Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Sunday, April 29, 2018

Movie Review : Avengers Infinity War - Film Kebanyakan Hero (SPOILERS ALERT)


 
picture courtesy from Google


Pada akhir film Avenger yang pertama, di post credit scene nya muncul Thanos yang menggambarkan film ini akan berlanjut dengan memburu Thanos sebagai musuh utamanya. Selang beberapa tahun kemudian, setelah masing-masing memiliki filmnya sendiri-sendiri, maka tahun ini munculah Avengers : Infinity War yang digadang-gadang akan menjadi box office di tahun 2018. Nah, kira-kira gimana ya film ini? Let’s check my review!


Setelah kehabisan tiket di hari kedua pemutarannya. Ya iyalah, saya datang ke bioskop jam 18.00 sedangkan film yang saya incar yang 18.35 (waktu aman bagi saya karena selepas sholat maghrib). Namun, saya berharap ada satu kursi yang “nyempil” karena saya kan seorang diri (baca : jomblo). Namun nyatanya, kursi yang kosong ada di deretan paling depan. Langsung deh saya batal nonton.

Kemudian baru hari sabtu saya bisa menonton film ini bersama bocah-bocah di kelas saya. Eh, gak disangka saya malah gak bisa nonton karena kurang beli tiket! Saya kira yang ikut nonton hanya 8 orang termasuk saya, nyatanya saya menjadi orang kesembilan. Mau beli tiket dengan jam pertunjukan yang sama, lagi-lagi hanya sisa bangku paling depan. Ya sudah, akhirnya saya mengalah, menonton di show berikutnya.

Film dibuka dengan adengan Thanos dan Black Order berhasil mengalahkan Asgard. Mereka meminta Loki untuk menyerahkan Tesseract stone yang dulu pernah dimilikinya. Thor yang pada film singlenya kehilangan martil andalannya ditahan (dan anehnya kenapa gak dibunuh ya sama Thanos dkk? Apalagi saat ditangkap sikap si Thor ini nyebelin banget). Pada saat Loki akan menyerahkan batunya, datang bala bantuan yang tidak diduga. Namun bala bantuan itu justru kalah oleh Thanos dan dengan kekuatan sisa dari penjaga Asgard, bala bantuan berhasil dikembalikan ke negeri asalnya. Tragedi di asgard ini berakhir dengan dibunuhnya Loki.

Fase kedua yang menjadi incaran adalah batu yang dipakai oleh Dr. Strange. Lagi-lagi yang bikin saya BT banget (dan beda banget sama film solonya si Strange), Dr Strange malah “belagak” mau menjadi juru selamat dengan tetap menahan batu itu. Kalau ketahuan batu itu bikin orang jadi jahat mending dihancurin aja yekan? Akhirnya Dr Strange dan Iron Man ples Spidey keangkut kapal Maw. Anehnya lagi, Dr Strange kan bisa buka portal ke tempat-tempat lain ya? Kenapa disini dia benar-benar kayak orang gak berdaya gitu. Jadi kayak lemah gitu deh! Untungnya kharisma Benedict Clumberbatch memaafkan ketololan dari Dr Strange. Udah tau mau ditangkep, pergi kek kemana.

Next, scene di Scotland saat Wanda dan Vision lagi berduaan. Tiba-tiba keduanya diserang oleh anggota Black Order karena ingin mengambil batu yang ada di jidat Vision. Disinilah keduanya dibantu oleh anggota Avengers yang lain, Captain America (Chris Evans beneran kece badai), Black Widow, dan Falcon. Sayangnya saat kedua anggota black order itu udah terdesak, eh malah dibiarin kabur. Biar durasi filmnya panjang kali yee…

Adegan di Wakanda pun begitu. Saat Avengers sepakat mengambil batu di jidat Vision tanpa harus melukainya, maka tempat terbaik adalah WAKANDA FOREVER! T’Challa dan semua krunya bersedia melawan alien-alien gak jelas itu yang jumlahnya ribuan. Di adegan ini kembali saya menjadi gak suka sama T’Challa yang kesannya sekedar ditempel aja. Wakanda itu bukannya tempat yang susah dicari ya? Kok tetiba para Black order itu gampang banget nemuin. Ditambah lagi Wanda kok jadi lemah banget sih. Padahal, kalo aja dia ngerelain Vision “pergi” paling gak dia udah nyelametin dunia. Nanti bisa deh cari penggantinya Vision (apa sih gw?). Hehehe. Untung aja pas keadaan terdesak datang Thor yang sudah punya senjata baru.

Genk Guardian of Galaxy pun begitu. Mereka nyaris aja berhasil mengalahkan Thanos kalo aja gak dirusak sama sikap sentimentil Quill. Cuma gegara dia tahu kalau Gomorra sudah wafat eh dia malah jadi emosional gitu. Yaelah, jaga diri aja gak bisa, gimana mau jaga galaksi. Lol. Akhirnya gegara kegagalan itu, Thanos berhasil mendapatkan batu yang dimiliki Dr Strange. Gomorra sendiri terjebak sikap sentimentil dengan ayahnya itu. Kalau aja dia langsung ngebunuh ayahnya udah deh beres. Hahaha.
Anehnya, Nebula yang awalnya gak berdaya sama sekali pas diikat sama Thanos, eh pas Thanos dan Gomorra pergi tetiba dia punya kekuatan buat melarikan diri. Hallaawww, dari kemarin ngapain aja mbak Nebula???

Di akhir film, setelah Thanos berhasil mendapatkan kelima batu akiknya, eh batu infinity nya, dia malah gak langsung membunuh para avengers itu. Alih-alih ngebunuh Avengers, dia malah plesiran ke Filipina. Mungkin dengan melihat sawah-sawah di ladang hatinya akan lembut kembali (eaaa…eaaa…). Secara dia udah berambisi menjadi penguasa dunia, masa nangis sih pas ngorbanin anaknya. Mesti belajar sama Fir’aun nih kayaknya si Thanos gimana jadi orang yang berambisi. Wkwkwk.

Ujung-ujung, entah kenapa tetiba banyak superhero yang menjadi butiran debu. Gak tau deh maksudnya apa. Tapi feeling saya sih mereka gak mati. Kecuali seperti Loki, Vision, penjaga Asgard yang jelas-jelas dibunuh oleh Black Order dan Thanos.

Eh, jangan keluar dulu setelah filmnya abis. Kamu wajib banget baca itu orang-orang yang bikin film ini jadi absurd. Nah, kejutan di akhirnya, kamu akan melihat post scene, ketika Nick Fury dan Maria Hill menjadi debu. Eh, sebelum menjadi debu si Nick ini sempet ngepage (haree genee pake pager…wkwkwkw) seseorang yang ternyata adalah KAPTEN MARVEL! Konon Kapten Marvel adalah salah satu hero yang terkuat juga di alam semesta. Ya, seimbang lah buat melawan Thanos. Tapi pertanyaan terbesar saya adalah, Nick, kenapa kamu gak hubungin Kapten Marvel dari kemaren??? Kenapaaaa???? Nunggu semuanya jadi butiran debu baru deh kamu hubungin dia. Jangan-jangan dia lagi sibuk shopping and tutorial make up ya? Lol.

