Showing posts with label bogor. Show all posts
Showing posts with label bogor. Show all posts

Thursday, October 12, 2017

Food Review : Cibogy and Bavarian Haus

Berhubung kemarin hujan, jadinya gak bisa foto depan restorannya deh... Ya dah, foto makanannya aja.


Oke, kali ini kita tambahkan FOOD ke dalam kategori tulisan kita. Kali ini saya ingin mereview dua tempat sekaligus yang jaraknya memang berdekatan satu dengan yang lain. Tempat kita kali ini adalah Cibogy dan Bavarian Haus yang terletak di wilayah Cipayung, Puncak Jawa Barat. Tetapi sebelum saya review beberapa makanan yang saya pesan, kita bicarain behind the scene nya dulu ya! Hahaha…

Sebenarnya sudah beberapa waktu yang lalu saya ingin ke dua tempat ini. Dua tempat ini memang baru di wilayah Puncak, dan menambah lokasi kuliner wilayah tersebut. Selain itu tempatnya yang gak terlalu “atas” banget jadi kalaupun Puncak lagi dalam keadaan macet, gak terlalu lama2 amat sampai lokasi.

Waktu itu sih saya hanya sekilasan liat dua tempat tersebut, pada saat pulang survei villa di Puncak. Setelah itu cari2 info dua tempat tersebut. Sayangnya info tentang dua tempat tersebut masih minim, tapi masih ada beberapa orang yang mengulas tempat tersebut. Dan berikut hasilnya :

1. Cibogy : tempat ini untuk kuliner sekaligus bermain. Dan di tempat tersebut ada arena Labyrinth untuk bermain cari-carian (syukur2 kalo akhirnya berhasil ketemu harta karun. Lol) Range harga makanannya pun relatif terjangkau oleh kantong.

2. Bavarian Haus : tempat yang mengadopsi gaya dan suasana pedesaan di Jerman ini ternyata adalah “adik” nya Chimory. Tempat ini mengklaim sebagai restoran Jerman yang menyajikan sosis2 dan daging2 terbaik. Untuk harga, kebanyakan mengatakan “standar”.

Dua info itulah yang saya dapatkan dapatkan hasil browsing internet. Nyatanya? Nanti ai kasih tau ya!

Hari Sabtu usai sholat Dzuhur saya pun segera menuju tempat ini dari Jakarta. Berangkat naik gojek dari rumah ke stasiun Tebet, dilanjutkan dengan naik kereta ke Bogor. Dari Bogor lanjut gojek lagi ke Sukasari. Karena patokan Sukasari itu banyak, maka saya memilih lokasi “Venus” yang menjual roti unyil yang letaknya di Sukasari. Dari situ melanjutkan perjalanan ke arah Cisarua dengan angkot juga. Baru saja angkot sampai Ciawi, sudah terlihat deretan mobil mengantri. Ternyata jalur puncak sedang one way ke bawah, menyebabkan yang ingin naik ke atas harus menunggu jalur dibuka kembali. Agak ragu antara ingin turun melanjutkan dengan ojek atau ikut “jalan-jalan” ke Cisarua dulu. Tapi akhirnya memutuskan untuk ikut saja ke Cisarua sekalian jalan-jalan.

Setelah sampai di Cisarua lewat jalur alternatif yang berkelok-kelok itu, eh itu angkot mau turun ke bawah lagi jadi ya ikutan deh ya. Sampai di Cibogy langsung disambut dengan hujan rintik-rintik. Alhamdulillah… Tapi berhubung belum sholat Ashar, maka setelah order makanan dan minuman segera sholat di tempat yang gak jauh dari Cibogy. Eh dodo e… itu musholanya spooky bingits! Letaknya di samping kanan Cibogy yang dipisahkan dengan lapangan parkir. Yang bikin Mushola ini spooky adalah bangunannya yang tua, tapi memang sebenarnya itu bukan Mushola, melainkan abandoned Haus yang disulap menjadi Mushola. Tapi Musholanya berada di ujungnya, sedangkan untuk menuju ujung melewati bagian rumah yang kosong and gelap. Hiyyy…. Boro-boro mau nengok ke dalam itu rumah deh.

