan ngerasain hal yang sama, eh tetiba ketemu deh! Gimana deh tuh perasaannya? Hahahah....

Nah, sekarang muncul lagi nih film DUKA SEDALAM CINTA yang notabene sequel dari film KMGP sekaligus yang bisa berdiri sendiri. Aihhh.... pas nonton trailernya aja saya udah kejang-kejang, apalagi pas tanggal 19 Oktober film itu muncul ya? hehehe... Sekarang saya mau kasih alasan nih kenapa saya (dan kamu) mesti banget nonton ini film. Check it out!


1. Karya dan masterpiece dari Helvy Tiana Rosa (sastrahelvy.com)

Aye sukaaaaaaaakkkk (suka nya pake "k" di belakang yg artinya aye overdose suka) bangets sama karya2 bunda Helvy karena apa yg beliau tulis itu selalu pakai hati jadi bisa ditangkep juga dengan hati. Dan DSC ini adalah masterpiece nya dia dlm bidang film! OMG!! Can you imagine how this movie works out? Love love love bingits deh!
Bunda Helvy Tiana Rosa itu sendiri adalah 500 Influence People from all over the world. Dia yang juga memelopori novel dan cerpen Islami waktu awal yang baru pertama kali booming. Dan film ini juga bener2 dijaga sama beliau jadi gak ecek-ecek!

2. Jalan ceritanya gak mainstream melainkan out of the box.

Addduuhhh aye bosen deh sama film yg gitu2 aje. Film sekelas SPIDERMAN aje aye bilang ngebosenin dan gaje. Tapi film ini bener2 gak biasa, artinya belum ada yang menawarkan konsep film seperti ini sebelumnya. Cinta yang ditawarkan dalam film ini bukan cinta cemen antara anak-anak abegeh gak jelas, tapi cinta yang bisa bikin lo tersadar betapa beruntungnya lo selama ini. Penasaran kan? Sekarang bisa lo bayangin kan ini film kayak apa kalo aye aja yang "jutek" sama film Indonesia bisa tergila2 (even addicted!) sama ini film.

3. Baper abissss...!!

Dari nonton trailernya aja saya bisa nangis segayung apalagi klo saya nonton aslinya, bisa2 nangis seember deh.. hahaha... Bener-bener bawa perubahan banget! Sama pas ketika nonton film KMGP, usai nonton film itu, di rumah, saya bener2 merenungkan tentang "HIJRAH" saya. Ahhhh....beneran bikin kita jadi mikir dan ingin berbuat dan menjadi baik deh...

4. Gambar2 nya aduhaaaiii bangets deh! 

Saya yang suka traveling bener2 dimanjain sama gambar di film nya deh. Sumpah, film ini beneran dibuat degan niat bangetttsss!! Bener-bener profesional banget! Sudut-sudut pengambilan gambarnya gak terpikirkan sama film2 Indonesia yang lain. Jadi sepanjang nonton trailernya, saya berkata dalam hati : ini beneran di Indonesia? Ya, film ini menyorot keindahan Halmahera, Maluku Utara. Kalo film KMGP memotret indahnya Ternate, sekarang giliran Halmahera yang kebagian dipotret keindahannya. Ahh... tuh kan jadi baper, ke Ternate aja aye belum kesampaian eh ini udah ada Halmahera *liat saldo tabungan kemudian menangis sedalam sumur.... hehehehe






5. Kepuasan hati! 

Gimana gak puas klo saya bisa nonton film bagus dan hasil dari film ini buat pendidikan di Indonesia Timur? Nonton berkali2 juga saya gak bakalan feeling guilty. Malah klo perlu nonton tiap hari biar dananya lebih banyak yang bisa disumbangkan. Udah dapat hiburan islami, membawa perubahan, eh kamu tercatat juga sebagai bagian orang yang menyumbang dana untuk bantu pendidikan saudara2 kita di Indonesia Timur. Gimana gak menang banyak tuh kita?

Jadiii.... rugi banget kalau kamu sampe ketinggalan nonton film ini. Jarang2 loh ada film Indonesia ideal dan baik ples bagus seperti ini. Sok, catat tanggal mainnya ya, mulai 19 OKTOBER 2017 di bioskop2 terdekat. Nontonnya jangan sendirian, nanti kamu disangkain JONES lagi....hehehe... ajak juga temen, kerabat, saudara, dll dll. Selain kamu dapat kebaikan dari film ini, kamu juga mau kan temen, kerabat, saudara yang kamu ajak dapat kebaikan juga dari film ini. Ahhhhh....senangnya kalau berbuat baik eh kamu dapat yang terbaik juga.

