Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Sunday, April 29, 2018

Movie Review : Avengers Infinity War - Film Kebanyakan Hero (SPOILERS ALERT)


 
picture courtesy from Google


Pada akhir film Avenger yang pertama, di post credit scene nya muncul Thanos yang menggambarkan film ini akan berlanjut dengan memburu Thanos sebagai musuh utamanya. Selang beberapa tahun kemudian, setelah masing-masing memiliki filmnya sendiri-sendiri, maka tahun ini munculah Avengers : Infinity War yang digadang-gadang akan menjadi box office di tahun 2018. Nah, kira-kira gimana ya film ini? Let’s check my review!


Setelah kehabisan tiket di hari kedua pemutarannya. Ya iyalah, saya datang ke bioskop jam 18.00 sedangkan film yang saya incar yang 18.35 (waktu aman bagi saya karena selepas sholat maghrib). Namun, saya berharap ada satu kursi yang “nyempil” karena saya kan seorang diri (baca : jomblo). Namun nyatanya, kursi yang kosong ada di deretan paling depan. Langsung deh saya batal nonton.

Kemudian baru hari sabtu saya bisa menonton film ini bersama bocah-bocah di kelas saya. Eh, gak disangka saya malah gak bisa nonton karena kurang beli tiket! Saya kira yang ikut nonton hanya 8 orang termasuk saya, nyatanya saya menjadi orang kesembilan. Mau beli tiket dengan jam pertunjukan yang sama, lagi-lagi hanya sisa bangku paling depan. Ya sudah, akhirnya saya mengalah, menonton di show berikutnya.

Film dibuka dengan adengan Thanos dan Black Order berhasil mengalahkan Asgard. Mereka meminta Loki untuk menyerahkan Tesseract stone yang dulu pernah dimilikinya. Thor yang pada film singlenya kehilangan martil andalannya ditahan (dan anehnya kenapa gak dibunuh ya sama Thanos dkk? Apalagi saat ditangkap sikap si Thor ini nyebelin banget). Pada saat Loki akan menyerahkan batunya, datang bala bantuan yang tidak diduga. Namun bala bantuan itu justru kalah oleh Thanos dan dengan kekuatan sisa dari penjaga Asgard, bala bantuan berhasil dikembalikan ke negeri asalnya. Tragedi di asgard ini berakhir dengan dibunuhnya Loki.

Fase kedua yang menjadi incaran adalah batu yang dipakai oleh Dr. Strange. Lagi-lagi yang bikin saya BT banget (dan beda banget sama film solonya si Strange), Dr Strange malah “belagak” mau menjadi juru selamat dengan tetap menahan batu itu. Kalau ketahuan batu itu bikin orang jadi jahat mending dihancurin aja yekan? Akhirnya Dr Strange dan Iron Man ples Spidey keangkut kapal Maw. Anehnya lagi, Dr Strange kan bisa buka portal ke tempat-tempat lain ya? Kenapa disini dia benar-benar kayak orang gak berdaya gitu. Jadi kayak lemah gitu deh! Untungnya kharisma Benedict Clumberbatch memaafkan ketololan dari Dr Strange. Udah tau mau ditangkep, pergi kek kemana.

Next, scene di Scotland saat Wanda dan Vision lagi berduaan. Tiba-tiba keduanya diserang oleh anggota Black Order karena ingin mengambil batu yang ada di jidat Vision. Disinilah keduanya dibantu oleh anggota Avengers yang lain, Captain America (Chris Evans beneran kece badai), Black Widow, dan Falcon. Sayangnya saat kedua anggota black order itu udah terdesak, eh malah dibiarin kabur. Biar durasi filmnya panjang kali yee…

Adegan di Wakanda pun begitu. Saat Avengers sepakat mengambil batu di jidat Vision tanpa harus melukainya, maka tempat terbaik adalah WAKANDA FOREVER! T’Challa dan semua krunya bersedia melawan alien-alien gak jelas itu yang jumlahnya ribuan. Di adegan ini kembali saya menjadi gak suka sama T’Challa yang kesannya sekedar ditempel aja. Wakanda itu bukannya tempat yang susah dicari ya? Kok tetiba para Black order itu gampang banget nemuin. Ditambah lagi Wanda kok jadi lemah banget sih. Padahal, kalo aja dia ngerelain Vision “pergi” paling gak dia udah nyelametin dunia. Nanti bisa deh cari penggantinya Vision (apa sih gw?). Hehehe. Untung aja pas keadaan terdesak datang Thor yang sudah punya senjata baru.

Genk Guardian of Galaxy pun begitu. Mereka nyaris aja berhasil mengalahkan Thanos kalo aja gak dirusak sama sikap sentimentil Quill. Cuma gegara dia tahu kalau Gomorra sudah wafat eh dia malah jadi emosional gitu. Yaelah, jaga diri aja gak bisa, gimana mau jaga galaksi. Lol. Akhirnya gegara kegagalan itu, Thanos berhasil mendapatkan batu yang dimiliki Dr Strange. Gomorra sendiri terjebak sikap sentimentil dengan ayahnya itu. Kalau aja dia langsung ngebunuh ayahnya udah deh beres. Hahaha.
Anehnya, Nebula yang awalnya gak berdaya sama sekali pas diikat sama Thanos, eh pas Thanos dan Gomorra pergi tetiba dia punya kekuatan buat melarikan diri. Hallaawww, dari kemarin ngapain aja mbak Nebula???

