Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Sunday, November 12, 2017

Push My Limit (Menaklukkan Tantangan) Part 1

 
write on the sand



“You can conquer almost any fear if you will only make up your mind to do so. For remember this, fear doesn’t exist anywhere except in the mind.”
*Dale Carnegie*


Ngelakuin apa yang saya takutkan? Hiii… ogaaahhh!!!

Paling gak kalau hal yang menakutkan itu ditawarkan pada saya, mesti mikir ribuan kali untuk memutuskan ikut apa gak. Kalaupun must decide in a short time, mikir lagi untungnya apa dan ruginya apa, bahaya apa gak, dan kira-kira ini berguna apa gak. Hahaha… jadi banyak mikirnya deh… ujung-ujungnya udah bisa dibaca kalo akhirnya saya mengalah dengan keadaan.

Semua pertimbangan itu pada dasarnya adalah mengetahui di mana limit saya berada dan saya cenderung malas mendobrak limit yang sudah saya tetapkan. Misal, limit saya adalah kalau mau berenang hanya cukup di kolam seukuran 1.5 meter dan jika ada yang mengajak saya untuk ke kolam ukuran 2 meter maka menurut saya itu udah melewati limit saya. Untuk hal seperti ini maka saya perlu melihat apakah push my limit itu safe apa gak. Jika ada orang yang akan bertanggung jawab untuk menjaga saya di kolam itu, atau saya bisa menggunakan pelampung di dalam kolam itu. Jika saya menilai cukup safe maka saya akan berusaha mencoba, walaupun tetep aja mikir 17x.

Namun ada beberapa cerita yang membuat saya memutuskan untuk melewati limit saya tersebut. Seperti yang saya sebutkan tadi, pastinya setelah dibujuk-bujuk dengan berbagai macam cara dan jaminan “everything will be OK!”. Akhirnya mau deh…

Moment pertama yang membuat saya push my limit saya adalah saat saya diajak untuk naik Banana Boat di pantai Carita. Entah bagaimana ceritanya, pada saat liburan bareng temen-temen itu, salah seorang teman saya kepengen banget naik Banana Boat (Damn!). Setelah dia mengajak beberapa orang, maka seat banana boat tertinggal 1 dan dia langsung mengincar saya. Udah pasti langsung saya tolak mati-matian. Secara berenang aja saya gak bisa, ini udah mau nyemplung di laut. Gak kebayang deh gimana saya nantinya…hahaha…

Tapi teman saya itu (sebut saja si Mawar, hehehe) terus memaksa dan memberikan jaminan serta bujukan-bujukan manis pada saya. “Gapapa kok, Yas, kan pakai pelampung, gak bakalan tenggelam. Nanti pokoknya ente, ane selamatin duluan deh pas Banana Boat nya terbalik,”


Perahu tanpa banan nya yang puas banget ngerjain saya dkk

Abis naik banana boat malah ketagihan main di laut. Lol

Entah bagaimana, akhirnya saya terbujuk juga kata-kata manis itu. Didesak rasa penasaran saya juga sih sebenarnya. Tapi dengan adanya jaminan-jaminan itu, saya akhirnya memutuskan, “let’s try!”

Saya langsung memilih pelampung yang paling bagus, minta posisi duduk yang strategis, dan berkali-kali bilang pada si abang, “Bang, nanti kalau mau dibalikkan jangan lupa bilang-bilang ya!” hahahah… Pokoknya memastikan semua harus safe. Tapi tetap aja, saat sudah duduk di atas plastik berbentuk pisang itu berkali-kali saya minta TURUN! Hahaha… Namun setelah final conviction dari teman saya, udah deh saya Bismillah aja…

Dan eng ing eng…. Ban pisang itu pun melaju di atas air laut carita. Adrenalin bergemuruh kencang disertai rasa antara takut dan senang. Kemudian saat yang bikin deg deg an banget adalah saat pengemudi kapal boat yang menarik ban pisang itu menghentikan mesinnya dan berbelok tajam yang menyebabkan ban pisang terbalik! Byuuurrr!! Kami semua yang berada di atas ban pisang itu terjatuh ke laut. Pastinya saya panik banget! Tubuh saya seketika tenggelam di laut untuk kemudian menyembul kembali karena ban pelampung yang menempel di tubuh saya. Teman yang tadi berjanji pada saya itu langsung heboh, “Yas, mana, Yas??” Pada saat saya menyembul ke permukaan laut dia langsung mendorong saya naik kembali ke ban pisang tersebut. Perasaannya benar-benar antara senang dan takut gitu.

Tarikan kedua dan ketiga saya mulai menikmati berada di atas ban pisang tersebut. Namun saat ban pisang itu mau berbelok tajam, saya cuma pasrah saja sekarang. Mau lari pun udah gak bisa, jadi pasrah adalah sikap tertinggi saya…hahaha…

Teman-teman yang lain mulai berteriak-teriak menikmati permainan banana boat ini. Saya juga ikut-ikutan berteriak, tetapi tetap aja saat ban pisang itu membelok, saya hanya bisa pasrah “Oh God, Oh Lord!” Tanpa dinyata, ternyata ada salah seorang teman saya yang terlihat berani tetapi di atas ban pisang itu terlihat pucat dan ketakutan. Sepanjang permainan itu dia hanya diam saja dengan urat wajah tegang. Hahaha… udah pasti hal ini jadi pembahasan usai bermain.