Intinya (lagi-lagi) saya merasa gak banget sama film besutan Marvel ini. Skenarionya menurut saya buruk. Joke-joke nya si Hulk garing abis! Keliatan banget kalau film ini pengen banget box office dan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Banyaknya hero yang hadir pun bagi saya mubazir banget! Dari semua hero yang hadir, masa sama Thanos aja kalah sih. Padahal kekuatan dia cuma di sarung tangan. Kalo sarung tangannya dilepas gampang deh dikalahin. Lebih gak bangetnya lagi, ada yang hero yang emosional banget, padahal dunia udah mau kiamat gegara Thanos, tapi mereka malah sentimental gitu. Bikin gregetan.

Ditambah lagi pertarungannya yang nanggung. Itu Bruce udah dapet kostum baru kenapa masih oon juga ya? Hahaha. Bagi saya yang menyelamatkan film ini adalah Kharisma Benedict Cumberbatch, ketampanan Chris Evans, dan kekerenan Elizabeth Olsen. Selebihnya, ke laut aja deh. Bahkan saya yang ngefans sama T’Challa aja sampe ilfil dengan peran dia yang giru-gitu doang. Oiya, Nikia nya kemana ya?

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 7/10
Skenario 6/10
Cinematografi 7/10
Overall 7/10


Buat kalian yang mau menonton film ini mending jangan high expectation. Karena takutnya malah jatuh kecewa. Dan jangan percaya sama orang yang bilang film ini bagus, nyatanya bagi saya, bagusan Black Panther kemana-mana. Anyway, selamat menonton***(yas) 



Jakarta, 29th of April 2018
@CnC Coffee shop, 18.36 pm





 Tiga penyelamat Film Avengers Infinity War


Mbak Wanda yang cuantik tapi sentimental bingits


Om Chris Evans yang kece abis


Mr Cumberbatch yang kharisma bangets

Friday, February 16, 2018

Bunda Cinta 2 Kodi : Harta yang paling berharga adalah ...



Pernah bertanya-tanya darimana nama produk busana “KEKE” didapat? Kalau pernah berarti anda sama dengan saya. Kalau anda belum tahu jawabannya, maka mulai tanggal 8 Februari 2018 hadir film “Bunda : Cinta 2 Kodi” yang merupakan film biopik dari pengusaha Ika Kartika, pemilik produk busana muslim “Keke”.

Film dibuka dengan perkenalan singkat, antara Tika dengan Farid di sebuah kereta jabodetabek. Kemudian mereka menjalin pernikahan dan memiliki anak. Namun saat Tika sedang mengandung anak kedua, Farid meminta izin Tika untuk emnikah dengan wanita pilihan ibunya, Alina. Tika yang tidak mau dimadu akhirnya meminta Farid untuk meninggalkan rumahnya.

Tika adalah wanita yang sangat tangguh, dia masih melakukan pekerjaan walaupun sedang hamil tua. Setelah anak keduanya, Alda, lahir, Farid kembali lagi kepada Tika. Tika akhirnya mengizinkan Farid untuk kembali lagi padanya dan membina rumah tangga. Ide untuk membuat busana muslim hadir saat Tika melihat rancangan baju yang dibuat oleh Amanda, anaknya. Ditambah lagi saat itu ibu-ibu yang berada di lingkungan rumahnya meminta bantuan pekerjaan dari Tika. Maka Tika pun memiliki ide untuk membuat baju muslim untuk anak.

Ternyata dalam perjalanan membangun usahanya, Tika mendapatkan banyak kendala yang bahkan mengancam keharmonisan rumah tangganya. Sifat Tika yang keras, ego tinggi, dan ambisius membuat Farid merasa direndahkan, apalagi Farid belum memiliki pekerjaan tetap. Maka akan suatu klimaks, Farid memutuskan untuk pergi dari Tika.

Tika nyaris putus asa dan merasa gagal, namun dorongan dari asisten rumah tangganya dan ibu-ibu yang telah ditolongnya, maka Tika akhirnya bangkit kembali. Pada satu moment yang sangat dinanti-nantikan, Kids Fashion Week, Tika harus memutuskan apakah memilih untuk tetap berada di acara bergengsi tersebut atau memilih kembali kepada keluarganya?

***

Film ini diangkat berdasarkan dari novel laris “Cinta 2 Kodi” karya Asma Nadia yang menceritakan awal mula perintisan produk Keke dari 2 kodi saja. Penyutradaraan diserahkan kepada Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo yang merupakan pendatang baru bagi perfilman Indonesia. Ada beberapa catatan yang ingin saya tulis usai menonton film ini. Berikut adalah ulasan saya.

KEKURANGAN

1. Cerita yang menurut saya terlalu datar. Sosok Tika yang sebenarnya sangat inspirasional itu menurut saya dibuat dengan standar saja. Padahal jika film ini difokuskan pada usaha Tika dan keberhasilan membina keluarga, maka akan sangat booming sekali. Walaupun film ini masih asik ditonton tapi menurut saya belum total banget mengangkat sosok Tika-nya.

2. Klimaks yang kurang greget. Klimaksnya menurut saya adalah saat Farid memutuskan untuk membawa anak-anaknya pergi ke Jepang, dan Tika sudah menyerah dengan keadaan. Ditambah lagi saat itu hadir Lina yang justru menimbulkan kecemburuan dari Tika. Namun kesombongan Tika justru yang akhirnya membuat dia semakin kehilangan keluarganya. Di adegan ini sebenarnya bisa dibuat lebih berdarah-darah yang menguras air mata penonton, tetapi baru aja air mata keluar tiba-tiba udah berganti adegan lain. Jadinya nanggung dan kurang greget.


Sejauh saya nonton film ini mungkin hanya ini yang mengganggu saya. Sekarang saya akan memberikan beberapa kelebihan dari film ini.


KELEBIHAN

1. Sinematografi yang sangat bagus sekali. Serius tidaknya film itu dibuat biasanya dilihat dari sinematografinya. Untuk film ini benar-benar memanjakan mata saya dalam urusan sinematografinya. Gambar-gambar kereta yang diambil dengan angle yang bagus dan gambar-gambar penunjang lainnya yang menurut saya keren abis. Camera close in dan close up nya pun bagus sehingga saya benar-benar bisa menikmati film ini.

2. Akting yang kuat. Acha Septriasa menunjukkan jam terbangnya yang tinggi sebagai salah satu artis terbaik negeri ini. Perannya sebagai seorang wanita karier sekaligus Ibu rumah tangga membuat saya yang menontonnya bener-bener menyelami perasaan Tika. Terutama saat adegan Tika menjemput anak-anak di tempat Farid bekerja dan anak-anak memutuskan tidak mau pulang. Itu meleleh bangetss! Bener-bener juara deh aktingnya Acha! Akting Ario Bayu pun tak kalah apik. Ario yang biasanya berperan akting atau drama aksi, kali ini menunjukkan kelasnya sebagai aktor yang bisa memerankan seorang ayah yang baik. Peran-peran tambahan yang lain pun juga baik, termasuk anak-anak Tika dan Farid.

3. Inspiratif. Ceritanya memang sederhana, bagaimana perjuangan Tika membangun bisnisnya sekaligus merawat rumah tangganya. Paling tidak ini bisa menjadi inspirasi bagi wanita-wanita karier di luar sana bahwa menjadi wanita karier itu penting tapi jangan sampai mengorbankan rumah tangga. Perjuangan Tika juga menggambarkan bahwa impian itu bisa diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh.

