Showing posts with label Backpacking. Show all posts
Showing posts with label Backpacking. Show all posts

Monday, March 19, 2018

The End Of A Journey (Part 1)


Deep meaning of My journey

“Jika hatimu lelah dengan rutinitas kehidupan, ambilah jeda barang sebentar. Lalu nikmati hari-harimu dengan apapun yang ingin kau lakukan. Lakukan apa yang kau mau dan jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaanmu,”


Ahhhhh… Saya lelah! Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah secara batin. Banyak hal yang belum bisa lakukan. Banyak orang yang belum bisa bantu. Banyak murid bermasalah yang belum bisa saya tangani. Banyak kewajiban yang belum bisa saya jalankan.

Lalu sepertinya sekejap kemudian beban itu menjadi bertambah berat dengan adanya omongan-omongan tidak sedap pada setiap hal yang menyangkut diri saya. Tidakkah mereka bisa membiarkan saya menjadi apa adanya tanpa perlu berpura-pura?


“Kapanpun dan dimanapun, akan datang orang-orang yang ingin selalu menjatuhkanmu, Yass. Tak peduli betapa pun sempurnanya dirimu. Mereka akan selalu hadir untuk menghancurkan kepercayaan dirimu dan melukai perasaanmu. Lalu ketika apa yang mereka inginkan sudah terlaksana maka mereka akan pergi dan mencari korban lainnya,”



Lalu bagaimana jika Saya kalah dan mereka menang?


“Jika kau memilih untuk kalah, maka tujuan mereka tercapai. Tinggal kau yang akan mengais lukamu sendiri. Padahal bisa saja kau menolak untuk kalah dan memenangkan pertandingan,”




Ahhhh… Saya seperti jatuh tersungkur. Semua hal yang menjadi beban di hati langsung saja saya tumpahkan pada Allah, agar Dia memberikan saya kekuatan. Bukankah Dia yang Maha Kuat? Lalu darimana kekuatan itu berasal, jika bukan dari Dia?

Untuk mereka yang berusaha menjatuhkanmu dan melukai hari-harimu? Saya percaya Allah akan membayarnya dengan kontan sesuai dengan berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk menjatuhkan orang itu.

Rasanya ingin terus berpikir positif, namun adakalanya pikiran negatif mengambil alih.

Jadilah saya memutuskan untuk melangkahkan kaki saya menuju suatu tempat, tidak jauh, Wonosobo Jawa Tengah. Ke Dieng tepatnya. Semuanya tidak direncanakan. Itenary pun dibuat 2 jam sebelum keberangkatan. Itupun hanya garis besarnya saja. Tiket, penginapan, dll tidak ada yang dibooking, biar semua dilakukan secara on the spot.

Perjalanan ini seperti membawa kenikmatan sendiri bagi saya. Menempuh perjalanan Bekasi – Wonosobo kurang lebih 9 jam (yang nyaris saja gagal berangkat), saya berusaha menikmatinya. Bertemu dengan seorang Ibu yang asli Wonosobo namun bekerja di Jakarta. Lalu kami mengobrol ngalor ngidul. Ah, serius, kalau bertemu dengan “ibu-ibu” bawaannya saya ingin mencium tangannya saja, lalu menangis mengenang Ibu saya.

Menuju Dieng pun saya menikmati perjalanan di mikrobis bertemu dengan ibu dan bapak petani dengan gembolan besarnya, atau keranjang sayurnya. Walaupun saya tidak paham Bahasa Jawa namun saya berusaha untuk menikmati guyonan-guyonan mereka. Saat saya terlihat pucat karena jalanan yang berkelok-kelok dan sopir yang mengerem mobil dnegan tidak baik, maka seorang Ibu memberikan saya permen.

Ketika sampai di Dieng, saya berjalan kaki menyusuri banyak rumah dan tempat homestay hingga saya menemukan satu tempat yang menurut saya sangat nyaman. Walaupun hanya sebuah hostel dengan 4 bunk bed, namun pada kenyataannya saya berada di kamar sendiri. Saya menikmati sendirian di kamar. Menulis buku diary, tilawah, mendengarkan musik ataupun tidur berselimut tebal untuk menahan dingin udara Dieng.