Naik banana boat lagi di Bali, tapi request gak diceburin..hahaha

Another Push my limit experience adalah saat kebagian tugas untuk mengikuti acara latsar di kaki gunung Salak. Sebenernya males banget kalo ikut acara latsar yang “cowok” banget! Hahaha… Gak ada kerjaan aja bagi saya di kaki gunung, bukannya menikmati alam malah ngadain kegiatan-kegiatan gak jelas (saya kali ya yang gak jelas). Ditambah lagi ada rumor kalau nanti akan melakukan perjalanan kaki sejauh mata memandang (yang ternyata bukan sekedar rumor). Namun karena instruksi ini sifatnya “WAJIB” dari “struktur” maka dengan berat hati saya pun ikut.

Beberapa hari sebelum berangkat sudah pasti saya memikirkan apa yang akan terjadi disana. Kegiatan fisik sudah pasti bakalan menguras tenaga, ditambah lagi dengan berjalan kaki sejauh itu, sanggup gak ya? Pokoknya banyak pertimbangan deh! Ditambah lagi semua persiapannya harus serba komplit dan sempurna. Bekal makanan yang pasti yang banyak juga, haahah…

Dan benar saja semuanya seperti yang sudah saya bayangkan. Pelatihan fisik sana-sini yang ya ampyun bikin badan saya remuk abis. Tapi ya, Alhamdulillahnya saya masih bisa menangani dengan baik, malah banyak teman-teman saya yang lain yang fisiknya kelihatan bagus tapi sudah ambruk duluan. Ya, paling gak, saya bukan yang malu-maluin lah di grup saya itu..hehehe…

Sampai suatu ketika, ada acara outbond yang mengharuskan peserta untuk terjun perosotan dari atas tebing yang sudah dibuat seperti seluncuran. OMG! Jarak antara atas tebing dengan dasarnya itu kira-kira 5 meter! Semua tim dan semua anggotanya harus ikut meluncur. Saat saya sudah siap-siap mau meluncur ke bawah, datang panitia yang memberitahukan bahwa wahana seluncuran ini ditiadakan lagi setelah salah seorang kakak kelas saya di SMA dulu jatuh dan terkilir kakinya. OMG! Benar-benar kayak mendapat kabar durian runtuh! Im in the cloud nine! Tapi ternyata wahana lainnya yang lebih syerem dan menakutkan sudah menunggu. Wahana itu adalah masuk ke dalam parit kecil yang penuh dengan air lumpur sepanjang 50 meter dengan atas parit itu ditutupi pagar kayu yang diberi dedaunan. Mirip banget kayak perang Vietnam…hahahah…

Sampai di depan parit itu saya agak ragu untuk turun ke dalamnya. Berbagai macam kekhawatiran berada di benak saya. Gimana kalau saya gak bisa nafas? Gimana kalau ternyata airnya bikin gatel-gatel? Gimana…gimana…gimana…. Namun di short time kayak begitu, saat semua anggota regu saya sudah pada masuk ke dalam parit itu dan anggota grup lain sudah menunggu di belakang, saya terpaksa ikutan masuk ke dalam parit. Di dalam parit saya benar-benar harus membenamkan kepala saya ke dalam air lumpur itu sambil menahan nafas beberapa saat menuju ujungnya. Awalnya memang masih ada celah-celah pagar kayu itu yang bisa membuat saya tak perlu membenamkan kepala, tetapi semakin ketengah, pagar kayu itu semakin rapat. Saya sempat panik di tengah parit itu, tetapi lagi-lagi saya push my limit saya untuk terus berjalan dan akhirnya sampai ke ujungnya juga! Setelahnya, selain ucapan syukur, saya tersenyum puas dan bangga pada….. diri saya sendiri dong….hahaha…

Pada final days, perjalanan yang ditunggu-tunggu itu pun sudah di depan mata. Kebayang banget deh lelahnya, jalan sejauh mana juga gak ngerti sambil membawa tas ransel yang berisi perlengkapan selama 4 hari 3 malam. Ya ampyun…. ngebayanginnya aja udah males nulis…hahaha…

Saya dan teman-teman berjalan dengan semangat di paruh pertama perjalanan kami. Paruh perjalanan kedua, beberapa orang mulai lost their patient. Bertanya seberapa jauh lagi perjalanan dan sepertinya tiada akhirnya. Beberapa di antara mereka sudah mulai ketahuan aslinya J Dan paruh terakhir, yang semangat memimpin di depan, yang banyak mengeluh berada di belakang. Saya sendiri berusaha menikmati perjalanan ini. Capek udah pasti tapi ya udah jalanin aja, mau gimana lagi, yekan? Sebenarnya saya juga udah kelelahan setengah mati, tapi lagi-lagi I push my limit. Kali ini saya membayangkan, si Riyanti Djangkaru aja bisa menaklukkan gunung dan melakukan perjalanan jauh, masa aye yang zaman itu adalah seorang ikhwah fillah, bisa sih kalah sama dia? Malu booo! (hahaha…)


Ngaso dulu di paruh pertama menjelang down hill lagi. Ini di kawah ratu yang bau sulfur bingits

Saat sampai di tujuan, saya senangnya bukan main, apalagi saya termasuk golongan orang yang sampai tujuan awal waktu. Beberapa teman yang ikhwah fillah banget dan jagoan orasi malah terseok-seok di belakang. Saat itu jahatnya saya keluar dengan menertawakan mereka terbahak-bahak. Lagi-lagi berhasil menaklukkan tantangan dengan push my limit! Sesudahnya langsung merasa PD tingkat dewa, sambil bilang ke diri sendiri “Gue bisa loh!”

