Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Sunday, April 29, 2018

Movie Review : Avengers Infinity War - Film Kebanyakan Hero (SPOILERS ALERT)


 
picture courtesy from Google


Pada akhir film Avenger yang pertama, di post credit scene nya muncul Thanos yang menggambarkan film ini akan berlanjut dengan memburu Thanos sebagai musuh utamanya. Selang beberapa tahun kemudian, setelah masing-masing memiliki filmnya sendiri-sendiri, maka tahun ini munculah Avengers : Infinity War yang digadang-gadang akan menjadi box office di tahun 2018. Nah, kira-kira gimana ya film ini? Let’s check my review!


Setelah kehabisan tiket di hari kedua pemutarannya. Ya iyalah, saya datang ke bioskop jam 18.00 sedangkan film yang saya incar yang 18.35 (waktu aman bagi saya karena selepas sholat maghrib). Namun, saya berharap ada satu kursi yang “nyempil” karena saya kan seorang diri (baca : jomblo). Namun nyatanya, kursi yang kosong ada di deretan paling depan. Langsung deh saya batal nonton.

Kemudian baru hari sabtu saya bisa menonton film ini bersama bocah-bocah di kelas saya. Eh, gak disangka saya malah gak bisa nonton karena kurang beli tiket! Saya kira yang ikut nonton hanya 8 orang termasuk saya, nyatanya saya menjadi orang kesembilan. Mau beli tiket dengan jam pertunjukan yang sama, lagi-lagi hanya sisa bangku paling depan. Ya sudah, akhirnya saya mengalah, menonton di show berikutnya.

Film dibuka dengan adengan Thanos dan Black Order berhasil mengalahkan Asgard. Mereka meminta Loki untuk menyerahkan Tesseract stone yang dulu pernah dimilikinya. Thor yang pada film singlenya kehilangan martil andalannya ditahan (dan anehnya kenapa gak dibunuh ya sama Thanos dkk? Apalagi saat ditangkap sikap si Thor ini nyebelin banget). Pada saat Loki akan menyerahkan batunya, datang bala bantuan yang tidak diduga. Namun bala bantuan itu justru kalah oleh Thanos dan dengan kekuatan sisa dari penjaga Asgard, bala bantuan berhasil dikembalikan ke negeri asalnya. Tragedi di asgard ini berakhir dengan dibunuhnya Loki.

Fase kedua yang menjadi incaran adalah batu yang dipakai oleh Dr. Strange. Lagi-lagi yang bikin saya BT banget (dan beda banget sama film solonya si Strange), Dr Strange malah “belagak” mau menjadi juru selamat dengan tetap menahan batu itu. Kalau ketahuan batu itu bikin orang jadi jahat mending dihancurin aja yekan? Akhirnya Dr Strange dan Iron Man ples Spidey keangkut kapal Maw. Anehnya lagi, Dr Strange kan bisa buka portal ke tempat-tempat lain ya? Kenapa disini dia benar-benar kayak orang gak berdaya gitu. Jadi kayak lemah gitu deh! Untungnya kharisma Benedict Clumberbatch memaafkan ketololan dari Dr Strange. Udah tau mau ditangkep, pergi kek kemana.

Next, scene di Scotland saat Wanda dan Vision lagi berduaan. Tiba-tiba keduanya diserang oleh anggota Black Order karena ingin mengambil batu yang ada di jidat Vision. Disinilah keduanya dibantu oleh anggota Avengers yang lain, Captain America (Chris Evans beneran kece badai), Black Widow, dan Falcon. Sayangnya saat kedua anggota black order itu udah terdesak, eh malah dibiarin kabur. Biar durasi filmnya panjang kali yee…

Adegan di Wakanda pun begitu. Saat Avengers sepakat mengambil batu di jidat Vision tanpa harus melukainya, maka tempat terbaik adalah WAKANDA FOREVER! T’Challa dan semua krunya bersedia melawan alien-alien gak jelas itu yang jumlahnya ribuan. Di adegan ini kembali saya menjadi gak suka sama T’Challa yang kesannya sekedar ditempel aja. Wakanda itu bukannya tempat yang susah dicari ya? Kok tetiba para Black order itu gampang banget nemuin. Ditambah lagi Wanda kok jadi lemah banget sih. Padahal, kalo aja dia ngerelain Vision “pergi” paling gak dia udah nyelametin dunia. Nanti bisa deh cari penggantinya Vision (apa sih gw?). Hehehe. Untung aja pas keadaan terdesak datang Thor yang sudah punya senjata baru.

Genk Guardian of Galaxy pun begitu. Mereka nyaris aja berhasil mengalahkan Thanos kalo aja gak dirusak sama sikap sentimentil Quill. Cuma gegara dia tahu kalau Gomorra sudah wafat eh dia malah jadi emosional gitu. Yaelah, jaga diri aja gak bisa, gimana mau jaga galaksi. Lol. Akhirnya gegara kegagalan itu, Thanos berhasil mendapatkan batu yang dimiliki Dr Strange. Gomorra sendiri terjebak sikap sentimentil dengan ayahnya itu. Kalau aja dia langsung ngebunuh ayahnya udah deh beres. Hahaha.
Anehnya, Nebula yang awalnya gak berdaya sama sekali pas diikat sama Thanos, eh pas Thanos dan Gomorra pergi tetiba dia punya kekuatan buat melarikan diri. Hallaawww, dari kemarin ngapain aja mbak Nebula???