Mengelilingi Dieng pun saya ditemani oleh Mas Udin, seorang sopir mobil yang katanya baru pertama kali ini mengantar pakai motor. Dia juga yang mengambil foto-foto untuk saya di beberapa tempat. Jadilah, sebagai sopir ojek beliau merangkap sebagai fotografer saya. Hehehe… Tidak banyak tempat yang saya ingin datangi, yang terpenting saya bahagia dan senang berada di tempat itu. Bahkan ketika menanjak menuju Batu Pandang (spot tertinggi untuk melihat Dieng), saya menambahkan rasa syukur pada berat badan saya yang belakangan ini terus menyusut. Walaupun medannya tinggi, hujan deras, dan nafas yang terengah-engah karena menahan dingin, tetapi tubuh kurus saya mampu membawa saya ke atas bukit itu. Tidak terbayangkan jika tubuh saya masih gemuk, mungkin saya akan menyerah terlebih dahulu sebelum sampai puncaknya. Alhamdulillah, datangnya masalah dari murid-murid yang membuat saya malas makan membuat tubuh saya kehilangan beberapa kilo. 

Di balik foto yang bagus ada usaha yang bagus pula


Saat bangun jam 4 pagi, menuju Golden Sunrise Sikunir pun, lagi-lagi saya merasa bersyukur. Tidak terbayangkan jika perjalanan saya ini bukan tentang masalah menemukan semangat saya lagi, maka mungkin saya akan lebih memilih bergumul dengan selimut untuk menghalau dinginnya udara Dieng.

Sesampainya di Bukit Sikunir pun, ketika semua orang terlena dengan foto-foto dan memanfaatkan alam untuk membuat foto menjadi lebih bagus, saya lebih senang memutar musik lewat headphone lalu merenungi tentang ciptaan Allah yang berupa Matahari yang sebelum muncul didahului dengan garis horison. Lalu ketika matahari itu muncul perlahan, ketika orang-orang semakin heboh dengan foto-fotonya, maka saya malah menangis. Menangis untuk kesempatan menikmati Sunrise yang di Jakarta tidak bisa dapatkan. Lalu menangis ketika mengingat, bahwa suatu hari sinar itu akan punah dan matahari tidak akan muncul lagi. Allah, Engkaulah yang menciptakan apa yang ada menjadi tiada. 

Sunrise di Sikunir


Saya sungguh menikmati perjalanan saya kali ini. Berinteraksi dengan orang lain dan menjalankan apa yang ingin saya jalankan. Tidak terikat dengan dengan itenary yang super detail ataupun “mewajibkan” diri ke spot-spot tertentu. Saya hanya menikmati setiap langkah yang saya lakukan dan menikmati sapaan-sapaan dari setiap orang yang berinteraksi dengan saya. Bahkan saya yang biasanya super rempong untuk urusan kenyamanan, mencoba menerima apa yang saya dapatkan. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya berusaha untuk membuatnya menjadi nyaman. Jika yang saya dapatkan tidak sesuai dengan keinginan saya, maka alih-alih meluapkan emosi, saya hanya berusaha untuk mengambil nafas panjang dan berbisik “Lord knows what’s best for you!”.
“I start my journey when You forgive me
I swear my whole world stops.
You are in my heart and, I’m so glad that its fine
You are One truly kind…”



-With You, Raef-

Semakin saya yakin kalau Allah menginginkan saya berjalan di muka bumi, selain untuk mengenal ciptaan-Nya, juga agar saya semakin menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Lalu, bersyukur untuk yang saya dapatkan setiap harinya. Ketimbang membandingkan kehidupan saya dengan orang lain, Allah menginkan saya untuk menerima apa adanya apa yang sudah menjadi catatan rizki saya. Sehingga syukur yang saya lakukan akan membuat nikmat-Nya bertambah. Allah, adakah ketenangan yang kudapatkan selain dari diri-Mu?


Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu"

QS. Al – An’am ayat 11


Maka saya memutuskan untuk bahagia. Saya memutuskan untuk menikmati hari-hari saya. Saya memutuskan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitar saya. Saya memutuskan untuk menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya. I only live once! Maka jika sudah tiba akhir perjalanan hidup saya, maka saya tidak akan menyesali apapun. Menumbuhkan cinta dalam hati lalu memberikan yang terbaik bagi semua orang adalah perbuatan terpuji yang sering dilakukan oleh

Rasulullah SAW. Lalu bagaimana sikap kita dengan orang-orang nyinyir yang suka mencela? Biarkan mereka mencela dan nyinyir jika bisa membuat mereka bahagia. Biarkan apa yang mereka lakukan itu sebagai pembelajaran dan menjadikan kita lebih kuat. No words can’t bring me down!


Your heart is too heavy from things you carry a long time,
You been up you been down, tired and you don't know why,
But you're never gonna go back, you only live one life
Let go, let go, let go


-Live Like A Warrior, Matisyahu-

Sesungguhnya hidup hanya sekejap mata saja, maka jika kita tidak menikmatinya maka sungguh terasa sia-sia. Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan yang akan berhenti pada suatu titik bernama kematian. Berdoalah untuk kematian yang damai, tenang dan khusnul khotimah. Insya Allah***(yas)





Yogyakarta, 19th of March 2018 
@Balai Kopi Jogokarian, 17.02 
Kangen dan rindu semoga cepat berlalu.





Motto Buya Hamka yang saya temui di sebuah kedai kopi


Menikmati pemandangan dari atas setelah bersusah payah menanjak

Sunday, November 12, 2017

Push My Limit (Menaklukkan Tantangan) Part 1

 
write on the sand



“You can conquer almost any fear if you will only make up your mind to do so. For remember this, fear doesn’t exist anywhere except in the mind.”
*Dale Carnegie*


Ngelakuin apa yang saya takutkan? Hiii… ogaaahhh!!!

Paling gak kalau hal yang menakutkan itu ditawarkan pada saya, mesti mikir ribuan kali untuk memutuskan ikut apa gak. Kalaupun must decide in a short time, mikir lagi untungnya apa dan ruginya apa, bahaya apa gak, dan kira-kira ini berguna apa gak. Hahaha… jadi banyak mikirnya deh… ujung-ujungnya udah bisa dibaca kalo akhirnya saya mengalah dengan keadaan.

Semua pertimbangan itu pada dasarnya adalah mengetahui di mana limit saya berada dan saya cenderung malas mendobrak limit yang sudah saya tetapkan. Misal, limit saya adalah kalau mau berenang hanya cukup di kolam seukuran 1.5 meter dan jika ada yang mengajak saya untuk ke kolam ukuran 2 meter maka menurut saya itu udah melewati limit saya. Untuk hal seperti ini maka saya perlu melihat apakah push my limit itu safe apa gak. Jika ada orang yang akan bertanggung jawab untuk menjaga saya di kolam itu, atau saya bisa menggunakan pelampung di dalam kolam itu. Jika saya menilai cukup safe maka saya akan berusaha mencoba, walaupun tetep aja mikir 17x.

Namun ada beberapa cerita yang membuat saya memutuskan untuk melewati limit saya tersebut. Seperti yang saya sebutkan tadi, pastinya setelah dibujuk-bujuk dengan berbagai macam cara dan jaminan “everything will be OK!”. Akhirnya mau deh…

Moment pertama yang membuat saya push my limit saya adalah saat saya diajak untuk naik Banana Boat di pantai Carita. Entah bagaimana ceritanya, pada saat liburan bareng temen-temen itu, salah seorang teman saya kepengen banget naik Banana Boat (Damn!). Setelah dia mengajak beberapa orang, maka seat banana boat tertinggal 1 dan dia langsung mengincar saya. Udah pasti langsung saya tolak mati-matian. Secara berenang aja saya gak bisa, ini udah mau nyemplung di laut. Gak kebayang deh gimana saya nantinya…hahaha…

Tapi teman saya itu (sebut saja si Mawar, hehehe) terus memaksa dan memberikan jaminan serta bujukan-bujukan manis pada saya. “Gapapa kok, Yas, kan pakai pelampung, gak bakalan tenggelam. Nanti pokoknya ente, ane selamatin duluan deh pas Banana Boat nya terbalik,”


Perahu tanpa banan nya yang puas banget ngerjain saya dkk

Abis naik banana boat malah ketagihan main di laut. Lol

Entah bagaimana, akhirnya saya terbujuk juga kata-kata manis itu. Didesak rasa penasaran saya juga sih sebenarnya. Tapi dengan adanya jaminan-jaminan itu, saya akhirnya memutuskan, “let’s try!”