Saya jadi teringat quote nya Om Walt : If you can dream it, you can do it. Atau sebuah hadits yang berbunyi : Aku mengikuti prasangka dari hamba-Ku. Maka semua hal yang kita lakukan dan keputusan yang kita ambil berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ya, we act based on what we think!

Manusia itu pada dasarnya memiliki potensi diri masing-masing yang mengikuti kemampuan mereka. Beberapa di antara mereka ada yang PD tingkat dewa, potensi gak ada dan kemampuan standar tapi beraninya luar biasa. Ada juga yang ‘humble’, kemampuan dan potensi ada dan mereka in the right path. Dan mereka yang punya kemampuan dan potensi diri tapi mereka merasa gak PD. Yang terakhir (katanya sih) saya banget!

Menaklukkan tantangan bukan sekedar bisa melakukan suatu kegiatan yang kita sendiri gak pernah membayangkan bisa melakukan hal itu, tetapi juga masalah hati dan pikiran. Sudah pasti pada saat ingin mendorong diri kita pada batas kemampuan diri kita, pikiran kita berperang gila-gilan. Berbagai argumentasi diri sendiri sudah pasti memaksa kita untuk think fast in short time. Belum lagi batin kita yang mesti ikutan diajak kerjasama juga. Ditambah jika hasilnya gak memuaskan, sudah pasti rasa penyesalan berkecamuk di dalam hati disertai angan-angan “jika begini mungkin begitu, jika begitu mungkin begini”. Ujung-ujung semakin susah saja untuk memembus batas nilai diri kita. Tetapi jika hasilnya menarik dan beyond our expectations, udah pasti kita jadi bertambah percaya diri dan memiliki nilai plus bagi diri kita. Next time, kita ingin menaklukkan tantangan lagi, keoptimisan sudah timbul berkat pengalaman sebelumnya. Paling gak, walaupun belum optimis-optimis amat, kekhawatiran diri kita sedikit berkurang.

Pada akhirnya, tantangan itu hadir untuk men-challenge diri kita dan melatih keberanian kita. Mereka yang begitu dapat tantangan langsung mundur feels like lost in the war before it started. Mereka yang dapat tantangan malah dikalahkan oleh tantangan itu, sudah pasti bakalan stress berat. Mereka yang bergembira mendapat tantangan, bisa dipastikan keoptimisan menyertai hari mereka. Jikalaupun mereka gagal, mereka sudah belajar dari pengalaman. Jadi, diri kita sendiri yang memutuskan seperti apa sikap kita jika menerima tantangan.

Hidup itu sendiri pada dasarnya adalah tantangan. Manusia diberikan cobaan dan tantangan dalam mengarungi kehidupan ini. Whether they will happy or whether they will full of sad, moaning, and grumbling. Berpikir matang itu bagus dan tidak salah, tapi kalau kematangan jadi gosong juga kali yee… Jika gagal menaklukkan tantangan, at least you have learnt from what you did.

Push your limit juga jangan lupa ya, perhitungan baik buruknya dan resiko yang bakal kita hadapi. Jangan asal puh the limit aja. Make a fast decision in the shortest time. Kalau kiranya kita gak mampu dan bukan kita banget, better let it go! Tapi kalau kita mampu tapi belum PD aja, take a risk and conquer the challenge! (kompor.com)

Intinya adalah state of your mind. Cobalah untuk tidak overthinking dan just do it. Sometime kita perlu membiarkan intuisi kita berjalan tanpa perlu memikirkan apa-apa. Karena kalau kebanyakan mikir sudah pasti akan kehilangan kesempatan. Berpikir boleh asal jangan kebanyakan. Mending banyak makan daripada banyak pikiran…hahaha…

Sebenarnya masih banyak cerita yang membuat saya menabrak limit diri saya sendiri, namun gak mungkin kali yee diceritain semua disini. Beberapanya mungkin akan saya ceritakan secara terpisah. Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri dan tidak usah berpikir macam-macam. Ingat saja Allah, karena kalau mengingat Dia hati akan merasa tenang. Karena semuanya sudah ditetapkan dan diatur oleh-Nya. Tugas kita hanya menjalankan apa yang sudah menjadi takdir-Nya. Ingat, You only live once, don’t make it in vain and don’t be regret!! Enjoy your life, take a challenge and push your limit!!***(yass)



Jakarta, 11th of November 2017
@Transmart , 18.01 pm
Waiting “Duka Sedalam Cinta”
Bicara latsar, jadi inget Kak Panji. Di mana ya beliau sekarang?