Di akhir film, setelah Thanos berhasil mendapatkan kelima batu akiknya, eh batu infinity nya, dia malah gak langsung membunuh para avengers itu. Alih-alih ngebunuh Avengers, dia malah plesiran ke Filipina. Mungkin dengan melihat sawah-sawah di ladang hatinya akan lembut kembali (eaaa…eaaa…). Secara dia udah berambisi menjadi penguasa dunia, masa nangis sih pas ngorbanin anaknya. Mesti belajar sama Fir’aun nih kayaknya si Thanos gimana jadi orang yang berambisi. Wkwkwk.

Ujung-ujung, entah kenapa tetiba banyak superhero yang menjadi butiran debu. Gak tau deh maksudnya apa. Tapi feeling saya sih mereka gak mati. Kecuali seperti Loki, Vision, penjaga Asgard yang jelas-jelas dibunuh oleh Black Order dan Thanos.

Eh, jangan keluar dulu setelah filmnya abis. Kamu wajib banget baca itu orang-orang yang bikin film ini jadi absurd. Nah, kejutan di akhirnya, kamu akan melihat post scene, ketika Nick Fury dan Maria Hill menjadi debu. Eh, sebelum menjadi debu si Nick ini sempet ngepage (haree genee pake pager…wkwkwkw) seseorang yang ternyata adalah KAPTEN MARVEL! Konon Kapten Marvel adalah salah satu hero yang terkuat juga di alam semesta. Ya, seimbang lah buat melawan Thanos. Tapi pertanyaan terbesar saya adalah, Nick, kenapa kamu gak hubungin Kapten Marvel dari kemaren??? Kenapaaaa???? Nunggu semuanya jadi butiran debu baru deh kamu hubungin dia. Jangan-jangan dia lagi sibuk shopping and tutorial make up ya? Lol.

Intinya (lagi-lagi) saya merasa gak banget sama film besutan Marvel ini. Skenarionya menurut saya buruk. Joke-joke nya si Hulk garing abis! Keliatan banget kalau film ini pengen banget box office dan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Banyaknya hero yang hadir pun bagi saya mubazir banget! Dari semua hero yang hadir, masa sama Thanos aja kalah sih. Padahal kekuatan dia cuma di sarung tangan. Kalo sarung tangannya dilepas gampang deh dikalahin. Lebih gak bangetnya lagi, ada yang hero yang emosional banget, padahal dunia udah mau kiamat gegara Thanos, tapi mereka malah sentimental gitu. Bikin gregetan.

Ditambah lagi pertarungannya yang nanggung. Itu Bruce udah dapet kostum baru kenapa masih oon juga ya? Hahaha. Bagi saya yang menyelamatkan film ini adalah Kharisma Benedict Cumberbatch, ketampanan Chris Evans, dan kekerenan Elizabeth Olsen. Selebihnya, ke laut aja deh. Bahkan saya yang ngefans sama T’Challa aja sampe ilfil dengan peran dia yang giru-gitu doang. Oiya, Nikia nya kemana ya?

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 7/10
Skenario 6/10
Cinematografi 7/10
Overall 7/10


Buat kalian yang mau menonton film ini mending jangan high expectation. Karena takutnya malah jatuh kecewa. Dan jangan percaya sama orang yang bilang film ini bagus, nyatanya bagi saya, bagusan Black Panther kemana-mana. Anyway, selamat menonton***(yas) 



Jakarta, 29th of April 2018
@CnC Coffee shop, 18.36 pm





 Tiga penyelamat Film Avengers Infinity War


Mbak Wanda yang cuantik tapi sentimental bingits


Om Chris Evans yang kece abis


Mr Cumberbatch yang kharisma bangets

Tuesday, November 28, 2017

Review Marlina Si Pembunuh Dalam 4 Babak : Antara Sup Ayam, Kepala Buntung dan Curhat Para Feminis

Kill Bill versi Indonesia


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”
(HR Muslim: 3729)

***

Pernah menonton film-film karya Quentin Tarantino? Kill Bill, misalnya, di mana seorang wanita yg dikhianati oleh teman-temannya menuntut balas dan membunuhi mereka semua satu persatu. Dalam film MSPD4B tampaknya sutradara Mouly Surya terinspirasi dengan gaya penyutradaan ala Quentin Tarantino. Beberapa unsur musik, yg salah satunya memasukkan musik suasana khas koboi, atau suasana gersang namun indah, juga pernah saya saksikan di beberapa film QT yg ada di film MSPD4B. Berikut Saya akan mengulas sedikit tentang film ini.