Di akhir film, setelah Thanos berhasil mendapatkan kelima batu akiknya, eh batu infinity nya, dia malah gak langsung membunuh para avengers itu. Alih-alih ngebunuh Avengers, dia malah plesiran ke Filipina. Mungkin dengan melihat sawah-sawah di ladang hatinya akan lembut kembali (eaaa…eaaa…). Secara dia udah berambisi menjadi penguasa dunia, masa nangis sih pas ngorbanin anaknya. Mesti belajar sama Fir’aun nih kayaknya si Thanos gimana jadi orang yang berambisi. Wkwkwk.

Ujung-ujung, entah kenapa tetiba banyak superhero yang menjadi butiran debu. Gak tau deh maksudnya apa. Tapi feeling saya sih mereka gak mati. Kecuali seperti Loki, Vision, penjaga Asgard yang jelas-jelas dibunuh oleh Black Order dan Thanos.

Eh, jangan keluar dulu setelah filmnya abis. Kamu wajib banget baca itu orang-orang yang bikin film ini jadi absurd. Nah, kejutan di akhirnya, kamu akan melihat post scene, ketika Nick Fury dan Maria Hill menjadi debu. Eh, sebelum menjadi debu si Nick ini sempet ngepage (haree genee pake pager…wkwkwkw) seseorang yang ternyata adalah KAPTEN MARVEL! Konon Kapten Marvel adalah salah satu hero yang terkuat juga di alam semesta. Ya, seimbang lah buat melawan Thanos. Tapi pertanyaan terbesar saya adalah, Nick, kenapa kamu gak hubungin Kapten Marvel dari kemaren??? Kenapaaaa???? Nunggu semuanya jadi butiran debu baru deh kamu hubungin dia. Jangan-jangan dia lagi sibuk shopping and tutorial make up ya? Lol.

Intinya (lagi-lagi) saya merasa gak banget sama film besutan Marvel ini. Skenarionya menurut saya buruk. Joke-joke nya si Hulk garing abis! Keliatan banget kalau film ini pengen banget box office dan meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Banyaknya hero yang hadir pun bagi saya mubazir banget! Dari semua hero yang hadir, masa sama Thanos aja kalah sih. Padahal kekuatan dia cuma di sarung tangan. Kalo sarung tangannya dilepas gampang deh dikalahin. Lebih gak bangetnya lagi, ada yang hero yang emosional banget, padahal dunia udah mau kiamat gegara Thanos, tapi mereka malah sentimental gitu. Bikin gregetan.

Ditambah lagi pertarungannya yang nanggung. Itu Bruce udah dapet kostum baru kenapa masih oon juga ya? Hahaha. Bagi saya yang menyelamatkan film ini adalah Kharisma Benedict Cumberbatch, ketampanan Chris Evans, dan kekerenan Elizabeth Olsen. Selebihnya, ke laut aja deh. Bahkan saya yang ngefans sama T’Challa aja sampe ilfil dengan peran dia yang giru-gitu doang. Oiya, Nikia nya kemana ya?

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 7/10
Skenario 6/10
Cinematografi 7/10
Overall 7/10


Buat kalian yang mau menonton film ini mending jangan high expectation. Karena takutnya malah jatuh kecewa. Dan jangan percaya sama orang yang bilang film ini bagus, nyatanya bagi saya, bagusan Black Panther kemana-mana. Anyway, selamat menonton***(yas) 



Jakarta, 29th of April 2018
@CnC Coffee shop, 18.36 pm





 Tiga penyelamat Film Avengers Infinity War


Mbak Wanda yang cuantik tapi sentimental bingits


Om Chris Evans yang kece abis


Mr Cumberbatch yang kharisma bangets

Saturday, March 10, 2018

Movie Review : Lara Croft yang Lebih Manusiawi (Spoiler Alert)





Awal maret ini muncul lagi film yang merupakan reboot dari film sebelumnya pada tahun 2001 yang dibintangi oleh Angelina Jolie, Tomb Raider. Film ini berdasarkan dari sebuah game dengan nama yang sama di mana menokohkan seorang gadis muda kaya dan jago beraksi bernama Lara Croft. Film kali ini namun memiliki plot dan bintang-bintang yang berbeda. Inti ceritanya tetap sama, memburu makam kuno. Alicia Vikander (yang pernah berperan sebagai Gerda pada salah satu film nominasi oscar Danish Girl) didampuk sebagai Lara Croft versi baru ini. Dia berada dibawah bayang-bayang nama besar Angelina Jolie yang sukses dengan 2 film Tomb raider sebelumnya.


Kisah Tomb Raider kali ini menceritakan misi Lara untuk mencari ayahnya yang tak diketahui  keberadaannya setelah melakukan ekspedisi ke sebuah Pulau di Jepang guna menemukan makam kuno seorang Ratu Himiko. Dalam ekspedisinya itu ayah Lara, Richard Croft dinyatakan hilang setelah selama 5 tahun. Lara yang memutuskan untuk hidup sendiri dan jauh dari kekayaan orang tuanya menyimpan harapan bahwa ayahnya masih hidup. Anna Miller, tangan kanan ayahnya di Croft Company, meminta Lara untuk menandatangani surat kematian ayahnya agar Lara dapat memiliki semua harta kekayaan ayahnya. Namun Lara belum bersedia menandatangani berkas kematian itu, hingga suatu hari dia memutuskan untuk menerima kematian ayahnya sebagai takdir. 


