Showing posts with label people. Show all posts
Showing posts with label people. Show all posts

Saturday, December 23, 2017

Ibu, maafkanlah aku... (A belated Mother's day greetings)

Here laid down my beloved mom


“Kamu merawat Ibumu sambil menunggu kematiannya. Sementara Ibumu merawatmu sembari mengharapkan kehidupanmu”.
— Umar bin Khattab Ra


“Yas, could you build me a home?”


Minggu itu adalah minggu terakhir kalinya Saya bertemu dengan dia. Seorang wanita yang berbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan tubuh yang semakin tirus.

Saya tidak menyadari bahwa itu adalah tanda terakhir yang diberikan olehnya sebelum akhirnya dia pergi selama-lamanya. Saya sempat “memaksa” nya untuk makan sesuap nasi beserta sup dan pudding kesukaannya. Walaupun pada akhirnya semua makanan itu tumpah kembali lewat mulutnya berupa cairan hijau seperti “klorofil”. Entah kenapa, Saya yang biasanya sangat jijik dengan muntah, langsung menenangkan ibu yang panik karena lantai menjadi kotor dan seprai di kasur berubah warna.

“It’s ok, mom. I’ll take over this.” ujar saya dan dengan segera membersihkan lantai dan mengganti seprai.

Andaikan Saya tahu ini adalah minggu terakhirku melihat wajahnya lagi, mungkin saya akan terus berada di rumah saja menemani hari-hari terakhirnya. Namun yang terjadi Saya malah kembali ke kost-an di Bekasi dan sibuk dengan segala hal.

Kemudian, Saya merasa enggan untuk pulang ke rumah minggu itu. Semua kakak-kakak saya sedang berkumpul di rumah untuk menghibur ibu. Saya ingin menyelesaikan beberapa urusan yang menunggu deadline nya, padahal itu adalah long weekend, Senin libur bertepatan dengan hari raya nyepi.

Tak lama, sebuah message masuk lewat ponsel saya, “Yas, mom sudah gak ada.” Pesan yang singkat dan padat dari kakak saya.

Pardon me? What actually did you mean?

Detik berikutnya ponsel saya kembali dibombardir dengan pesan-pesan serupa yang membuat Saya lemah tak berdaya. Saya menelepon balik kakak saya,

What did you mean? Are you serious? Don’t fool me!” Saya meradang keras. 

Namun kakak saya hanya mengatakan, “You can see her by your eyes!”. 

Saya menangis mearung-raung sendirian di dalam kamar kost. Minggu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kakak-kakak saya yang lain menyarankan “Don’t ride a motorbike in this situation. You won’t be focus,” Tapi Saya tak memedulikannya. Saya menangis sepanjang perjalanan. 

“Mom… why? Why you leave me? Why? Why?”

Saat Saya berada di Rumah sakit tempat beliau dibawa tadi, Saya melihat kakak saya sedang duduk di samping tubuh ibu yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang sudah ditutupi kain. Saya menangis sejadi-jadinya. 

“Mom….why? Why? I can’t bear this,” 

Yang ada pada saat itu adalah rasa penyesalan yang amat sangat kepada ibu saya. Kenapa saya tidak pulang dengan cepat? Kenapa saya masih sibuk bekerja? Kenapa saya… Kenapa saya?? Dan segudang penyesalan yang menggunung tinggi. Bahkan saat jenazah ibu dibawa pulang ke rumah pun, saya hanya jatuh tersungkur di kamar dan tak berhenti menangis. Beberapa kawan-kawan dan sahabat saya berusaha menghibur, namun I really feel nothing. I'm lose a single piece of puzzle in my heart. It tears me down, it breaks me so hard. Sampai ketika ibu saya dimasukkan ke dalam liang kuburnya pun saya seperti tak rela. Mengingat wajah tuanya saja sudah membuat saya susah untuk bernafas dan lagi-lagi….feel nothing!

Sehari setelah kepergiannya, gairah hidup saya menurun drastis. Saya berhenti makan untuk beberapa hari. Bahkan sesudahnya, usai makan saya selalu memuntahkan semua isi perut saya. Air mata selalu mengalir dalam kondisi apapun. Walaupun berusaha untuk tegar, kemudian saya akan berlari ke kamar mandi untuk menangis. Semangat hidup saya pun meredup. Mengingatnya kembali memberikan dampak yang sangat tidak baik bagi hidup saya. It really hard to move on! Sakitnya lebih sakit dari apapun, terlebih jika kau sangat akrab dengan ibumu. 

Selama 3 bulan dan kemudian 1 tahun perlahan-lahan saya mulai bangkit menata hati saya yang pecah. Walaupun sekarang mungkin sudah utuh kembali, tetapi bekasnya itu masih kentara. Layaknya sebuah gelas yang pecah dan kau menambal pecahannya agar utuh kembali, namun gelas itu masih ada bekasnya bukan?

Hanya Allah lah yang akhirnya menguatkan kaki ini untuk berdiri tegak kembali dan menatap sinar pada ujung sebuah kegelapan.

***

Saya dan ibu bisa dikatakan sangat akrab. Saking akrabnya, seorang sahabat pernah berkata, 

“Yas, ada gak ya hubungan anak dan ibu yang segila kamu?” 

Ya, saya sangat akrab. Bila ibu saya sedang makan dan saya melihat makanan yang dimakannya enak, pasti saya langsung minta disuapin dari piring ibu saya. Kadang saya tidur bersama ibu saya sambil menganggap tubuhnya sebagai guling. Kalau saya sedang gemes, pasti pipi ibu saya yang mulai keriput itu menjadi sasaran saya. Sering juga bergelayut manja di bahunya atau sekedar mencandainya. Jika ibu saya sedang marah, maka saya selalu meniru gesture-nya sehingga membuat ibu saya makin tambah marah. Tak lama kemudian tertawa. Kalau sedang gajian, sering membelikannya makanan yang enak-enak, yang ujung-ujung tak pernah dimakannya melainkan diserbu oleh keponakan-keponakan saya. Jika melihat baju daster pasti maunya beli untuk ibu saya. Maka dari itu teman saya merasa hubungan saya dan ibu saya “gila” karena bisa bercanda layaknya teman.