Musholanya sendiri old look bingits, kainnya udah lama gitu deh. Karpetnya juga sama tuanya dengan tasbih segede-gede gaban ditempel di dinding mushola. Toiletnya, anehnya ada di bagian depan mushola dengan pintu kayu yang lapuk dan di samping itu toilet ada pintu lain yang menuju akses ke ruangan kosong tersebut. Ajegile, makin tambah spooky. Kebetulan waktu itu saya sampai jam 5 sore, ditambah suasana yang spooky dbarengi dengan hujan rintik2. Makin tambah jadi deh. Untung saja di dalam ada seseorang yang sedang sholat, jadi saya gak iseng-iseng amat.



interior dalam. Source : jktgo.com

Menu di Cibogy. Source : Zomato


Dan sekaranglah saatnya menikmati pesanan saya. Karena ini pertama kali saya berada di Cibogy, maka saya meminta rekomendasi waitress nya mana makanan dan minuman yang menjadi chef reccomendation. Pilihan saya jatuh kepada Yakiramen King Karage dan dua minuman yaitu Teh Sereh (aduh, saya tuh paling seneng deh kalo nemu minuman2 alami gini) dan Teresa Sun Mohito.

Teresa Sun Mohito

Yakiramen, Teresa Sun Mohito, and Teh Sereh


Yakiramen ini adalah menu ramen / mie yang dipadu dengan karage. Rasanya lumayan enak sih dengan harga yang lumayan lah ya. Walaupun gak jepang-jepang amat tapi ramen ini udah mirip aslinya lah. Kemudian, teh sereh, aihh…ini mah emang minuman kesukaan saya. Wangi sereh dan rasanya sepet-sepet gitu bikin adem deh kalau minumnya (padahal aye pesennya pakai es…hehehe). Yang terakhir adalah Teresa Sun Mohito, minuman soda (sepertinya sprite) yang dipadu dengan biji selasih dan jelly aneka rupa yang kecil-kecil. Rasanya, lumayan enak lah. Apalai dihidangkannya dengan gelas ukuran besar jadi berasa puas bangets!

Suasana Cibogy pada saat saya datang sangat sepi sekali, malah awalnya saya sempat bertanya dalam hati, “ Saya salah masuk ya?”. Perkiraan saya waktu itu karena ini malam minggu maka akan banyak tamu yang hadir. Saya malah kayaknya jadi tamu satu-satunya sore itu. Ruangan restorannya tidak terlalu luas namun dipenuhi dengan kursi-kursi yang cozy. Meja dapur yang berupa bar berada di dalam ruangan itu juga, sehingga kita dengan mudah bisa memanggil-manggil pelayan jika butuh bantuan ataupun sekedar kenalan *eh hahahaha….

Di sisi kanan restoran juga ada toko oleh-oleh makanan khas Bogor. Yang terkenal disini tentu saja Bogor Struddle nya yang beraneka rasa. Struddle seharga Rp 45.000 ini dikemas dengan packaging yang menarik sehingga cocok banget buat dijadiin oleh-oleh. Saya membeli struddle rasa asinan yang maknyos bingits. Oiya, di samping toko oleh-oleh ini juga ada pintu menuju labyrinth yang bisa dijadikan tempat main-main. Sayangnya pada saat itu saya cuma datang sendirian dan haripun udah sore, jadi gak mungkin banget saya masuk ke labyrinth itu. Bisa-bisa kalau saya tersesat bisa ketemu Voldemort lagi…hahaha…