Namun pada saat ingin menandangani surat itu, pengacara ayahnya memberikan sebuah pizzle Jepang yang mengungkapkan rahasia tersembunyi. Dari situlah kemudian Lara menemukan tempat di mana terungkap sebuah rahasia kemana ayahnya pergi dan misi apa yang dibawa ayahnya. Berbekal dengan menjual kalung peninggalan ayahnya Lara memulai ekspedisi mencari ayahnya. Tujuan  pertamanya ke Hongkong untuk bertemu dengan seorang pria bernama Lu Ren yang diyakininya telah tahu di mana keberadaan ayahnya. Lu Ren yang sekarang ternyata adalah anak dari Lu Ren yang menemani ayah Lara ke sebuah Pulau tak berpenghuni. Petualangan keduanya pun dimulai.


Setelah perahu mereka hancur dihantam badai, Lara terdampar di sebuah pulau dan diselamatkan oleh Mathias Vogel, seorang peneliti juga. Kemudian diketahui bahwa Vogel juga sedang mencari makam Ratu Himiko dan berkat catatan ayah Lara yang ditemukannya saat Lara pingsan, dia mengetahui di mana makam itu berada. Vogel menginginkan untuk membangunkan Ratu Himiko yang jahat itu untuk dimanfaatkan melakukan genosida. 

Sejarah Ratu Himiko sendiri adalah konon dia adalah ratu yang jahat dan berambisi, bilamana seseorang menyentuh tangannya maka akan mendapatkan kematian. Kemudian para jenderalnya berkhianat dan menguburnya hidup-hidup di sebuah tempat yang ditemukan oleh Ayah Lara.


Lara kemudian dijadikan budak oleh Vogel, namun dia berhasil melarikan diri berkat pertolongan Lu Ren. Kemudian dia memulai aksinya untuk menyelamatkan Lu Ren sekaligus mencoba menggagalkan usaha Vogel untuk membangunkan Ratu Himiko.

Untuk kelanjutan ceritanya nonton sendiri aja ya… hehehe..

**
Reboot film kali ini saya benar-benar terhibur dan puas serta sangat merekomendasikan untuk ditonton. Berbeda dengan film-film superhero sebelumnya produksi Marvel ataupun DC, yang pada bagian permulaan selalu bikin ngantuk ditambah joke-joke nya yang garing, film Tomb Raider kali ini langsung menceritakan inti permasalahannya tanpa perlu dijelaskan panjang lebar latar belakangnya. Tokoh Lara kali ini pun digambarkan sangat humanis, orang yang kesulitan secara ekonomi dan tidak terlalu "super" banget.


Jika tokoh Lara yang diperankan oleh Angelina Jolie memiliki karakter yang kuat, tangguh dan kaya raya, tokoh Lara versi Alicia Vikander ini digambarkan sebagai pribadi yang ceroboh, labil dan manusiawi. Berkali-kali Lara harus melawan dirinya sendiri untuk mengambil suatu keputusan. Bahkan ketika dia bertarung dengan musuh, Lara tidak langsung berhasil, melainkan harus babak belur dulu. Dia pun terluka ketika terjatuh dari parasut dan menangis layaknya manusia biasa (tapi memang sih Lara ini digambarkan sebagai manusia biasa). Belum lagi sifat manusiawinya semakin muncul saat beliau bertemu dengan ayahnya (upss.. spoiler). Lara benar-benar digambarkan bukan seorang superhero.


Tetapi penggambaran Lara yang seperti ini membuat cerita menjadi menarik. Penonton berkali-kali seolah diajak untuk merasakan bagaimana perasaan Lara dan ketegangan yang dihadapinya. Lara bukan lagi sosok super yang bisa mengalahkan musuh-musuhnya sekali pukul namun dia harus berjuang sekuat tenaga. Dia juga seringkali dihadapkan pada dilema yang harus diputuskannya dengan cepat.


Plot film ini juga menarik dan tidak berbelit-belit. Tidak perlu juga membuat penonton berkerut kening memikirkan penjelasan yang memakan durasi film. Penulis cerita berhasil meramu plot film ini menjadi simpel dan tidak berbelit-belit. Tujuannya adalah menemukan makam kuno Ratu Himiko. Sekilas memang mirip cerita tokoh Ahmanet dalam film The Mummy, namun sang penulis memberikan twist yang tidak diduga-duga. Endingnya pun terbuka sehingga menungkinkan untuk membual sequel dari film ini.


Untuk sinematografinya pun sangat memanjakan mata. Gambar-gambar klasik yang diikuti dengan beberapa gambar modern menjadikan film berdurasi 2 jam ini menjadi tidak bosan untuk ditonton. Walaupun akhir ceritanya tetap saja klasik dan tertebak tetapi menonton film ini dari awal sampai akhir sangat tidak membosankan. Joke-joke garing pun dihindari agar durasi film tidak terlalu panjang.

Khusu penampilan Alicia Vikander saya patut memberikan acungan jempol. Dia bisa terlepas dari bayang-bayang besra nama Angelina Jolie. Bahkan kekuatan aktingnya bisa menyandingi nama besar Angelina Jolie yang identik dengan sosok Lara Croft. Kekuatan akting nya ini pula yang membuat film ini menjadi semakin hidup. Tetapi dalam beberapa adegan, sosok Lara yang membawa panah dan busur jadi membuat mirip dengan sosok Katniss. Adegan khas Lara dengan dua pistolnya belum muncul di film kali ini.