Suatu malam saat saya masih kuliah di Yogjakarta, telepon di rumah kost saya berdering. Waktu itu pukul satu malam dan saya masih asyik berkutat dengan tugas kuliah. Bapak kost yang mengangkat waktu itu dan suaranya terdengar sampai kamar saya yang kebetulan berada tak jauh dari tempat telepon itu berada. Tak lama Bapak kost itu memanggil saya, “Yas, telepon dari Jakarta.” Saya agak kaget karena jika telepon tengah malam itu biasanya mengabarkan berita yang kurang enak. Saya pun menerima telepon itu. Suara bapak saya.

“Ada apa, Pak?”

“Ini, ibumu terbangun di tengah malam dan ingat kamu,”

“Terus?”

“Dia nangis dan mau tau kabar kamu,”



Begitulah ibu saya. Selalu kepikiran sama anaknya. Bahkan sampai tengah malam di jarak 350 kilometer.

Beberapa ribu jam setelahnya saat saya pulang ke rumah pada masa libur kuliah, beberapa orang menceritakan kepada saya bahwa ibu saya tidak makan karena selalu mengingat saya! Bagi saya itu mungkin terlihat mengharukan sekaligus lebai apalagi saya bukan tipikal drama king.

Dan setelah kepergian ibu saya maka wajarlah bagi saya begitu kehilangan beliau. Setiap hari saya merinduinya, menangis untuknya dan terdiam untuknya. Rasa sakit itu begitu susah dilupakan hingga kini. Melihat fotonya saja atau berziarah ke kuburnya langsung mengungkit luka lama. It hurts me bad! Even I didn’t want to live anymore!

Teringatlah dosa-dosa saya pada ibu saya. Dulu saya sering sekali meninggalkannya di rumah dengan alasan sibuk berdakwah di luar rumah. Sering menyakiti hatinya dengan kata-kata setajam pisau. Pernah tidak mematuhi apa yang menjadi nasehatnya. Pernah membohonginya dan lainnya. Bahkan saya tidak pernah memahami bahasa diamnya yang menandakan dia tidak suka. Tangis kekhawatirannya seringkali saya anggap sebagai suatu hal yang berlebihan. Omelannya yang merupakan rasa kasih sayang sering saya anggap sebagai makian untuk saya. Ahhh… Ibu, andaikan kau ada disini, ingin aku memelukmu lagi dan mendekap tubuhmu erat.


Ibu, maafkanlah aku…

Sungguh engkau merawatku dengan penuh kesabaran dan kasih sayang surga. 
Engkau merawatku dan membesarkanku dengan cinta yang terbuat dari permata yang tiada tandingannya. 
Namun, aku merawatmu tidak dengan sungguh-sungguh.

Ibu, maafkanlah aku…

Adakah jalan yang bisa kulalui agar kutahu bahwa kau redho dengan apa yang kulakukan? 
Adakah kesempatan bagiku untuk meminta maaf kepadamu lagi? 
Adakah kesempatan bagiku untuk melihat senyummu lagi?

Ibu, maafkanlah aku… 

Kau mendoakan aku dengan sepenuh hatimu. 
Kau meminta kepada Allah dengan keredhoan langit dan bumi. 
Kau meminta perlindungan yang paling hakiki agar aku tak salah jalan dan tersesat. 
Namun, aku begitu sombong untuk selalu menolak apa yang menjadi titahmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau berjalan menembus malam hanya untuk mencari cahaya untukku. 
Kau tertatih menahan perih demi aku anakmu terhindar dari kesusahan. 
Kau tersenyum dengan senyum paling purnama yang menghalau resah dihatiku.

Ibu, maafkanlah aku…

Pada saat aku tak bisa lagi berbicara denganmu, 
pada saat aku tak bisa lagi menatap wajahmu, 
pada saat aku tak bisa lagi membaui khas tubuhmu, 
pada saat aku kehilangan arah, rasa sesal itu pun hinggap dan menghancurkan hari-hariku. 
Rasa penyesalan yang terus menggerogoti diriku akan betapa nista dan bodohnya aku, 
tak sempat meminta maaf hingga akhir hayatmu.

Ibu, maafkanlah aku…

Walaupun ku yakin kau sudah berbahagia di sana, 
namun aku akan selalu rindu…rindu dan rindu. 
Rindu berdetik banyak dan tak akan mungkin terbalaskan. 
Hanya lantunan doa yang menjadi penghubung rindu kita. 
Ku yakin kau sudah aman di sisi Allah.

Ibu, maafkanlah aku…

Kau merawat aku dengan penuh kasih 
dan aku merawatmu untuk menunggu kematianmu.


Oh, can you hear it in my voice?
Oh, can you see in my eyes?
Love for you is alive in me.
Oh, can you feel it in my touch
Know that I always have enough
Your love is alive in me…


Ibu… Ibu… Ibu… I really miss you so bad***(yas)







Bekasi, 23rd of December 2017
@Chicking Giant, 18.46 pm
Ibu aku rindu setengah mati…
Daffi bpk juga rinduuu….



