Showing posts with label helvy tiana rosa. Show all posts
Showing posts with label helvy tiana rosa. Show all posts

Thursday, May 10, 2018

Movie Review 212 The Power Of Love : Sepotong Kisah Cinta Di Balik Aksi Super Damai




Hari Selasa, 1 Mei 2018, saya berkesempatan untuk menonton pertama kalinya film “212 Cinta Menggerakkan Segala” sebuah film layar lebar perdana dari Jastis Arimba. Sekedar catatan, Jastis pernah memenangi Eagle Award dan sering membuat film-film dokumenter.

Menilik beberapa bulan sebelumnya, saat menonton trailer filmnya saja saya sudah mbrebes mili dan makin penasaran ini filmnya bakal seperti apa. Kemudian ditambah lagi dengan membaca bukunya yang baru terbit saat IBF kemarin. Baru baca halaman awalnya saja saya sudah mengaru biru. Untuk review bukunya sendiri nanti saya tulis secara terpisah ya!

Kembali lagi ke kisah saya, eh kisah tentang filmnya (hehehe). Awalnya saya datang di Gala Premier hanya untuk bantu-bantu Mbak Ika dan Bunda Helvy Tiana Rosa. Namun pada show kedua saya “dipaksa” masuk untuk menonton film ini. Inginnya sih menonton saat tanggal 9 Mei nanti agar ada element of surprise nya. Nyatanya rasa penasaran saya malah memaksa saya untuk masuk ke studio 2 Epicentrum XXI.

Karena saya sudah membaca bukunya, maka saya tidak mau berekspetasi terlalu tinggi dengan film ini. Saya tahu, apa yang ada di novel tidak mungkin semuanya akan dituangkan dalam film. Dan saya lupa deh bawa tissu…hahaha…


Film dibuka dengan wajah sangar Adin (diperankan oleh Abdul Hakim) yang bergegas masuk ke dalam sebuah kantor media bernama Republik. Kita kemudian berkenalan dengan beberapa tokoh yang lain, Rahmat (si plontos yang hatinya kaku bagaikan kanebo kering. Lol), Rara (si gadis tomboi yang super cuek) dan Pak Bos (yang kurang berwibawa). Cerita lalu mengalir pada perdebatan untuk menerbitkan headline utama Majalah Republik. Rahmat si jurnalis terkenal lulusan Harvard yang bersikap liberal dan menyudutkan Islam lewat tulisannya, ditentang oleh teman-temannya yang lain termasuk oleh Pak Bos. Lewat tulisan sebelumnya yang anti Islam, Rahmat sebenarnya sudah mendapatkan banyak surat ancaman.

Kemudian scene beralih ke wilayah Ciamis, saat Rahmat terpaksa harus pulang karena suatu hal yang tidak bisa dia tidak hadiri. Di situlah Rahmat bertemu kembali dengan Kiai Zainal, seorang kiai termuka di Ciamis sekaligus ayahnya. Konflik pun bermula, ketika Kiai yang diketahui sedang sakit itu memaksa untuk bergabung dengan kafilah Ciamis untuk berjalan kaki ke Jakarta guna menghadiri aksi 212. Segalanya pun terkuak, tentang masa lalu Rahmat dan kenapa dia bisa sampai seperti sekarang. Di sini pulalah kita akan berkenalan dengan sosok Yasna (diperankan oleh Meyda Sefira), seorang muslimah yang cantik yang membuat Rahmat dan Adin terpana oleh kecantikan sekaligus kelembutan hatinya. Ada pula tokoh Abrar (diperankan oleh Hamas Syahid), adik Yasna, yang berdarah muda sekaligus mencurigai Rahmat yang dianggapnya akan melakukan tindakan provokatif. Ada pula Bi Nurul (diperankan dengan ciamik oleh Asma Nadia), bibi dari Yasna dan Abrar.

Rahmat pun mencoba untuk mencegah abahnya ikut “aksi gila” ini tetapi berkali-kali ajakan Rahmat ditolak Kiai Zainal. Hingga akhirnya Rahmat mengikuti abahnya dan di aksi 212 inilah akhirnya Rahmat mendapatkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kira-kira sesuatu itu apa ya? Dan apakah hubungan Rahmat dan Kiai Zainal bisa membaik atau malah Rahmat akan menyesal kehilangan ayahnya? Nah, jawabannya bisa kamu saksikan di bioskop-bioskop terdekat (link bioskopnya nanti saya sertain di bawah ya!).


Jujur aja dari awal nonton film ini getaran aksi 212 nya udah kerasa banget. Film ini mengalir dengan lancar dengan konflik yang sederhana namun mencerahkan. Ditambah lagi dengan adanya footage-footage aksi 212 yang bikin tambah merinding disko. Berikut saya akan tulis kelebihan dan kekurangan dari film ini.



KELEBIHAN

1. Memory oh memory

Menonton film ini kita benar-benar dibawa pada peristiwa 2 tahun silam, di mana semua umat Islam (dan non Islam) berkumpul untuk melakukan aksi penistaan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh gubernur pada masa itu. Aura 212 nya sudah terasa ketika memasuki bioskop dengan penonton berpakaian putih-putih (#putihkanbioskop). Kemudian saat scene beralih dengan latar belakang aksi 212 dengan segala keistimewaannya, makanan yang dibagikan gratis, sampah yang dipunguti secara sukarela, dan non muslim yang ingin menikah dijaga dengan baik, itu langsung bener-bener bikin air mata susah berhenti. Apalagi pas adegan sholat di tengah hujan, itu bener-bener deh bikin hati gak tenang. Hahaha… Pokoknya nonton film ini kita dikembalikan kembali akan memori Aksi Bela Islam 3.

2. Cerita yang sederhana dan mengalir lancar

Dalam film ini kisah yang diketengahkan bukanlah aksi itu sendiri, tetapi bagaimana aksi ini telah membuka mata hati seseorang untuk bergerak karena cinta. Dan banyak orang yang akhirnya menemukan”cinta” mereka kembali pada aksi ini. Kisah Rahmat dan ayahnya yang penuh konflik berhasil diceritakan dengan lancar tanpa banyak adegan-adegan yang tidak perlu. Tambahan tokoh Adin, Rara, Yasna dan Abrar mempunyai perannya sendiri-sendiri yang tidak menganggu cerita utama. Semuanya saling mendukung sehingga membuat film ini menjadi semakin utuh. Hingga akhirnya tidak terasa film sudah mencapai ujungnya. Pengennya sih filmnya terus main sampai bioskop tutup. Hahaha.