Saya langsung memilih pelampung yang paling bagus, minta posisi duduk yang strategis, dan berkali-kali bilang pada si abang, “Bang, nanti kalau mau dibalikkan jangan lupa bilang-bilang ya!” hahahah… Pokoknya memastikan semua harus safe. Tapi tetap aja, saat sudah duduk di atas plastik berbentuk pisang itu berkali-kali saya minta TURUN! Hahaha… Namun setelah final conviction dari teman saya, udah deh saya Bismillah aja…

Dan eng ing eng…. Ban pisang itu pun melaju di atas air laut carita. Adrenalin bergemuruh kencang disertai rasa antara takut dan senang. Kemudian saat yang bikin deg deg an banget adalah saat pengemudi kapal boat yang menarik ban pisang itu menghentikan mesinnya dan berbelok tajam yang menyebabkan ban pisang terbalik! Byuuurrr!! Kami semua yang berada di atas ban pisang itu terjatuh ke laut. Pastinya saya panik banget! Tubuh saya seketika tenggelam di laut untuk kemudian menyembul kembali karena ban pelampung yang menempel di tubuh saya. Teman yang tadi berjanji pada saya itu langsung heboh, “Yas, mana, Yas??” Pada saat saya menyembul ke permukaan laut dia langsung mendorong saya naik kembali ke ban pisang tersebut. Perasaannya benar-benar antara senang dan takut gitu.

Tarikan kedua dan ketiga saya mulai menikmati berada di atas ban pisang tersebut. Namun saat ban pisang itu mau berbelok tajam, saya cuma pasrah saja sekarang. Mau lari pun udah gak bisa, jadi pasrah adalah sikap tertinggi saya…hahaha…

Teman-teman yang lain mulai berteriak-teriak menikmati permainan banana boat ini. Saya juga ikut-ikutan berteriak, tetapi tetap aja saat ban pisang itu membelok, saya hanya bisa pasrah “Oh God, Oh Lord!” Tanpa dinyata, ternyata ada salah seorang teman saya yang terlihat berani tetapi di atas ban pisang itu terlihat pucat dan ketakutan. Sepanjang permainan itu dia hanya diam saja dengan urat wajah tegang. Hahaha… udah pasti hal ini jadi pembahasan usai bermain.


Naik banana boat lagi di Bali, tapi request gak diceburin..hahaha

Another Push my limit experience adalah saat kebagian tugas untuk mengikuti acara latsar di kaki gunung Salak. Sebenernya males banget kalo ikut acara latsar yang “cowok” banget! Hahaha… Gak ada kerjaan aja bagi saya di kaki gunung, bukannya menikmati alam malah ngadain kegiatan-kegiatan gak jelas (saya kali ya yang gak jelas). Ditambah lagi ada rumor kalau nanti akan melakukan perjalanan kaki sejauh mata memandang (yang ternyata bukan sekedar rumor). Namun karena instruksi ini sifatnya “WAJIB” dari “struktur” maka dengan berat hati saya pun ikut.

Beberapa hari sebelum berangkat sudah pasti saya memikirkan apa yang akan terjadi disana. Kegiatan fisik sudah pasti bakalan menguras tenaga, ditambah lagi dengan berjalan kaki sejauh itu, sanggup gak ya? Pokoknya banyak pertimbangan deh! Ditambah lagi semua persiapannya harus serba komplit dan sempurna. Bekal makanan yang pasti yang banyak juga, haahah…

Dan benar saja semuanya seperti yang sudah saya bayangkan. Pelatihan fisik sana-sini yang ya ampyun bikin badan saya remuk abis. Tapi ya, Alhamdulillahnya saya masih bisa menangani dengan baik, malah banyak teman-teman saya yang lain yang fisiknya kelihatan bagus tapi sudah ambruk duluan. Ya, paling gak, saya bukan yang malu-maluin lah di grup saya itu..hehehe…