Disinilah Ibu saya berbaring untuk selamanya


Seperti enggan melanjutkan hidup

Kau merawatku sambil menunggu kehidupanku

The last photo when she visited Mekkah




Saturday, February 25, 2017

One Step Closer



" Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [his desire]. And what is the life of this world except the enjoyment of delusion "
***

Telepon rumah saya berdering. Pagi itu baru saja subuh berlalu dan orang-orang baru pulang dari masjid. Saya enggan mengangkat telepon itu. Telepon di rumah memang sudah jarang digunakan. Alat itu hanya digunakan untuk menyambung jaringan internet saja. Terlebih semua anggota rumah sudah memiliki ponsel, jadi semakin jarang yang menggunakan telepon itu.

Ayah saya yang mengangkat. Kakak saya yang menelepon. Dia mengabarkan bahwa suaminya sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Kakak saya meminta untuk diberitahukan kepada anggota keluarga yang lain karena saat menghubungi lewat ponsel tidak ada yang mengangkat. Mungkin wajar, karena waktu masih pagi sekali.

Ayah saya bergegas mengeluarkan motornya dan berangkat menuju rumah sakit tempat kakak ipar saya dirawat. Saya meneruskan aktivitas pagi saya sebelum berangkat kerja, mandi, berpakaian, dan pergi ke tempat kerja. Sehari sebelumnya saya sudah tidak masuk kerja karena banjir yang masuk ke rumah kami. Jadi saya mengurungkan niat untuk membersamai ayah saya. Saya pikir mungkin sepulang mengajar saya bisa mampir.

Kakak ipar saya memang sedang mengalami masalah dengan kesehatannya. Sudah bolak balik rumah sakit dan menjalani pengobatan yang panjang. Beberapa kali dibawa ke UGD dan sehat kembali. Namun yang sekarang tampaknya lebih serius, karena sudah beberapa hari di rumah sakit dan belum diperbolehkan pulang. Dari informasi yang sempat saya tanyakan, paru-paru kakak ipar saya sudah terendam. Dulu dia salah seorang perokok namun sudah berhenti beberapa tahun yang lalu.

Motor saya baru saja dikeluarkan, lalu terdengar suara mikrofon dari masjid terdengar menyeruak di angkasa. 

"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..."

I felt bad after hear this. Dan benar saja, pengumuman di masjid itu mengabarkan bahwa kakak ipar saya telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun. Hanya kepada Mu lah kami semua akan kembali.

***

Beberapa tahun sebelumnya, saya kehilangan Ibu saya. Saya masih ingat betul hari itu. Minggu menjelang malam, untuk pertama kalinya saya enggan untuk pulang ke rumah dari kost saya. Biasanya saya memang selalu pulang ke rumah setiap minggu, tapi entah kenapa minggu itu saya terasa berat sekali pulang ke rumah. Hari itu menjadi THE WORST day of my life. MY VERY VERY VERY BAD DAY! Losing your love one feels like loosing your soul. There's no need to do everything except crying all day. Omg! Worst...worst...worst...

Saya dan ibu saya memang sangat akrab.Tapi saya tak pernah terbuka padanya, bagi saya agak risih aja kalau menceritakan pengalaman pribadi ke ibu. Karena saya anak terakhir maka saya sering bermanja-manja padanya. Seringkali saya juga bercanda dengannya, semisal dengan mencubit pipinya dan lainnya. Sobat akrab saya, Aris, sampai sering tertawa ngakak melihat keakraban saya dengan ibu saya yang sering saya bercandain. 

"Ente sama mommy ente bener-bener akrab ya, Yas. Ada gak ya ikhwan yang keakrabannya kayak ente sama mommy ente," ujar si Aris.

Namunhari kehilangan beliau benar-benar raga saya kehilangan segalanya. Mengingatnya saja sekarang sudah membuat saya ingin menangis. Mengenangnya... ah, sepertinya saya tidak sanggup. Hari ini semua perasaan sesal, sedih, kehilangan, dll seolah menjadi satu. Melihat orang yang sangat dekat denganmu dan amat sangat kita cintai membujur kaku dihadapan kita tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi jika kita merasa bersalah besar pada orang itu. Menangis pun rasanya USELESS. Benar-benar tak ada gairah hidup setelahnya. Merenung berhari-hari di kamar, kemudian saat bekerja mencuri waktu ke toilet dan menangis kembali saat mengingatnya, kehilangan nafsu untuk makan, merasa seperti half of my soul has taken away! The most enermous sadness!

Tak lama setelah kehilangan Ibu, saya kehilangan Murobbi saya. Beliau memang sudah beberapa tahun terkena kanker nesofaring dan pada saat kematian beliau, beberapa kali beliau mengalami kondisi tak sadarkan diri. Namun semangat beliau amat sangat luar biasa! Dia adalah orang yang paling bersemangat yang pernah saya kenal. Bahkan di saat sakit beliau, beliau masih merasa optimis dan anti mellow. Beliau masih sibuk membantu orang lain. Semangat beliau itulah yang kadang membuat saya kangen pada beliau. Teringat suatu malam saat saya sedang ada masalah berat, saya datang ke rumah beliau dan mencurahkan semua uneg-uneg sama sambil menangis sejadi-jadinya. Atau teringat kenangan pada saat saya tinggal jauh di Yogyakarta dan homesick, beliau yang selalu menguatkan. Benar-benar kangen sekangen-kangennya dengan beliau.

Waktu itu hari Jum'at. Jam mengajar saya full jadi saya tidak sempat membuka-buka ponsel saya. Seusai sholat Jum'at, di layar ponsel saya tertera beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan via wa yang membanjiri ponsel saya. Saya benar-benar tidak ada feeling apa-apa saat membukanya. Ternyata di grup wa teman-teman SMA angkatan saya sudah banyak yang berkirim ucapan istirja. Saya belum paham siapa yang meninggal, sampai akhirnya saya menemukan nama Murobbi saya tertera disana.