3. Sinematografi yang bagus

Sebagai karya layar lebar pertama dari Jastis Arimba, beliau mampu membuat film dengan biaya sederhana ini menjadi layak untuk dihadirkan di bioskop. Sebagaimana yang sering saya saksikan, banyak film layar lebar yang kualitasnya adalah untuk sinetron tapi dipaksakan masuk bioskop (termasuk film sequel horror legendaris yang baru-baru ini tayang). Tapi film 212 ini dari sudut pengambilan gambar, cerita, dan sinematografinya benar-benar layak untuk masuk bioskop. Percaya deh, gak bakalan rugi ngeluarin uang 30-50 ribu untuk nonton film ini. Selain mendapatkan pencerahan, kita juga disajikan dengan gambar-gambar yang ciamik.


4. Akting yang natural dan cameo yang banyak.

Awal saya kenal Fauzi Baadilla adalah saat beliau berperan di film fenomenal “Mengejar Matahari”. Setelah itu saya bukanlah fans dari FB. Sampai kemudian timbul simpati saat beliau mulai secara intens bersentuhan dengan Islam yang kemudian diikuti oleh artis-artis yang lain. Namun, sesudah film ini saya langsung dan bakalan jadi big fans nya Bang Oji! Aktingnya natural dan nyebelin banget! Sikapnya yang apatis bener-bener bikin gregetan buat ditonjok. Hahaha. Apalagi saat scene dia menutup nasihat dari Bi Nurul dengan ucapan “omong kosong”, itu benar-benar kerasa banget liberalnya. Penampilan Abdul Hakim sebagai Adin juga baik. Karakter Adin lah yang akhirnya membuat film menjadi “festive” karena celetukan-celetukan beliau yang mengundang tawa penonton. Kesan rambut gondrong ditambah bewok penuh kesangaran menjadi lebih humanis.

Pemeran Kiai Zainal pun berakting dengan sangat baik sebagai ayah sekaligus kiai ternama. Aktingnya lagi-lagi ditampilkan secara natural. Meyda Safira sudah tidak perlu diragukan lagi aktingnya. Penampilannya sebagai Yasna yang sholehah dan lembut melekat kuat pada karakter Meyda yang sesungguhnya. Cameo yang hadir pun semakin memperkuat karakter-karakter dalam film ini. Jadi semakin memperkuat bahwa film ini bukan kelas “sinetron” melainkan memang layaknya film. Salah satu akting yang mencuri perhatian saya adalah akting dari Bunda Asma Nadia, yang sejak kemunculan pertamanya di “Duka Sedalam Cinta” kemampuan akting beliau menjadi semakin prima walaupun peran yang dimainkan beliau hanya sekejap saja.

5. Scene Ciamis yang bikin gerimis

Pada saat scene perjalanan dari Ciamis menuju Jakarta lagi-lagi bikin merinding. Ditambah dengan narasi yang menceritakan banyak orang-orang yang berusaha untuk membantu para mujahid long march ini, semakin deh getaran tangisnya menjadi-jadi. Beneran deh, scene ini bikin kita jadi tahu kalau dalam perjalanan mereka itu banyak hal besar yang harus mereka kesampingkan. Semuanya mereka lakukan demi cinta, dan cinta pula yang menggerakkan mereka menuju Jakarta dengan kondisi yang berdarah-darah. Dari scene ini aja sudah semakin menjauhkan dari paranoia bahwa aksi ini penuh muatan politik. Nyatanya, para kiai dan santri yang berangkat semuanya dikarenakan kecintaan kepada Al-Qur’an. Quote terdahsyatnya adalah : Hari ini kita membela Al-Qur’an, maka nanti di alam kubur Al Quran yang akan membela kita. Ya ampun langsung deh saya merinding disko.

6. Soundtrack yang menawan

Awalnya saya mengira soundtrack yang mengalun di Epicentrum ini adalah lagu dari Iwan Fals. Agak sempat BT karena sebelumnya XXI sedang memutar lagu-lagu Celine Dion. Tapi lirik yang terdengar kok gak Iwan Fals banget ya? Malah lirik nya sederhana namun puitis. Akhirnya diketahui bahwa “Doa di Busur Hujan” yang dibawakan Pagi Hati adalah OST dari 212 CMS. Serius suara vokalisnya Pagi Hati ini mirip banget sama suaranya Iwan Fals! Musiknya yang “merakyat” banget ini saat disatukan dengan sebuah scene bener-bener (lagi-lagi) bikin mellow. Bagi saya OST yang disajikan ini menawan dan tepat. Lagunya enak saat didengarkan pada saat hati sedang galau. Hehehe.


Itu adalah sebagian kelebihan dari film ini. Bagaimana dengan kekurangannya? Karena saya sibuk menghapus air mata sepanjang film berlangsung maka saya tidak terlalu “ngeh” dengan kekurangannya (hehehe…). Tapi ada beberapa catatan tentang kekurangan film ini. Yuk, disimak.



KEKURANGAN

1. Scene 212 yang kurang porsinya

Karena saya menonton di gelombang kedua, maka saya sempat bertanya pada teman saya hal apa yang kurang dari film ini. Beliau menjawab scene aksi 212 kurang dieksplor secara full. Karena bagi dia nama “212” dianggap akan menggambarkan tentang aksi 212 yang heroik itu. Nyatanya aksi ini muncul belakangan. Tidak salah juga dia beranggapan seperti itu sih. Tapi kalau membayangkan film ini full utuh tentang aksi 212 kalian bakalan kecewa deh. Film ini adalah kisah yang terjadi dengan latar belakang aksi 212. Ceritanya sangat worth it dan yang pasti menyentuh banget!