Sampai suatu ketika, ada acara outbond yang mengharuskan peserta untuk terjun perosotan dari atas tebing yang sudah dibuat seperti seluncuran. OMG! Jarak antara atas tebing dengan dasarnya itu kira-kira 5 meter! Semua tim dan semua anggotanya harus ikut meluncur. Saat saya sudah siap-siap mau meluncur ke bawah, datang panitia yang memberitahukan bahwa wahana seluncuran ini ditiadakan lagi setelah salah seorang kakak kelas saya di SMA dulu jatuh dan terkilir kakinya. OMG! Benar-benar kayak mendapat kabar durian runtuh! Im in the cloud nine! Tapi ternyata wahana lainnya yang lebih syerem dan menakutkan sudah menunggu. Wahana itu adalah masuk ke dalam parit kecil yang penuh dengan air lumpur sepanjang 50 meter dengan atas parit itu ditutupi pagar kayu yang diberi dedaunan. Mirip banget kayak perang Vietnam…hahahah…

Sampai di depan parit itu saya agak ragu untuk turun ke dalamnya. Berbagai macam kekhawatiran berada di benak saya. Gimana kalau saya gak bisa nafas? Gimana kalau ternyata airnya bikin gatel-gatel? Gimana…gimana…gimana…. Namun di short time kayak begitu, saat semua anggota regu saya sudah pada masuk ke dalam parit itu dan anggota grup lain sudah menunggu di belakang, saya terpaksa ikutan masuk ke dalam parit. Di dalam parit saya benar-benar harus membenamkan kepala saya ke dalam air lumpur itu sambil menahan nafas beberapa saat menuju ujungnya. Awalnya memang masih ada celah-celah pagar kayu itu yang bisa membuat saya tak perlu membenamkan kepala, tetapi semakin ketengah, pagar kayu itu semakin rapat. Saya sempat panik di tengah parit itu, tetapi lagi-lagi saya push my limit saya untuk terus berjalan dan akhirnya sampai ke ujungnya juga! Setelahnya, selain ucapan syukur, saya tersenyum puas dan bangga pada….. diri saya sendiri dong….hahaha…

Pada final days, perjalanan yang ditunggu-tunggu itu pun sudah di depan mata. Kebayang banget deh lelahnya, jalan sejauh mana juga gak ngerti sambil membawa tas ransel yang berisi perlengkapan selama 4 hari 3 malam. Ya ampyun…. ngebayanginnya aja udah males nulis…hahaha…

Saya dan teman-teman berjalan dengan semangat di paruh pertama perjalanan kami. Paruh perjalanan kedua, beberapa orang mulai lost their patient. Bertanya seberapa jauh lagi perjalanan dan sepertinya tiada akhirnya. Beberapa di antara mereka sudah mulai ketahuan aslinya J Dan paruh terakhir, yang semangat memimpin di depan, yang banyak mengeluh berada di belakang. Saya sendiri berusaha menikmati perjalanan ini. Capek udah pasti tapi ya udah jalanin aja, mau gimana lagi, yekan? Sebenarnya saya juga udah kelelahan setengah mati, tapi lagi-lagi I push my limit. Kali ini saya membayangkan, si Riyanti Djangkaru aja bisa menaklukkan gunung dan melakukan perjalanan jauh, masa aye yang zaman itu adalah seorang ikhwah fillah, bisa sih kalah sama dia? Malu booo! (hahaha…)


Ngaso dulu di paruh pertama menjelang down hill lagi. Ini di kawah ratu yang bau sulfur bingits

Saat sampai di tujuan, saya senangnya bukan main, apalagi saya termasuk golongan orang yang sampai tujuan awal waktu. Beberapa teman yang ikhwah fillah banget dan jagoan orasi malah terseok-seok di belakang. Saat itu jahatnya saya keluar dengan menertawakan mereka terbahak-bahak. Lagi-lagi berhasil menaklukkan tantangan dengan push my limit! Sesudahnya langsung merasa PD tingkat dewa, sambil bilang ke diri sendiri “Gue bisa loh!”