4. Menguras air mata. Iya, beneran. Bukan menguras air banjir ya…hehehe… Awal air mata itu dikuras adalah saat Farid meminta izin kepada Tika untuk menikah lagi, seterusnya dan seterusnya sampai adegan yang benar-benar saya gak bisa lagi untuk menahan air mata (awalnya saya tahan-tahan…hahaha). Jadi dijamin banget usai kamu nonton film ini, mata bakalan sembab, terutama buat kaum hawa. Yang pasti juga kita akan rindu dengan ibu kita dan membayangkan perjuangan beliau yang sungguh luar biasa hebat.


Intinya film ini adalah reccomended bangets! Sederhana tetapi penuh makna. Intinya adalah seperti motto dari keluarga cemara, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Bener bangets! Bagaimanapun suksesnya karier kita, maka jika tidak diimbangi dengan keluarga yang penuh cinta sama saja bohong. 


Keluarga adalah di mana kita merasa nyaman dan dicintai. Benarlah apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an : jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. At-Tahrim : 6). Karena itu kita diperintahkan untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Setiap orang tua akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan anak-anaknya. Semoga saja kita bisa menjaga keluarga kita agar tidak masuk ke dalam api neraka.


Btw, tentang keluarga, saya sendiri belum berkeluarga loh…hahaha… Jadi curhat deh (doain segera ya!). Ya, udah yang penting nonton film “Bunda, Cinta 2 Kodi” ya! Film bagus bagi yang sudah berkeluarga maupun belum berkeluarga. Pokoknya banyak hikmah dan inspirasinya deh usai nonton film ini.

Berikut nilai yang saya berikan untuk film ini :

Akting 9/10
Skenario 8.6/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.5/10


Hayuk nonton segera sebelum turun layar!***(yas)




Bekasi, 16th of February 2018
16.10 @MhCoffee
Itu orang kangen gak yaa…. LOL.



Sunday, December 24, 2017

Review Ayat-ayat Cinta 2 : Antara Tetap Setia atau Melupakan Masa Lalu

Pilih yang mana ya?

"Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri" 
 (Fahri, mengutip Syaikh Said Nursi)

Setelah hampir 10 tahun sejak film pertamanya muncul, akhirnya Ayat-ayat Cinta 2 kembali hadir di bioskop mulai tanggal 21 Desember. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket di hari pertama pemutarannya yang hampir semua bioskop full house. Keuntungan nonton sendiri, ya itu, bisa dapat kursi walaupun bioskop sudah penuh. Hehehe…

Saya ingat tahun 2008, animo masyarakat begitu antusias dengan kehadiran film yang dilabeli “islami” ini. Saya yang saat itu gak pernah ke bioskop akhirnya kembali nonton ke bioskop. Waktu itu usai mengaji mingguan yang selesai pukul 11 malam, saya bersama seorang teman menonton A2C jam 23.45 di Setiabudi 21. Kemudian saking sukanya sama film ini nonton untuk kedua dan ketiga kalinya. Walaupun saya tidak habis membaca novelnya, tapi bagi saya film ini sangat bagus pada zamannya. Sempet ngedumel juga sih dengan beberapa pemain filmnya yang menurut saya kurang cocok, tapi tetap saja film ini masuk kategori bagus bagi saya. Oiya, karena film ini pula saya jadi rajin ke bioskop. Hahaha…


 
Poster film A2C2 yang ada dimana-mana (mahal boo)


Film A2C2 kali ini hampir 80% mempunyai karakter yang berbeda. Fahri tetap diperankan oleh Fedi Nuril (and he’s acting so well), Aisha kali ini bukan diperankan Riyanti Cartwright melainkan oleh Dewi Sandra. Peran tambahan yang baru ada di novel keduanya adalah Hulusi (diperankan Pandji P), Hulya (Tatjanan Saphira), Keira (Chelsea Islan), Misbah (Arie K. Untung), Nenek Chatarina (Ade Irawan), Brenda (Nur Fazura), dan lainnya. Sutradaranya pun berganti ke Guntur Soeharjanto dari sebelumnya Hanung Bramantyo. Kali ini Kang Abik turut mengawasi pembutan film ini.

Kisah dibuka dengan suasana konflik di Palestina. Aisha berada di daerah yang sedang dibombardir oleh Israel itu. Scene pun berganti saat Aisha terjatuh. Selanjutnya digambarkan kehidupan Fahri yang sekarang sudah menjadi Professor di Universitas Edinburgh. Kehidupan Fahri begitu sempurna, harta yang banyak, rumah yang mewah, usaha yang banyak, teman-teman yang baik, otak yang cerdas, dan banyak dikagumi oleh wanita. Inilah yang akhirnya menjadi konflik utama dalam film ini, hubungan Fahri dengan wanita-wanita itu. Sementara Fahri berusaha setiap dengan Aisha yang kondisinya tidak diketahui, namun wanita-wanita itu terus berada di sekeliling Fahri. Terus setia atau melupakan masa lalu. Cerita pun ditambahi dengan bumbu-bumbu rasisme, konflik Palestina-Israel dan hubungan antar manusia. Jika sudah membaca novelnya pasti akan mudah langsung menebak akhir dari cerita ini. Kalau saya, sebelumnya googling dulu cari spoiler isi bukunya jadi secara garis besar sudah tau isi ceritanya. Hehehe…

 
Foto "keluarga" jaman now. Btw, TS cantik ya pake hijab.

Dari film ini ada beberapa catatan dari saya baik kelebihan maupun kekurangannya. Berikut yang menjadi catatan saya :


KELEBIHAN

1. Film ini berani mengangkat isu Palestina – Israel yang secara kebetulan kondisinya sesuai dengan keadaan sekarang. Hal ini menurut saya cukup BERANI, karena PH yang memproduksi film ini adalah PH terkenal. Jarang-jarang ada PH yang mau menampilkan masalah dunia islam. Bagi Mas Guntur ini adalah film keduanya yang mengangkat isu Palestina setelah film “Jilbab Traveler Love Sparks In Korea”. Fahri menggambarkan muslim yang sangat toleransi terhadap agama apapun. Bahkan ada adegan yang Fahri menyebutkan, “Bukan Yahudinya yang kita benci, tetapi gerakan Zionis nya”. Itu bagi saya keren bingits! Lalu saat Baruch mengusir ibu tirinya, Chatarina, Fahri yang datang dan menolongnya. Padahal awalnya Chatarina sangat jutek pada Fahri. Pada saat debat pun Chatarina yang Yahudi yang menolong Fahri dari tuduhan Baruch. Pokoknya scene ini informatif banget deh!


2. Sinematografi yang ciamik. Entah kenapa kalau Mas Guntur yang jadi sutradara, saya selalu terhibur dengan gambar-gambar yang ada di filmnya. Pengambilan gambarnya indah dan suasananya asyik banget khas Mas Guntur banget deh. Mas Guntur berhasil menggambarkan Kota Edinburgh yang klasik, indah dan nyaman. Seorang teman yang dulu pernah kuliah di Inggris sampai baper saat menonton film ini, pengen kembali ke Edinburgh. Tapi benar ciamik apa yang ditampilkan di film ini. Lagi-lagi jadi bikin saya mupeng kesana.