Ternyata hujan semakin besar tetapi makanan sudah disantap semua, tulisan belum selesai. Maka saya pun memesan minuman lagi. Kali ini minuman yang saya pesan adalah FREEDOM yang sejenis dengan Teresa Sun tadi, cuma sodanya diganti dengan Fanta. Namun malam semakin beranjak, dan saya ogah deh sholat di mushola tadi. Sore aja agak-agak spooky, apalagi malem….hahaha…

Ketika hujan mulai sedikit reda, saya segera membayar makanannya. Total 1 makanan dan 3 minuman adalah 98 ribu. Ya, lumayan lah ya. Sebelum beranjak pergi saya mampir ke toiletnya. Bersih dan bagus, tapi… eng ing eng… dari 4 bilik toilet pria yang ada, lampu yang menyala hanya di 1 tempat dan di wastafel depan toilet. Aih, lagi-lagi spooky. Tapi sebenarnya biasa aja sih… hahahah…

Tujuan saya berikutnya adalah Bavarian Haus. Tempatnya ada beberapa meter dari Cibogy dan lebih ke bawah lagi arah Jakarta. Sambil menunggu angkot, saya mampir ke Princess Cake punya siapa hayo? Yup, punya Miss Ulala Cetar Membahana Syahrini. Toko ini letaknya di depan Cibogy bersisian dengan jalan raya.

Tak lama sampailah saya di Bavarian Haus yang bentu tempatnya mirip rumah2 ala ala Hans and Gretel gitu. Karena resto ini mengusung ala ala Jerman, maka setiap tulisan pasti ada bahasa Jerman yang mengikuti. Di dalam resto sebelah kanan pintu masuk ada toko kecil yang menjual berbagai macam produk olahan daging dan makanan ringan. Karena Bavarian ini adiknya Chimory, maka ada juga produk-produk Chimory disini.


Penampakan Bavarian Haus. Source : whatsnewjakarta

Restorannya terletak di sebelah kiri dengan meja-meja kayu besar ala-ala piknik tersedia di pinggir kiri. Untuk yang menginginkan meja makan normal layaknya di rumah, ada juga di sisi dekat kasir. Sedangkan yang menginginkan duduk-duduk di sofa bisa ambil tempat di depan bar. Di tengah-tengah restoran ini ada tembok kaca yang terlihat dari luar tempat mengelola daging lengkap dengan mesin potong dan pisau-pisaunya. Sayangnya karena (lagi-lagi) tidak begitu banyak pengunjung, maka ruang makan di lantai atas tidak dibuka. Jadilah saya langsung mengambil spot di meja piknik yang super besar padahal orangnya cuma saya sendiri… zzzzz….


Penampakan dalam Bavarian Haus. Source : brilio

Karena perut saya sudah cukup kenyang untuk makan lagi, maka saya memutuskan untuk minum dan makanan kecil saja. Saya memesan skewer, yaitu semacam sate yang isinya terdiri dari meatball, sausage, tomat kecil, mushrom yang dipanggang dan ditambahkan mayonaise diatasnya. Satu platter terdiri dari 3 tusuk sate skewer itu. Rasanya? Aihh…. Maknyos bingits! Semuanya terasa gurih dan nyam nyam, apalagi jamurnya itu loh! Serasa banget meleleh di lidah. Sayangnya, porsinya irit bingits… hahaha…

Menu berikutnya yang saya pesan adalah mashed potato. Karena perjalanan saya ke Jakarta akan berlangsung lama (secara aye naik angkot kan?) maka aye perlu sedikit karbohidrat. Lagipula udah lama pula saya gak makan mashed potato (one of my favorite food). Rasanya memang beda sih, teksturnya lebih lembut namun ada beberapa “printilan” yang menambah rasanya menjadi enak. Porsinya yang kecil juga membuat saya merasa tidak bersalah untuk menikmatinya… hahaha… (kemudian sadar kalau perut sudah lebar).