Saya jadi teringat quote nya Om Walt : If you can dream it, you can do it. Atau sebuah hadits yang berbunyi : Aku mengikuti prasangka dari hamba-Ku. Maka semua hal yang kita lakukan dan keputusan yang kita ambil berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ya, we act based on what we think!

Manusia itu pada dasarnya memiliki potensi diri masing-masing yang mengikuti kemampuan mereka. Beberapa di antara mereka ada yang PD tingkat dewa, potensi gak ada dan kemampuan standar tapi beraninya luar biasa. Ada juga yang ‘humble’, kemampuan dan potensi ada dan mereka in the right path. Dan mereka yang punya kemampuan dan potensi diri tapi mereka merasa gak PD. Yang terakhir (katanya sih) saya banget!

Menaklukkan tantangan bukan sekedar bisa melakukan suatu kegiatan yang kita sendiri gak pernah membayangkan bisa melakukan hal itu, tetapi juga masalah hati dan pikiran. Sudah pasti pada saat ingin mendorong diri kita pada batas kemampuan diri kita, pikiran kita berperang gila-gilan. Berbagai argumentasi diri sendiri sudah pasti memaksa kita untuk think fast in short time. Belum lagi batin kita yang mesti ikutan diajak kerjasama juga. Ditambah jika hasilnya gak memuaskan, sudah pasti rasa penyesalan berkecamuk di dalam hati disertai angan-angan “jika begini mungkin begitu, jika begitu mungkin begini”. Ujung-ujung semakin susah saja untuk memembus batas nilai diri kita. Tetapi jika hasilnya menarik dan beyond our expectations, udah pasti kita jadi bertambah percaya diri dan memiliki nilai plus bagi diri kita. Next time, kita ingin menaklukkan tantangan lagi, keoptimisan sudah timbul berkat pengalaman sebelumnya. Paling gak, walaupun belum optimis-optimis amat, kekhawatiran diri kita sedikit berkurang.

Pada akhirnya, tantangan itu hadir untuk men-challenge diri kita dan melatih keberanian kita. Mereka yang begitu dapat tantangan langsung mundur feels like lost in the war before it started. Mereka yang dapat tantangan malah dikalahkan oleh tantangan itu, sudah pasti bakalan stress berat. Mereka yang bergembira mendapat tantangan, bisa dipastikan keoptimisan menyertai hari mereka. Jikalaupun mereka gagal, mereka sudah belajar dari pengalaman. Jadi, diri kita sendiri yang memutuskan seperti apa sikap kita jika menerima tantangan.

Hidup itu sendiri pada dasarnya adalah tantangan. Manusia diberikan cobaan dan tantangan dalam mengarungi kehidupan ini. Whether they will happy or whether they will full of sad, moaning, and grumbling. Berpikir matang itu bagus dan tidak salah, tapi kalau kematangan jadi gosong juga kali yee… Jika gagal menaklukkan tantangan, at least you have learnt from what you did.

Push your limit juga jangan lupa ya, perhitungan baik buruknya dan resiko yang bakal kita hadapi. Jangan asal puh the limit aja. Make a fast decision in the shortest time. Kalau kiranya kita gak mampu dan bukan kita banget, better let it go! Tapi kalau kita mampu tapi belum PD aja, take a risk and conquer the challenge! (kompor.com)

Intinya adalah state of your mind. Cobalah untuk tidak overthinking dan just do it. Sometime kita perlu membiarkan intuisi kita berjalan tanpa perlu memikirkan apa-apa. Karena kalau kebanyakan mikir sudah pasti akan kehilangan kesempatan. Berpikir boleh asal jangan kebanyakan. Mending banyak makan daripada banyak pikiran…hahaha…

Sebenarnya masih banyak cerita yang membuat saya menabrak limit diri saya sendiri, namun gak mungkin kali yee diceritain semua disini. Beberapanya mungkin akan saya ceritakan secara terpisah. Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri dan tidak usah berpikir macam-macam. Ingat saja Allah, karena kalau mengingat Dia hati akan merasa tenang. Karena semuanya sudah ditetapkan dan diatur oleh-Nya. Tugas kita hanya menjalankan apa yang sudah menjadi takdir-Nya. Ingat, You only live once, don’t make it in vain and don’t be regret!! Enjoy your life, take a challenge and push your limit!!***(yass)



Jakarta, 11th of November 2017
@Transmart , 18.01 pm
Waiting “Duka Sedalam Cinta”
Bicara latsar, jadi inget Kak Panji. Di mana ya beliau sekarang?