Marlina baru saja kehilangan suami dan anaknya saat Markus, seorang perampok datang dan berencana memperkosanya bersama teman-temannya yang lain yang akan datang ke rumah Marlina. Jenazah sang suami belum lagi dikuburkan karena Marlina masih mengumpulkan uang untuk upacara adat kematian suaminya tersebut. Mayat itu dibiarkan Marlina duduk memeluk kakinya (yang sepertinya menjadi adat dari masyarakat Sumba untuk mendudukkan mayat hingga upacara adat dilaksanakan) di sudut ruangan rumahnya. Ketika teman-teman Markus datang, Marlina memberikan sup ayam sesuai permintaan Markus. Tanpa dinyata mereka, Marlina telah mencampurkan racun ke dalam sup ayam tersebut dan langsung menewaskan 4 teman Markus yang memakannya. Namun saat dia hendak mengantarkan sup ayam untuk Markus yang sedang tidur di kamarnya, tanpa sengaja sup tersebut tumpah saat Markus terbangun ketika Marlina hendak memberikannya. Markus pun menistakan keperawanan Marlina. Tak disangka ternyata Marlina telah mempersiapkan parang yang dengan sekali tebas, kepala Markus pun jatuh ke lantai. Selanjutnya, Marlina ingin mengadukan perbuatan Markus dan kawan-kawannya kepada polisi. Dia pergi dengan membawa kepala Markus. Dalam perjalanannya inilah penggalan kisah Marlina dimulai. Mulai dari bertemu Novi, Franz, dan sebagainya. Untuk lengkapnya saksikan sendiri di bioskop ya!


Selamat makan malam! Enak gak sup nya?


Film ini mengangkat tema woman violent yang marak terjadi pada wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah. Marlina digambarkan sebagai pribadi malang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Dia baru saja kehilangan anak dan suaminya, lalu kedatangan perampok yang menginginkan kehormatannya. Para lelaki di film ini pun digambarkan sebagai lambang superior di mana wanita hanyalah sebagai objek seks dan ketidakberdayaan saja. Hadirnya film ini selain ingin menampakkan wajah masyarakat yang sesungguhnya, juga sebagai lambang perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan selama ini. Sehingga film ini bisa dikatakan "teriakan" para wanita agar nasib mereka lebih diperhatikan.


Beberapa kelebihan di film ini yang berhasil saya tangkap adalah :


1. Cinematografi yang sangat bagus.
Penggambaran kehidupan Marlina yang sendirian serasa berdampingan dengan alam Sumba yang kering namun indah. Setiap scene menggambarkan padang stepa luas dengan daun-daun yang menguning. Penggambaran ini mengingatkan saya akan film "Aisyah Biarkan Kami Bersaudara" yang juga memakai latar belakang NTT. Sutradara dan sinematografer berhasil memadukan kekuatan akting dengan lingkungan sekitar yang membuata mata dimanjakan dengan gambar yang indah selama film berlangsung.

2. Akting yang menawan.

Beberapa aktor yang hadir di film ini menyuguhkan akting yang sangat menawan. Marsha Timothy, misalnya yang diganjar sebagai best actreess dalam sebuah festival film di Catalonia, Spanyol. Marsha berhasil menggambarkan sosok Marlina yang nestapa namun tidak cengeng dan tetap tegar. Ditambah lagi akting pemeran pembantunya, Dea Panendra yang berperan sebagai Novi, juga menampilkan karakter yang lugu, teguh pendirian dan polos. Dia melengkapi perlawanan Marlina dengan ikut menolong Marlina di scene terakhir. Hampir dari semua aktor yang berada di dalam film ini menampilkan karakter yang baik termasuk pemeran sekilas semacam Tofan si gadis kecil anak pemilik warung makan, mamak yang akan menghadiri pernikahan keponakannya, dll.


3. Berani mengungkapkan fakta yang banyak terdapat di Indonesia.
Beberapa adegan di film ini mengungkapkan fakta-fakta yang ada di Indonesia. Karena film ini mengangkat tentang perempuan, maka isu yang dikemukakan sudah tentu menyorot penderitaan kaum perempuan. Misal, bagaimana orang yang sudah menderita seperti Marlina, harus menanggung "perayaan" kematian suaminya padahal hutang dari kematian anaknya juga belum lunas. Di tengah himpitan ekonomi seperti itu sepertinya "adat" tetaplah sesuatu yang penting, padahal makan untuk besok saja belum tentu ada. Sehingga masyarakat terkesan memaksakan apa yang sebenarnya mereka tidak mampu.


Fakta berikutnya adalah superior laki-laki terhadap perempuan yang hanya dilihat (kebanyakan) sebagai objek seksual saja. Ini digambarkan saat Markus dkk ingin merenggut kesucian Marlina dengan kalimat yang intinya, "Kamu akan menang banyak malam ini, Marlina!" Juga saat Franz ingin memperkosa Marlina di scene akhir, padahal Marlina sudah berbaik hati mengembalikan "kepala" Markus. Termasuk saat Novi dengan kehamilan 10 bulannya yang belum keluar juga yang membuat Ambu, suaminya, marah dan meninggalkannya. Ambu pun percaya bahwa anak yang dikandung Novi tidak bisa keluar karena Novi berselingkuh. Ya, walaupun di jaman sekarang ini faktanya banyak perempuan juga yang sengaja "menjual" dirinya demi kenyamanan, tetapi tidak sedikit pula yang merasa penghargaan diluar seksualitas itu lebih tinggi. Maka dari itu timbullah emansipasi wanita yang menginginkan keadilan dan kesamarataan dengan laki-laki.