Untuk minumannya sendiri, saya mencoba Snow White Vanilla, sebuah minuman campuran yang di atasnya diberikan cherry. Karena udah cukup “bega” dengan minuman di Cibogy, jadi saya sepertinya ngiler cherry nya saja… hehehe… Minumannya enak dan segar, rasa2 mangga dan vanila yang dipadu dengan susu. Jadi pas diseruput ada “something” nya yang ngikut kesedot gitu. Kesimpulannya enak lah ya…

Skewer and mashed potato


Vanilla Snow White

Selain makanan dan minuman yang saya pesan di atas, Bavarian juga menyediakan menu-menu lain yang bervariatif. Kebanyakan memang daging olahan atau sosis. Menu Barat gitu deh. Minumannya pun juga bervariasi. Tapi yang menarik bagi saya yaitu English tea set nya itu loh! Menu pilihannya banyak bingits, mulai dari chamomile sampai Earl Grey. Tak lupa ada juga Yoghurt nya (ya iyalah, secara dia kan adiknya Chimory). Sebagai kesan kuat Jermannya, tempat ini juga menjual bir, yang bagi saya gak bangets!

Lalu, bagaimana harganya sendiri? Untuk 1 appetizer, 1 addition food, dan 1 drink, totalnya adalah 144 ribu kurang lebih. Bagi saya sih harga disini MAHAL. Ya, kalau sendiri seperti saya mungkin biasa2 aja sih tapi kalau ngajak keluarga, kayaknya bakalan “broke” deh. Hehehe… mendingan kan ngajak makan di tempat yang “standar” aja. Jadi uang yang berelebih bisa mendapatkan makanan yang banyak pula. Kalau di Bavarian ini kan uang yang banyak mungkin makanan sedikit yang didapet, ples “kurang nendang” kalau kata orang2 betawi. Namun, jika memang punya budget berlebih boleh lah sesekali mengajak keluarga kemari, tapi pastikan dulu kalau keluarga anda itu penyuka makanan barat karena menunya semuanya adalah menu barat. Dengan harga yang mahal memang kualitas penyajian dan rasanya pun terlihat. Jadi kita gak merasa rugi-rugi amat. Ditambah lagi tempatnya yang cozy buat foto2 atau sekedar update status “where you’ve been”. Jadi bolehlah mampir sesekali ke tempat ini. Oiya, satu lagi, Bavarian Haus ini menuliskan besar2 tulisan : NO PORK. Jadi, Insya Allah aman bagi kita yang muslim.

Nah, mungkin ini aja kali ya sedikit review saya tentang dua tempat makan di Puncak. Yang pasti ada harga ada kualitas lah! Dan sesekali memanjakan diri kayaknya juga gak salah-salah amat. Semoga review nya bisa membantu kalian untuk kongkow2 bersama keluarga ataupun sedekadar me time ya!***(yas)





Bekasi, 12th of October 2017
@office , 14.02 pm
Cause Haters are gonna hate!
Bye bye KEONG RACUN!


Sunday, October 8, 2017

The Choice (Traveling sendiri apa bareng2)

Lokasi : Hua Hin, Thailand



Seorang ibu dengan dua anaknya yang berusia balita turun dari angkot. Satu anak dalam gendongannya, satu anaknya lagi mengikuti di belakangnya. Beberapa kantong plastik belanjaan yang semula tergeletak di lantai angkot, dibantu turun oleh para penumpang. Ibu itu seperti baru saja berbelanja kebutuhan balitanya di sebuah supermarket daerah sukasari. Sedangkan ibu itu sendiri turun di daerah Ciawi dan menyambung angkot ke arah Pasir muncang.

Sekilas, keliatannya pengen banget komen : “ Ya ampun bu, rempong bener!”. Alih-alih komen negatif malah saya salut sama ibu itu. Demi mengajak anaknya jalan-jalan, dia tidak keberatan untuk berempong-rempong ria dengan jarak yang jauh bingits. Hat off untuk si Ibu deh.