2. Bioskop yang menayangkan sedikit

Sayangnya lagi-lagi film positif ini (dan jauh dari kepentingan politis) tidak diapresiasi dengan baik. Pada rilis nama-nama bioskop yang menayangkan film ini, hanya terbatas XXI, CVG dan Cinemaxx tertentu saja. Padahal jika dibandingkan dengan film-film yang jauh dari nilai positif (semacam film hantu, pergaulan bebas, dll), film ini layak banget untuk ditonton. Mungkin kedepannya pihak bioskop bisa meninjau ulang kembali untuk menayangkan film-film dengan content positif lebih banyak. Sayang aja, nilai-nilai kebaikan yang ada di film ini terkalahkan dengan sikap menye-menye, alay, dari film-film yang justru gak sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Ya udah, sekarang kita kasih nilai untuk film ini :


Akting 9/10
Skenario 9/10
Cinematografi 9/10
Overall 9/10



Mungkin ini saja review yang bisa saya tulis. Yang pasti film ini jauh dari muatan politis dan bisa ditonton oleh semua kalangan dan agama manapun. Kita pun yang alumni maupun bukan alumni 212 sebisa mungkin mendukung film bagus ini. Paling tidak jika kita tidak bisa mendukung, janganlah sampai membencinya atau malah melakukan fitnah. Karena bagi saya sebagai seorang pengajar, film-film bermuatan positif seperti ini harus didukung untuk mengalahkan film-film yang mendangkalkan akidah. Intinya, hayooo kita nonton film 212 The Power Of Love!***(yas) 




Jakarta, 10th of May 2018
08.16 am @myroom
Semoga sukses!




Ketika Mas Gagah menjadi Abrar

Launching di Epicentrum

Tonton filmnya, baca bukunya.

Ketemu Mbak Yasna yang asli maupun gak tetep sholehah


Ketemu Bang Benny penulis bukunya.

Mejeng dulu ya...

Ketemu Hagrid eh Addin

Foto yang disirikin banyak murid-murid saya

Helviers dimanapun dan kapanpun selalu mendukung bunda Helvy

Helviers dong yang selalu dukung. Walaupun cuma jadi tim hore.

Ketemu Pemeran Kiai Zainal yang udah kayak bokap sendiri

Cuma berani ngasih bunga ke bunda aja.... wkwkwk

Saturday, November 18, 2017

Jatuh Cinta Pada Puisi (Duka Sedalam Cinta Seorang Wanita yang Menari dengan Puisi)

My Best friend is myself, I don't need nobody else to be there for me, care for meand for my best time is to be all alone and sit thinking I'm in love with me
-Meja-

Dua buku yang membuat saya menari dan bersedih

Buku puisi? Kalau pertanyaan ini ditujukan waktu zaman putih abu-abu mungkin saya akan menggelengkan kepala dan bilang, "Thanks!". Bagi saya baca buku puisi yang penuh filosofi tersembunyi dan pesan-pesan intristik itu bikin mumet. Baca buku itu kan buat penyegaran ya, bukan malah bikin pusing. Jadilah zaman-zaman itu saya anti banget baca buku puisi. Baca puisi oke, tapi kalo baca buku puisi, gak deh.

Baru kemudian saat saya masuk jurusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai menyukai puisi. Puisi yang saya sukai juga puisi yang simpel dan gak ribet. Waktu itu saya jatuh cinta dengan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono. Puisi beliau simpel, sarat makna, ngena di hati dan daleeemmm.... Pemakaian diksi dan majas nya pun tidak berbelit-belit dan njelimet. Ditambah lagi puisi SDD kebanyakan romantis jadinya semakin asyik deh. Saya pun melahap buku kumpulan puisi beliau yang menjadi salah satu buku puisi favorit saya, "HUJAN BULAN JUNI".

Saya pun memulai memburu puisi-puisi yang saya kategorikan "gak njelimet" ini. Saya mendapatkan buku kumpulan puisi lainnya, namun saya lupa judul dan pengarangnya. Kalau tidak salah judul bukunya SYUHADA tapi saya lupa nama pengarangnya (Poor me). Saat saya pulang ke Jakarta, maka Perpustakaan Daerah Jakarta yang terletak di Kuningan menjadi tempat favorit saya untuk membaca buku kumpulan puisi. Selain membaca buku2 itu, saya juga menyalin beberapa yang menjadi favorit di dalam buku diary dan kadang pada saat teman, sahabat, berulang tahun tak lupa saya menyelipkan kutipan-kutipan puisi itu. Untuk penyair luar yang saya suka adalah Edgar Allan Poe. Kutipan-kutipan puisi beliau selalu setia menempel di binder favorit saya.

Saya pun belajar membuat puisi. Ya, masih abal-abal sih. Kadang membuat puisi ini bisa sangat produktif saat sedang.................. patah hati! 😆😆  Bisa produktif banget! Atau ketika pas jatuh cinta. Hadeeehh....mikirin si dia itu bisa jadi berlembar-lembar puisi deh...hahaha...

Saya sempat juga membukukan kumpulan puisi alay saya tersebut secara pribadi. Judul puisi utamanya pas lagi hopeless banget sama seseorang...hahaha... dan saya kasih ke gebetan saya...😅😅 maksud hati biar dia peka tapi nyatanya dia malah gak peka-peka...hahaha... nasib banget ya!

Sayangnya kumpulan puisi tersebut bersatu dengan PC saya yang hardisknya rusak. Saya sepertinya juga menyimpannya di dalam sebuah disket (OMG, jadulnya!) namun you know kan, zaman sekarang mana bisa disket itu diselamatkan. Hardisk saya yang rusak pun juga tak bisa diselamatkan bersama dengan sebuah naskah novel kurang lebih 250 halaman 😭😭  Beberapa memang ada yang masih tertera di dalam buku-buku catatan saya. Namun ya itu tadi, masih puisi ala-ala yang alaynya minta ampun. Sempat saya publikasikan via blog dan catatan facebook saya, tapi ya sepi komen dan respon..hahaha...

Sejak itulah hidup saya penuh dengan puisi-puisi yang sederhana namun menyentil dan menyentuh. Jangan lupa faktor melow dan memotivasi juga penting jika saya membaca sebuah puisi. Puisi yang berisikan kemolekan tubuh ataupun cinta-cinta yang tanpa didasari kecintaan pada-Nya, bagi saya adalah gak banget! Karena membaca puisi itu berarti meresapi makna, menggelayuti perasaan, menciptakan momen, dan menari dalam imajinasi diri kita sendiri. Bebas, lepas dan tanpa terikat dengan norma-norma. Menciptakan sesuatu imajinasi yang liar di dalam benak kita lalu membiarkannya menghalusinasikan kita. Halah, bahasa Vicky Prasetio banget ya...hehehe...

Kemudian bertemulah saya dengan Bunda Helvy Tiana Rosa saat saya pertama kali membaca Puisinya yang berjudul "Fisabilillah" dalam sebuah buku berjudul PELANGI NURANI. Jleb! Ini puisi simpel tapi kena banget! Lalu semakin intens saat Bunda membacakan puisi untuk Rahmat Abdullah, bikin saya makin takjub sama Bunda. Puisi-puisi beliau pun pada awalnya hanyalah berbentuk "single" karena di mana ada momen pasti sering muncul puisi bunda. Contohnya saat Palestina sedang membara, maka munculah Puisi Mahanazi. Reaksi saya saat membaca puisi itu, langsung bleber air mata. Seolah saya terasa banget sakitnya seperti orang-orang Palestina di sana.