Fakta lain yang diangkat dalam film ini adalah kebobrokannya sistem kepolisian. Saat Marlina sampai di kepolisian, dia harus menunggu lama agar laporannya dibuat karena para polisi itu sedang "sibuk" bermain pingpong. Pada akhirnya saat salah seorang polisi itu menerima laporan Marlina, itu pun hanya sekedar ink on the page, sekedar menerima aduan masyarakat saja. Marlina bahkan disalahkan saat tidak melawan Markus yang digambarkan olehnya kurus dan kecil.


4. Musik etnik yang menarik.

Film tanpa musik mungkin tidak akan menarik. Film MSPD4B ini menjadi semakin menarik dengan musik etnik yang khas selama adegan berlangsung. Adanya musik ini menguatkan ke-Indonesia-an dari film ini. Dalam beberapa bagian bahkan tokoh Franz bersenandung dengan bahasa Sumba.


Beberapa hal inilah yang menurut saya menjadi kekuatan dari film MSPD4B. Mouly Surya berhasil mengangkat isu yang sering diteriak-teriakkan kaum feminis. Walaupun ada beberapa tanya juga di benak saya, namun itu mungkin tidak terlalu kentara.



Siapa yang mau jadi korban berikutnya?


Sekarang beberapa kekurangan film ini yang berhasil saya tangkap :


1. Alur yang lambat.
Semua adegan dari Marlina membunuh Markus sampai Marlina akhirnya balik kembali ke rumahnya untuk menolong Novi yang disandera Franz hanya dilakukan kurun dalam waktu 24 jam. Padahal Marlina sudah berjalan jauh naik truk, lalu dilanjutkan berkuda (kudanya jalan ya, bukan berlari seperti di film koboi) semuanya seperti tidak masuk akal karena dilakukan hanya 24 jam. Mungkin jika Marlina naik motor pulang balik, masih masuk akal. Namun berkuda yang kudanya juga hanya jalan lalu berhasil kembali ke rumahnya dengan mampir dulu ke restoran Tofan, tidur siang bersama Tofan, dll agak mustahil dilakukan dalam 24 jam saja.


2. Beberapa hal yang tidak masuk akal.

Selama berjalan Marina terus menjinjing kepala Markus tanpa kebauan. Begitu juga saat orang-orang yang ditemani Marlina tidak merasa kebauan dengan bangkai kepala itu. Padahal saat Franz dan Niko, dua perampok lainnya, masuk ke dalam rumah Marlina, Franz sampai muntah-muntah. Ini penggambaran bahwa dia kuat atau gimana saya kurang paham. Marlina juga menemukan peti yang akhirnya dijadikan tempat menaruh kepala Markus. Adegan kepala itu ada di dalam peti juga saat dia berjalan bersama kuda tanpa pelana. Semakin mustahil saja.

Adegan lainnya, pakaian Marlina masih bersih padahal kepala itu sempat didudukkan di atas pangkuannya. Detil mungkin, tapi bagian ini justru yang membuat saya bertanya-tanya. Marlina juga lewat dari pandangan Franz dan Niko yang mengejarnya dengan sepeda motor saat truk yang membawa Marlina berhenti untuk buang air. Supir truk tersebut pun seakan dengan mudahnya menjadi pembela Marlina, padahal awalnya mereka sempat adu mulut.

Bagi saya detil seperti itu penting demi menjaga jalan cerita yang tetap masuk akal dan sesuai nalar.


3. Sosok yang lemah sekaligus kuat (membingungkan).
Marlina awalnya digambarkan sebagai wanita yang lemah yang dengan begitu saja menerima kedatangan para perampok. Satu hal yang saya herankan, saat Marlina hendak digagahi oleh Markus dia tidak mencoba melawan sekuat tenaga malah dia berada di posisi "woman on top". Bagi wanita yang sedang diperkosa rasanya aneh dengan hal seperti itu. Walaupun kemudian dengan posisi itu Marlina berhasil menebas leher Markus. Tetapi tetap saja menurut saya adegan seperti itu bukanlah adegan penting. Bisa saja Marlina berlari dan mengambil parang kemudian langsung menebas leher Markus tanpa perlu Markus menggagahi nya. Di lain kesempatan, Marlina malah tidak berdaya saat akan digagahi Franz. Bisa saja sebelum Franz sempat menggagahinya, dia sudah menebas leher Franz terlebih dahulu kan? Bagi saya karakter ini malah membuat bingung peran Marlina sendiri, sebagai wanita lemah tertindas atau wanita kuat?