Yukkkkk.... kita serbu bioskop! Jangan biarkan film bagus macam DUKA SEDALAM CINTA menjadi sia2 dan kalah dengan film2 abal2 yang mengusung tema hantu, pacaran atau cerita gak jelas. See you in theatre ya!***(yas)



Jakarta, 15th of October 2017
21.49 pm @myroom
Semangat!!!


*********

Berikut jadwal tayang Film DUKA SEDALAM CINTA

CINEMAXX

  • Maxxbox Lippo Village, Tangerang
  • WTC Matahari, Tangerang
  • Metropolis Town, Tangerang
  • Orange County Cikarang
  • Ponorogo
  • Palembang Icon, Palembang
  • Lombok City Center, Lombok 
  • Plaza Kupang, Kupang
  • Lippo Plaza Buton, Baubau
  • Lippo Plaza, Batu
  • Citimall Sampit, Sampit

CGV BLITZ MEGAPLEX
`
  • CGV Blitz — Jakarta
  • CGV Trans Mart — Cempaka Putih
  • CGV Bekasi Cyber Park – Bekasi
  • CGV Bekasi Trade Centre - Bekasi
  • CGV Depok Mall - Depok
  • CGV Eco Plaza Cikupa – Tangerang
  • CGV Teras Kota - Tangerang
  • CGV Festive Walk – Karawang
  • CGV Sunrise Mall – Mojokerto
  • CGV Miko Mall – Bandung
  • CGV Grage City Mall – Cirebon
  • CGV Sahid Jwalk - Yogyakarta
  • CGV Transmart Tegal – Tegal

Trailer Film Duka Sedalam Cinta





BONUSS!!! Foto-foto zaman KMGP 😀😀😀😀

Pose bareng Bunda Helvy Tiana Rosa, dan pertemuan pertama kali setelah sekian tahun


Bareng pak sutradara Firmansyah yang kece badai


Eh selesai nonton di Planet Hollywood ketemu Hamas. Awalnya saya sih biasa2 aja, eh temen ngajakin foto bareng, ya udah ikutan juga...hahahah

Ketemu Masaji di Bekasi di hari2 terakhir penayangan. Yeay! Bekasi jadi benteng terakhir film KMGP

Ketemu Noy yang orangnya asyik dan enerjik dan sekarang sudah berhijab.


Saturday, February 18, 2017

The Leader




O you who have believed, do not betray Allah and the Messenger or betray your trusts while you know [the consequence].


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.


(QS. Al Anfal ayat 27)


***

Rasulullah telah tiada. Mata-mata itu masih mengembang air mata, berusaha menerima dengan keras bahwa orang yang mereka cintai lebih dari mereka sendiri telah tiada, meninggal mereka untuk selama-lamanya. Entah bagaimana kehidupan mereka selepas Rasul mulia itu tiada.

Beberapa orang sedang menyendiri dengan tangis yang pecah menggelegak. Beberapa yang lain terlihat saling menguatkan dan berusaha menerima takdir Allah ini. Beberapa yang lain tetap berusaha tegar, tapi mata itu memerah, lebih merah daripada saga yang terlihat di langit sore. Beberapa yang lain sedang mengelilingi Abu Bakar Ash Shidiq.

Abu Bakar menerima kepergian Rasulullah dengan lapang dada. Namun sesak itu belum lagi hilang. Air mata masih mengenang. Mengenang saat bersama Rasulullah, seperti mengungkit luka yang mendalam. Perih. Terlebih ketika orang terdekatnya itu sudah tiada. Ah, Abu Bakar tak tahu apakah dia bisa membiasakan hidup tanpa Rasulullah?

Tak lama, setelah itu, beberapa sahabat terlihat sibuk menentukan siapa yang akan menggantikan posisi Rasulullah. Nama Abu Bakar disebut-sebut kemudian karena orang-orang melihat isyarat Abu Bakar sebagai pengganti Baginda pada saat sholat subuh terakhir Rasulullah. Saat itu Rasululloh sudah tak bisa memimpin sebagai imam, maka dia meinta Abu Bakar untuk menggantikannya.