Bunda kemudian menerbitkan kumpulan buku puisi pertamanya (bener gak ya?) yang berjudul : MATA KETIGA CINTA. Buku ber-cover ungu itu berisi puisi-puisi beliau yang dikumpulkan dalam satu buku. Berkali-kali saya membacanya, maka berkali-kali pula saya menemukan "cara" untuk membacanya dengan berbagai gaya.

Buku kumpulan puisi bunda berikutnya yang terbit adalah DUKA SEDALAM CINTA, yang merupakan kumpulan tulisan bunda dari zaman masih muda hingga sekarang. Bisa dipastikan bagi saya sendiri, ini adalah THE MOST AWAITING BOOK OF THE YEAR. Saat buku itu masih berupa pre-order, saya sudah gak sabar ingin membacanya. Pun setelah buku itu ready, saya ingin segera memilikinya. Layaknya seorang kekasih tak sabar menunggu orang yang dicintainya (eeaaa....eaaa...). Buku itu saya pesan sebanyak 3 eksemplar, karena saya ingin memberikan 2 sisanya untuk orang "spesial" (uhuuuyyy).

Jadilah dalam perjalanan pulang seusai mengambil buku DSC di rumah Bunda, saya komat kamit sendiri di dalam kereta. Kurang afdol rasanya jika membaca buku puisi tapi tidak ikut menyenandungkannya. Bolak-balik, bolak-balik, buku itu menjadi teman keseharian saya sampai kemanapun saya pergi buku itu selalu berada di dalam tas saya! Beberapa puisi yang "gw banget" langsung saya tandai. Kemudian saya membacanya dengan berbagai gaya dan intonasi. Membiarkan diri saya "menari" bersama susunan kata-kata yang menjelma seorang sahabat. Kata-kata itu berlarian dengan liar bersama dengan imajinasi saya. Visualisasi saya pun ikut bermain. Setiap puisi yang saya baca akan saya kaitkan dengan suatu peristiwa atau "seseorang" (perlu banget ya, seseorangnya itu saya kasih tanda kutip...hehehe). Beberapa puisi pun akhirnya saya coba rekam.

Judul buku yang saya suka dari buku ini adalah : Jauh, Merayakan Kangen, Selamat Pagi Kamu, Tak Ada Tahun Baru di Suriah, Kamu Puisi, Lelaki Paling Biasa dan Lelaki Puisi. Setiap isi puisi ini seolah mempresentasikan kegalauan dan kegundahan saya serta menyatakan isi hati saya yang paling dalam (duile...).

Puisi "Jauh" seolah mempresentasikan jiwa saya yang gampang gusar ketika berjauhan dengan "seseorang". Jauh juga menggambarkan hati saya yang mudah rindu pada siapapun. Namun pada akhirnya semua kerinduan yang "Jauh" itu hanya terlabuhkan pada doa-doa yang terlafadzkan setiap rakaat.

Puisi kedua "Merayakan Kangen" juga gue bangets! Saya seperti tergila-gila dengan puisi ini. Pada suatu pagi yang jernih di daerah Sentul, saya mengumpet sendirian di tengah kebun rerumputan hanya untuk membaca puisi ini saja. Kangen saya seperti tak terbilang.

Lalu "Selamat Pagi, Kamu" yang bikin memori saya melayang kembali...hahaha... Saat membaca puisi ini, memori saya melayang pada peristiwa tujuh tahunan lalu, saat saya sering bertemu dengan "seseorang" di dalam bis setiap pagi hari.

Kemudian ada "Tak Ada Tahun Baru di Suriah" yang paling susah untuk saya baca. Saya selalu terhenti pada suatu kata dan menahan nafas dalam. Sungguh, saya lebih suka men-skip puisi-puisi tentang dunia Islam yang teraniaya. Membacanya dalam hati saja saya sudah tak kuat, apalagi jika harus dibaca nyaring.

Kelima, puisi "Kamu Puisi" yang seolah ikut berderap-derap di dada saya dengan kalimat repertoirnya. Awalannya garang, tapi di akhirnya meloowww bangetss.

Keenam, puisi "Lelaki Paling Biasa Di Bumi" yang mengingatkan saya akan seorang abang yang....aaahhhh.....mengingatnya aja bikin nangis (semoga Allah menempatkanmu di surga ya, Bang!).

Terakhir, "Lelaki Puisi" yang saya gambarkan sebagai representasi ucapan terima kasih saya terhadap para "lelaki" ini yang telah membantu suka dukanya kehidupan saya.

Pokoknya membaca buku DSC ini bener2 membuat saya menari dengan imajinasi saya deh. Hingga bisa saya katakan bahwa buku ini adalah one of my best friend. Layaknya seorang sahabat yang merupakan diri sendiri, bersama buku ini seperti lupa ada orang lain di sekitar...hehehe...(lebay.com)

Tak lama setelah buku DSC terbit, hadirlah buku "A Lady Dance With Poetry" karya Bunda Helvy juga. OMG! Ini beneran bacanya kayak mau ikutan nari-nari. Serius!

Saat membaca beberapa puisi di dalam buku ini saya langsung menari sendiri. Sebait lagu yang menemani saya membaca puisi ini, membuat saya menari dengan irama saya sendiri. It feels : dance like no one elses. Dunia seolah milik saya dan buku itu aja.

Puisi-puisi yang ada di dalam buku ini sebenarnya juga ada di dalam buku Duka Sedalam Cinta, namun buku ini dwibahasa, alias setiap puisi ada terjemahan Bahasa Inggrisnya. Ada juga beberapa puisi yang tidak ada di dalam buku DSC, salah satunya adalah 'Wanita yang menari dengan Puisi' atau 'A Lady Dance With Poetry'. Judul yang terakhir ini sekaligus yang menjadi favorit saya. Apalagi saat ada aransemen musiknya, waaahhh, makin tambah suka saya!

Pada akhirnya saya benar-benar jatuh cinta pada puisi. Ya, puisi yang bisa membuat saya menari mengikuti bait-bait kata yang tersusun rapi dalam makna yang kadang kita sulit pahami. Kata-kata yang saya ucapkan seolah menjelma menjadi kawan terbaik yang kemudian mengajak saya menari dan membuana ke sebuah tempat jauh di kehidupan nyata saya. Dia membawa saya memasuki dimensi terjauh dalam hidup saya dan membuat saya lupa akan dunia dalam sekejap. Sungguh, kata-kata itu bagaikan mantra ajaib yang menyihir saya untuk berdansa.