Ps. 
My another pictures of conquer the challenges!



Nyelem dan berenang2 ria di Pulau Sempu yang jalannya aja bikin lapar 7 hari

Jangan pernah nawarin saya flying fox pada saya yang aerophobia.
Tapi akhirnya nyoba ini juga karena : PENASARAN

Di atas bukit di Pulau Sempu yang monyetnya bejibun dengan latar belakang samudra hindia.


Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...

Wednesday, March 15, 2017

Becoming A Fat Person!



" Berapa berat badan kamu, Yass?"

Jika pertanyaan ini diajukan 16 tahun yang lalu maka saya hanya bisa nyengir kuda saja. Betapa cungkringnya saya di masa itu dengan pipi tirus layaknya model-model yang diet makan. Model mah keren ya punya pipi tirus, lah saya? Antara setengah keren atau kekurangan gizi. Hahahah...

Saya merasakan sekali susahnya menaikkan berat tubuh. Zaman SD berat badan saya cuma 45 kg. Dengan tinggi badan sekelas model 😅  sekitar 155 cm, berat badan segitu sungguh tidak ideal. Badan saya tinggi menjulang dengan tubuh kurus kering. Gak heran kalau kemudian saya dibully dengan sebutan "Jelangkung" ataupun sindiran-sindiran setipe.

Pada saat SMA, berat saya bertambah menjadi 55 kg. Bukan lemaknya yang bertambah tapi tulangnya! Hahahah.... karena tinggi badan saya juga bertambah maka otomatis berat tulang juga bertambah. Dan 55 kg itu turun naik bergantian. Kadang 55 kg, next time 53 kg. Next time lagi 52 kg. Mentok lagi di 55 kg. Turun naik silih berganti tapi gak pernah melewati angka 55 kg. Rasanya tuh naik 1 kg aja susahnya minta ampun. Padahal udah makan banyak, minum susu, bla bla bla yang lain. Tapi tetap aja mentok lagi di 55 kg terus.

Jangan tanya untuk turunnya. Gak makan dikit aja, atau puasa sunnah aja, otomatis tubuh langsung berkurang beratnya. Tinggal naikinnya berjuang dengan sekuat tenaga membara bergelora dalam dada mememuhi rongga-rongga hingga tiada tersisa... hehehehe....lebay.com.

Pernah saat akan menjadi donor darah langsung ditolak dengan alasan proporsi berat dan tinggi tidak ideal. Setelah itu dapat celetukan, "kalo ente donorin darah, tubuh ente bakalan tambah kurus deh Yass,". Tinggal saya bengong sambil nelen plastik...hahaha

Beberapa teman yang senasib dengan saya juga merasa bingung dengan apa yang terjadi. Seorang teman malah merasa takjub melihat lengan saya yang katanya pipih bagai batu pipih purbakala...hahaha... Boro-boro ada otot di lengan saya. Yang ada setiap kali saya mengencangkan lengan, malah timbul penampakan tulang-tulang rangkanya.

Wajah pun semakin tirus, bukan karena kekurangan gizi tapi karena lemak yang enggan nempel. Perut udah gak perlu ditanya lagi, setiap meraba bagian dada langsung muncul tulang-tulangnya. Kalau ketemu orang gemuk, langsung curhat dan minta tips gimana caranya biar jadi gemuk. Segala tips saya coba lakukan, mulai dari minum susu sebelum tidur, makan mie instant setiap malam, minum susu bla bla bla, dll. Tapi hasilnya tetap aja nihil. Naik sih, tapi cuma 0,01 kg! hahaha...

Setiap ketemu teman, saudara, atau siapapun, pasti komentar utamanya, "Kamu kurus banget sih, Yas? Coba deh kamu gemukin badannya dikit,". Awalnya sebel tapi lama kelamaan jadi kebal.

Tetapi ada juga keuntungan menjadi kurus. Dengan tubuh kurus saya otomatis terbiasa berjalan dengan cepat. Sampai ada yang bilang, "Yas, orang baru sekali melangkah, ente udah dua langkah,". Terus saya juga terbiasa lari tanpa berhenti. Jadi klo ada atletik dari sekolah atau pada saat lari pagi, saya bisa berlari 800 meter tanpa berhenti. OMG!

Keuntungan lainnya menjadi kurus adalah pergerakan saya menjadi lebih ringan. Suatu kali pada saat sedang mukhoyam (berkemah), pada saat acara outbond, saya dengan mudah menaiki palang bambu bertingkat atau keluar dari selokan dengan cepat. Ya, dibandingkan dengan beberapa teman yang berbadan besar, saya merasa lebih cepat. Beberapa teman gerombolan berat itu ada yang sepertinya bersusah payah untuk menaiki anak bambu. Beberapa orang malah mencoba membantu menopang tubuh orang itu. Kalau lihat momen seperti ini bikin tersenyum sendiri deh.

Akhirnya saya memutuskan untuk menerima tubuh saya apa adanya. Sambil tetap berusaha menaikkan berat badan. Yang terpenting bagi saya adalah tetap lincah dan sehat pastinya ya. Dengan tubuh kurus di zaman itu, saya senang berjalan jauh (rekor terjauh adalah Bogor Jakarta jalan kaki), lari pagi tanpa berhenti, dan kemana-mana bisa bergerak dengan cepat.