Ps. 
My another pictures of conquer the challenges!



Nyelem dan berenang2 ria di Pulau Sempu yang jalannya aja bikin lapar 7 hari

Jangan pernah nawarin saya flying fox pada saya yang aerophobia.
Tapi akhirnya nyoba ini juga karena : PENASARAN

Di atas bukit di Pulau Sempu yang monyetnya bejibun dengan latar belakang samudra hindia.


Sunday, October 8, 2017

The Choice (Traveling sendiri apa bareng2)

Lokasi : Hua Hin, Thailand



Seorang ibu dengan dua anaknya yang berusia balita turun dari angkot. Satu anak dalam gendongannya, satu anaknya lagi mengikuti di belakangnya. Beberapa kantong plastik belanjaan yang semula tergeletak di lantai angkot, dibantu turun oleh para penumpang. Ibu itu seperti baru saja berbelanja kebutuhan balitanya di sebuah supermarket daerah sukasari. Sedangkan ibu itu sendiri turun di daerah Ciawi dan menyambung angkot ke arah Pasir muncang.

Sekilas, keliatannya pengen banget komen : “ Ya ampun bu, rempong bener!”. Alih-alih komen negatif malah saya salut sama ibu itu. Demi mengajak anaknya jalan-jalan, dia tidak keberatan untuk berempong-rempong ria dengan jarak yang jauh bingits. Hat off untuk si Ibu deh.

Saya juga punya seorang kakak, yang berbeda dari ibu ini. Dia gak pernah tuh keluar jauh dari rumahnya. Paling jauh ya pasar. Kalau disuruh ke rumah kakak saya yang lain, yang memerlukan naik angkot dua kali, dia langsung nyerah. Jangankan angkot dua kali, menuju sekolah anaknya yang cuma ngangkok sekali dan itupun juga cuma sebentar, dia gak mau. Jawabannya kalau ditanya kenapa : “ Gak berani. Ngeri,”

Sebagai seorang backapacker saya juga kerap ditanya macam-macam sama teman saya. Pertanyaan paling sering, “Yas, emang enak apa jalan sendirian? Nggak iseng apa?”

Jalan sendirian, pasti iseng lah ya! Frustasi, sering bangets! Linglung, nyaris ada di setiap perjalanan. Waktu traveling pertama saya ke Singapur, saya sampai Singapur jam setengah sepuluh malam. Setelah keluar dari imigrasi dan mengikuti petunjuk Mbak Dee, sampailah saya di daerah Lavender. Waktu itu saya mencari Hostel Backpacker yang letaknya di Lavender. Secara ini traveling pertama saya ke luar negeri, menjelang tengah malam pula. Saat itu bolak balik saya telusuri peta perjalanan mencari itu hostel gak ketemu-ketemu. Setelah merasa “give up” saya alhirnya bertanya pada orang yang kebetulan lewat. Eng ing eng, si mbak nya menjawab pakai bahasa Cina! Padahal saya tanyanya pakai bahasa Inggris. Ya ampyuuunn… Tanya sama yang lain lagi sama juga. Sekalinya pakai bahasa Inggris, dia ngomong kagak jelas. Ya udahlah, cari-cari sendiri hingga menjelang tengah malam. Coba banyangin gimana gak frustasinya saya.

Saya memang tipikal orang yang suka kemana-mana sendiri. Jalan kaki, lebih seringnya. Kalau itu jarak bisa diperkirakan dengan jalan kaki maka saya memilih untuk jalan kaki. Rekor jalan kaki saya terjauh itu ya, Bogor – Jakarta, tapi itu bukan karena kemauan sendiri tapi karena dipaksa ikut lomba…hahahah…

Sampai suatu saat seorang teman bilang, kalau dirinya tidak bisa kalau jalan sendirian. Saya juga punya teman yang jarak sedikit aja naik motor, ke rumah teman yang gak begitu jauh aja minta dijemput. Ke masjid, yang cuma 50 meter naik motor, pokoknya malas jalan deh ini orang. Mangkanya dia terheran-heran kalau saya sampai ke suatu tempat jalan kaki, “Kok lo bisa sih?”.