Berikut adalah nilai untuk film ini :


Akting 8 / 10 (Khusus Allicia Vikander 9/10)
Skenario 8/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.5/10


Bagi para penggemar film petualangan, saya sangat merekomendasikan film ini. Salah satu faktornya adalah film ini tak membuat ngantuk dari awal sampai akhir. Setelah dibombardir dengan film-film superhero yang bikin ngantuk di awal-awal cerita (kecuali Black panther) hadirnya Lara Croft sangat mengagumkan. Film ini juga sekaligus pembuktian Allicia Vikander dari seorang tokoh drama menjadi tokoh aksi. Sifat manusiawi Lara yang ditonjolkan dalam film ini menjadikan film ini terhindar dari stereotype film aksi sejenis. Memang seharusnya tokoh jagoan semanusiawi Lara Croft ini. Eh, tapi emang dia bukan seorang superhero deh tapi manusia biasa, jadi wajarlah ya kalau dia bersifat humanis. Lol***(yas)




Jakarta, 10th March 2018
20.47 @Carl's Jr Buaran


Friday, February 16, 2018

Bunda Cinta 2 Kodi : Harta yang paling berharga adalah ...



Pernah bertanya-tanya darimana nama produk busana “KEKE” didapat? Kalau pernah berarti anda sama dengan saya. Kalau anda belum tahu jawabannya, maka mulai tanggal 8 Februari 2018 hadir film “Bunda : Cinta 2 Kodi” yang merupakan film biopik dari pengusaha Ika Kartika, pemilik produk busana muslim “Keke”.

Film dibuka dengan perkenalan singkat, antara Tika dengan Farid di sebuah kereta jabodetabek. Kemudian mereka menjalin pernikahan dan memiliki anak. Namun saat Tika sedang mengandung anak kedua, Farid meminta izin Tika untuk emnikah dengan wanita pilihan ibunya, Alina. Tika yang tidak mau dimadu akhirnya meminta Farid untuk meninggalkan rumahnya.

Tika adalah wanita yang sangat tangguh, dia masih melakukan pekerjaan walaupun sedang hamil tua. Setelah anak keduanya, Alda, lahir, Farid kembali lagi kepada Tika. Tika akhirnya mengizinkan Farid untuk kembali lagi padanya dan membina rumah tangga. Ide untuk membuat busana muslim hadir saat Tika melihat rancangan baju yang dibuat oleh Amanda, anaknya. Ditambah lagi saat itu ibu-ibu yang berada di lingkungan rumahnya meminta bantuan pekerjaan dari Tika. Maka Tika pun memiliki ide untuk membuat baju muslim untuk anak.

Ternyata dalam perjalanan membangun usahanya, Tika mendapatkan banyak kendala yang bahkan mengancam keharmonisan rumah tangganya. Sifat Tika yang keras, ego tinggi, dan ambisius membuat Farid merasa direndahkan, apalagi Farid belum memiliki pekerjaan tetap. Maka akan suatu klimaks, Farid memutuskan untuk pergi dari Tika.

Tika nyaris putus asa dan merasa gagal, namun dorongan dari asisten rumah tangganya dan ibu-ibu yang telah ditolongnya, maka Tika akhirnya bangkit kembali. Pada satu moment yang sangat dinanti-nantikan, Kids Fashion Week, Tika harus memutuskan apakah memilih untuk tetap berada di acara bergengsi tersebut atau memilih kembali kepada keluarganya?

***

Film ini diangkat berdasarkan dari novel laris “Cinta 2 Kodi” karya Asma Nadia yang menceritakan awal mula perintisan produk Keke dari 2 kodi saja. Penyutradaraan diserahkan kepada Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo yang merupakan pendatang baru bagi perfilman Indonesia. Ada beberapa catatan yang ingin saya tulis usai menonton film ini. Berikut adalah ulasan saya.

KEKURANGAN

1. Cerita yang menurut saya terlalu datar. Sosok Tika yang sebenarnya sangat inspirasional itu menurut saya dibuat dengan standar saja. Padahal jika film ini difokuskan pada usaha Tika dan keberhasilan membina keluarga, maka akan sangat booming sekali. Walaupun film ini masih asik ditonton tapi menurut saya belum total banget mengangkat sosok Tika-nya.

2. Klimaks yang kurang greget. Klimaksnya menurut saya adalah saat Farid memutuskan untuk membawa anak-anaknya pergi ke Jepang, dan Tika sudah menyerah dengan keadaan. Ditambah lagi saat itu hadir Lina yang justru menimbulkan kecemburuan dari Tika. Namun kesombongan Tika justru yang akhirnya membuat dia semakin kehilangan keluarganya. Di adegan ini sebenarnya bisa dibuat lebih berdarah-darah yang menguras air mata penonton, tetapi baru aja air mata keluar tiba-tiba udah berganti adegan lain. Jadinya nanggung dan kurang greget.


Sejauh saya nonton film ini mungkin hanya ini yang mengganggu saya. Sekarang saya akan memberikan beberapa kelebihan dari film ini.


KELEBIHAN

1. Sinematografi yang sangat bagus sekali. Serius tidaknya film itu dibuat biasanya dilihat dari sinematografinya. Untuk film ini benar-benar memanjakan mata saya dalam urusan sinematografinya. Gambar-gambar kereta yang diambil dengan angle yang bagus dan gambar-gambar penunjang lainnya yang menurut saya keren abis. Camera close in dan close up nya pun bagus sehingga saya benar-benar bisa menikmati film ini.