Dan................ eng ing eng......

Pada suatu hari, di minggu yang cerah bertepatan dengan acara CFD, seperti biasa saya jogging minggu pagi. Dan kenyataan pahit itu pun menghampiri. Kalau sebelumnya saya terbiasa lari selama 30 menit tanpa berhenti, sekarang... baru 5 menit sudah ngos-ngosan. Udah seperti butuh tambahan oksigen dan nafas buatan, eh gak deng... bener-bener seperti berat membawa tubuh ini untuk lari. OMG! What's going on with me?

Pada suatu acara mukhoyam pun, beberapa tahun sebelumnya, saya juga merasakan hal yang sama. Saat akan memanjat pagar bambu, rasanya mengangkat paha itu berat bangets! Begitu juga saat akan naik dari sebuah parit kecil di pegunungan, mengangkat paha juga terasa berat. Ditambah lagi pakaian yang basah menambah berat beban tubuh. Jadilah saya berkali-kali mencoba mengangkat tubuh saya. Berkali-kali jatuh, berkali-kali bangkit lagi. Rasanya saat itu pengennya diangkut pake rakit deh...hahahah...

Dan saya pun menimbang berat tubuh saya. Di angka timbangan itu tertera "63.5" kg! OMG! Sejak kapan berat badan ini naik dengan drastis? Terakhir, pada saat menulis ini, berat saya sudah 67.5 kg! Gubrakkk!!

Setelah saya pikirkan dengan seksama, ternyata pola makan saya memang yang membuat tubuh saya bertambah bobotnya. Perjalanan ke tempat kerja yang jauh, Jakarta - Bekasi, mengendarai sepeda motor membuat saya cenderung cepat lapar. Konsekuensinya, setiap pulang kerja saya pasti menuruti kemauan saya untuk mampir ke tempat-tempat makanan tertentu mulai dari makan pizza, ayam bakar, ayam kaki 5, seafood, roti bakar, empal gentong, dll atau sekedar duduk nongki-nongki chanci sambil nulis blog ditemani minuman favorit dan cemilannya (walaupun pada kenyataannya, minum dan ngemilnya lebih banyak ketimbang nulisnya 😎  hahaha... jadilah perut saya mulai mengembang.

Motto "Lebih baik makan banyak biar sehat daripada sakit," ini juga yang membuat saya selalu berkompromi untuk mampir tempat-tempat makanan itu. Bayangkan saja, pagi seusai sarapan nasi rames, jam 10 nya sudah mulai berontak lagi itu perut. Belum ditambah makan siang, cemilan sore dan makan malam serta cemilan sebelum tidur. Aihh.....

Kalau dulu saya bisa menahan lapar dari pagi sampai malam tanpa makan apapun, sekarang sepertinya itu hanyalah sebuah mimpi. Selain ada kemungkinan mag saya kambuh, rasa lapar itu terasa cepat banget datangnya. Jadi klo kata orang betawi, saya tuh "ngeganyem" terus kerjaannya.

Hal lain yang membuat badan saya melar adalah kebiasaan saya jalan kaki juga mulai berkurang. Kalau dulu saya sering wara-wiri berorganisasi, sekarang semuanya sudah mulai berkurang. Jika saya punya waktu libur, saya lebih senang mendekam di kamar atau jalan-jalan....... wisata kuliner! hahaha... lagi-lagi gak jauh dari makanan.

Sekarang jalan sedikit aja udah ngos-ngosan. Lari pagi belum semenit udah terengap-engap. Jauh berbeda dengan yang dulu. Dulu enggan banget naik motor. Naik angkot or kereta lebih asyik. Tapi semenjak kemacetan merajalela, kerjaannya naik motor melulu untuk menghindari kemacetan di dalam angkot. Hadeeehhh...

Saya semakin tersadar bahwa tubuh saya berubah saat tahiyat awal atau akhir dalam sholat. My hip is thicker than before! Iya disitu menggumpal lemak. Belum lagi sapaan orang-orang lama jika ketemu dengan saya, "Yass, kamu sekarang gemukkan ya?"

Sebenarnya gak apa-apa sih menjadi gemuk tapi jika dibarengi dengan pergerakan tubuh yang tinggi juga. Tapi sayangnya dalam kasus saya malah jadi lebih cepat capek dan malesssss.....

Akhirnya saya pun tersadar. This is cursed of fat people! OMG syeramnyaaaa.... Im in the shoes where I never thought before. Rasa merasakan apa yang dulu tidak pernah saya bayangkan. Jadi gemuk! Welcome the club, Yass! Teringat dulu sempat mencandai teman yang bertubuh gemuk.

Jika melihat foto awal-awal yang saya upload di accoun sosmed saya dengan foto2 yang sekarang, jelas terlihat perbedaannya. Pipi tirus bak model itu sudah tidak ada disana, berganti dengan pipi chubby gak, gak chubby pun juga nggak, pipi pertengahan...hahaha...