Setelah mencari kepastian dengan menelepon sahabat-sahabat saya, maka saya segera melarikan motor saya ke tempat murobbi saya. Perjalanan Bekasi - Depok yang jauh terasa semakin jauh dengan mengingat wajah murobbi saya. Sepanjang perjalanan saya menangis mengingat kebaikan beliau pada saya. Hingga akhirnya saya harus berpisah dengannya di makam itu, rasaya ingin sekali membuka mata saya dan mengatakan bahwa ini adalam mimpi. Sometimes reality bites harder!

Kehilangan yang terlampau sakit lainnya juga saya rasakan saat saya kehilangan kakak saya. Terlebih saat itu saya sedang mengalami heart feeling dengannya. Lagi-lagi berita itu saya terima pagi-pagi. Kakak saya sedang dibawa ke UGD. Namun saya masih malas untuk menjenguknya karena heart feeling itu. Tak lama setelah saya selesai mengajar, saya menerima wa yang isinya mengabarkan bahwa kakak saya telah tiada. It's really pounding my heart. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Feel guilty nya itulah yang membuat saya merasa tersiksa. Perlu beberapa waktu untuk akhirnya berdamai dengan keadaan ini. 

***

Memaknai kematian sepertinya susah untuk dijelaskan. Bisa jadi itu terlampau cepat, bisa jadi pula itu terlampau lama. Bisa jadi orang yang pergi itu baru saja berada di hadapanmu, dan detik berikutnya dia sudah membujur kaku di depanmu. Bisa jadi senyumnya adalah pertanda yang terakhir kali namun kita tidak memahaminya. Bisa jadi pula, dia mengucapkan sesuatu yang memberikan kita kode tapi kita baru menyadarinya setelah dia pergi untuk selamanya. Selamanya, kematian adalah sebuah misteri.

Allah sendiri sudah menjelaskan semuanya dalam Al-Qur'an bahwa kematian itu cepat atau lambat pasti akan datang menghampiri kita. Dengan berbagai cara yang kita tidak tahu. Kematian seseorang itu akan mengikuti kebiasaan dari orang tersebut (Naudzubillahi Min Dzalik). Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kita makhluk bernyawa, dan kita pasti akan merasakan mati.

Saya teringat akan kisah Nabi Sulaiman dengan Malaikat Maut. Waktu itu Malaikat maut sedang berkunjung ke tempat Nabi Sulaiman. Salah seorang teman Nabi Sulaiman juga sedang berkunjung. Saat itu Malaikat maut kaget menatap teman Nabi Sulaiman. Dia memandang orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sang teman yang merasa diperhatikan dengan seksama itu merasa tidak sendiri. Dia merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu kalau itu adalah Malaikat Maut, namun pandangannya yang tajam membuat dia menjadi ketakutan sendiri. Dia pun mendekati Nabi Sulaiman dan membisikinya.

"Wahai Nabi Sulaiman, tolong pindahkan ke sebuah gunung yang tinggi. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan temanmu itu," ujar teman Nabi Sulaiman sambil memandang Malaikat Maut yang belum berhenti menatapnya.

Nabi Sulaiman pun dengan kemampuannya segera memindahkan sang teman sesuai permintaannya. Kemudian dia mendekati Malaikat Maut yang masih tampak kebingungan.

"Wahai Malaikat Maut, kenapa kau memandangi orang itu dengan tatapan aneh. Adakah yang salah dengannya?" ujar Nabi Sulaiman.

Malaikat Maut menatapnya dan mengatakan, "Aku merasa heran. Hari ini aku menerima perintah untuk mencabut nyawanya di sebuah pegunungan yang tinggi, tetapi kenapa orang itu ada disini,".

Masya Allah... sungguh maut itu tidak mengenal tempat dan waktu. Jika memang sudah waktunya maka pasti tak akan bisa digeser walaupun sedetik. Tak bisa ditunda, tak bisa dinegosiasi, tak bisa dialihkan. Semua tunduk pada ketetapan Nya. Dialah yang menjadi pemutus kenikmatan dunia, pemutus hubungan anak dan orang tua, pemutus kesenangan yang sementara yaitu dunia.

Pada awal kita menerima berita kelahiran, kedatangan seorang bayi mungil, yang kemudian menjadi besar dan dewasa. Kita menerima kabar-kabar kebahagiaan dengan hadirnya orang-orang disekeliling kita yang membuat kita tertawa, menangis, bahagia, sedih, dan lainnya. Namun kemudian kita menghitung kehilangan kita. Satu per satu mulai meninggalkan kita tanpa kita pernah bisa menduganya. Kelahiran seseorang itu bisa diprediksi, namun kematian seseorang itu hanya Allah yang tahu. 

Perlahan-lahan saat umur kita semakin bertambah, orang-orang disekeliling kita pergi satu persatu. Pada saatnya maut itu akan menghampiri kita juga. Hari-hari kita adalah hari-hari di mana kita mendekat selangkah demi selangkah menuju titik kita kembali kepada Nya. Bagi orang yang beriman, kematian adalah sesuatu yang membahagiakan karena disitulah tempat mereka bisa bertemu dengan Rab yang selalu mereka rindukan setiap waktu. Sedangkan bagi mereka yang terlampau jauh dari Allah (I think, I'm one of them 😭  ), kematian adalah suatu hal yang menakutkan, mengingat banyaknya kesalahan yang telah dilakukan. Alangkah indahnya jika taubat menjadi pintu perubahan dan titik balik dari kita sebelum maut menghampiri. Insya Allah. Semoga Allah selalu mempermudah kita pada saat detik-detik kematian kita, dan meridhoi amalan yang kita lakukan. Pada saat waktu itu datang, semoga saya dalam keadaan baik Ya Allah. Aamiin Ya Rabbal Alamin

***

Pada saat kondisi sakratul mautnya, Nabi Muhammad meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan semua sakratul maut ummatnya hanya kepadaya. Beliau merasakan betapa dahsyatnya sakratul Maut ini sehingga beliau merasa umatnya tak akan sanggup memikulnya.