2. Akting yang kuat. Acha Septriasa menunjukkan jam terbangnya yang tinggi sebagai salah satu artis terbaik negeri ini. Perannya sebagai seorang wanita karier sekaligus Ibu rumah tangga membuat saya yang menontonnya bener-bener menyelami perasaan Tika. Terutama saat adegan Tika menjemput anak-anak di tempat Farid bekerja dan anak-anak memutuskan tidak mau pulang. Itu meleleh bangetss! Bener-bener juara deh aktingnya Acha! Akting Ario Bayu pun tak kalah apik. Ario yang biasanya berperan akting atau drama aksi, kali ini menunjukkan kelasnya sebagai aktor yang bisa memerankan seorang ayah yang baik. Peran-peran tambahan yang lain pun juga baik, termasuk anak-anak Tika dan Farid.

3. Inspiratif. Ceritanya memang sederhana, bagaimana perjuangan Tika membangun bisnisnya sekaligus merawat rumah tangganya. Paling tidak ini bisa menjadi inspirasi bagi wanita-wanita karier di luar sana bahwa menjadi wanita karier itu penting tapi jangan sampai mengorbankan rumah tangga. Perjuangan Tika juga menggambarkan bahwa impian itu bisa diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh.

4. Menguras air mata. Iya, beneran. Bukan menguras air banjir ya…hehehe… Awal air mata itu dikuras adalah saat Farid meminta izin kepada Tika untuk menikah lagi, seterusnya dan seterusnya sampai adegan yang benar-benar saya gak bisa lagi untuk menahan air mata (awalnya saya tahan-tahan…hahaha). Jadi dijamin banget usai kamu nonton film ini, mata bakalan sembab, terutama buat kaum hawa. Yang pasti juga kita akan rindu dengan ibu kita dan membayangkan perjuangan beliau yang sungguh luar biasa hebat.


Intinya film ini adalah reccomended bangets! Sederhana tetapi penuh makna. Intinya adalah seperti motto dari keluarga cemara, “Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Bener bangets! Bagaimanapun suksesnya karier kita, maka jika tidak diimbangi dengan keluarga yang penuh cinta sama saja bohong. 


Keluarga adalah di mana kita merasa nyaman dan dicintai. Benarlah apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an : jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. At-Tahrim : 6). Karena itu kita diperintahkan untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Setiap orang tua akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan anak-anaknya. Semoga saja kita bisa menjaga keluarga kita agar tidak masuk ke dalam api neraka.


Btw, tentang keluarga, saya sendiri belum berkeluarga loh…hahaha… Jadi curhat deh (doain segera ya!). Ya, udah yang penting nonton film “Bunda, Cinta 2 Kodi” ya! Film bagus bagi yang sudah berkeluarga maupun belum berkeluarga. Pokoknya banyak hikmah dan inspirasinya deh usai nonton film ini.

Berikut nilai yang saya berikan untuk film ini :

Akting 9/10
Skenario 8.6/10
Cinematografi 9/10
Overall 8.5/10


Hayuk nonton segera sebelum turun layar!***(yas)




Bekasi, 16th of February 2018
16.10 @MhCoffee
Itu orang kangen gak yaa…. LOL.



Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...

Monday, March 20, 2017

(Movie Review) The Nekad Traveler : Not Only Traveling!




Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did so.

Mark Twain


Siapa traveler yang paling berpengaruh dalam hidup saya, yang membuat saya ingin mewujudkan mimpi saya menjadi seorang Traveler? Yup, jawabannya adalah Trinity!

Seperti biasa, saya selalu gak tertarik sama buku-buku yang sedang hangat dibicarakan oleh teman-teman. Waktu itu yang lagi heboh adalah bukunya Trinity dengan judul "The Naked Traveler". Salah seorang adik kelas heboh membicarakan buku itu. Namun saat bertanya pada saya, apakah saya sudah membacanya, saya langsung menggelengkan kepala.

Benar apa yang dihadirkan Trinity pada awal film. Membaca tulisan NAKED itu udah bikin saya antisipasi aja. Apa sih itu buku palingan hal-hal yang nyerempet2. Jadi gak ada keinginan buat baca. Baru belakangan saya membaca salah satu artikel Trinity yang bercerita tentang parahnya toilet di Cina. Eh, kok bahasanya asyik dan informatif sekali ini buku. Akhirnya saya berburu itu buku sampai akhirnya saya koleksi semuanya, mulai dari The Naked Traveler 1-4 sampai The Naked Traveler RWT,  The Naked Traveler versi bahasa inggris dengan cover merah, the naked traveler yang cerita tentang hantu, sampai yang terakhir The Naked Traveler 7. Semua jadi koleksi saya dan hanya perlu waktu sehari atau dua hari buat ngabisin satu buku. Di ujung halaman pasti selalu ngeluh sendiri : Yaaahhh... udah abis. Abis baca bukunya amat sangat gak terasa dan itu tadi, nyantai tapi informatif.

Tapi sekarang saya bukan ingin membahas bukunya, melainkan ingin membahasa filmnya.

Awalnya saya cukup bingung setelah ada info bahwa buku The Naked Traveler akan difilmkan. Kira-kira seperti apa ya? Negara apa aja yang akan dibahas dan siapa pemainnya. Kemudian setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya poster film itu muncul juga. Film ini dibintangi oleh Maudy Ayunda dengan sutradara Rizal Mantovani. Aih, agak kecewa sedikit, karena saya bukan penggemar Maudy yang menurut saya agak-agak jutek, hehehe... Jadi agak males buat nonton ini film. Apalagi saya paling anti nonton film Indonesia kalau gak ada embel-embel tentang dunia traveling atau film islami.