Jadilah saya memutuskan untuk mengontrol jumlah asupan makan saya. Sekarang sebisa mungkin saya menghindari karbohidrat dan gula. Dan jumlah makanan yang masuk pun sebisa mungkin saya batasi. Walaupun saat ini tebih banyak yang dilanggarnya...hahaha... tapi demi mengembalikan gerakan prima saya, maka saya harus berusaha sekuat tenaga.

Ditambah lagi dengan bertambah tuanya saya, saya menyadari mekanisme kerja tubuh pun melambat sehingga mengakibatkan perut yang terlihat seperti orang sedang hamil....hahaha. Antisipasinya, saya enggan memakai kaos tipis yang bisa menonjolkan perut saya... hahahah...

Yang terpenting sekarang adalah bagaimana saya bisa tetap sehat dan prima. Dulu saya pernah berpikir, "orang berumur **** (sensor) rasanya seperti apa ya?" And now Im there!! Rasanya ya gak seprima waktu masih muda dulu.

Sekarang adalah waktunya menjaga kesehatan, menata pola makan, melihat apa yang kita makan dan mengurangi makanan-makanan yang memicu suatu penyakit. Gemuk asalkan sehat itu lebih baik. Kurus dan sehat itu juga bagus. Semua adalah karunia dari Allah. Banyak kok orang yang gemuk tapi lincah kesana kemari dan gesit. Banyak juga orang kurus yang kerjanya malas-malasan. Asalkan semuanya sesuai dengan porsinya maka itu akan menjadi lebih baik. Dalam Islam dikatakan, yang pertengahan adalah yang lebih baik.

Membully orang gemuk atau kurus adalah cara terendah menutupi aib diri sendiri. Memotivasinya untuk hidup sehat itulah yang paling bagus. Yang terpenting, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan, when there's a will there's a way.

Jadi, untuk sekarang saya mencoba berdamai dengan diri saya sendiri sambil berucap,"Ok, you can to be fat but you dont have to loose your positive energy". Pikiran kita adalah sumber yang utama. Allah juga menegaskan bahwa ketakwaan seseorang itu tidak memandang fisik. Mau gemuk ataupun kurus asalkan bertakwa, maka itu yang terbaik.

So, jadi gemuk?? Siapa takut! Menjadi kurus?? Jangan dong kalau bisa....hehehehe***(yas)






Bekasi, 15th of March 2017
16.50 @my office
Stay Healthy! Stay Positive!


Saturday, February 25, 2017

One Step Closer



" Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [his desire]. And what is the life of this world except the enjoyment of delusion "
***

Telepon rumah saya berdering. Pagi itu baru saja subuh berlalu dan orang-orang baru pulang dari masjid. Saya enggan mengangkat telepon itu. Telepon di rumah memang sudah jarang digunakan. Alat itu hanya digunakan untuk menyambung jaringan internet saja. Terlebih semua anggota rumah sudah memiliki ponsel, jadi semakin jarang yang menggunakan telepon itu.

Ayah saya yang mengangkat. Kakak saya yang menelepon. Dia mengabarkan bahwa suaminya sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Kakak saya meminta untuk diberitahukan kepada anggota keluarga yang lain karena saat menghubungi lewat ponsel tidak ada yang mengangkat. Mungkin wajar, karena waktu masih pagi sekali.

Ayah saya bergegas mengeluarkan motornya dan berangkat menuju rumah sakit tempat kakak ipar saya dirawat. Saya meneruskan aktivitas pagi saya sebelum berangkat kerja, mandi, berpakaian, dan pergi ke tempat kerja. Sehari sebelumnya saya sudah tidak masuk kerja karena banjir yang masuk ke rumah kami. Jadi saya mengurungkan niat untuk membersamai ayah saya. Saya pikir mungkin sepulang mengajar saya bisa mampir.

Kakak ipar saya memang sedang mengalami masalah dengan kesehatannya. Sudah bolak balik rumah sakit dan menjalani pengobatan yang panjang. Beberapa kali dibawa ke UGD dan sehat kembali. Namun yang sekarang tampaknya lebih serius, karena sudah beberapa hari di rumah sakit dan belum diperbolehkan pulang. Dari informasi yang sempat saya tanyakan, paru-paru kakak ipar saya sudah terendam. Dulu dia salah seorang perokok namun sudah berhenti beberapa tahun yang lalu.

Motor saya baru saja dikeluarkan, lalu terdengar suara mikrofon dari masjid terdengar menyeruak di angkasa. 

"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..."

I felt bad after hear this. Dan benar saja, pengumuman di masjid itu mengabarkan bahwa kakak ipar saya telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun. Hanya kepada Mu lah kami semua akan kembali.

***

Beberapa tahun sebelumnya, saya kehilangan Ibu saya. Saya masih ingat betul hari itu. Minggu menjelang malam, untuk pertama kalinya saya enggan untuk pulang ke rumah dari kost saya. Biasanya saya memang selalu pulang ke rumah setiap minggu, tapi entah kenapa minggu itu saya terasa berat sekali pulang ke rumah. Hari itu menjadi THE WORST day of my life. MY VERY VERY VERY BAD DAY! Losing your love one feels like loosing your soul. There's no need to do everything except crying all day. Omg! Worst...worst...worst...