4. Banyak adegan yang tidak perlu.

Beberapa adegan yang menurut saya tidak perlu salah satunya adalah adegan pemerkosaan yang dilakukan Markus kepada Marlina. Bagi saya itu "gak Indonesia banget!". Sutradara seharusnya bisa menginterpretasikan hal tersebut dengan sesuatu yang lain tanpa harus secara vulgar menyajikan hal seperti itu. Tanpa hal itu pun sepertinya film akan tetap lancar, misal dengan langsung masuk ke adegan menebas leher Markus. Bagi saya adegan ini adalah "tempelan" dan "pemanis" film saja yang tanpa divisualkan pun bukan masalah besar. Film ini layaknya film Hollywood kebanyakan yang memasukkan unsur "sex" dalam film-film mereka. Sangat disayangkan film sebagus ini, bagi saya, menjadi "rusak" dengan adegan tak penting itu. Padahal jika adegan itu tidak ada maka cakupan penonton film ini bisa lebih luas lagi. Contoh saja film PASIR BERBISIK besutan Nan T.Achnas yang bagus tanpa perlu memasukkan unsur seksualitas.

Adegan lainnya yang menurut saya mengganggu adalah ucapan-ucapan kotor, yang walaupun ini adalah fakta yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, namun seharusnya Sutradara bisa meramunya dengan sesuatu yang lebih bermakna. Disini ungkapan-ungkapan seputar ranjang pun kerap dibicarakan, semisal saat Novi dan Marlina berdialog di truk atau saat mereka berdua sedang buang air kecil. Sehingga secara tidak langsung, lagi-lagi film ini mengangkat unsur "sex" agar lebih laris. Makian mungkin masih bisa saya maklumi, tetapi untuk hal-hal berbau seksualitas, di negara Indonesia mungkin tidak. Ya, kecuali jika film ini memang pangsa pasarnya adalah luar Indonesia. Oiya, adanya kucuran dana dari Perancis mungkin juga memengaruhi idealisme film ini.


5. Terlalu Quentin Tarantino

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas jika film ini sangat QT. Unsur-unsur yang membuat saya bisa menyimpulkan hal ini adalah pengambilan gambarnya, kekelamannya, dan yang paling jelas pemenggalan babak dalam film ini yang memakai judul besar pada pergantian babak. Pemakaian judul itu mirip sekali dengan film Kill Bill, ketika QT memenggal setiap adegan untuk Beatrix pada setiap musuh yang dihabisinya. Namun, sutradara berhasil mengambil gambar yang ciamik yang menggambarkan suasana indah Sumba.


Kesimpulannya adalah film ini adalah teriakan kaum Feminis akan penindasan yang terjadi pada wanita. Untung saja sutradara tidak terjebak membawa film ini dengan mengaitkan pada agama tertentu (seperti yang terjadi di film NAURA DAN GANK JUARA). Kalaupun ada tentang agama, itu hanya sekedar saran dari Novi saja tetapi tidak menyinggung. Para feminis memenangkan tokoh wanita yang berhasil keluar dari intimidasi para lelaki.

Dalam agama yang saya anut, Islam, wanita memiliki kedudukan yang penting dan keberadaannya sangat dihargai bukan sekedar berkembang biak saja. Para lelaki diharuskan menghormati wanita dan memuliakan mereka. Al-Qur'an sendiri memasukkan banyak surat yang bertemakan tentang wanita, semisal surat An-Nisa. Jikapun dalam realita modern sekarang ini banyak penindasan terhadap wanita muslim, bisa dipastikan mereka tidak menjalankan Islam secara baik. Untuk memukul saja Rasulullah melarangnya, apalagi sampai menganiaya. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah feminisme karena semua hak wanita terjamin dengan baik.

Sedangkan untuk korban pelecehan dan KDRT seperti yang dialami Marlina, menurut saya solusinya adalah perlawanan dari diri si korban terlebih dahulu. Orang lain mungkin bisa saja membantu, tapi jika tidak ada "will" dari korban akan sulit untuk menyelesaikan masalah. Perlawanan adalah salah satunya. Seperti yang diperlihatkan Marlina, ketika dia menjadi korban superior dari para lelaki perampok itu, dia melakukan perlawanan dengan membuatkan sup beracun dan memenggal kepala Markus. Novi pun melakukan perlawanan yang sama, saat sang suami memukulnya, dia melakukan perlawanan. Korban diluar sana mungkin tidak setangguh Marlina dan Novi, disitulah fungsinya LSM yang memberikan dukungan untuk para korban bukan malah mengompori korban dan mengambil alih segalanya dengan merasa yang paling tahu.

Film ini memang seharusnya masuk kelas festival ke festival bukan komersial. Dan bagi saya, hanya cocok ditonton orang dewasa serta movie maniak yang suka menonton film-film absurd semacam ini. Jika anda bukan pencinta film, sudah bisa dipastikan film MSPD4B ini boring as hell.***(yas)


Nilai :
Akting 8/10
Skenario 8.5/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.3/10




Jakarta, 28 November 2017
@myroom 21.11 pm
Selesai dalam dua hari. lamonyooo...