Puisi adalah pengejawantahan dari suara hati yang sunyi. Mengeluarkannya pada kata-kata penuh imajinasi yang membuat kita menari tanpa perlu mengerutkan dahi. Lalu setelah kata-kata itu tertuang dalam sebuah kertas ataupun layar komputer, maka seolah diri ini merasa plong dengan keadaan yang terjadi. Aihhh....benaran, jadi pengen jago bikin puisi.

Akhirnya, saya terpaksa harus terus membawa buku DSC dan ALDWP kemana pun saya melangkahkan kaki. Semakin saya membaca buku ini, semakin saya senang menari dalam balutan kata-kata ajaib. Dipadu dengan musik soundtrack kehidupan saya, maka semakin mantaplah tarian yang saya lakukan. Membaca buku ini, membuat saya jatuh cinta kembali pada puisi. Menatapinya dalam-dalam kata-kata yang berbaris itu, lalu bergumam sendiri dalam diam mengulangi kata-kata itu. Kalau sudah begini, kedua buku itu bagaikan diri saya sendiri, bagikana sahabat terbaik saya sendiri. Rasanya tak perlu lagi ada orang lain, kan dunia sudah milik sendiri... hehehe...

Aku jatuh cinta
Aku jatuh cinta pada puisi
yang ditulis sepenuh hati
lewat tangan seorang malaikat
yang membuat kata-kata itu menjelma mantra ajaib
hingga aku menari sendiri
dan menemukan teman terbaik dalam puisi

Tuh, kan. Seperti yang saya bilang di awal tadi, kalau sedang jatuh cinta pasti deh saya produktif bikin puisi...hehehe... Selamat menikmati puisi dan selamat membaca buku 'ajaib' itu. Lalu biarkan dirimu menari dengan kata-kata ajaib itu. Ahhh... Saya jatuh cinta pada PUISI!***(yas)




Jakarta, 18th of November 2017
@my room, 22.24 pm
Jadi pengen nulis puisi lagi.
Apa kabar Pak Rahmat Djoko Pradopo ya?
     





Tuesday, October 24, 2017

When Fate Leads You to Happy / Sad Ending (Review Duka Sedalam Cinta)


Hadir ke Premier DSC. Lol. Secara Kokas di samping rumah saya pan.


Perjalanan anak manusia adalah sebuah guratan takdir yang telah ditentukan kemana dia akan berlabuh. Perjalanan itu bisa sangat panjang dan berliku atau singkat saja dan lurus. Pada akhirnya ujung semua perjalanan itu adalah takdir itu sendiri. Menemuinya di ujung, berarti menghentikan semua langkah yang telah tertoreh dalam guratan cinta dan duka.

***

Apa film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun ini? Thor Ragnarok? Justice League? Pitch Perfect 3? Pengabdi Setan? Atau apa? Bagi yang sudah kenal dengan saya pasti tahu. Ya, film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini adalah DUKA SEDALAM CINTA!

Film apa tuh? Bagi kalian yang pernah dengar film Ketika Masa Gagah Pergi pasti akan langsung nyambung dengan film ini. Ya, film ini adalah kelanjutan dari film Ketika Mas Gagah Pergi. Kelanjutan petualangan Gagah dan Gita dalam konflik kakak beradiknya. Semuanya akan “diselesaikan” dalam Duka Sedalam Cinta ini. Nah, dari mulai Premiernya di deket rumah saya, sampai hari ini, total saya sudah menonton sebanyak 7 kali! Tapi saya jamin, dalam penulisan review ini saya akan jujur dan gak menulis dengan kecintaan membabi buta. Jadi dijamin gak buat akal-akalan aja.

Film dibuka dengan narasi dari Mas Gagah yang sedikit flashback pada saat beliau praktek kerja lapangan di Ternate. Di sini diceritakan kalau ternyata saat Mas Gagah jatuh dari tebing itu, sebelum jatuh ke laut dia ditolong oleh seseorang (no spoiler). Kemudian takdir itulah yang membawanya bertemu dengan Kiyai Ghufron dan adiknya. Narasi pun diambil alih oleh Yudhi alias Mas Fisabilillah ketika dia akan berorasi di sebuah bis metromini. Takdir pun kembali hadir menghampiri Yudhi yang ditusuk pisau saat ingin melerai remaja yang sedang tawuran (dari sini aja saya sudah berdecak kagum, mindah-mindahin narasi itu “gak biasa” banget loh!). Lalu narasi menuju Gita yang merasa jadi “korban” sang kakak. Namun lambat laun semuanya menuju pada titik temu pada jalan yang mereka lalui bersama-sama. Ujungnya, takdirlah yang menentukan akhir dari kisah semua tokoh yang ada (saya gak perlu ceritain lagi ya, enaknya langsung ditonton aja!).

***

Awalnya saya menonton film ini saat premier di Kota Kasablanka XXI karena “dipaksa”. Reaksi awal saya langsung berbunga-bunga. Di awal-awal aja saya udah nangis sesegukan saat theme song “Jalan Yang Kupilih” terdengar. Itu benar-benar bikin mata basah. Lalu momen Gita dan Gagah berbaikan juga bikin mengeluarkan air mata lagi, bagi saya itu adalah moment yang unforgetable dan golden scene. Di momen itu akting Hamas bener-bener keren. Dia mampu men-switch suasana sedih usai berdoa, menjadi berwajah ceria saat menghadapi adiknya. Beradegan kakak adik yang begitu akrab tanpa harus bersentuhan satu dengan yang lain. Sosok Hamas jadi benar-benar mampu menghidupkan karakter Mas Gagah. Ditambah lagi dengan akting Aquino Umar yang luar biasa, adegan  itu terasa benar-benar nyata.

My Favorite scene

 
My most memorable moment in DSC. Hamas mampu men switch wajah sedih menjadi Mas Gagah banget
pada saat bertemu Gita. Keren deh!