Dan here I am! Duduk manis di cafe XXI sambil nulis tentang review film ini 😀  Pergi jauh dari Jakarta ke Bogor cuma buat nonton film ini. Weekend pula! Saya paling anti nonton pas weekend, selain mahal juga rame. Apalagi weekend nonton film Indonesia, hadeeehhh.....

Memang awalnya tanpa rencana sama sekali. Sehabis makan siang di daerah Tebet, saya langsung chao naik kereta. Tujuannya ke mana belum jelas. Kalo ke bogor juga ngapain, klo ke Depok juga ngapain. Lalu ide itu datanag, nonton Beauty and The Beast di Botani Square or Depok Plaza, tapi eh bujug tiketnya mahal! Ya udah ganti nonton The Nekad Traveler dengan bioskop yang paling murah. Sayangnya di Depok lagi gak tayang, dan di Bogor diarahkan di BTM 21. Aduh ngebayangin bioskop jadul dengan kursi yang udah lama. Belum tentu juga itu film bagus. Tapi, no choise no other option.

Sampai di Bogor disambut dengan hujan juga. Hadeeehhh.... Worth it gak ya nonton ini film jauh-jauh? Sampai bioskop ambil yang jam 14.40 dan pas sampai itu udah main film tapi Alhamdulillah masih iklan yang gentayangan jadi saya masih kebagian yang awalnya.

Oke sekarang kita bahas tentang filmnya!

Filmnya dibuka dengan musik dan pemandangan yang asyik banget! Ada promo2 wisata daerah juga. Maudy Ayunda lagi leyeh-leyeh di atas ban renang berbentuk semangka. Saya tetiba langsung suka dengan konsep film ini.

Film ini bercerita tentang Trinity, seorang traveler yang terjebak menjadi mbak-mbak kantoran. Jiwanya yang menginginkan traveling kesana kemari seringkali terbentur dengan jadwal kantor yang padat. Ditambah lagi dia harus berhadapan dengan bos nya (yang diperankan dengan apik oleh Ayu Dewi) yang walaupun galak tapi sebenarnya baik. Jadilah Trinity seringkali mencuri2 waktu cuti dengan sayarat semua pekerjaan sudah diselesaikannya dengan baik. Ditambah lagi, Trinity harus menghadapi pertanyaan orang tuanya "Kapan Nikah?" yang seolah tak pernah ada habisnya.

Trinity juga berteman dengan Yasmin dan Nina (Kalau dibuku saya lebih suka Yasmin, tapi di film ini saya lebih suka Nina) yang sama-sama mempunyai jiwa traveler. Ditambah lagi dengan sepupu Trinity yang bernama Ezra yang menambah keramean traveling mereka.

Dalam perjalanan travelingnya itu Trinity bertemu dengan Paul, yang awal mulanya dia sangka sebagai Mr. X. Pertemuan yang tidak direncanakan terjadi berkali-kali dan mengantarkan mereka pada kisah asmara.

Namun ternyata Trinity merasakan kehampaan dalam travelingnya itu. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa traveling itu bukan sekedar memenuhi bucket list saja, tapi juga bagaimana orang lain terinspirasi dan bisa melakukan seperti yang dia lakukan.

Ah, awal yang bagus akhirnya ditutup dengan ending yang bagus juga. Two thumbs up banget!

Dalam film ini kalau kita sudah membaca karya2 Trinity maka akan menemukan hal-hal yang ada di dalam buku. Misalnya saat Trinity memakan Day Old (anak ayam yang baru berumur sehari kemudian digoreng dan dijadikan jajanan pinggir jalan), atau saat Ezra "dipaksa" memakan Balut. Aih, walaupun jijik saya sempat terpingkal-pingkal. Juga tokoh Mr X yang langsung bisa saya kenali.

Penampilan Trinity sebagai cameo juga bikin saya senyum-senyum sendiri melihat akting lebaynya. Keren bangets!

Untuk urusan akting, semuanya saya berikan jempol. Gak ada yang akting kaku, semuanya natural, termasuk si Citra yang unik itu. Selain Maudy Ayunda yang bermain sangat bagus (cantik dan pintar pula), peran Ayu Dewi juga bikin gregatan tapi bikin ketawa. Yasmin dan Nina serta Ezra juga pas, gak dibikin lebay.

Skenario juga lancar dan menarik. Cerita ditulis seperlunya dan seperti bukunya, Informatif! Jadi gak memaksakan semua isi buku dituangkan dalam film. Trinity dan penulis skenario benar-benar menggarap naskah untuk film ini secara selektif namun tepat dan informatif. Hampir sepanjang film ini disajikan info-info yang bagus semisal jadwal berburu tiket, dll. Jugaaa.... gak ada adegan yang gak perlu. Bagi saya semua adegan di film ini perlu karena akan mempertemukan dengan sesuatu yang menarik. Kayak misalnya, awalnya saya merasa adegan Trinity sama Paul itu cuma pemanis ajah, tapi nyatanya saya salah. Adegan itu justru membawa ke titik klimaks akan travelingnya Trinity. Plesssss.... informasi pasir nyala itu sesuatu bangets!

Untuk gambar, gak usah ditanya lagi. Bener-bener deh, selama hampir 2 jam kita bener-bener dimanjain dengan gambar yang ajib banget. Daaannn.... sudut pengambilan gambarnya itu juga profesional khas Hollywood banget, bukan abal-abal. Jadi bener-bener bikin kita mupeng ke suatu tempat itu. Sepanjang film saya selalu mencatat dalam otak saya untuk kesana-kesini...hehehe...