Sunday, November 19, 2017

Reputation : RIP The Old Taylor (Review)



Awal kemunculan album Reputation dimulai dengan teka-teki ular ini


“I’m sorry, the old Taylor can’t come to the phone right now,”
 “Why?”
 “Oh, cause she’s dead!”
 -Look What You Made Me Do-



Apa yang menjadi trending topic di twitter beberapa hari belakangan ini? Tentu saja, REPUTATION. Nama album ke enam Taylor Swift yang baru saja dirilis tanggal 10 November kemarin. Album tersebut langsung memecahkan banyak rekor di dunia permusikan, termasuk pemesanan 1 juta copy di Itunes yang menyebabkan Apple Store sempat lag untuk beberapa saat saking banyaknya pembeli yang ingin memiliki lagu-lagu terbaru Taylor Swift di Itunes. Hal lainnya, album ini menjadi album yang paling banyak di pre-order. Banyak rekor yang berhasil dipecahkan oleh album ini, termasuk video clip ‘Look What You Made Me Do’ yang paling banyak ditonton dalam waktu yang singkat.

Saya ingat sekali, beberapa waktu sebelum Taylor mengumumkan akan mengeluarkan album ini, saya sempat memosting sebuah foto di akun instagram saya dan menulis hashtag #TaylorSwiftPleaseComeBack karena pada saat itu Taylor Swift sudah cukup lama vakum setelah konser 1989 nya berakhir. Waktu itu Taylor juga broke up dengan Calvin Harris dan Tom Hiddleston. Calvin Harris menyerang Tay lewat akun twitternya namun tak ada respon dari Tay (ya, ampyun, aye ikutin gossipnya juga.Lol) Ditambah lagi Kanye West mulai gara2 lagi dengan memasukkan patung taylor dalam album gak terkenalnya “Famous”. Kim Kardashian ikut-ikutan dengan mengupload rekaman telepon Kanye dengan Tay dengan menambahkan icon ular yang kemudian indentik dengan Taylor. OMG! Kim apa yang kamu lakukan itu JAHAT! Pokoknya saat itu Tay diserang oleh para haters nya deh! Tidak lama kemudian akun sosial media Tay semuanya kosong alias Tay menghapus semua foto2nya. What happens with her?

Tak lama kemudian fans Tay dikejutkan dengan postingan Tay yang memperlihatkan video ‘makhluk yang bergerak’. Semua fans menebak-nebak kira-kira itu apa ya? Godzilla or something? Tay memosting video mahluk itu secara berkala yang memberikan ‘clue’ kepada para fans nya. Sampai akhirnya fans nya mengetahui bahwa mahluk itu adalah “SNAKE”. Kemudian muncul lyric video single pertamanya di album reputation : Look What You Made Me Do.

Satu persatu semuanya pun terungkap bahwa Tay akan mengeluarkan album baru yang berjudul Reputation. Banyak musisi yang merasa bahwa apa yang dilakukan Taylor pada album ini benar-benar luar biasa, her best masterpiece. Tay mengubah semua celaan dan cemohan menjadi suatu hal yang kreatif. Termasuk memasukkan unsur Snake yang indentik dengan dirinya. Di album ini juga Tay akhirnya not a sweet girl anymore, beberapa kali dia mengucapkan harsh words! Seperti yang dia bilang : Old Taylor has already died. Fans pun penasaran luar biasa dengan album ini. Joseph Kahn, sutradara beberapa video clip Tay, menyebut album ini sebagai “Monster”.


This is a monster!

Wah, pastinya keren banget ya kalau sampai Jo Khan aja bisa berpendapat kayak begitu. Saya beruntung bisa mendengarkan lagu-lagu Taylor bersamaan dengan album itu keluar. Sayangnya di Indonesia album ini belum keluar dan gak tau siapa yang akan menjadi distributornya, mengingat banyak toko-toko kaset/CD yang sudah tutup kan? Bingung deh, nanti beli itu album di mana. Dulu waktu 1989 rilis, saya nitip pada teman yang kebetulan pada saat itu sedang trip ke Amerika. Jadi merasa beruntung banget! Nah, kalo sekarang gimana ya?

Oke, sekarang kita bahas lagunya satu persatu ya!



List lagu Mbak Taylor


1. … Ready For It?

Lagu ini pertama kali saya dengar di Insta story nya akun Taylor Swift di Instagram. Pas denger lagu itu kayak ketemu pacar lama tapi gak tau pacar yang mana…hahaha… Sampai mengira ini lagu lamanya Tay yang belum saya dengar eh ternyata ini single kedua yang dirilis Tay setelah LWYMMD. Saya suka banget sama lagu ini karena musiknya pas banget dan gak biasa. Tay disini juga nge-rap dan membuktikan kualitas vokal dia. Wah dengernya aja saya bisa berkali-kali loh! Isi lagu kayak menggambarkan orang yang sedang jatuh cinta gitu. Mirip-mirip saya gitulah! Hahahah…


2. End Game Featuring Future and Ed Sheran

Omg! Lagu ini benar-benar DOPE! Sumpah lagu ini sebenarnya lagu sendu, berdasarkan liriknya, tapi Tay membuatnya jadi keren dengan hentakan beat dan paduan suara Future and Ed Sheran. Tay dan Ed disini menyanyikan liriknya dengan repetation yang, Ya ampyuunn….keren bingits!! Ini salah satu lagu yang saya suka di album ini.