Namun Malaikat Jibril menolaknya. Dia mengatakan bahwa semua jiwa akan merasakan betapa dahsyatnya sakratul maut. Nabi Muhammad pun berlinang air mata.

Ya Rasulullah, jika engkau saja yang maksum merasakan dahsyatnya sakratul maut, bagaimana dengan kami ummat mu, Ya Rasul? Tak sanggup bagi kami untuk membayanginya 😭😭😭  

Sebuah bait nasyid, Pergi Tak Kembali, dari Rabbani semoga bisa menjadi penguat kita untuk terus memperbaiki diri agar bisa menemui kematian dengan cara yang baik.

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baiklah atau sebaliknya
Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kanangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi


Kami berserah diri kepada Mu, Ya Allah. Jadikan kematian itu mudah bagi kami dan bukan sesuatu yang kami takuti. Jadikan ia sebagai jalan menuju puncak kerinduan kami untuk bertemu dengan Mu, Wahai Tuhan Semesta Alam***(yas)


Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran : 185)


Jakarta, 27th of February 2017
18.03 @Carl's Junior Buaran



They are Who had already gone 😭😭

The worst day in my life. It still hurts whenever I remember this

He laid down here. I miss him everyday and still counting

Im feeling guilty to her. If I could change this feeling. It sucks!

Thursday, February 9, 2017

A Clean Girl (A tribute to Lindsay Lohan)





Akhir-akhir ini jagad medsos dihebohkan dengan penampilan "Islami" salah seorang artis wanita asal Amerika, Lindsay Lohan. Tetiba Lindsay jadi sering mengucapkan salam yang diulang-ulang setiap kali dia memosting foto2nya di instagram. Tak hanya itu saja, Lindsay juga memposting fotonya mengenakan scarf khas wanita Turki. Dalam kesempatan yang lain, Lindsay kepergok membawa kitab suci Al-Quran (dear Pak Gubernur di negeri antah berantah, tuh belajar dari Mbak Lindsay).

Tapi apa yang menyebabkan Lindsay Lohan yang biasa disingkat menjadi Lilo ini berubah tiba-tiba? Padahal dulu juga pernah ada rumor Paris Hilton berkerudung dan ke Mekah, Angelina Jolie berkerudung di Pakistan dan Afganistan, Mbak Janet Jackson memakai baju gamis, terlebih dahulu. Tapi kenapa malah mbak Lilo ini yang menjadi heboh banget? Yuk kita telisik.

Lindsay Lohan memang tidak terlihat cantik super wah versi orang-orang Asia. Kecantikan sempurna itu bagi masyarakat Asia itu yang seperti Jeng Katy Perry, Taylor Swift atau Britney Spears (jadul banget ini mbak Britney :) ). Tapi bagi masyarakat USA, raut wajah seperti Lilo ini masuk kategori natural beauty. Cantik yang bukan hasil dari permak wajah. Freckless di wajah, warna rambut merah jagung, dan mata yang besar, bagi mereka itu ajib banget. Kecantikan yang unik yang tidak seperti biasanya. Maka jangan heran kalau Mbak Lilo ini begitu ngetop disana. 

Karier mbak Lilo ini dimulai saat dia menjadi bintangnya Disney. Menjadi bintang cilik dengan label Disney merupakan impian bagi setiap anak yang ada di USA. Kebanyakan jebolan Disney ini sudah besarnya menjadi artis top seperti Christina Aguilera, Britney Spears, Justin Timberlake, dll. Ketenarannya semakin menjadi setelah film anak-anak yang dibintanginya PARENT'S TRAP menjadi box office. Akting si kecil Lilo sebagai identical twin membuat banyak orang memprediksi, "She's gonna be a star!".

Film Lilo yang lain adalah FREAKY FRIDAY yang dibintangi bersama aktris Halloween, Jamie Lee Curtis. Film yang kembali menjadi box office ini semakin menguatkan akting Lilo. Kemudian disusul dengan film CONFESSION OF TEENAGE DRAMA QUEEN yang bercerita banyak tentang dirinya. Setiap film yang dibintangi Lilo pasti laris manis.

Puncak kejayaan Lilo adalah saat film MEAN GIRLS yang dibintanginya bersama Rachel McAdams, Amanda Seyfried, Lacey Chabert, dll menjadi booming. Peran Lilo sebagai Cady, yang sering dibully oleh genk Regina George selalu diingat oleh orang. Bahkan muncul istilah khusus pada orang yang melakukan bullying kepada orang lain sesuai yang ada di film ini. Lilo pun semakin dipuji-puji dan menjadi bintang di masa depan. Bayangkan saja, film dengan budget 17 juta dollar berhasil meraup keuntungan 129 juta dollar.

Bertepatan dengan aktingnya di dunia film yang semakin berjaya, Lilo pun menjajal keuntungannya di dunia tarik suara. Albumnya "SPEAK" lahir di tahun yang sama dengan film MEAN GIRLS. Album ini berhasil mencapai nomer 4 di US. Singelnya yang terkenal adalah RUMOURS dan OVER. Lilo berhasil menancapkan jejaknya di bidang musik. Image yang terbentuk pun positif, Lilo si gadis baik dan bersih.

Namun semua itu pun terjadi. Perceraian kedua orang tua Lilo, Michael dan Dina Lohan, setahun setelah kesuksesan Lilo. Hal inilah yang membuatnya menjadi terpuruk. Dia sempat mengeluarkan single pengakuannya tentang perceraian kedua orangtuanya yang berjudul CONFESSION OF A BROKEN HEART yang menceritakan akibat yang dideritanya dengan perpisahan kedua orang tuanya. Lilo sepertinya terpukul dengan sikap yang diambil kedua orang tuanya itu. Apalagi Lilo terbiasa hidup bahagia, kejadian ini serasa tidak siap dia terima. Keadaan semakin runyam dengan adanya perebutan harta gono gini yang dilakukan kedua orang tuanya.