3. Akting yang keren. Akting paling keren menurut saya adalah Fedi Nuril, yang hampir setiap scene sedih dia menguarkan air mata secara alami. Jadinya saya yang nonton ikutan sedih. Akting Tatjana Saphira, Chelsea Islan, dan Dewi Sandra juga bagus tapi menurut saya belum istimewa. Sebagai perbandingan yang disebut istimewa menurut saya adalah akting Laudya Cintya Bella di Film Surga Yang Tak Dirindukan. Akting mencuri perhatian justru datang dari Nur Fazura (kali ini bukan Nora Danish lagi yang dipakai) aktor asal negeri jiran yang walaupun kebagian peran kecil tapi bagi saya sangat memorable. Akting Pandji dan Arie juga bagus termasuk pula akting Ade Irawan. Tapi tetap belum istimewa. Catatan lainnya, akting para pemain bulenya pun tidak ada yang kaku. Beda dengan film BTDA yang menurut saya akting para bule nya “aneh”. Bahkan Milene Fernandez berbicara bahasa Inggris dengan menggunakan logat british yang menambah totalitas akting mereka.


4. Jalan cerita lancar dan mengalir. Nonton film A2C2 kali ini saya bener-bener gak pengen selesai. Seperti membaca buku yang difilmkan. Cerita mengalir lancar dan menarik. Tidak banyak adegan-adegan yang menurut saya tidak perlu. Sampai di akhir cerita pun terus mengalir dan lancar tanpa hambatan. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya “ilogical” tapi untuk penonton umum mungkin masih bisa diterima.


5. Sarat hikmah. Udah gak perlu diraguan lagi kalau ini ya. Secara yang nulis kan Kang Abik, lulusan Al Azhar Mesir. Adegan sarat makna yang paling saya suka adalah saat Fahri sudah hampir putus asa dan dia meminta nasehat kepada Misbah di pelataran masjid. Juga saat seorang Imam yang bacaannya salah, diperbaiki oleh Fahri dan Imam itu tidak marah melainkan malah berterima kasih (padahal itu Imam Besar). Hal ini semakin menggambarkan bahwa Islam itu indah (jama'ah oh jama'ah...).


Nah, selanjutnya ini beberapa kekurangan yang saya temukan dalam film ini :

KEKURANGAN 

1. The Too Perfect Fahri. Tokoh Fahri bagi saya terlalu sempurna dan hanya akan ada di kehidupan novel saja (wajar ya, kalau penulis bisa melakukan apa saja dengan si tokoh). Sudah ganteng, pinter dan kaya pula. Setiap hal yang dilakukan Fahri pasti baik. Selain itu Fahri juga setia. Dia masih susah beranjak dari Aisha yang entah masih hidup atau sudah tiada. Kehadiran Hulya, Brenda dan Keira pun tak lantas membuat Fahri menjadi centil pada wanita-wanita itu, sebaliknya Fahri malah merasa risih dan menjaga jarak. Maka tak heran ketika Fahri meminang Hulya, tidak banyak penonton yang mempermasalahkan poligami ini. Padahal kalau karakter Fahri digambarkan jahat dan kejam, udah pasti langsung kena perundungan. Hehehe.


2. Beberapa jalan cerita yang dipaksakan. Misal ketika Sabina menjadi asisten rumah tangga di rumah Fahri, masa iya, Fahri tidak mengenali kalau itu Aisha? Padahal tokoh Sabina gak terlalu ketutup banget, malah matanya terlihat jelas. Masa sih Fahri tak mengenali mata istrinya cuma gegara istrinya sudah menjadi buruk rupa (kalau di film buruknya gak terlalu ketara sih). Katanya si Fahri cinta…hehehe. Kemudian saat Hulya meminta Aisha untuk face off wajah, apa iya penampilan itu yang paling utama sehingga Aisha yang berwajah buruk mesti cantik dulu agar cocok sama Fahri? Dan hasil face off nya yang 100% sama dengan wajah Hulya ditambah proses face off nya yang cepet bingits! Bagi penonton kritis seperti saya mungkin ini amat sangat mengganggu. Tapi dibandingkan dengan keseluruhan cerita, mungkin hal ini bisa tertutupi dengan baik.


3. Musik yang megah, penuh diva tetapi forgetable. Untuk sountrack film kali ini, pihak PH sampai meminta 4 diva terkenal, Raisa, Krisdayanti, Rosa, dan Isyana Saraswati. Tapi menurut saya lagunya belum ada yang makjleb. Berbeda saat A2C 1 yang hanya diisi Rosa dan Sherina, lagu-lagunya sampai sekarang pun masih terngiang dengan jelas. Sountrack nya yang sekarang memang mewah sih tapi bagi saya forgetable.


4. Ada adegan yang gak banget. Dan adegan ini ada di film A2C 1 maupun yang sekarang, yaitu adegan usai Fahri dan Hulya sholat sunnah bersama (saya gak mau jelasin maksudnya apa ya). Bagi saya itu langsung ngerusak isi film. Pentingnya apa dan apa perlu digambarkan seperti itu? Apalagi ini film Islami loh! Banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menonton juga menambah ke “enggak banget” an adegan ini. Kalaupun di cut kayaknya gak akan mengganggu jalan cerita deh.


Secara keseluruhan film A2C2 ini masuk kategori bagus dan layak ditonton. Tentu saja film ini tidak cocok ditonton anak-anak karena mereka bakalan ruwet dengan masalah cinta orang dewasa. Hahaha… Mewahnya film ini memang dapet dan sepertinya budgetnya gila-gilaan. Promosinya pun gak kalah gila. Itu poster film ada mulai dari di bilboard gede, kereta api, dll. Iklannya pun berseliweran di tivi-tivi nasional jadi gak akan mengherankan jika film ini nanti bakalan tembus 1 juta penonton. Mudah-mudahan aja bukan cuma kemewahannya aja yang di dapat oleh penonton tetapi hikmah yang ada di film ini juga bisa ditangkap.

Sekarang saya kasih score untuk film ini :

Akting 8.5/10
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.8/10


In the end, wajiblah ya bagi kita mendukung film-film Indonesia yang sehat dan bagus. Apalagi film ini berlabel “islami” jadi mesti banget didukung. Bukan malah menjelek-jelekkan atau mengajak orang untuk tidak menonton film ini. Beberapa kekurangan wajarlah ya, asalkan secara umum jalan ceritanya masih bagus dan dapat diterima. Saya sendiri merekomendasikan untuk menonton film ini. Yuk, nonton film ini dan bagi anda yang suami istri bisa-bisa jadi tambah lengket. Sedangkan bagi yang sendiri, siap-siap baper dan caper ya! Lol***(yas)





Bogor, 24th of December 2017
@RiceBowl BSB, 17.26 pm
Selamat ulang tahun Kendryo sayaangg….



 
Film kali ini diangkat dari buku AAC2 yang laris manis bak kacang goreng.


Tuesday, November 28, 2017

Review Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak : Antara Sup Ayam, Kepala Buntung dan Curhat Para Feminis

Kill Bill versi Indonesia


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”
(HR Muslim: 3729)

***

Pernah menonton film-film karya Quentin Tarantino? Kill Bill, misalnya, di mana seorang wanita yg dikhianati oleh teman-temannya menuntut balas dan membunuhi mereka semua satu persatu. Dalam film MSPD4B tampaknya sutradara Mouly Surya terinspirasi dengan gaya penyutradaan ala Quentin Tarantino. Beberapa unsur musik, yg salah satunya memasukkan musik suasana khas koboi, atau suasana gersang namun indah, juga pernah saya saksikan di beberapa film QT yg ada di film MSPD4B. Berikut Saya akan mengulas sedikit tentang film ini.