" I swear I don't love the drama, it loves me "

3. I Did Something Bad

Lagi-lagi Taylor mengezutkan kita semua dengan kata “sh**” di lirik lagu ini. OMG! Old Taylor benar-benar sudah tiada (RIP Old Taylor). Beberapa liriknya juga membuat dia repetation lagi dengan kejutan-kejutan yang bener-bener bikin bertanya-tanya, “Ini seriusan Taylor Swift?”

If a man talks shit, then I owe him nothingI don't regret it one bit, 'cause he had it coming

4. Don’t Blame Me

Kali ini Taylor bikin musik yang mirip-mirip gospel gitu tapi isi liriknya tentang pengakuan dia ‘tergila-gila’ sama ‘someone’. Hahahah… Ditambah lagi musik distorsi nya di bridge, bikin makin kagum deh sama Mbak Tay ini. Gile… Mbak Tay kok kepikiran ya bikin musik kek begini?

Don't blame me, love made me crazyIf it doesn't, you ain't doing it rightLord, save me, my drug is my babyI'll be using for the rest of my life

5. Delicate

Ini salah satu lagu favorit saya. Mbak Taylor membuat musik di lagu ini kayak techno gitu, mirip musiknya Tatu, tapi saya lupa yang mana. Yang pasti di lagu ini banyak dentuman-dentuman yang bikin kita pengen goyang aja…hahaha… Terus liriknya juga lagi-lagi repetition, “isn’t it? Isn’t it? Isn’t it?” Hadeh…semakin lanjut track nya jadi semakin cinta deh…

'Cause I like youThis ain't for the bestMy reputation's never been worse, soYou must like me for me...

6. Look What You Made Me Do

Nah, kalau yang ini kayaknya sudah pada hafal kali ya… Secara single lagu ini aja pas pertama kali muncul udah langsung mecahin rekor. Belum lagi pas video clipnya muncul, dalam waktu beberapa hari aja udah ditonton sekian juta orang! Ya ampyun!! Lagu ini juga lagi-lagi masuk nomer 1 di BillBoard dalam waktu gak lama setelah rilisnya. Pokoknya comebacknya Mbak Taylor ini dimulai dengan lagu ini. Di lagu ini Taylor juga memberitahukan identitas barunya dia dan dia punya #reputation baru. Orang-orang sampai kaget pas tau di lagu ini Taylor lagi-lagi mengucapkan kata “B” word yang gak pernah ada di lagu-lagu dia sebelumnya! Lirik terkenalnya udah pasti “I’m Sorry The Old Taylor can’t come to the Phone right now!” Ditambah lagi video clip nya yang lagi-lagi bikin kita berdecak kagum. Kereeenn!!




7. So It Goes…

Untuk lagu ini Taylor kuat banget di liriknya. Musiknya juga lagi-lagi bikin kita kaget! Ini antara dark nya Taylor digabung sama sikap apatisnya, jadilah lirik yang super keren ini.

Come here, dressed in black nowSo, so, so it goes

8. Gorgeous

Ini adalah single ketiga yang Tay keluarkan video liriknya. Kalau menurut saya ini mirip-mirip Blank Space nya 1989. Dentuman dan suara drum nya di beberapa titik mirip banget sama Blank Space. Yang lucunya, di permulaan lagu ini ada suara anak kecil yang ternyata adalah suaranya James Reynold, anaknya Ryan Reynold dan Blake Lively. Pas lagu ini keluar, para gossiper langsung kaget dengan liriknya yang agak ‘nakal’. Jadilah mereka nebak-nebak sendiri, kira-kira siapa ya si Gorgeous itu? Hahahah…




9. Getaway Car

Masih belum selesai ya, kejutan yang diberikan sama Mbak Taylor. Lagu Getaway Car ini semakin kita kaget ajaaa… Mbak Tay di lagu ini memainkan unsur musik yang rame tapi easy listening. Ditambah lagi liriknya yang bikin orang lagi-lagi bertanya-tanya, ini kisah tentang siapa ya? Hahaha… Udah deh, mending nikmatin aja musiknya ketimbang mikirin gossipnya. Kalau menurut saya ini “Out Of The Wood” nya Reputation.


He was the best of times, the worst of crimes
I struck a match and blew your mind
But I didn't mean it
And you didn't see it

10. King Of My Heart

Kalau lagu ini si Mbak Tay lagi tergila-gila sama ‘someone’ nya. Kayaknya sih ini kisah si Mbak Tay dengan Om JA. Musiknya lagi-lagi bikin kita ‘nganga’. Mbak Tay memadukan dentuman drum, bas yang keren yang techno yang musiknya jadi rame tapi asyik. Kayak makan gado-gado gitu deh. Banyak yang dimasukin tapi rasanya jadi enak. Kamu bener-bener cerdas Mbak Tay!