Disinilah mulai masa kelam Lilo terjadi. Image Lilo sebagai gadis baik-baik berubah seketika. Dia mulai ugal-ugalan. Berita yang ditulis paparazzi pun hampir semuanya negatif. Terlebih setelah dia berpisah dengan long time partnernya, Wilmer Valderrama. Dunia gelap seorang Lilo semakin gelap. 

Tercatat Lilo pernah terlibat hal-hal yang shame herself. Lilo jadi partyholic, suka mabok, dll. Sampai akhirnya dia harus masuk Panti rehabilitasi. Tapi keluar dari panti, Lilo malah ketangkep lagi karena mengemudi dibawah dan kepemilikan obat-obatan. Lilo pun pergi ke meja hijau dan harus menjalani aksi sosial selama 84 jam. Tak sampai disitu, peristiwa bolak balik ke polisi dan masuk ke persidangan untuk kasus-kasus drugs, drunk, dan kekerasan masih terus terjadi. Masih pada inget kan saat dia melempar minuman dan memaki para paparazzi yang mengejarnya? Pokoknya Mbak Lilo ini bener-bener rusak deh.

Belum lagi kabar hubungannya dengan Samantha Ronson, seorang DJ. Mereka dikabarkan lesbian. Film yang dibintangi Lilo pun lebih banyak yang buka-bukaan. Dan jarang yang box office. Lilo pun mulai galak sama siapa saja. Kasus2 kekerasan yang dilakukan oleh dia kerap banyak terjadi. Puncaknya Mbak Lilo harus masuk penjara dan ke panti rehabilitasi lagi. Sepertinya semua pemberitaan Mbak Lilo rentang tahun itu berpusat pada negativitasnya saja. 


Foto mugshoot Mbak Lilo


Sampai akhirnya Lilo keluar dari penjara dan dinyatakan sober pada tahun 2013. Dia melakukan talk show dengan Chelsea Handler. Penampilannya sudah tidak urakan lagi. Dia kembali menjadi si gadis baik-baik. Dia pun mulai ikut meramaikan dunia politik dengan cuitan2 nya. 

Mbak Lilo pun mulai ramai dibincangkan kembali saat kepergok paparazzi sedang membawa Al-Quran di genggaman tangannya. Dia dikabarkan sedang mempelajari Agama Islam juga. Al-Qur'an itu berasal dari seorang temannya yang tinggal di London.


Mbak Lilo kepergok membawa Al-Quran


Dalam sebuah wawancara di acara talk show, Lilo menjelaskan bahwa Al-Quran adalah pelipur lara bagi dirinya dan dia merasa aman saat membacanya. Dia juga merasa tenang setelah membacanya. Mbak Lilo juga sering mendengarkan lantunannya lewat hapenya. 


"My intention wasn't to hold a religious book. I was just holding a religious book, but people in America didn't like it, they judged me for it and were saying nasty things. (The Quran was) a solace and a safe thing for me to have,"

Mbak Lilo juga pernah belajar puasa selama 3 hari saat beliau berada di Kuwait. Dia mengatakan puasa itu berat, tetapi baik baginya. Tak cukup sampai disitu, Lilo pun bergabung dengan misi kemanusiaan dengan membantu para pengungsi syiria, korban kekejaman Bashar Asad. Dia menghabiskan waktu liburannya di Turki untuk misi kemanusian pengungsi Syiria. 

Seiring dengan pendekatannya dengan Islam, akun instagram Lilo pun banyak memposting foto2 dirinya dengan pengungsi Syiria. Kegiatan Lilo ini juga mengantarkannya bertemu dengan Presiden Turki, Recep Erdogan dan ibu negara. Lilo berhasil mengembalikan kembali image positifnya.

Kemudian dunia dikagetkan dengan postingan Lilo memakai jilbab saat berfoto dengan seorang ibu pekerja sosial. Di bawah foto itu tertulis kalau Mbak Lilo diberikan headscarf itu oleh si Ibu dan dia pun memakainya. Berita ini lalu dikaitkan dengan convert nya Mbak Lilo. Belum lagi Mbak Lilo jadi sering menulis "Alaikum Salam" pada setiap postingannya. Namun berita Mbak Lilo masuk Islam masih belum terjawab.


Mbak Lilo berhijab


Mbak Lilo kembali membuat heboh dunia selebriti saat dia menghapus semua foto di akun Instagramnya! Padahal terakhir saya masih melihat postingan Mbak Lilo yang sedang membangun sebuah villa di Bali. Di akun itu hanya tersisa tulisan "Alaikum Salam". 


Mbak Lilo menghapus semua postingan di akun Instagramnya

Sebenarnya Mbak Lilo ini bukan orang pertama yang suka dengan salam gaya muslim ini. Jauh sebelum Mbak Lilo, penyanyi Sherryl Crow malah pernah membuat sebuah lagu dengan judul "Peace be upon Us" yang artinya "Assalamu'alaikum". Tetapi gaungnya memang tidak seheboh Mbak Lilo.

Pada saat dia memposting gambar di Instagram lagi, dia memuat foto dirinya dengan Presiden Erdogan dan ibu negara serta seorang anak pengungsi Syiria. Tak lama diikuti dengan postingan beliau yang mengutip hadits nabi. Orang2 semakin yakin bahwa Lilo sudah masuk agama Islam.