Musiknya juga ampun-ampunan. Ciri khas daerah atau background choir dengan gambar pemandangan itu bener2 bikin tubuh bergidik banget. Gak seperti musik scoring film kebanyakan yang standar, tapi scoring musik film ini cocok banget dengan tema traveling. Khas dan etnik banget.

Dannn......... jreng jreng.... aye pengen nonton film ini lagi! Gak bosen ajah. Sumpah beneran, gak asyik kalau cuma nonton sekali.

Moral dari film ini juga bagus menurut saya, Try to reach your bucket list without feeling selfish! Ya, boleh aja berkeinginan ini itu tapi tetap harus perhatikan keadaan sekitar, teman, saudara, keluarga, dll. Dan yang terpenting, bagaimana apa yang kita lakukan itu bisa menginspirasi kebaikan buat orang lain bukan cuma diri sendiri. Dan jika kita punya keinginan kuat jangan lupa berdoa dan biarkan semesta mendukungmu. Asyik dah pokoknya.

Seusai nonton film ini, saya yang sedang galau tetiba merasa : Lo mesti lakukan ini Yass, kalau gak pengen menyesal seumur hidup karena ini adalah impian elo!

Ooops! Oke, Bismillah!

Bagi saya sendiri ini adalah film terbaik karya Rizal Mantovani yang harus diapresiasi dengan baik. Sayangnya film ini dapat jatah layar sedikit karena berbarengan dengan filmnya Mbak Belle. Aduh, sayang banget!

Bagi saya seorang traveler pemula, melihat film ini menadi semakin terinspirasi untuk traveling ke berbagai tempat, bukan cuma belahan dunia tapi juga Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan yang begitu indah dan menawan. Selain itu, bukan cuma traveling nya aja tapi bagaimana mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan keinginan traveling kita itu.


Islam sendiri juga menganjurkan ummatnya traveling seperti dalam surat Al-Mulk ayat 15 :

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Yang berarti sebagai umat Islam kita justru harus mengenal Allah lewat Ciptaan-Nya. Tafakur alam adalah salah satu sarana mendekatkan kita kepada Allah. Banyak loh, traveler yang akhirnya masuk Islam setelah traveling ke semua penjuru dunia.

Dalam sebuah buku dahsyat karya Ibnu Battutah juga dikatakan bahwa para umat pendahulu traveling ke segala penjuru dunia seperti Ibnu Battutah itu sendiri. Bumi Allah itu luas maka berjalan dengan tunduk dan selami segala keindahan yang merupakan keindahan Maha Karya Nya. Jika dunia saja bisa seindah ini, bagaimana dengan surga? Ahhh... semoga terwujud untuk ke surga kelak.

Jadi, yuk traveling! Gak perlu yang jauh dan mahal kok. Gak perlu juga rame-rame, jika sendiri bisa menentramkan jiwa. Intinya, bergerak dan bertafakur. Oiya jangan pernah minta oleh-oleh ya dari orang yang sedang traveling.

Terima kasih Mbak Trinity. Terima kasih The Nekad Traveler. You're such an inspirator for me! Bukunya bagus, filmnya bagus, dan amat sangat menginspirasi.

Nah, sekarang kapan kamu terakhir traveling? (cring...cring....kedip2in mata 😘  )***(yas)



Bogor, 19th of March 2017
18.20 @Cafe XXI BTM
Stay Positive. Stay Traveling!


Tiket nonton saya di atas tumpukan buku The Naked Traveler


Bahasa tulisannya yang informatif membuat saya suka buku ini


Nulis blog  kali ini dihiasi pemandangan keceh badai kayak begini

Thursday, January 26, 2017

Resident Evil The Final Chapter : All End Happy Ending





*review of Resident Evil: The Final Chapter
(spoiler alert)

Semalam saya berkesempatan menonton aksi Alice dlm kelanjutan kisah Resident Evil. Sebenarnya sy mau nonton The warriors gate tapi ternyata jam nya gak matching. Eh ternyata RE udah ada, pdhl waktu nonton XXX Return of Xander Cage sehari sebelumnya, si mbak ticketing dg jutek bilang tuh film belom bisa dipastiin (ih si mbak kurang info). Pas liat di situs 21 juga gk ada jam tayang RE. Edodoe, jadilah pindah haluan ke RE.

Jam tayangnya sebenarnya agak2 bikin ragu, 17.05 bo! Bisa2 kelewat sholat maghrib. Tapi ternyata filmnya gak selama itu (spoiler 1). Sebelum jam 7 film udah selesai.

Film dibuka dengan gaya khas Alice: "My name is Alice. And I remember everythings. Kemudian Alice menceritakan awal mula T-Virus diciptakan. Ternyata T-Virus yang tadinya digunakan untuk menolong anaknya sang pencipta virus itu, mempunyai side effect yang dahsyat. Saat mau dihancurkan, Dr Isaccs malah mencegahnya. Btw, ternyata Dr Isaccs masih hidup (spoiler 2).

Cerita berlanjut ke masa kini dengan Alice yang masih hidup setelah dikhianati Albert Wesker di Capitol Hill. Inget kan, di scene terakhir RE Retribution, Alice n the gank berhasil sampai di Capitol Hill dan si Wesker minta bantuan? Nah ternyata itu another betrayal si Wesker. Alice terbangun dari tumpukan reruntuhan dan dia harus melawan makhluk aneh yang bisa terbang (ada di trailernya). Setelah selesai dengan cobaan awal, Alice mendengar suara mesin print zaman baheula. Dan setelah ditelusuri ternyata itu undangan dari Red Queen. Kali ini Red Queen yang selama ini jahat sama si Alice, justru meminta bantuan Alice (spoiler). Dia bilang, ada airbone T-Virus yang bisa cure semua ini. Alice yang takut dibohongin lagi gak mau percaya, sampai akhirnya Red Queen bilang "REVENGE". Red Queen lalu men set jam Alice dengan waktu 48 jam untuk Alice menuju The Hive.