Saya dan ibu saya memang sangat akrab.Tapi saya tak pernah terbuka padanya, bagi saya agak risih aja kalau menceritakan pengalaman pribadi ke ibu. Karena saya anak terakhir maka saya sering bermanja-manja padanya. Seringkali saya juga bercanda dengannya, semisal dengan mencubit pipinya dan lainnya. Sobat akrab saya, Aris, sampai sering tertawa ngakak melihat keakraban saya dengan ibu saya yang sering saya bercandain. 

"Ente sama mommy ente bener-bener akrab ya, Yas. Ada gak ya ikhwan yang keakrabannya kayak ente sama mommy ente," ujar si Aris.

Namunhari kehilangan beliau benar-benar raga saya kehilangan segalanya. Mengingatnya saja sekarang sudah membuat saya ingin menangis. Mengenangnya... ah, sepertinya saya tidak sanggup. Hari ini semua perasaan sesal, sedih, kehilangan, dll seolah menjadi satu. Melihat orang yang sangat dekat denganmu dan amat sangat kita cintai membujur kaku dihadapan kita tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi jika kita merasa bersalah besar pada orang itu. Menangis pun rasanya USELESS. Benar-benar tak ada gairah hidup setelahnya. Merenung berhari-hari di kamar, kemudian saat bekerja mencuri waktu ke toilet dan menangis kembali saat mengingatnya, kehilangan nafsu untuk makan, merasa seperti half of my soul has taken away! The most enermous sadness!

Tak lama setelah kehilangan Ibu, saya kehilangan Murobbi saya. Beliau memang sudah beberapa tahun terkena kanker nesofaring dan pada saat kematian beliau, beberapa kali beliau mengalami kondisi tak sadarkan diri. Namun semangat beliau amat sangat luar biasa! Dia adalah orang yang paling bersemangat yang pernah saya kenal. Bahkan di saat sakit beliau, beliau masih merasa optimis dan anti mellow. Beliau masih sibuk membantu orang lain. Semangat beliau itulah yang kadang membuat saya kangen pada beliau. Teringat suatu malam saat saya sedang ada masalah berat, saya datang ke rumah beliau dan mencurahkan semua uneg-uneg sama sambil menangis sejadi-jadinya. Atau teringat kenangan pada saat saya tinggal jauh di Yogyakarta dan homesick, beliau yang selalu menguatkan. Benar-benar kangen sekangen-kangennya dengan beliau.

Waktu itu hari Jum'at. Jam mengajar saya full jadi saya tidak sempat membuka-buka ponsel saya. Seusai sholat Jum'at, di layar ponsel saya tertera beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan via wa yang membanjiri ponsel saya. Saya benar-benar tidak ada feeling apa-apa saat membukanya. Ternyata di grup wa teman-teman SMA angkatan saya sudah banyak yang berkirim ucapan istirja. Saya belum paham siapa yang meninggal, sampai akhirnya saya menemukan nama Murobbi saya tertera disana.

Setelah mencari kepastian dengan menelepon sahabat-sahabat saya, maka saya segera melarikan motor saya ke tempat murobbi saya. Perjalanan Bekasi - Depok yang jauh terasa semakin jauh dengan mengingat wajah murobbi saya. Sepanjang perjalanan saya menangis mengingat kebaikan beliau pada saya. Hingga akhirnya saya harus berpisah dengannya di makam itu, rasaya ingin sekali membuka mata saya dan mengatakan bahwa ini adalam mimpi. Sometimes reality bites harder!

Kehilangan yang terlampau sakit lainnya juga saya rasakan saat saya kehilangan kakak saya. Terlebih saat itu saya sedang mengalami heart feeling dengannya. Lagi-lagi berita itu saya terima pagi-pagi. Kakak saya sedang dibawa ke UGD. Namun saya masih malas untuk menjenguknya karena heart feeling itu. Tak lama setelah saya selesai mengajar, saya menerima wa yang isinya mengabarkan bahwa kakak saya telah tiada. It's really pounding my heart. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Feel guilty nya itulah yang membuat saya merasa tersiksa. Perlu beberapa waktu untuk akhirnya berdamai dengan keadaan ini. 

***

Memaknai kematian sepertinya susah untuk dijelaskan. Bisa jadi itu terlampau cepat, bisa jadi pula itu terlampau lama. Bisa jadi orang yang pergi itu baru saja berada di hadapanmu, dan detik berikutnya dia sudah membujur kaku di depanmu. Bisa jadi senyumnya adalah pertanda yang terakhir kali namun kita tidak memahaminya. Bisa jadi pula, dia mengucapkan sesuatu yang memberikan kita kode tapi kita baru menyadarinya setelah dia pergi untuk selamanya. Selamanya, kematian adalah sebuah misteri.

Allah sendiri sudah menjelaskan semuanya dalam Al-Qur'an bahwa kematian itu cepat atau lambat pasti akan datang menghampiri kita. Dengan berbagai cara yang kita tidak tahu. Kematian seseorang itu akan mengikuti kebiasaan dari orang tersebut (Naudzubillahi Min Dzalik). Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kita makhluk bernyawa, dan kita pasti akan merasakan mati.