Saya juga punya seorang kakak, yang berbeda dari ibu ini. Dia gak pernah tuh keluar jauh dari rumahnya. Paling jauh ya pasar. Kalau disuruh ke rumah kakak saya yang lain, yang memerlukan naik angkot dua kali, dia langsung nyerah. Jangankan angkot dua kali, menuju sekolah anaknya yang cuma ngangkok sekali dan itupun juga cuma sebentar, dia gak mau. Jawabannya kalau ditanya kenapa : “ Gak berani. Ngeri,”

Sebagai seorang backapacker saya juga kerap ditanya macam-macam sama teman saya. Pertanyaan paling sering, “Yas, emang enak apa jalan sendirian? Nggak iseng apa?”

Jalan sendirian, pasti iseng lah ya! Frustasi, sering bangets! Linglung, nyaris ada di setiap perjalanan. Waktu traveling pertama saya ke Singapur, saya sampai Singapur jam setengah sepuluh malam. Setelah keluar dari imigrasi dan mengikuti petunjuk Mbak Dee, sampailah saya di daerah Lavender. Waktu itu saya mencari Hostel Backpacker yang letaknya di Lavender. Secara ini traveling pertama saya ke luar negeri, menjelang tengah malam pula. Saat itu bolak balik saya telusuri peta perjalanan mencari itu hostel gak ketemu-ketemu. Setelah merasa “give up” saya alhirnya bertanya pada orang yang kebetulan lewat. Eng ing eng, si mbak nya menjawab pakai bahasa Cina! Padahal saya tanyanya pakai bahasa Inggris. Ya ampyuuunn… Tanya sama yang lain lagi sama juga. Sekalinya pakai bahasa Inggris, dia ngomong kagak jelas. Ya udahlah, cari-cari sendiri hingga menjelang tengah malam. Coba banyangin gimana gak frustasinya saya.

Saya memang tipikal orang yang suka kemana-mana sendiri. Jalan kaki, lebih seringnya. Kalau itu jarak bisa diperkirakan dengan jalan kaki maka saya memilih untuk jalan kaki. Rekor jalan kaki saya terjauh itu ya, Bogor – Jakarta, tapi itu bukan karena kemauan sendiri tapi karena dipaksa ikut lomba…hahahah…

Sampai suatu saat seorang teman bilang, kalau dirinya tidak bisa kalau jalan sendirian. Saya juga punya teman yang jarak sedikit aja naik motor, ke rumah teman yang gak begitu jauh aja minta dijemput. Ke masjid, yang cuma 50 meter naik motor, pokoknya malas jalan deh ini orang. Mangkanya dia terheran-heran kalau saya sampai ke suatu tempat jalan kaki, “Kok lo bisa sih?”.

Nonton ke bioskop sendirian aja sampai dia komenin juga, “apa enaknya nonton sendirian?” Aksi kemanusiaan sendirian juga kena komen. Ujung-ujungnya dia membully, “jomblo sih lo ya?” Hadehhh…capekk deh…

Pada dasarnya hidup itu adalah pilihan. Memilih mengurung diri sendiri di tempat itu-itu aja dan mempertahankan zona nyaman atau melangkah keluar dan mendobrak zona nyaman. Saya pun sempat merasa asyik dengan zona nyaman saya. Lalu ketika melangkah keluar, Ya Ampyuunn, babak belur. Tapi kalau kita menyerah dan kembali ke zona nyaman kita, apa iya kita mau disitu terus-terusan? Yang asyik itu jika kita sudah babak belur, kita bangkit lagi dan menaklukkan tantangannya. Gak mudah sih, berat malahan. Tapi gak ada kan sesuatu yang terjadi begitu mudah di dunia ini? Ingat ya, hidup kita bukan film yang mau ini ada, kesusahan tetiba ada jalan keluar secepat kilat. Allah sendiri berfirman dalam surat Al Insyirah : Bersama kesulitan itu ada kemudahan. Jadi datangnya berbaregan ya, bukan datang kemudahan setelah kesulitan.