'Cause all the boys and their expensive cars
With their Range Rovers and their Jaguars
Never took me quite where you do


11. Dancing With Our Hands Tied

Mbak Tay kali ini memadukan beat yang cepat dan dentingan one tuts piano di lirik-lirik awalnya, eh pas udah reff nya…. OMG! Semuanya berubah menjadi slow dan musiknya ikutan berubah dengan drum, piano, dan beat yang santai tapi asyik banget. Sumpah, ini jenius banget! Kalau menurut saya ini bener-bener orisinal buat album Reputationnya dia.

I, I loved you in secret
First sight, yeah, we love without reason
Oh, 25 years old
Oh, how were you to know and


12. Dress

Musik dibuka dengan pelan dan kayak-kayak gospelnya Amy Winehouse gitu. Eh, pas udah sampai ke Reff lagi-lagi Mbak Tay muter balik musik ini jadi kayak lantai disko. Ditambah dengan jentikan jari yang bikin lagu ini simpel tapi asyik.

All of this silence and patience, pining and anticipation


13. This is Why We Cant Have Nice Things

Waaahh…. Ini lagu kesukaan saya di album Reputation. Bagi saya ini ‘Bad Blood’ nya Reputation. Lagu dibuka dengan suara sirene dan repetation dari drum. Lalu bagian awal lagu ini menurut saya mirip musiknya Mbak Lorde. Pas bridge agak mirip ada suara piano yang mirip dengan di lagu ‘LWYMMD’. Nah, pas di reff berubah jadi ceria banget! Reff nya positif dan senang gitu. Setelah itu pas bridge lagi, ini yang bikin saya suka banget! Tay nyanyi dengan dentuman beat dan piano diikuti dengan backing vocal. Dan yang bikin kagetnya….. dia Ketawa ngakak! Ketawanya dia bener-bener asli gak dibuat-buat or jaim gitu. Bener-bener keren banget! Liriknya sendiri berisi tentang pengkhianatan, dan ‘musuh-musuh’ nya yang kayaknya gak suka Mbak Taylor ini tenang. Kalo menurut banyak orang, lirik ini adalah isi hatinya Taylor tentang Kanye West yang gak banget itu…Hahahah…

'Cause forgiveness is a nice thing to doHaha, I can't even say it with a straight face

14. Call It What You Want

Ini adalah single keempat Taylor di album Reputation yang dikeluarkan lirik videonya. Musiknya sendu tapi tetap nge-beat dengan lirik yang kuat. Bagi saya ini lagu yang slow listening dari semua lagu di album ini. Dan… ini juga lagu kesukaan saya di album ini. Paling enak dengerin lagu sambil duduk di tepi jendela bis, kereta, pesawat, sambil ngebayangin ‘seseorang’ di masa lalu. Hahahah… melow banget!







15. New Year’s Day

Inilah lagu penutup yang bener-bener slow. Tanpa beat, drum atau apapun kecuali piano yang dimainkan sama Mbak Tay. Kemudian diikuti sama petikan gitar di reff kedua. Pokoknya sendu-sendu gimana gitu deh… Lagu ini seolah jadi lagu perpisahan di Reputation ini. Aih… Mbak Tay, pinter banget deh, menutup album ini dengan sendu dan manis begini.




Nah, itulah review saya dari album Reputation Mbak Taylor Swift ini. Selain ini adalah album pembuktian Mbak Tay kalau dia adalah orang yang sudah move on, sekaligus membuktikan kalau dia out of her shell. Jadi dia gak akan peduli lagi orang mau bilang apa tentang dirinya. Intinya, The Old Taylor is Dead! Hahaha…

Untuk Indonesia sendiri, kemungkinan album ini akan ada di toko-toko CD or toko buku beberapa bulan setelah Reputation keluar di Amerika. Tapi jangan khawatir, lagu-lagu Mbak Tay udah bisa dibeli di Itunes. Yang pasti, selain CD, Taylor juga menyertakan Majalah Reputation nya satu paket dengan album itu. Beberapa musisi dunia dan kritikus musik yang mereview album ini memberikan respon yang amat sangat positif. Konon katanya, semua lagu di album ini akan dibuatkan lirik videonya atau malah video klip nya. Kalau saya pengen banget ngeliat video klip dari lagu : End Game, This is Why We Cant Have Nice Things, sama Delicate. Kira-kira bakal seperti apa ya? Heheheh…


Bonus Majalah 

Terakhir, saya memberikan album ini nilai 9.5 out of 10. Karena dedikasi Mbak Taylor yang bener-bener keren abis ini. Berkarya terus ya Mbak Taylor! Don’t let haters make you down! I’ll be waiting for your another project! Kalau nulis mau ketemu dia, mimpi kali yeee….hahahaha…***(yas)





Jakarta, 19th of November 2017
@my room, 00.11 am
Di PHP in sama adik sendiri… hiks