"Engkaulah yang pantas menggantikannya, ya Abu Bakar. Isyarat dia memperlihatkan pada kami bahwa beliau telah merestui engkau sebagai penggantinya,"

Hati Abu Bakar kebat kebit. Dia tidak terbiasa dengan ini. Dia tidak menginginkan jabatan itu. Andaikan dia diharuskan, maka dia ingin mendengar permintaan itu langsung dari Rasulullah SAW.

Perdebatan pun menjadi semakin sengit. Sebagian menginginkan pengganti Rasululloh adalah bangsa Quraisy, sebagain yang lain punya pendapat yang lain. Kaum Anshar sendiri menginginkan Said bin Ubaidilah yang menggantikan posisi Rasulullah.

Ketika kondisi semakin pelik, Abu Bakar memberikan suaranya.

"Bagiku yang lebih pantas menggantikan Rasulullah SAW adalah Umar dan Ubaidah bin Jarrah. Merekalah yang terbaik bagiku,"

Sungguh, Abu Bakar ingin masalah ini cepat selesai dan dia tak menginginkan jabatan itu.

Umar dan Ubaidilah menolak. Tak ingin masalah semakin rumit, Umar pun angkat bicara, dia segera membaiat Abu Bakar. Bagi Umar, Abu Bakar lah yang selama ini setia menemani Rasulullah. Dia pula yang menemani Rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Abu Bakar selalu melakukan amal yang tak mampu dilakukan orang-orang yang lain. Dia lah yang patut menjadi menjadi khalifah pertama.

Ubaidah pun mengikuti langkah Umar, berbaiat pada Abu Bakar. Abu Bakar menangis merasa bahwa dia akan memikul amanah yang sangat berat. Dia tahu bagaimana Rasulullah menghabiskan waktunya menerima amanah kaum muslimin. Apakah dia bisa mengikuti jejak kekasihnya tercinta itu?

Pada akhirnya Khalifah pertama umat Islam yang terpilih adalah Abu Bakar Ash Shidiq. Dia menerima amanah yang berat ini dengan linangan air mata.

***

" Kamu terpilih menjadi salah satu calon ketua Rohis, Yass,"

Bang Hakim (Allahuyarham 😭 ) berbicara pada saya seusai sholat Jum'at. Waktu itu saya bersama dengan si Camal, yang akhirnya terpilih menjadi ketua Rohis.

Saya langsung menolak. Bagi saya menjadi pemimpin adalah The worst nightmare. Berat bro! Maka dari itu saya selalu menolak jika diberikan amanah sebagai ketua. Bagi saya bekerja sebagai "dayang-dayang" (sekretaris, bendahara, dll) lebih safe daripada menjadi ketua. Kebetulan saya orang yang kreatif, jadi saya selalu dimasukan di bidang acara maupun humas atau mading.

Pada akhirnya Bang Hakim tetap resist. Dia memberikan penguatan yang baik dan logic. "Kita coba dulu ya, Yass. Amanah itu memang berat, tetapi jika tidak ada yang mau memegang amanah bagaimana?".

Dan jadilah saya sebagai salah satu calon kandidat Ketua Rohis zaman SMA. Saya inginnya memastikan bahwa itu adalah yang pertama dan terakhir, tetapi dalam perjalanan hidup saya sempat ditawarkan beberapa jabatan ketua yang semua sukses saya tolak. Im not interested!

Maka dari itu saya selalu heran dengan adik-adik kelas saya, maupun teman-teman saya yang seolah bernafsu untuk menjadi Ketua di organisasinya. Anehnya, keabnormalan versi saya ini menjadi pelecut adik-adik kelas saya yang lain. Jika memperkenalkan diri di depan sebuah forum alumni, mereka tak akan lupa menambahkan embel-embel ketua ini ketua itu. Jika mereka tidak menyebutkan maka "dayang-dayang" mereka selalu menyebutkan. Bikin hidung mekar sih...hahahaha...

Saya dan Aris, sobat saya, selalu geleng-geleng kepala. Bagi kami ini adalah virus. Ya, virus yang bisa merusak tatanan pengertian amanah yang sebenarnya. Terbukti pada akhirnya, usai menyelesaikan amanah di dakwah sekolah, beberapa adik kelas saya ini jarang yang mau membantu adik-adiknya di dakwah sekolah dan memilih memburu gelar di kampus. You've done so well dudes!