Marlina baru saja kehilangan suami dan anaknya saat Markus, seorang perampok datang dan berencana memperkosanya bersama teman-temannya yang lain yang akan datang ke rumah Marlina. Jenazah sang suami belum lagi dikuburkan karena Marlina masih mengumpulkan uang untuk upacara adat kematian suaminya tersebut. Mayat itu dibiarkan Marlina duduk memeluk kakinya (yang sepertinya menjadi adat dari masyarakat Sumba untuk mendudukkan mayat hingga upacara adat dilaksanakan) di sudut ruangan rumahnya. Ketika teman-teman Markus datang, Marlina memberikan sup ayam sesuai permintaan Markus. Tanpa dinyata mereka, Marlina telah mencampurkan racun ke dalam sup ayam tersebut dan langsung menewaskan 4 teman Markus yang memakannya. Namun saat dia hendak mengantarkan sup ayam untuk Markus yang sedang tidur di kamarnya, tanpa sengaja sup tersebut tumpah saat Markus terbangun ketika Marlina hendak memberikannya. Markus pun menistakan keperawanan Marlina. Tak disangka ternyata Marlina telah mempersiapkan parang yang dengan sekali tebas, kepala Markus pun jatuh ke lantai. Selanjutnya, Marlina ingin mengadukan perbuatan Markus dan kawan-kawannya kepada polisi. Dia pergi dengan membawa kepala Markus. Dalam perjalanannya inilah penggalan kisah Marlina dimulai. Mulai dari bertemu Novi, Franz, dan sebagainya. Untuk lengkapnya saksikan sendiri di bioskop ya!


Selamat makan malam! Enak gak sup nya?


Film ini mengangkat tema woman violent yang marak terjadi pada wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah. Marlina digambarkan sebagai pribadi malang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Dia baru saja kehilangan anak dan suaminya, lalu kedatangan perampok yang menginginkan kehormatannya. Para lelaki di film ini pun digambarkan sebagai lambang superior di mana wanita hanyalah sebagai objek seks dan ketidakberdayaan saja. Hadirnya film ini selain ingin menampakkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, juga sebagai lambang perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan selama ini. Sehingga film ini bisa dikatakan "teriakan" para wanita agar nasib mereka lebih diperhatikan.


Beberapa kelebihan di film ini yang berhasil saya tangkap adalah :


1. Cinematografi yang sangat bagus.
Penggambaran kehidupan Marlina yang sendirian serasa berdampingan dengan alam Sumba yang kering namun indah. Setiap scene menggambarkan padang stepa luas dengan daun-daun yang menguning. Penggambaran ini mengingatkan saya akan film "Aisyah Biarkan Kami Bersaudara" yang juga memakai latar belakang NTT. Sutradara dan sinematografer berhasil memadukan kekuatan akting dengan lingkungan sekitar yang membuata mata dimanjakan dengan gambar yang indah selama film berlangsung.

2. Akting yang menawan.

Beberapa aktor yang hadir di film ini menyuguhkan akting yang sangat menawan. Marsha Timothy, misalnya yang diganjar sebagai best actreess dalam sebuah festival film di Catalonia, Spanyol. Marsha berhasil menggambarkan sosok Marlina yang nestapa namun tidak cengeng dan tetap tegar. Ditambah lagi akting pemeran pembantunya, Dea Panendra yang berperan sebagai Novi, juga menampilkan karakter yang lugu, teguh pendirian dan polos. Dia melengkapi perlawanan Marlina dengan ikut menolong Marlina di scene terakhir. Hampir dari semua aktor yang berada di dalam film ini menampilkan karakter yang baik termasuk pemeran sekilas semacam Tofan si gadis kecil anak pemilik warung makan, mamak yang akan menghadiri pernikahan keponakannya, dll.


3. Berani mengungkapkan fakta yang banyak terdapat di Indonesia.
Beberapa adegan di film ini mengungkapkan fakta-fakta yang ada di Indonesia. Karena film ini mengangkat tentang perempuan, maka isu yang dikemukakan sudah tentu menyorot penderitaan kaum perempuan. Misal, bagaimana orang yang sudah menderita seperti Marlina, harus menanggung "perayaan" kematian suaminya padahal hutang dari kematian anaknya juga belum lunas. Di tengah himpitan ekonomi seperti itu sepertinya "adat" tetaplah sesuatu yang penting, padahal makan untuk besok saja belum tentu ada. Sehingga masyarakat terkesan memaksakan apa yang sebenarnya mereka tidak mampu.


Fakta berikutnya adalah superior laki-laki terhadap perempuan yang hanya dilihat (kebanyakan) sebagai objek seksual saja. Ini digambarkan saat Markus dkk ingin merenggut kesucian Marlina dengan kalimat yang intinya, "Kamu akan menang banyak malam ini, Marlina!" Juga saat Franz ingin memperkosa Marlina di scene akhir, padahal Marlina sudah berbaik hati mengembalikan "kepala" Markus. Termasuk saat Novi dengan kehamilan 10 bulannya yang belum keluar juga yang membuat Ambu, suaminya, marah dan meninggalkannya. Ambu pun percaya bahwa anak yang dikandung Novi tidak bisa keluar karena Novi berselingkuh. Ya, walaupun di jaman sekarang ini faktanya banyak perempuan juga yang sengaja "menjual" dirinya demi kenyamanan, tetapi tidak sedikit pula yang merasa penghargaan diluar seksualitas itu lebih tinggi. Maka dari itu timbullah emansipasi wanita yang menginginkan keadilan dan kesamarataan dengan laki-laki.


Fakta lain yang diangkat dalam film ini adalah kebobrokannya sistem kepolisian. Saat Marlina sampai di kepolisian, dia harus menunggu lama agar laporannya dibuat karena para polisi itu sedang "sibuk" bermain pingpong. Pada akhirnya saat salah seorang polisi itu menerima laporan Marlina, itu pun hanya sekedar ink on the page, sekedar menerima aduan masyarakat saja. Marlina bahkan disalahkan saat tidak melawan Markus yang digambarkan olehnya kurus dan kecil.


4. Musik etnik yang menarik.

Film tanpa musik mungkin tidak akan menarik. Film MSPD4B ini menjadi semakin menarik dengan musik etnik yang khas selama adegan berlangsung. Adanya musik ini menguatkan ke-Indonesia-an dari film ini. Dalam beberapa bagian bahkan tokoh Franz bersenandung dengan bahasa Sumba.


Beberapa hal inilah yang menurut saya menjadi kekuatan dari film MSPD4B. Mouly Surya berhasil mengangkat isu yang sering diteriak-teriakkan kaum feminis. Walaupun ada beberapa tanya juga di benak saya, namun itu mungkin tidak terlalu kentara.



Siapa yang mau jadi korban berikutnya?


Sekarang beberapa kekurangan film ini yang berhasil saya tangkap :


1. Alur yang lambat.
Semua adegan dari Marlina membunuh Markus sampai Marlina akhirnya balik kembali ke rumahnya untuk menolong Novi yang disandera Franz hanya dilakukan kurun dalam waktu 24 jam. Padahal Marlina sudah berjalan jauh naik truk, lalu dilanjutkan berkuda (kudanya jalan ya, bukan berlari seperti di film koboi) semuanya seperti tidak masuk akal karena dilakukan hanya 24 jam. Mungkin jika Marlina naik motor pulang balik, masih masuk akal. Namun berkuda yang kudanya juga hanya jalan lalu berhasil kembali ke rumahnya dengan mampir dulu ke restoran Tofan, tidur siang bersama Tofan, dll agak mustahil dilakukan dalam 24 jam saja.