Memilih sudah pasti susah. Apalagi kalau kita tipe pemilih. Memilih baju atau sepatu aja susah, apalagi memilih sesuatu untuk hidup (eaaa….eaaa…). Paling gak, jika pilihan kita salah, ada kesempatan bagi kita untuk memperbaikinya dan kita bisa belajar dari kesalahan kita itu. Mencoba sesuatu yang menakutkan, dan selesai, paling tidak banyak cerita yang bisa kita dapatkan dari situ. Orang-orang pun akan bangga dengan kita. Daripada mau mencoba tapi gak jadi-jadi….capeek deehh…hehehe…

Jadi nih ya, belajar dari si ibu di angkot tersebut, si ibu telah menaklukkan apa yang gak penting bagi hidupnya yaitu omongan orang-orang. Saat itu itu memutuskan untuk keluar bersama anak-anaknya, pasti ada aja yang akan ngomong : “ngapain sih bawa-bawa anak segala”, “gak repot apa tuh ngajak anak-anak”, “mendingan juga diam di rumah” bla bla bla. Pada saat si ibu berhasil sampai rumah dengan selamat sentausa, alih-alih bangga, malah timbul cibiran berikutnya. Hadeeehhh….pecel deh….hahaha…

Sama seperti saat saya memutuskan backpackingan. Sejuta Julitawan dan Julitawati pasti tak henti-hentinya bicarain saya : “Mending uangnya ditabung,” “Gaya bener sih jalan-jalan ke luar negeri segala”, “Ngabis-ngabisin uang aja,” etcetera. Saya sih, terima masukan yang positif aja, tapi semua keputusan tetap ada di saya. Cibiran para julitawan dan julitawati, saya biarkan ngambang di selokan…hahahaha…

Sekali lagi, hidup itu adalah pilihan. Dan kita ditakdirkan untuk memilih jalan hidup kita sendiri. Mau pergi atau gak pergi, itu pilihan. Mau tetap stay di rumah atau ngebolang, itu juga pilihan. Kita bertanggung jawab atas pilihan kita masing-masing. Tapi masa sih hari gini masih ada yang di rumah terus. Pas diajak ke Dufan, dia bilang : “Ini tempat apaan yak?” Atau pas diajak naik bis kuning UI dia nanya : “Bayar berapa ya?” Saat naik pesawat dia bertanya : “Pakai seatbealt nya gimana nih?” Ya ampyyuuuunnn….. hahaha…. Tapi apapun itu, ya udah, itu pilhanmu!***(yas)





Bogor, 7th of September 2017
@Cibogy, 18.00 pm
Menunggu hujan, sambil bernyanyi rindu….
(eea…eaaaa….)



Monday, March 20, 2017

(Movie Review) The Nekad Traveler : Not Only Traveling!




Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did so.

Mark Twain


Siapa traveler yang paling berpengaruh dalam hidup saya, yang membuat saya ingin mewujudkan mimpi saya menjadi seorang Traveler? Yup, jawabannya adalah Trinity!

Seperti biasa, saya selalu gak tertarik sama buku-buku yang sedang hangat dibicarakan oleh teman-teman. Waktu itu yang lagi heboh adalah bukunya Trinity dengan judul "The Naked Traveler". Salah seorang adik kelas heboh membicarakan buku itu. Namun saat bertanya pada saya, apakah saya sudah membacanya, saya langsung menggelengkan kepala.