Bagi saya sendiri ini adalah perubahan yang sangat baik dari Lilo. Dia menemukan kedamaian kembali setelah bersentuhan dengan Islam. Persis yang tergambarkan dalam sebuah ayat :

Allah adalah wali/penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir maka penolong-penolong mereka adalah thaghut, yang mereka itu mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 257)

Dalam dunia ketergantungan obat, orang yang sudah bersih dari obat dan tidak tergantung lagi maka diberi istilah "sober" atau "clean", dan Lilo benar-benar sudah CLEAN. Dia mengubah image MEAN GIRL menjadi CLEAN GIRL. Keren banget!


Rain came pouring down when I was drowningThat's when I could finally breatheAnd by morning gone was any trace of you,I think I am finally clean
-Clean, Taylor Swift- 

Islam itu hadir pada saat Lilo sedang mencari cahaya dari gelapnya hidup. She found a light in the end of the tunnel. Cahaya ini membawanya pada kedamaian hidup dan mengembalikan kembali hidupnya yang dulu pernah hilang. 

Al-Quran telah menenangkan gundah, resah, dan gejolak dalam dirinya. Benarlah bahwa Al-Quran itu adalah syifa, penyembuh/obat. Maka Mbak Lilo menapaki hidupnya kembali dengan penuh aura positif dan jiwa yang tenang. Ditambah lagi dia mengaktifkan dirinya pada aktivitas kemanusian dengan menolong pengungsi Syiria. Dikelilingi aktivis kemanusian Turki yang kebanyakan beragama Islam, menjadi Mbak Lilo semakin akrab dengan nilai-nilai Islam.

Akhirnya, Mbak Lilo semoga segera mendapat hidayah ya. Dia sudah berada di jalan yang tepat, semoga banyak yang membimbing dia untuk istiqomah dan tak berubah haluan kembali. Aamiiin. Sungguh, Mbak Lilo telah kembali menjadi diriya yang dulu, bahkan lebih baik karena concern nya terhadap Islam. Awesome! Kamu benar-benar keren mbak Lilo!***(yas)




Jakarta, 8th of February 2017
at my room, 00.11 am




Berikut saya berikan video wawancara Mbak Lilo :





Wawancara dengan TV Kuwait :



Lagu "Peace Be Upon Us" by Sherryl Crow :





Tuesday, February 7, 2017

The Silent Fighter


- dedikasi sepenuh cinta untuk para ustadzku tercinta -





Suara-suara itu terdengar samar-samar di telinga saya. Suara seseorang sedang mengetes mikrofon diikuti dengan backsound musik sebuah nasyid yang kuhafal dengan jelas.

“Besok akan ada kampanye,” tukas kakak saya memberitahu.

Wedeewww… kampanye! Sudah berapa lama saya tidak ikut acara yang seperti itu. Terakhir, saat pemenangan pasangan Prabowo. Ah, saya saja sudah mulai jarang mengikuti kegiatan-kegiatan partai. Jadi malam itu belum ada desiran hati untuk hadir pada kampanye besok hari yang kebetulan tempatnya dekat dengan rumah saya.

Namun pagi hari mood saya berubah. Mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan disana, serta backsound nasyid yang juga menggelora akhirnya membawa saya pada keinginan, “Gw pengen hadir!”. Jadilah saya segera meluncur kesana, Lapangan Soemantri Brodjonegoro alias lapangan kuningan. Persiapan saya pun mantab, kamera mirrorless dengan lensa panjang, dan hape full battery.  Kebetulan kakak ipar saya juga punya baju pasangan No.3 yang belum dipakainya, jadi ya lumayan lah buat saya aja… hahahaha…

Gemuruh di dada benar-benar terasa menggelora. Apalagi pas saya datang, sedang dibawakan orasi oleh salah seorang Ustadz. Saya bergegas merangsek ke depan. Rugi lah ya kalau gak ke depan.

Tak lama doapun dibacakan. Beberapa orang menitikkan air mata haru mendengar harap dari doa yang dibacakan. Di samping saya sampai sesegukan. Saya sendiri…. Nangis gak ya? Heheheh….

Acara pun berjalan dengan penuh semangat dan full adrenaline! Lompat-lompat, tepuk tangan, bertakbir, mengepalkan tangan ke atas dll. Terasa semangat saya membara kembali. Membakar motivasi yang sebelumnya masih asyik tertidur lelap.

Tetapi saya melihat sesuatu yang sungguh mencekat leher dan hati saya. Ustadz-ustadz itu masih berdiri tegak disana. Ustadz-ustadz yang sudah tidak muda lagi. Yang kutemukan masih sama, baik saat pertama kali aku mengenal mereka sampai sekarang aku sudah familiar dengan mereka. Mereka berdiri tegak, menjadi garda terdepan dakwah ini. Hatiku gerimis.

Penampilan mereka sudah bukan seperti 16 tahun yang lalu. Banyak yang wajahnya sudah tergerus waktu, rambut yang memutih, dan fisik yang tidak sama lagi. Tetapi pancaran cahaya wajah-wajah itu sungguh meneduhkan, reassuring our heart. Mereka tetap bersahaja, jauh dari tuduhan-tuduhan yang selama ini mendera mereka.

“Dih, ustadz sih begitu, berkoar-koar ceramah sana sini tapi gak bisa praktekin apa yang dia bilang sendiri!”