2. Beberapa hal yang tidak masuk akal.

Selama berjalan Marina terus menjinjing kepala Markus tanpa kebauan. Begitu juga saat orang-orang yang ditemani Marlina tidak merasa kebauan dengan bangkai kepala itu. Padahal saat Franz dan Niko, dua perampok lainnya, masuk ke dalam rumah Marlina, Franz sampai muntah-muntah. Ini penggambaran bahwa dia kuat atau gimana saya kurang paham. Marlina juga menemukan peti yang akhirnya dijadikan tempat menaruh kepala Markus. Adegan kepala itu ada di dalam peti juga saat dia berjalan bersama kuda tanpa pelana. Semakin mustahil saja.

Adegan lainnya, pakaian Marlina masih bersih padahal kepala itu sempat didudukkan di atas pangkuannya. Detil mungkin, tapi bagian ini justru yang membuat saya bertanya-tanya. Marlina juga lewat dari pandangan Franz dan Niko yang mengejarnya dengan sepeda motor saat truk yang membawa Marlina berhenti untuk buang air. Supir truk tersebut pun seakan dengan mudahnya menjadi pembela Marlina, padahal awalnya mereka sempat adu mulut.

Bagi saya detil seperti itu penting demi menjaga jalan cerita yang tetap masuk akal dan sesuai nalar.


3. Sosok yang lemah sekaligus kuat (membingungkan).
Marlina awalnya digambarkan sebagai wanita yang lemah yang dengan begitu saja menerima kedatangan para perampok. Satu hal yang saya herankan, saat Marlina hendak digagahi oleh Markus dia tidak mencoba melawan sekuat tenaga malah dia berada di posisi "woman on top". Bagi wanita yang sedang diperkosa rasanya aneh dengan hal seperti itu. Walaupun kemudian dengan posisi itu Marlina berhasil menebas leher Markus. Tetapi tetap saja menurut saya adegan seperti itu bukanlah adegan penting. Bisa saja Marlina berlari dan mengambil parang kemudian langsung menebas leher Markus tanpa perlu Markus menggagahi nya. Di lain kesempatan, Marlina malah tidak berdaya saat akan digagahi Franz. Bisa saja sebelum Franz sempat menggagahinya, dia sudah menebas leher Franz terlebih dahulu kan? Bagi saya karakter ini malah membuat bingung peran Marlina sendiri, sebagai wanita lemah tertindas atau wanita kuat?


4. Banyak adegan yang tidak perlu.

Beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu salah satunya adalah adegan pemerkosaan yang dilakukan Markus kepada Marlina. Bagi saya itu "gak Indonesia banget!". Sutradara seharusnya bisa menginterpretasikan hal tersebut dengan sesuatu yang lain tanpa harus secara vulgar menyajikan hal seperti itu. Tanpa hal itu pun sepertinya film akan tetap lancar, misal dengan langsung masuk ke adegan menebas leher Markus. Bagi saya adegan ini adalah "tempelan" dan "pemanis" film saja yang tanpa divisualkan pun bukan masalah besar. Film ini layaknya film Hollywood kebanyakan yang memasukkan unsur "sex" dalam film-film mereka. Sangat disayangkan film sebagus ini, bagi saya, menjadi "rusak" dengan adegan tak penting itu. Padahal jika adegan itu tidak ada maka cakupan penonton film ini bisa lebih luas lagi. Contoh saja film PASIR BERBISIK besutan Nan T.Achnas yang bagus tanpa perlu memasukkan unsur seksualitas.

Adegan lainnya yang menurut saya mengganggu adalah ucapan-ucapan kotor, yang walaupun ini adalah fakta yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, namun seharusnya Sutradara bisa meramunya dengan sesuatu yang lebih bermakna. Disini ungkapan-ungkapan seputar ranjang pun kerap dibicarakan, semisal saat Novi dan Marlina berdialog di truk atau saat mereka berdua sedang buang air kecil. Sehingga secara tidak langsung, lagi-lagi film ini mengangkat unsur "sex" agar lebih laris. Makian mungkin masih bisa saya maklumi, tetapi untuk hal-hal berbau seksualitas, di negara Indonesia mungkin tidak. Ya, kecuali jika film ini memang pangsa pasarnya adalah luar Indonesia. Oiya, adanya kucuran dana dari Perancis mungkin juga memengaruhi idealisme film ini.


5. Terlalu Quentin Tarantino

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas jika film ini sangat QT. Unsur-unsur yang membuat saya bisa menyimpulkan hal ini adalah pengambilan gambarnya, kekelamannya, dan yang paling jelas pemenggalan babak dalam film ini yang memakai judul besar pada pergantian babak. Pemakaian judul itu mirip sekali dengan film Kill Bill, ketika QT memenggal setiap adegan untuk Beatrix pada setiap musuh yang dihabisinya. Namun, sutradara berhasil mengambil gambar yang ciamik yang menggambarkan suasana indah Sumba.


Kesimpulannya adalah film ini adalah teriakan kaum Feminis akan penindasan yang terjadi pada wanita. Untung saja sutradara tidak terjebak membawa film ini dengan mengaitkan pada agama tertentu (seperti yang terjadi di film NAURA DAN GANK JUARA). Kalaupun ada tentang agama, itu hanya sekedar saran dari Novi saja tetapi tidak menyinggung. Para feminis memenangkan tokoh wanita yang berhasil keluar dari intimidasi para lelaki.

Dalam agama yang saya anut, Islam, wanita memiliki kedudukan yang penting dan keberadaannya sangat dihargai bukan sekedar berkembang biak saja. Para lelaki diharuskan menghormati wanita dan memuliakan mereka. Al-Qur'an sendiri memasukkan banyak surat yang bertemakan tentang wanita, semisal surat An-Nisa. Jikapun dalam realita modern sekarang ini banyak penindasan terhadap wanita muslim, bisa dipastikan mereka tidak menjalankan Islam secara baik. Untuk memukul saja Rasulullah melarangnya, apalagi sampai menganiaya. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah feminisme karena semua hak wanita terjamin dengan baik.

Sedangkan untuk korban pelecehan dan KDRT seperti yang dialami Marlina, menurut saya solusinya adalah perlawanan dari diri si korban terlebih dahulu. Orang lain mungkin bisa saja membantu, tapi jika tidak ada "will" dari korban akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Perlawanan adalah salah satunya. Seperti yang diperlihatkan Marlina, ketika dia menjadi korban superior dari para lelaki perampok itu, dia melakukan perlawanan dengan membuatkan sup beracun dan memenggal kepala Markus. Novi pun melakukan perlawanan yang sama, saat sang suami memukulnya, dia melakukan perlawanan. Korban diluar sana mungkin tidak setangguh Marlina dan Novi, disitulah fungsinya LSM yang memberikan dukungan untuk para korban bukan malah mengompori korban dan mengambil alih segalanya dengan merasa yang paling tahu.

Film ini memang seharusnya masuk kelas festival ke festival bukan komersial. Dan bagi saya, hanya cocok ditonton orang dewasa serta movie maniak yang suka menonton film-film absurd semacam ini. Jika anda bukan pencinta film, sudah bisa dipastikan film MSPD4B ini boring as hell.***(yas)


Nilai :
Akting 8/10
Skenario 8.5/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.3/10




Jakarta, 28 November 2017
@myroom 21.11 pm
Selesai dalam dua hari. lamonyooo...