Benar apa yang dihadirkan Trinity pada awal film. Membaca tulisan NAKED itu udah bikin saya antisipasi aja. Apa sih itu buku palingan hal-hal yang nyerempet2. Jadi gak ada keinginan buat baca. Baru belakangan saya membaca salah satu artikel Trinity yang bercerita tentang parahnya toilet di Cina. Eh, kok bahasanya asyik dan informatif sekali ini buku. Akhirnya saya berburu itu buku sampai akhirnya saya koleksi semuanya, mulai dari The Naked Traveler 1-4 sampai The Naked Traveler RWT,  The Naked Traveler versi bahasa inggris dengan cover merah, the naked traveler yang cerita tentang hantu, sampai yang terakhir The Naked Traveler 7. Semua jadi koleksi saya dan hanya perlu waktu sehari atau dua hari buat ngabisin satu buku. Di ujung halaman pasti selalu ngeluh sendiri : Yaaahhh... udah abis. Abis baca bukunya amat sangat gak terasa dan itu tadi, nyantai tapi informatif.

Tapi sekarang saya bukan ingin membahas bukunya, melainkan ingin membahasa filmnya.

Awalnya saya cukup bingung setelah ada info bahwa buku The Naked Traveler akan difilmkan. Kira-kira seperti apa ya? Negara apa aja yang akan dibahas dan siapa pemainnya. Kemudian setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya poster film itu muncul juga. Film ini dibintangi oleh Maudy Ayunda dengan sutradara Rizal Mantovani. Aih, agak kecewa sedikit, karena saya bukan penggemar Maudy yang menurut saya agak-agak jutek, hehehe... Jadi agak males buat nonton ini film. Apalagi saya paling anti nonton film Indonesia kalau gak ada embel-embel tentang dunia traveling atau film islami.

Dan here I am! Duduk manis di cafe XXI sambil nulis tentang review film ini 😀  Pergi jauh dari Jakarta ke Bogor cuma buat nonton film ini. Weekend pula! Saya paling anti nonton pas weekend, selain mahal juga rame. Apalagi weekend nonton film Indonesia, hadeeehhh.....

Memang awalnya tanpa rencana sama sekali. Sehabis makan siang di daerah Tebet, saya langsung chao naik kereta. Tujuannya ke mana belum jelas. Kalo ke bogor juga ngapain, klo ke Depok juga ngapain. Lalu ide itu datanag, nonton Beauty and The Beast di Botani Square or Depok Plaza, tapi eh bujug tiketnya mahal! Ya udah ganti nonton The Nekad Traveler dengan bioskop yang paling murah. Sayangnya di Depok lagi gak tayang, dan di Bogor diarahkan di BTM 21. Aduh ngebayangin bioskop jadul dengan kursi yang udah lama. Belum tentu juga itu film bagus. Tapi, no choise no other option.

Sampai di Bogor disambut dengan hujan juga. Hadeeehhh.... Worth it gak ya nonton ini film jauh-jauh? Sampai bioskop ambil yang jam 14.40 dan pas sampai itu udah main film tapi Alhamdulillah masih iklan yang gentayangan jadi saya masih kebagian yang awalnya.

Oke sekarang kita bahas tentang filmnya!

Filmnya dibuka dengan musik dan pemandangan yang asyik banget! Ada promo2 wisata daerah juga. Maudy Ayunda lagi leyeh-leyeh di atas ban renang berbentuk semangka. Saya tetiba langsung suka dengan konsep film ini.

Film ini bercerita tentang Trinity, seorang traveler yang terjebak menjadi mbak-mbak kantoran. Jiwanya yang menginginkan traveling kesana kemari seringkali terbentur dengan jadwal kantor yang padat. Ditambah lagi dia harus berhadapan dengan bos nya (yang diperankan dengan apik oleh Ayu Dewi) yang walaupun galak tapi sebenarnya baik. Jadilah Trinity seringkali mencuri2 waktu cuti dengan sayarat semua pekerjaan sudah diselesaikannya dengan baik. Ditambah lagi, Trinity harus menghadapi pertanyaan orang tuanya "Kapan Nikah?" yang seolah tak pernah ada habisnya.

Trinity juga berteman dengan Yasmin dan Nina (Kalau dibuku saya lebih suka Yasmin, tapi di film ini saya lebih suka Nina) yang sama-sama mempunyai jiwa traveler. Ditambah lagi dengan sepupu Trinity yang bernama Ezra yang menambah keramean traveling mereka.