Di perjalanan Alice ditangkap Dr Isaccs dan pasukan tank tempurnya. Saat Alice tak mau menjawab siapa yang menyuruhnya kembali ke Raccoon City, Dr Isaccs menjadikan Alice sebegai umpan hidup para zombies yang mengikuti mobil tank. Tapi Alice berhasil melawan Dr Isaccs dan dengan memotong tangan Dr Isaccs, Alice berhasil mencuri motor Umbrella Company menuju raccoon city.

Di Raccoon City, Alice bertemu dengan Claire kembali. Claire mengaku ditipu dengan nama tempat aman di film sebelumnya. Kali ini teman-teman Alice ada Dok (pemimpin manusia yang masih tersisa), Razor, Abigail, dll. Kelompok ini tinggal di sebuah gedung yang tinggi dan mereka berencana menyambut Dr Isaccs. Alice juga menceritakan bahwa ada airbone T Virus yang bisa menyelamatkan semua. Tapi Claire tak setuju, karena bila T Virus aktif, maka Alice juga akan mati.

Perlawanan tangguh dari kelompok Alice ternyata tak sebanding dengan zombies yang jumlahnya banyak. Maka diputuskan Alice untuk perrgi ke The Hive dengan segera. Mereka meemukan banyak monster dan satu per satu mati, menyisakan Alice dan Claire. Tapi mereka pun terpisah karena suatu jebakan.

Karena keadaan sedemikian genting, Wesker yang berada di The Hive meminta kepada Red Queen untuk mengaktifkan pertahanan terakhir yang ternyata membangunkan Dr Isaccs yang asli. Alice bertemu kembali dengan Dr Isaccs. Alice dan Claire dikejutkan dengan hadirnya Alice yang asli, yaitu Alicia Marcus, anak Dr Marcus si pencipta T Virus. Alicia yang berumur 25 namun berpenampilan tua itu (karena beliau menderita penyakit penuaan dini), menceritakan tentang proyek Umbrella Company. Dr Isaccs menginginkan apocalypse buatan agar dunia menjadi damai. Orang2 penting dan kaya ditidurkan di dalam The Hive.

Perkelahian antara Alice-Claire melawan Dr Isaccs dalam memperebutkan T Virus pun terjadi. Wesker berhasil dilumpuhkan. Tapi Dr Isaccs yang mempunyai kekuatan full bukan lawan sembarangan. Tetapi Alice berhasil mengalahkannya.

Saat Alice ingin memecahkan T Virus yang sudah diraihnya, Dr Isaccs bangkit kembali dan merebut T Virus itu. Namun Klon Dr Isaccs berhasil membunuhnya. Alice pun segera memecahkan T Virus. Semua zombies mati termasuk dirinya. The Hive pun diledakkan oleh Allicia Marcus.

Di ending cerita, Alice ternyata masih hidup. Red Queen hanya mematikan T virus dalam tubuh Alice dan mempertahankan sel2 yang hidup. Tugas Alice selanjutnya adalah membersihakn kembali dunia dari zombies. T Virus baru akan menyelimuti seluruh dunia setelah 2 bulan.

***

Film ini tetaplah menarik bagi saya. Aksi Milla Jovovich sebagai Alice masih sama bagusnya seperti film2 sebelumnya. Dan saya juga senang akhirnya Happy Ending. Sepertinya untuk ada next sequelnya akan terasa dipaksakan.

Adegan aksi dan laga nya tak perlu diragukan lagi. Semuanya terlihat keren dengan efek canggih. Monser CGI nya jg warbiasaya. Pokoknya kita dimanjain teknologi deh disini.

Tapi sayangnya porsi adega side kicks heroesnya kurang banget. Mungkin karena dipaksakan harus berakhir maka agak terburu2 dibuatnya. Ruby Rose yang bermain bagus di XXX , adegannya cuma gitu doang. Tragisnya mati di kipas angin raksasa. Yang lain juga begitu. Mati tanpa perlawanan. RE emang identik dengan side kicks heroesnya harus ada yang mati.

Claire juga begitu. Aksinya kurang greget. Gak seperti aksi Claire di RE extinction saat lawan Hammer Man bersama Alice di kamar mandi, yang sekarang porsinya sedikit banget.

Bagus disana sini ternyata lemah di jalan cerita. Jalan cerita standar sih, walaupun gak jelek2 amat. Munculnya monster dapat diprediksi. Pas musik senyap, monster muncul. Adanya another Alice juga udah bisa ditebak. Tapi tetep gak mengurangi esensi keren dari film ini.

Nah, kalau udah kangen sama Alice dkk, sok atuh nonton. Kenapa Indonesia tampil duluan? Premiernya kan di Amerika tgl 27. Saya sempat tanya manager XXI nya, ternyata untuk menghindari DVD bajakan. Jadi Indonesia dapat giliran lebih awal.

Selamat nonton!

ps: Yang jadi Red Queen itu anaknya Milla Jovovich and pak sutradaranya loh...

***


Aksi : 9/10
Cerita : 7.8 /10
Characters : 7/10
Efek : 9.5/10
Overall : 8.5/10


Jakarta, 26th January 2017
11.47 am @my room