Saya teringat akan kisah Nabi Sulaiman dengan Malaikat Maut. Waktu itu Malaikat maut sedang berkunjung ke tempat Nabi Sulaiman. Salah seorang teman Nabi Sulaiman juga sedang berkunjung. Saat itu Malaikat maut kaget menatap teman Nabi Sulaiman. Dia memandang orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sang teman yang merasa diperhatikan dengan seksama itu merasa tidak sendiri. Dia merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu kalau itu adalah Malaikat Maut, namun pandangannya yang tajam membuat dia menjadi ketakutan sendiri. Dia pun mendekati Nabi Sulaiman dan membisikinya.

"Wahai Nabi Sulaiman, tolong pindahkan ke sebuah gunung yang tinggi. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan temanmu itu," ujar teman Nabi Sulaiman sambil memandang Malaikat Maut yang belum berhenti menatapnya.

Nabi Sulaiman pun dengan kemampuannya segera memindahkan sang teman sesuai permintaannya. Kemudian dia mendekati Malaikat Maut yang masih tampak kebingungan.

"Wahai Malaikat Maut, kenapa kau memandangi orang itu dengan tatapan aneh. Adakah yang salah dengannya?" ujar Nabi Sulaiman.

Malaikat Maut menatapnya dan mengatakan, "Aku merasa heran. Hari ini aku menerima perintah untuk mencabut nyawanya di sebuah pegunungan yang tinggi, tetapi kenapa orang itu ada disini,".

Masya Allah... sungguh maut itu tidak mengenal tempat dan waktu. Jika memang sudah waktunya maka pasti tak akan bisa digeser walaupun sedetik. Tak bisa ditunda, tak bisa dinegosiasi, tak bisa dialihkan. Semua tunduk pada ketetapan Nya. Dialah yang menjadi pemutus kenikmatan dunia, pemutus hubungan anak dan orang tua, pemutus kesenangan yang sementara yaitu dunia.

Pada awal kita menerima berita kelahiran, kedatangan seorang bayi mungil, yang kemudian menjadi besar dan dewasa. Kita menerima kabar-kabar kebahagiaan dengan hadirnya orang-orang disekeliling kita yang membuat kita tertawa, menangis, bahagia, sedih, dan lainnya. Namun kemudian kita menghitung kehilangan kita. Satu per satu mulai meninggalkan kita tanpa kita pernah bisa menduganya. Kelahiran seseorang itu bisa diprediksi, namun kematian seseorang itu hanya Allah yang tahu. 

Perlahan-lahan saat umur kita semakin bertambah, orang-orang disekeliling kita pergi satu persatu. Pada saatnya maut itu akan menghampiri kita juga. Hari-hari kita adalah hari-hari di mana kita mendekat selangkah demi selangkah menuju titik kita kembali kepada Nya. Bagi orang yang beriman, kematian adalah sesuatu yang membahagiakan karena disitulah tempat mereka bisa bertemu dengan Rab yang selalu mereka rindukan setiap waktu. Sedangkan bagi mereka yang terlampau jauh dari Allah (I think, I'm one of them 😭  ), kematian adalah suatu hal yang menakutkan, mengingat banyaknya kesalahan yang telah dilakukan. Alangkah indahnya jika taubat menjadi pintu perubahan dan titik balik dari kita sebelum maut menghampiri. Insya Allah. Semoga Allah selalu mempermudah kita pada saat detik-detik kematian kita, dan meridhoi amalan yang kita lakukan. Pada saat waktu itu datang, semoga saya dalam keadaan baik Ya Allah. Aamiin Ya Rabbal Alamin

***

Pada saat kondisi sakratul mautnya, Nabi Muhammad meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan semua sakratul maut ummatnya hanya kepadaya. Beliau merasakan betapa dahsyatnya sakratul Maut ini sehingga beliau merasa umatnya tak akan sanggup memikulnya.

Namun Malaikat Jibril menolaknya. Dia mengatakan bahwa semua jiwa akan merasakan betapa dahsyatnya sakratul maut. Nabi Muhammad pun berlinang air mata.

Ya Rasulullah, jika engkau saja yang maksum merasakan dahsyatnya sakratul maut, bagaimana dengan kami ummat mu, Ya Rasul? Tak sanggup bagi kami untuk membayanginya 😭😭😭  

Sebuah bait nasyid, Pergi Tak Kembali, dari Rabbani semoga bisa menjadi penguat kita untuk terus memperbaiki diri agar bisa menemui kematian dengan cara yang baik.

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baiklah atau sebaliknya
Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi


Kami berserah diri kepada Mu, Ya Allah. Jadikan kematian itu mudah bagi kami dan bukan sesuatu yang kami takuti. Jadikan ia sebagai jalan menuju puncak kerinduan kami untuk bertemu dengan Mu, Wahai Tuhan Semesta Alam***(yas)


Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran : 185)


Jakarta, 27th of February 2017
18.03 @Carl's Junior Buaran



They are Who had already gone 😭😭

The worst day in my life. It still hurts whenever I remember this

He laid down here. I miss him everyday and still counting

Im feeling guilty to her. If I could change this feeling. It sucks!