“Nyuruh orang buat zuhud, tapi dia sendiri malah numpuk kekayaan,”

“Teriak-teriak nyuruh kader tapi dia sendiri gak ngapa-ngapain,”

Tuduhan-tuduhan itu sempat berseliweran di telingaku maupun terpampang jelas di linimasa sosmed saya. Geram sudah pasti. Tapi, apa daya kami. Tuduhan itu entah kepada siapa saya bisa bertabayyun. Beberapa yang termakan tuduhan ini perlahan-lahan mundur dari dunia tarbiyah dan memproklamirkan diri “netral”. Beberapa yang lain tetap samina wa athona. Mereka tidak termakan isu ataupun gossip murahan. Saya sendiri mencoba meyakinkan diri bahwa sesungguhnya keilmuan para assatidz itu lebih mumpuni daripada saya. Istilahnya, saya tuh cuma remah-remah pastel doang. Jadi berlagak sok lebih baik dari mereka really BIG NO! Walaupun dalam beberapa hal saya hanya tidak suka dengan beberapa orang di sekeliling mereka yang terasa memanfaatkan kebaikan ustadz tersebut.

Maka saya berdiri sambil menyaksikan para ustadz-ustadz itu. Terasa mereka “memaksakan” diri mereka mengikuti keadaan. Mereka berbaur dengan kalangan yang menurut saya “gak banget”. Mereka berdiri melakukan senam bersama para kader dan simpatisan yang hadir. Mereka melakukan hal yang “gak mereka banget” demi dakwah yang menyeluruh dan umum. Hati saya gerimis mengundang lagi.

Dakwah sudah sedemikan berkembang. Bukan lagi eksklusif, tapi sudah inklusif dan menyeluruh. Maka bagi para dai diperlukan penyesuaian dengan zaman yang ada. Fasenya pun sudah terang-terangan. Dan para ustadz-ustadz itu try to fit in. Berbaur namun tetap dengan kepribadian mereka yang sholeh dan menjaga dirinya. Hingga air mata saya menetes melihat Ustadz Hidayat Nur Wahid, Almuzzamil Yusuf, Sohibul Iman, dll. Wajah mereka masih teduh sebagaimana dulu. Penampilan mereka masih bersahaja. Tutur kata mereka masih maut yang bisa membius dan memboost semangat saya.

“Tahapan dakwah kita sudah umum, Yass. Berbaur, tapi kau jangan lebur dengannya,”

Saya pun teringat kisah-kisah heroik mereka yang sampai kepada saya baik dari tulisan maupun cerita langsung.

Seorang Bunda (begitu aku memanggilnya), ustadzah zaman pergerakan dulu, yang harus pontang panting kesana kemari demi memperjuangkan karya yang bermuatan Islami. Padahal kalau dia mau, dia bisa menikmati hidupnya dengan penghasilan yang lebih dari cukup.

Juga seorang ustadz yang tak ingin kusebutkan namanya. Begitu humble dan sederhana. Dia berada di tengah-tengah massa yang hadir saat itu. Berbaur sambil mengikuti semua yel yel yang diteriakkan. Dia salah satu orang yang penting. Bisa saja dia berada di deretan para tokoh yang hadir saat itu di atas panggung, tapi kerendahan hatinya membawa dia mengikuti semua acara bersama massa.

Yang meyumbangkan uangnya untuk menyewa bis, untuk menarik konstituen, untuk membuat spanduk, dan lainnya. Apakah mereka mendapatkan timbal balik? Apakah setelah seseorang itu terpilih, mereka mendapatkan upah? Wallallahi, Tidak! Mereka ikhlas. Saya yakin 100%. Maka tak heran jika rezki selalu mengalir kepada mereka dari arah yang tak disangka-sangka.

Dan malam sebelumnya, saya sempat menonton rekaman Ustadz Almuzammil Yusuf dalam interupsinya di sidang DPR. Beliau memberikan statement tentang tulisan  syahadat yang ada di Bendera Indonesia, yang menyebabkan seseorang dipanggil polisi karena dianggap menodai bendera. Ustadz Muzzammil membacakan pernyataannya dengan berapi-api. Hingga pada saat beliau menyatakan siapa yang setuju dengannya tentang pembelaan terhadap kalimat syahadat itu, maka hampir seluruh anggota DPR berdiri mendukungnya. Im goosebump. Terharu. Suara saya merasa terwakili. Dan saya merasa bangga dengan ustadz-ustadz yang berjuang di kancah politik. Bukan untuk menjadikannya sebagai pundi-pundi keuangan dan kebanggaan, tapi sebagai sarana mewujudkan dakwah yang lebih luas lagi. Ya Allah, ustadz….

Tak terbayangkan betapa repotnya mereka dari yang sehari-hari hanya sekedar menghafal ayat suci Al-Qur’an, mengkaji Islam, membahas sirah dan hadits, sekarang mereka “dipaksa” untuk mengerti hukum Indonesia, pasal-pasal, undang-undang, dan lain sebagainya yang bagi mereka asing. Ya Allah, sedih dan terharu membayangkannya.

Maka saya berada di tengah-tengah gerombolan manusia hanya bisa menatap haru kepada para ustadz-ustadz itu. Meneriakkan dalam hati rasa terima kasih yang mendalam. Berdoa agar Allah selalu menjaga mereka, menyehatkan mereka, dan menjauhkan mereka dari fitnah-fitnah keji.

Ya Allah… mataku basah. Kelak, hadiahkan surga untuk mereka Ya Allah. Sebagai tempat istirahat mereka dari perjuangan semasa hidup di dunia. Anna uhibbukum fillah ya ustadz!***(yas)




Jakarta, 6th of February 2017
at my room, 23.43 pm


***
Video Ustadz Almuzzamil Yusuf menginterupsi sidang DPR




Suara tentang penistaan




Bersuara tentang Penangkapan Nurul Fahmi



Foto-foto Kampanye saya



Ustadz Abdul Muis 



Pembacaan Doa



Vote number 3


Izzatul Islam



Pak Adang Daradjatun, I voted him 10 years ago



Ustadz Sohibul Iman



Ustadz Hidayat Nur Wahid



Mr Handsome, Sandiaga Uno



My real President, Bapak Prabowo




Gubernur DKI 2017-2022, Anies Baswedan (Insya Allah)