Sunday, November 19, 2017

Reputation : RIP The Old Taylor (Review)



Awal kemunculan album Reputation dimulai dengan teka-teki ular ini


“I’m sorry, the old Taylor can’t come to the phone right now,”
 “Why?”
 “Oh, cause she’s dead!”
 -Look What You Made Me Do-



Apa yang menjadi trending topic di twitter beberapa hari belakangan ini? Tentu saja, REPUTATION. Nama album ke enam Taylor Swift yang baru saja dirilis tanggal 10 November kemarin. Album tersebut langsung memecahkan banyak rekor di dunia permusikan, termasuk pemesanan 1 juta copy di Itunes yang menyebabkan Apple Store sempat lag untuk beberapa saat saking banyaknya pembeli yang ingin memiliki lagu-lagu terbaru Taylor Swift di Itunes. Hal lainnya, album ini menjadi album yang paling banyak di pre-order. Banyak rekor yang berhasil dipecahkan oleh album ini, termasuk video clip ‘Look What You Made Me Do’ yang paling banyak ditonton dalam waktu yang singkat.

Saya ingat sekali, beberapa waktu sebelum Taylor mengumumkan akan mengeluarkan album ini, saya sempat memosting sebuah foto di akun instagram saya dan menulis hashtag #TaylorSwiftPleaseComeBack karena pada saat itu Taylor Swift sudah cukup lama vakum setelah konser 1989 nya berakhir. Waktu itu Taylor juga broke up dengan Calvin Harris dan Tom Hiddleston. Calvin Harris menyerang Tay lewat akun twitternya namun tak ada respon dari Tay (ya, ampyun, aye ikutin gossipnya juga.Lol) Ditambah lagi Kanye West mulai gara2 lagi dengan memasukkan patung taylor dalam album gak terkenalnya “Famous”. Kim Kardashian ikut-ikutan dengan mengupload rekaman telepon Kanye dengan Tay dengan menambahkan icon ular yang kemudian indentik dengan Taylor. OMG! Kim apa yang kamu lakukan itu JAHAT! Pokoknya saat itu Tay diserang oleh para haters nya deh! Tidak lama kemudian akun sosial media Tay semuanya kosong alias Tay menghapus semua foto2nya. What happens with her?

Tak lama kemudian fans Tay dikejutkan dengan postingan Tay yang memperlihatkan video ‘makhluk yang bergerak’. Semua fans menebak-nebak kira-kira itu apa ya? Godzilla or something? Tay memosting video mahluk itu secara berkala yang memberikan ‘clue’ kepada para fans nya. Sampai akhirnya fans nya mengetahui bahwa mahluk itu adalah “SNAKE”. Kemudian muncul lyric video single pertamanya di album reputation : Look What You Made Me Do.

Satu persatu semuanya pun terungkap bahwa Tay akan mengeluarkan album baru yang berjudul Reputation. Banyak musisi yang merasa bahwa apa yang dilakukan Taylor pada album ini benar-benar luar biasa, her best masterpiece. Tay mengubah semua celaan dan cemohan menjadi suatu hal yang kreatif. Termasuk memasukkan unsur Snake yang indentik dengan dirinya. Di album ini juga Tay akhirnya not a sweet girl anymore, beberapa kali dia mengucapkan harsh words! Seperti yang dia bilang : Old Taylor has already died. Fans pun penasaran luar biasa dengan album ini. Joseph Kahn, sutradara beberapa video clip Tay, menyebut album ini sebagai “Monster”.


This is a monster!

Wah, pastinya keren banget ya kalau sampai Jo Khan aja bisa berpendapat kayak begitu. Saya beruntung bisa mendengarkan lagu-lagu Taylor bersamaan dengan album itu keluar. Sayangnya di Indonesia album ini belum keluar dan gak tau siapa yang akan menjadi distributornya, mengingat banyak toko-toko kaset/CD yang sudah tutup kan? Bingung deh, nanti beli itu album di mana. Dulu waktu 1989 rilis, saya nitip pada teman yang kebetulan pada saat itu sedang trip ke Amerika. Jadi merasa beruntung banget! Nah, kalo sekarang gimana ya?

Oke, sekarang kita bahas lagunya satu persatu ya!



List lagu Mbak Taylor


1. … Ready For It?

Lagu ini pertama kali saya dengar di Insta story nya akun Taylor Swift di Instagram. Pas denger lagu itu kayak ketemu pacar lama tapi gak tau pacar yang mana…hahaha… Sampai mengira ini lagu lamanya Tay yang belum saya dengar eh ternyata ini single kedua yang dirilis Tay setelah LWYMMD. Saya suka banget sama lagu ini karena musiknya pas banget dan gak biasa. Tay disini juga nge-rap dan membuktikan kualitas vokal dia. Wah dengernya aja saya bisa berkali-kali loh! Isi lagu kayak menggambarkan orang yang sedang jatuh cinta gitu. Mirip-mirip saya gitulah! Hahahah…


2. End Game Featuring Future and Ed Sheran

Omg! Lagu ini benar-benar DOPE! Sumpah lagu ini sebenarnya lagu sendu, berdasarkan liriknya, tapi Tay membuatnya jadi keren dengan hentakan beat dan paduan suara Future and Ed Sheran. Tay dan Ed disini menyanyikan liriknya dengan repetation yang, Ya ampyuunn….keren bingits!! Ini salah satu lagu yang saya suka di album ini.

" I swear I don't love the drama, it loves me "

3. I Did Something Bad

Lagi-lagi Taylor mengezutkan kita semua dengan kata “sh**” di lirik lagu ini. OMG! Old Taylor benar-benar sudah tiada (RIP Old Taylor). Beberapa liriknya juga membuat dia repetation lagi dengan kejutan-kejutan yang bener-bener bikin bertanya-tanya, “Ini seriusan Taylor Swift?”

If a man talks shit, then I owe him nothingI don't regret it one bit, 'cause he had it coming

4. Don’t Blame Me

Kali ini Taylor bikin musik yang mirip-mirip gospel gitu tapi isi liriknya tentang pengakuan dia ‘tergila-gila’ sama ‘someone’. Hahahah… Ditambah lagi musik distorsi nya di bridge, bikin makin kagum deh sama Mbak Tay ini. Gile… Mbak Tay kok kepikiran ya bikin musik kek begini?

Don't blame me, love made me crazyIf it doesn't, you ain't doing it rightLord, save me, my drug is my babyI'll be using for the rest of my life

5. Delicate

Ini salah satu lagu favorit saya. Mbak Taylor membuat musik di lagu ini kayak techno gitu, mirip musiknya Tatu, tapi saya lupa yang mana. Yang pasti di lagu ini banyak dentuman-dentuman yang bikin kita pengen goyang aja…hahaha… Terus liriknya juga lagi-lagi repetition, “isn’t it? Isn’t it? Isn’t it?” Hadeh…semakin lanjut track nya jadi semakin cinta deh…

'Cause I like youThis ain't for the bestMy reputation's never been worse, soYou must like me for me...

6. Look What You Made Me Do

Nah, kalau yang ini kayaknya sudah pada hafal kali ya… Secara single lagu ini aja pas pertama kali muncul udah langsung mecahin rekor. Belum lagi pas video clipnya muncul, dalam waktu beberapa hari aja udah ditonton sekian juta orang! Ya ampyun!! Lagu ini juga lagi-lagi masuk nomer 1 di BillBoard dalam waktu gak lama setelah rilisnya. Pokoknya comebacknya Mbak Taylor ini dimulai dengan lagu ini. Di lagu ini Taylor juga memberitahukan identitas barunya dia dan dia punya #reputation baru. Orang-orang sampai kaget pas tau di lagu ini Taylor lagi-lagi mengucapkan kata “B” word yang gak pernah ada di lagu-lagu dia sebelumnya! Lirik terkenalnya udah pasti “I’m Sorry The Old Taylor can’t come to the Phone right now!” Ditambah lagi video clip nya yang lagi-lagi bikin kita berdecak kagum. Kereeenn!!