Lalu apa itu amanah? Ih, saya bukan mau bahas amanah secara bahasa ataupun istilah ya. Udah banyak tuh di blog-blog lain yang ngebahas itu. Amanah yang saya ingin bahas kali ini adalah yang berkenaan dengan kepemimpinan.

Menjadi pemimpin adalah mengemban amanah yang sangat berat. Seperti prolog yang saya sebutkan di atas bahwa Abu Bakar andaikan bisa, dia pasti tidak ingin menjadi khalifah yang pertama. Di tengah perdebatan yang memanas dan menyebabkan terbentukya dua kubu. Namun dengan kesadaran penuh, akhirnya dia menerima jabatan itu dikarenakan banyak orang yang membaiat dirinya. Sehingga bagaimanapun sepeninggal Rasulullah mesti ada yang memimpin umat ini.

Beberapa suksesi kepemimpinan yang saya pernah ikuti, rata-rata calon yang terpilih tidak menginginkan jabatan itu. Mereka maju karena ada kepercayaan dari orang-orang yang mendukungnya. Kemudian dengan berat hati mereka maju ke medan laga. Jika mereka terpilih mereka bersyukur, jika mereka tidak terpilih mereka bersabar dan bukan hal yang membuat mereka sedih. Jika akhirnya mereka terpilih, maka mereka berlinang air mata karena takut dengan amanah yang berat ini serta takut mereka tak akan sanggup menjalanin amanah ini. Ucapan yang keluar dari mulut mereka adalah kalimat istirja yang dilanjutkan dengan speech singkat tentang amanah yang berat dan kisah bagaimana Rasulullah menerima amanah sambil tetap sibuk menghapus air mata yang mengank sungai.

Selanjutnya tipe pemimpin seperti ini maka dia akan selalu berhati-hati dalam bertindak. Selalu mengambil keputusan yang mengutamakan orang banyak, yang paling banyak manfaatnya. Yang mendukungnya akan semakin mencintainya dan yang belum mendukungnya akan beralih simpati hingga kemudian balik mendukungnya.

Ada orang yang seperti ini? Ada! Saya menyaksikan bagaimana pemimpin ini kemudian menjadi inspirasi bagi yang lain.

Bagi mereka yang mengejar jabatan itu, maka mereka akan melakukan berbagai cara untuk meraihnya. Memanipulasi sikap mereka baik dengan pencitraan maupun dengan berpura-pura. Jika terpilih mereka melakukan hal pura2 lagi, untuk kemudian meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan jabatan yang dipunyainya. Padahal tidak ada satu pun pelanggaran amanah yang dijalaninya, melainkan Allah akan membalasanya. Setelah lepas dari jabatan ini maka dia akan tidak diingat, dan disyukuri oleh orang-orang lain.

Betapa dahsyatnya amanah ini, maka penghuni alam pun menolaknya :

Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab 72)

Pada akhirnya kita akan menanggung apa yang kita perbuat. Memilih pemimpin yang baik tentu akan membuat kita menuju ke arah yang baik pula, membuat semuanya menjadi baik, dan menitipkan amanah kita pada orang yang kita percaya. Tipe pemimpin yang anti tipu-tipu dan besar bukan karena produk citra body lotion eh PENCITRAAN.


Untuk itu seberat apapun amanah menjadi pemimpin pasti saya menolak. Saya berusaha untuk mejadi pemimpin bagi diri sendiri dulu. Masih banyak orang yang lebih berkompeten daripada saya. Saya tak pernah berambisi menjadi pemimpin lalu mengobral jabatan saya di medsos. It's not so me!

Jadi, dalam memilih pemimpin yang amanah saya selalu berpatokan, yang amalnya seperti Abu Bakar Ash Shidiq, yang garang seperti Umar bin Khatab, yang kaya seperti Utsman bin Affan, dan cerdas seperti Ali bin Abu Thalib. Perfect combination! Hehehehe.... Susah sih, tapi Insya Allah yang mendekati banyak. Pemimpin yang baik akan menghasilkan masyarakat yang baik pula. Oke oce!***(yas)


“Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)




Jakarta, 18th of February 2017

18.52 pm @my room



Foto cetar Bareng Pak Almuzzamil Yusuf, Anggota DPR FPKS, yang interupsinya mencetarkan isi ruang sidang. Orangnya humble tapi tegas dan garang!



Nasyid lawas "PEMIMPIN SEJATI" by Nada Murni yang sangat inspiratif.