Pada saat adegan “Oh, kalau yang itu sudah meninggal dunia”, ini juga benar-benar menjadi "awkward moment". Antara sedih Mas Fisabilillah dikabarkan sudah meninggal dan lucu melihat reaksi Gita yang kaget. Momen yang membutuhkan tissu kembali adalah... ahh, kalau saya ceritakan kembali bisa menjadi spoiler ini. Intinya, dari awal sampai film ini berakhir, saya selalu memerlukan tissu di samping saya. Menonton film ini benar-benar dibuat takjub. Ditambah lagi dengan scene pemandangan alamnya yang luar biasanya indah, membuat saya memasukkan berenang-renang di Pulau Gagah dan menelusuri pantai-pantai di Halmahera Selatan ke dalam Bucket List.

 
Tissu dan buku DSC yang setia menemani saya keliling bioskop

Nah, sekarang saya akan bahas kelebihan dan kekurangan dari film ini. Sebagai reviewer saya berusaha seobjektif mungkin dalam menulis review tentang film i i, tanpa memandang status saya sebagai penggila film KMGP.

Mari kita mulai dari kekurangannya :


Pertama yang saya soroti dari film ini adalah cerita yang terlalu padat jadi mesti cepat-cepat menikmatinya. Istilahnya full up in short time. Sepertinya film ini sedikit memaksaan adegan-adegan yang menurut saya tidak terlalu penting, semisal saat bertemu dengan Pak Bupati. Jika film hanya berfokus pada Gita dan Gagah saja, serta tambahan dari Yudi dan Gita, film tidak akan terlalu padat.

Kedua, cerita yang bikin shock dengan alur yang di switch terlalu cepat. Pada saat sedang asyik melihat adegan Gagah dan Gita, kemudian muncul adegan lain. Karena ini sequel, bagi penonton film pertamanya seperti saya mungkin tidak akan berpengaruh banyak, tetapi bagi penonton pemula film ini, mereka akan kerepotan menerka-nerka siapa tokoh-tokoh itu.

Ketiga, sad moment yang anti klimaks. Mungkin ini masalah selera, tapi menurut saya penjiwaan kehilangan Mas Gagah nya belum terlalu mantab. Usai scene Mas Gagah pergi, beralih ke scene berikutnya, yang seolah melupakan Mas Gagah, terlalu cepat. Paling tidak dibuat benar-benar sedih sampai klimaks kemudian baru ada adegan baru yang muncul.

Mungkin saya hanya menemukan beberapa hal kecil itu aja, not major mistakes sih. Tapi bagi die hard fans seperti saya jadi gak dapet feel nya. Sekedar catatan, saya nonton berkali-kali jadi saya bisa melihat film ini secara detil dan menyeluruh. Kalo cuma sekali trus nulis review and ratingnya jelek, yah, gak mutu banget deh!

Nah, sekarang bagian kelebihannya yang membuat saya kagum pada film ini.

Pertama, Kita bisa menonton film ini tanpa perlu menonton film yang pertamanya. Jadi bisa dikatakan film ini bisa berdiri sendiri. Flashback scene nya pun dipilih yang mewakili keseluruhan dari film yang pertama sehingga tidak membuat bingung penonton baru. Golden scene yang ada di film pertama ditampilkan lagi sekilas, agar penonton mengetahui benang merah cerita sebelumnya. Bagi penonton KMGP sudah pasti flashback itu jadi semacam reuni kecil setelah 1 setengah tahun dari film yang pertama. Bisa kita bayangkan bagaimana hebatnya, film ini bisa ditonton tanpa perlu menonton film yang pertamanya tetapi masih dapat feel nya.

Kedua, jalan cerita yang berbeda dan alurnya tidak linear dan endingnya yang tidak mudah tertebak. Bahkan saya tidak percaya jika endingnya seperti itu. Benar-benar diluar dugaan. Semua tokoh tereksplor dengan baik sesuai dengan porsinya masing-masing. Jika di film pertamanya yang tereksplor porsinya lebih banyak Gagah dan Gita, disini semua tokoh kebagian peran masing-masing dan tereksplor dengan baik. Kita jadi mengenal tokoh Nadia, Kiyai Ghufron, dll yang di film pertama perannya belum terlalu signifikan. Setiap karakter unik dan mempunyai hal yang berbeda-beda.

Ketiga, film yang penuh dengan kata-kata puitis dan quotes ciamik. Bahkan dari narasi yang dibacakan masing-masing tokoh saja, saya bisa bilang ini film romantis dan puitis. Semua kata-kata puitis itu tersalurkan dengan gambar-gambar yang mewakili perasaan tokoh masing-masing. Seperti gambar deburan ombak, dua keong laut, burung camar, dll. Amat sangat jarang film di Indonesia yang mempresentasikan pikiran para tokohnya lewat scene-scene yang diputar secara implisit.


"Work Hard, Give Hard" -Kiyai Ghufron-


Keempat, gambar yang menyajikan keindahan Ternate dan Halmahera Selatan membuat saya kembali takjub. Awal KMGP muncul, saya langsung mengubah mindset saya kalau travelling tidak harus ke Luar negeri melulu. Melihat keindahan alam Ternate yang diceritakan di film pertama membuat saya memasukkan Ternate ke local traveling destination saya. Namun, belum sampai pergi kesana, di film kedua ini saya mendapatkan kembali keindahan alam Halmahera Selatan. Bagaimana tidak berkeinginan kuat travelling kesana jika sepanjang film diputar disajikan pemandangan yang indah-indah dengan angle pengambilan gambar yang tidak biasa. Beberapa scene yang menurut saya menakjubkan adalah saat Gagah dan Yudi berada di atas boat melintasi masjid dengan sunset di depannya, kemudian pengambilan scene terakhir dengan menonjolkan air yang biru dan pantai yang putih,serta scene-scene menakjubkan lainnya. 

 
Pemandangan ajib bingits!

mupeng abiss...


Kelima, sarat muatan nasehat yang bikin hati teduh. Saya mendapatkan nasehat lewat tokoh di film ini tanpa merasa digurui. Ada beberapa nasehat yang membuat saya terdiam dan berlinangan air mata, ada yang membuat saya “jleb”,  ada yang membuat saya berdecak kagum, ada yang membuat saya teringat “seseorang”, dll. Pokoknya momen tausiyahnya mengena sekali. Kalaupun ada yang terasa menggurui, menurut saya wajar karena ceramah hakikatnya memang seperti itu. Mbak Dee (sintingbuku.blogspot.com) menulis : Kadang kita lebih mengkhawatirkan bagaimana kebaikan mempengaruhi kita dibanding ketidakbaikan yang seperti air bah menghantam keluarga kita; tanpa bisa kita bendung, tanpa kompromi, dari empat penjuru mata angin. Mungkin saya lebay, tapi itulah realita yang terjadi. Jadi, kebaikan juga harus selalu digelorakan dan anak remaja kita tidak jadi generasi bingung.


Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya tulis tentang film ini tetapi mungkin tidak akan cukup disini. Saya sangat menyukai  setiap detil yang ada di film ini, semuanya dibuat penuh perincian dan matang. Sebagai movie maniac yang gemar menonton dan mengomentari film, saya sebenarnya termasuk kejam jika mereview film. Film hollywood saja bisa saya bilang “rubbish” apalagi film Indonesia yang jujur saja saya tidak terlalu suka tonton. Tapi untuk film DSC saya benar-benar jatuh cinta.

Banyak kritik negatif yang mampir juga di telinga saya tentang film ini dan pastinya mereka mengkritik saya juga yang dibilang “Lebay” karena menonton film ini sampai berkali-kali. Kalau banyak orang yang berani membayar mahal untuk menonton film yang tidak jelas, maka kalau saya menonton film berkali-kali sebagai support film baik, menurut saya adalah wajar. Apalagi film ini bukan cuma sekedar film, tapi juga sarana tafakkur dan takzkiyatun nafs. Kerennya lagi, film ini tidak serta merta mencari keuntungan semata, tetapi justru film ini akan menyumbangkan donasi via Dompet Dhuafa jika pendapatan film ini tembus 1 juta penonton! Kalaupun tidak sampai 1 juta penonton, sebagian hasil dari film ini tetap akan digunakan untuk dana kemanusiaan dan pendidikan via Dompet Dhuafa lagi. Jadi, menonton film ini berkali-kali pun tidak merasa bersalah sama sekali, karena kita ikut berpatisipasi untuk mencapai goal itu kan?

Selain itu, sudah mestinya kita sekarang kita mendukung film-film baik. Film yang dibuat oleh sineas muslim tanpa dibubuhi pesan2 sisipan. Tujuan mereka membuat film pastinya untuk dakwah juga agar cakupannya meluas. Tidak melulu dakwah di dalam masjid kan? Dakwah di gedung bioskop dengan film baik ini bisa menjangkau orang lebih luas dan heterogen. Juga memberikan mereka alternatif hiburan setelah sekian banyaknya dibombardir oleh film-film roman picisan dan hollywoodism. Lagipula, dakwah kepada orang-orang baik dan sevisi mungkin sudah biasa, yang tidak biasa adalah dakwah kepada orang lain yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, ya, seperti  penonton bioskop itu.

So, I highly reccommended this movie! Bukan, bukan karena saya “kmgp-freak”, tetapi karena film ini memang baik, dibuat oleh orang-orang baik, dimainkan oleh orang-orang baik, diproduksi oleh orang-orang baik juga, dan pastinya, semua kebaikan itu akan menemukan jalan menuju ke kebaikannya yang lainnya. Anda baik, nonton film ini jadi tambah baik. Anda belum baik, menonton film ini Insya Allah bisa menjadi baik. Kalau anda baik dan menonton film ini malah biasa-biasa saja, rogoh hati kamu, mungkin ada sesuatu yang tidak baik menyangkut disitu. Selamat menonton film Duka Sedalam Cinta! Biarkan duka mu menjelma menjadi cinta yang bergelora***(yas)



Bekasi, 24th of October 2017
@myoffice, 09.42
Back to you!


***

Galleri foto saya!

Foto bareng Kiyai Ghufron alias Ustadz Salim A. Fillah

My favorite supporting actress nih. Sayang di DSC perannya sedikit

Tiket sepanjang jalan kenangan

Ngadain nobar yang full house

Ketemu Mbak Intan yang lg nonton DSC juga. Sekalian kampanye Mas Ganjar. Hahaha...

Premier Duka Sedalam Cinta di Kokas


Update now, pintu studio baru dibuka udah sepenuh ini...

Sunday, October 15, 2017

5 Alasan Kamu Harus (Banget) nonton Film Duka Sedalam Cinta

Poster Duka Sedalam Cinta

Yeay!!! Alhamdulillah.... akhirnya film DUKA SEDALAM CINTA yang saya tunggu-tunggu akan hadir juga. Film ini bisa dikatakan sebagai THE MOST AWAITED MOVIE OF THE YEAR bagi saya, karena selain merupakan kelanjutan dari film KETIKA MAS GAGAH PERGI (KMGP), konon film DSC ini lebih seru dari KMGP dan yang paling uniknya, bisa ditonton tanpa harus kita nonton yang pertama. Gimana gak bikin penasaran kan tuh?

Film KMGP sendiri adalah THE BEST MOVIE OF THE YEAR bagi saya. Can you imagine, I watched this movie more than 30 times! Aje gile! Saking saya tergila-gila nya sama ini film (and little bit obsessed) hampir tiap hari aye pergi terus ke bioskop. Mulai dari yang nonton bertigaan aja satu studio, sampai yang penuh seabrek2 sampai duduk di tangga... hahaha... Padahal waktu itu mood nonton saya lagi low banget alias gak gampang ngasih review "BAGUS" ke film yang saya tonton. Film sebangsa Spiderman aja waktu itu saya bilang : "Film apaan sih ini? Gaje bingits!" Apalagi nonton film Indonesia. Anti banget! Abis filmnya rata2 standar dan banyak unsur2 gak jelasnya. Rugi banget ngeluarin uang 30-50 ribu buat nonton film Indonesia di bioskop. Saya lebih memilih film Hollywood yang gak jelas daripada nonton film Indonesia. Sadis kan?

Abis film KMGP itu bagus sih! Unsurnya nano-nano bingits! Film nya juga gak ngasal dibuat kayak film "Islami" lainnya yang seminggu sebelumnya saya tonton. Akting beberapa pemainnya keren abis! Gambar2 sinematografinya bener2 memanjakan mata saya. Efek reuni dengan Mas Gagah yang dulu menjadi batu loncatan utuk hijrah juga ngena banget! Kayak semacam reuni dan mengingat kehidupan zaman-zaman tarbiyah dulu. Jadi pas nonton film ini kayak ketemu mantan yang udah lama banget gak ketemu dan elo rindu banget sama itu mantan dan itu mantan ngerasain hal yang sama, eh tetiba ketemu deh! Gimana deh tuh perasaannya? Hahahah....

Nah, sekarang muncul lagi nih film DUKA SEDALAM CINTA yang notabene sequel dari film KMGP sekaligus yang bisa berdiri sendiri. Aihhh.... pas nonton trailernya aja saya udah kejang-kejang, apalagi pas tanggal 19 Oktober film itu muncul ya? hehehe... Sekarang saya mau kasih alasan nih kenapa saya (dan kamu) mesti banget nonton ini film. Check it out!