7. So It Goes…

Untuk lagu ini Taylor kuat banget di liriknya. Musiknya juga lagi-lagi bikin kita kaget! Ini antara dark nya Taylor digabung sama sikap apatisnya, jadilah lirik yang super keren ini.

Come here, dressed in black nowSo, so, so it goes

8. Gorgeous

Ini adalah single ketiga yang Tay keluarkan video liriknya. Kalau menurut saya ini mirip-mirip Blank Space nya 1989. Dentuman dan suara drum nya di beberapa titik mirip banget sama Blank Space. Yang lucunya, di permulaan lagu ini ada suara anak kecil yang ternyata adalah suaranya James Reynold, anaknya Ryan Reynold dan Blake Lively. Pas lagu ini keluar, para gossiper langsung kaget dengan liriknya yang agak ‘nakal’. Jadilah mereka nebak-nebak sendiri, kira-kira siapa ya si Gorgeous itu? Hahahah…




9. Getaway Car

Masih belum selesai ya, kejutan yang diberikan sama Mbak Taylor. Lagu Getaway Car ini semakin kita kaget ajaaa… Mbak Tay di lagu ini memainkan unsur musik yang rame tapi easy listening. Ditambah lagi liriknya yang bikin orang lagi-lagi bertanya-tanya, ini kisah tentang siapa ya? Hahaha… Udah deh, mending nikmatin aja musiknya ketimbang mikirin gossipnya. Kalau menurut saya ini “Out Of The Wood” nya Reputation.


He was the best of times, the worst of crimes
I struck a match and blew your mind
But I didn't mean it
And you didn't see it

10. King Of My Heart

Kalau lagu ini si Mbak Tay lagi tergila-gila sama ‘someone’ nya. Kayaknya sih ini kisah si Mbak Tay dengan Om JA. Musiknya lagi-lagi bikin kita ‘nganga’. Mbak Tay memadukan dentuman drum, bas yang keren yang techno yang musiknya jadi rame tapi asyik. Kayak makan gado-gado gitu deh. Banyak yang dimasukin tapi rasanya jadi enak. Kamu bener-bener cerdas Mbak Tay!


'Cause all the boys and their expensive cars
With their Range Rovers and their Jaguars
Never took me quite where you do


11. Dancing With Our Hands Tied

Mbak Tay kali ini memadukan beat yang cepat dan dentingan one tuts piano di lirik-lirik awalnya, eh pas udah reff nya…. OMG! Semuanya berubah menjadi slow dan musiknya ikutan berubah dengan drum, piano, dan beat yang santai tapi asyik banget. Sumpah, ini jenius banget! Kalau menurut saya ini bener-bener orisinal buat album Reputationnya dia.

I, I loved you in secret
First sight, yeah, we love without reason
Oh, 25 years old
Oh, how were you to know and


12. Dress

Musik dibuka dengan pelan dan kayak-kayak gospelnya Amy Winehouse gitu. Eh, pas udah sampai ke Reff lagi-lagi Mbak Tay muter balik musik ini jadi kayak lantai disko. Ditambah dengan jentikan jari yang bikin lagu ini simpel tapi asyik.

All of this silence and patience, pining and anticipation


13. This is Why We Cant Have Nice Things

Waaahh…. Ini lagu kesukaan saya di album Reputation. Bagi saya ini ‘Bad Blood’ nya Reputation. Lagu dibuka dengan suara sirene dan repetation dari drum. Lalu bagian awal lagu ini menurut saya mirip musiknya Mbak Lorde. Pas bridge agak mirip ada suara piano yang mirip dengan di lagu ‘LWYMMD’. Nah, pas di reff berubah jadi ceria banget! Reff nya positif dan senang gitu. Setelah itu pas bridge lagi, ini yang bikin saya suka banget! Tay nyanyi dengan dentuman beat dan piano diikuti dengan backing vocal. Dan yang bikin kagetnya….. dia Ketawa ngakak! Ketawanya dia bener-bener asli gak dibuat-buat or jaim gitu. Bener-bener keren banget! Liriknya sendiri berisi tentang pengkhianatan, dan ‘musuh-musuh’ nya yang kayaknya gak suka Mbak Taylor ini tenang. Kalo menurut banyak orang, lirik ini adalah isi hatinya Taylor tentang Kanye West yang gak banget itu…Hahahah…

'Cause forgiveness is a nice thing to doHaha, I can't even say it with a straight face

14. Call It What You Want

Ini adalah single keempat Taylor di album Reputation yang dikeluarkan lirik videonya. Musiknya sendu tapi tetap nge-beat dengan lirik yang kuat. Bagi saya ini lagu yang slow listening dari semua lagu di album ini. Dan… ini juga lagu kesukaan saya di album ini. Paling enak dengerin lagu sambil duduk di tepi jendela bis, kereta, pesawat, sambil ngebayangin ‘seseorang’ di masa lalu. Hahahah… melow banget!







15. New Year’s Day

Inilah lagu penutup yang bener-bener slow. Tanpa beat, drum atau apapun kecuali piano yang dimainkan sama Mbak Tay. Kemudian diikuti sama petikan gitar di reff kedua. Pokoknya sendu-sendu gimana gitu deh… Lagu ini seolah jadi lagu perpisahan di Reputation ini. Aih… Mbak Tay, pinter banget deh, menutup album ini dengan sendu dan manis begini.




Nah, itulah review saya dari album Reputation Mbak Taylor Swift ini. Selain ini adalah album pembuktian Mbak Tay kalau dia adalah orang yang sudah move on, sekaligus membuktikan kalau dia out of her shell. Jadi dia gak akan peduli lagi orang mau bilang apa tentang dirinya. Intinya, The Old Taylor is Dead! Hahaha…

Untuk Indonesia sendiri, kemungkinan album ini akan ada di toko-toko CD or toko buku beberapa bulan setelah Reputation keluar di Amerika. Tapi jangan khawatir, lagu-lagu Mbak Tay udah bisa dibeli di Itunes. Yang pasti, selain CD, Taylor juga menyertakan Majalah Reputation nya satu paket dengan album itu. Beberapa musisi dunia dan kritikus musik yang mereview album ini memberikan respon yang amat sangat positif. Konon katanya, semua lagu di album ini akan dibuatkan lirik videonya atau malah video klip nya. Kalau saya pengen banget ngeliat video klip dari lagu : End Game, This is Why We Cant Have Nice Things, sama Delicate. Kira-kira bakal seperti apa ya? Heheheh…


Bonus Majalah 

Terakhir, saya memberikan album ini nilai 9.5 out of 10. Karena dedikasi Mbak Taylor yang bener-bener keren abis ini. Berkarya terus ya Mbak Taylor! Don’t let haters make you down! I’ll be waiting for your another project! Kalau nulis mau ketemu dia, mimpi kali yeee….hahahaha…***(yas)





Jakarta, 19th of November 2017
@my room, 00.11 am
Di PHP in sama adik sendiri… hiks


Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...