Nonton ke bioskop sendirian aja sampai dia komenin juga, “apa enaknya nonton sendirian?” Aksi kemanusiaan sendirian juga kena komen. Ujung-ujungnya dia membully, “jomblo sih lo ya?” Hadehhh…capekk deh…

Pada dasarnya hidup itu adalah pilihan. Memilih mengurung diri sendiri di tempat itu-itu aja dan mempertahankan zona nyaman atau melangkah keluar dan mendobrak zona nyaman. Saya pun sempat merasa asyik dengan zona nyaman saya. Lalu ketika melangkah keluar, Ya Ampyuunn, babak belur. Tapi kalau kita menyerah dan kembali ke zona nyaman kita, apa iya kita mau disitu terus-terusan? Yang asyik itu jika kita sudah babak belur, kita bangkit lagi dan menaklukkan tantangannya. Gak mudah sih, berat malahan. Tapi gak ada kan sesuatu yang terjadi begitu mudah di dunia ini? Ingat ya, hidup kita bukan film yang mau ini ada, kesusahan tetiba ada jalan keluar secepat kilat. Allah sendiri berfirman dalam surat Al Insyirah : Bersama kesulitan itu ada kemudahan. Jadi datangnya berbaregan ya, bukan datang kemudahan setelah kesulitan.

Memilih sudah pasti susah. Apalagi kalau kita tipe pemilih. Memilih baju atau sepatu aja susah, apalagi memilih sesuatu untuk hidup (eaaa….eaaa…). Paling gak, jika pilihan kita salah, ada kesempatan bagi kita untuk memperbaikinya dan kita bisa belajar dari kesalahan kita itu. Mencoba sesuatu yang menakutkan, dan selesai, paling tidak banyak cerita yang bisa kita dapatkan dari situ. Orang-orang pun akan bangga dengan kita. Daripada mau mencoba tapi gak jadi-jadi….capeek deehh…hehehe…

Jadi nih ya, belajar dari si ibu di angkot tersebut, si ibu telah menaklukkan apa yang gak penting bagi hidupnya yaitu omongan orang-orang. Saat itu itu memutuskan untuk keluar bersama anak-anaknya, pasti ada aja yang akan ngomong : “ngapain sih bawa-bawa anak segala”, “gak repot apa tuh ngajak anak-anak”, “mendingan juga diam di rumah” bla bla bla. Pada saat si ibu berhasil sampai rumah dengan selamat sentausa, alih-alih bangga, malah timbul cibiran berikutnya. Hadeeehhh….pecel deh….hahaha…

Sama seperti saat saya memutuskan backpackingan. Sejuta Julitawan dan Julitawati pasti tak henti-hentinya bicarain saya : “Mending uangnya ditabung,” “Gaya bener sih jalan-jalan ke luar negeri segala”, “Ngabis-ngabisin uang aja,” etcetera. Saya sih, terima masukan yang positif aja, tapi semua keputusan tetap ada di saya. Cibiran para julitawan dan julitawati, saya biarkan ngambang di selokan…hahahaha…

Sekali lagi, hidup itu adalah pilihan. Dan kita ditakdirkan untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Mau pergi atau gak pergi, itu pilihan. Mau tetap stay di rumah atau ngebolang, itu juga pilihan. Kita bertanggung jawab atas pilihan kita masing-masing. Tapi masa sih hari gini masih ada yang di rumah terus. Pas diajak ke Dufan, dia bilang : “Ini tempat apaan yak?” Atau pas diajak naik bis kuning UI dia nanya : “Bayar berapa ya?” Saat naik pesawat dia bertanya : “Pakai seatbealt nya gimana nih?” Ya ampyyuuuunnn….. hahaha…. Tapi apapun itu, ya udah, itu pilhanmu!***(yas)





Bogor, 7th of September 2017
@Cibogy, 18.00 pm
Menunggu hujan, sambil bernyanyi rindu….
(eea…eaaaa….)