1. Karya dan masterpiece dari Helvy Tiana Rosa (sastrahelvy.com)

Aye sukaaaaaaaakkkk (suka nya pake "k" di belakang yg artinya aye overdose suka) bangets sama karya2 bunda Helvy karena apa yg beliau tulis itu selalu pakai hati jadi bisa ditangkep juga dengan hati. Dan DSC ini adalah masterpiece nya dia dlm bidang film! OMG!! Can you imagine how this movie works out? Love love love bingits deh!
Bunda Helvy Tiana Rosa itu sendiri adalah 500 Influence People from all over the world. Dia yang juga memelopori novel dan cerpen Islami waktu awal yang baru pertama kali booming. Dan film ini juga bener2 dijaga sama beliau jadi gak ecek-ecek!

2. Jalan ceritanya gak mainstream melainkan out of the box.

Addduuhhh aye bosen deh sama film yg gitu2 aje. Film sekelas SPIDERMAN aje aye bilang ngebosenin dan gaje. Tapi film ini bener2 gak biasa, artinya belum ada yang menawarkan konsep film seperti ini sebelumnya. Cinta yang ditawarkan dalam film ini bukan cinta cemen antara anak-anak abegeh gak jelas, tapi cinta yang bisa bikin lo tersadar betapa beruntungnya lo selama ini. Penasaran kan? Sekarang bisa lo bayangin kan ini film kayak apa kalo aye aja yang "jutek" sama film Indonesia bisa tergila2 (even addicted!) sama ini film.

3. Baper abissss...!!

Dari nonton trailernya aja saya bisa nangis segayung apalagi klo saya nonton aslinya, bisa2 nangis seember deh.. hahaha... Bener-bener bawa perubahan banget! Sama pas ketika nonton film KMGP, usai nonton film itu, di rumah, saya bener2 merenungkan tentang "HIJRAH" saya. Ahhhh....beneran bikin kita jadi mikir dan ingin berbuat dan menjadi baik deh...

4. Gambar2 nya aduhaaaiii bangets deh! 

Saya yang suka traveling bener2 dimanjain sama gambar di film nya deh. Sumpah, film ini beneran dibuat degan niat bangetttsss!! Bener-bener profesional banget! Sudut-sudut pengambilan gambarnya gak terpikirkan sama film2 Indonesia yang lain. Jadi sepanjang nonton trailernya, saya berkata dalam hati : ini beneran di Indonesia? Ya, film ini menyorot keindahan Halmahera, Maluku Utara. Kalo film KMGP memotret indahnya Ternate, sekarang giliran Halmahera yang kebagian dipotret keindahannya. Ahh... tuh kan jadi baper, ke Ternate aja aye belum kesampaian eh ini udah ada Halmahera *liat saldo tabungan kemudian menangis sedalam sumur.... hehehehe






5. Kepuasan hati! 

Gimana gak puas klo saya bisa nonton film bagus dan hasil dari film ini buat pendidikan di Indonesia Timur? Nonton berkali2 juga saya gak bakalan feeling guilty. Malah klo perlu nonton tiap hari biar dananya lebih banyak yang bisa disumbangkan. Udah dapat hiburan islami, membawa perubahan, eh kamu tercatat juga sebagai bagian orang yang menyumbang dana untuk bantu pendidikan saudara2 kita di Indonesia Timur. Gimana gak menang banyak tuh kita?

Jadiii.... rugi banget kalau kamu sampe ketinggalan nonton film ini. Jarang2 loh ada film Indonesia ideal dan baik ples bagus seperti ini. Sok, catat tanggal mainnya ya, mulai 19 OKTOBER 2017 di bioskop2 terdekat. Nontonnya jangan sendirian, nanti kamu disangkain JONES lagi....hehehe... ajak juga temen, kerabat, saudara, dll dll. Selain kamu dapat kebaikan dari film ini, kamu juga mau kan temen, kerabat, saudara yang kamu ajak dapat kebaikan juga dari film ini. Ahhhhh....senangnya kalau berbuat baik eh kamu dapat yang terbaik juga.

Yukkkkk.... kita serbu bioskop! Jangan biarkan film bagus macam DUKA SEDALAM CINTA menjadi sia2 dan kalah dengan film2 abal2 yang mengusung tema hantu, pacaran atau cerita gak jelas. See you in theatre ya!***(yas)



Jakarta, 15th of October 2017
21.49 pm @myroom
Semangat!!!


*********

Berikut jadwal tayang Film DUKA SEDALAM CINTA

CINEMAXX

  • Maxxbox Lippo Village, Tangerang
  • WTC Matahari, Tangerang
  • Metropolis Town, Tangerang
  • Orange County Cikarang
  • Ponorogo
  • Palembang Icon, Palembang
  • Lombok City Center, Lombok 
  • Plaza Kupang, Kupang
  • Lippo Plaza Buton, Baubau
  • Lippo Plaza, Batu
  • Citimall Sampit, Sampit

CGV BLITZ MEGAPLEX
`
  • CGV Blitz — Jakarta
  • CGV Trans Mart — Cempaka Putih
  • CGV Bekasi Cyber Park – Bekasi
  • CGV Bekasi Trade Centre - Bekasi
  • CGV Depok Mall - Depok
  • CGV Eco Plaza Cikupa – Tangerang
  • CGV Teras Kota - Tangerang
  • CGV Festive Walk – Karawang
  • CGV Sunrise Mall – Mojokerto
  • CGV Miko Mall – Bandung
  • CGV Grage City Mall – Cirebon
  • CGV Sahid Jwalk - Yogyakarta
  • CGV Transmart Tegal – Tegal

Trailer Film Duka Sedalam Cinta





BONUSS!!! Foto-foto zaman KMGP 😀😀😀😀

Pose bareng Bunda Helvy Tiana Rosa, dan pertemuan pertama kali setelah sekian tahun


Bareng pak sutradara Firmansyah yang kece badai


Eh selesai nonton di Planet Hollywood ketemu Hamas. Awalnya saya sih biasa2 aja, eh temen ngajakin foto bareng, ya udah ikutan juga...hahahah

Ketemu Masaji di Bekasi di hari2 terakhir penayangan. Yeay! Bekasi jadi benteng terakhir film KMGP

Ketemu Noy yang orangnya asyik dan enerjik dan sekarang sudah berhijab.