Dalam perjalanan travelingnya itu Trinity bertemu dengan Paul, yang awal mulanya dia sangka sebagai Mr. X. Pertemuan yang tidak direncanakan terjadi berkali-kali dan mengantarkan mereka pada kisah asmara.

Namun ternyata Trinity merasakan kehampaan dalam travelingnya itu. Hingga akhirnya dia tersadar bahwa traveling itu bukan sekedar memenuhi bucket list saja, tapi juga bagaimana orang lain terinspirasi dan bisa melakukan seperti yang dia lakukan.

Ah, awal yang bagus akhirnya ditutup dengan ending yang bagus juga. Two thumbs up banget!

Dalam film ini kalau kita sudah membaca karya2 Trinity maka akan menemukan hal-hal yang ada di dalam buku. Misalnya saat Trinity memakan Day Old (anak ayam yang baru berumur sehari kemudian digoreng dan dijadikan jajanan pinggir jalan), atau saat Ezra "dipaksa" memakan Balut. Aih, walaupun jijik saya sempat terpingkal-pingkal. Juga tokoh Mr X yang langsung bisa saya kenali.

Penampilan Trinity sebagai cameo juga bikin saya senyum-senyum sendiri melihat akting lebaynya. Keren bangets!

Untuk urusan akting, semuanya saya berikan jempol. Gak ada yang akting kaku, semuanya natural, termasuk si Citra yang unik itu. Selain Maudy Ayunda yang bermain sangat bagus (cantik dan pintar pula), peran Ayu Dewi juga bikin gregatan tapi bikin ketawa. Yasmin dan Nina serta Ezra juga pas, gak dibikin lebay.

Skenario juga lancar dan menarik. Cerita ditulis seperlunya dan seperti bukunya, Informatif! Jadi gak memaksakan semua isi buku dituangkan dalam film. Trinity dan penulis skenario benar-benar menggarap naskah untuk film ini secara selektif namun tepat dan informatif. Hampir sepanjang film ini disajikan info-info yang bagus semisal jadwal berburu tiket, dll. Jugaaa.... gak ada adegan yang gak perlu. Bagi saya semua adegan di film ini perlu karena akan mempertemukan dengan sesuatu yang menarik. Kayak misalnya, awalnya saya merasa adegan Trinity sama Paul itu cuma pemanis ajah, tapi nyatanya saya salah. Adegan itu justru membawa ke titik klimaks akan travelingnya Trinity. Plesssss.... informasi pasir nyala itu sesuatu bangets!

Untuk gambar, gak usah ditanya lagi. Bener-bener deh, selama hampir 2 jam kita bener-bener dimanjain dengan gambar yang ajib banget. Daaannn.... sudut pengambilan gambarnya itu juga profesional khas Hollywood banget, bukan abal-abal. Jadi bener-bener bikin kita mupeng ke suatu tempat itu. Sepanjang film saya selalu mencatat dalam otak saya untuk kesana-kesini...hehehe...

Musiknya juga ampun-ampunan. Ciri khas daerah atau background choir dengan gambar pemandangan itu bener2 bikin tubuh bergidik banget. Gak seperti musik scoring film kebanyakan yang standar, tapi scoring musik film ini cocok banget dengan tema traveling. Khas dan etnik banget.

Dannn......... jreng jreng.... aye pengen nonton film ini lagi! Gak bosen ajah. Sumpah beneran, gak asyik kalau cuma nonton sekali.

Moral dari film ini juga bagus menurut saya, Try to reach your bucket list without feeling selfish! Ya, boleh aja berkeinginan ini itu tapi tetap harus perhatikan keadaan sekitar, teman, saudara, keluarga, dll. Dan yang terpenting, bagaimana apa yang kita lakukan itu bisa menginspirasi kebaikan buat orang lain bukan cuma diri sendiri. Dan jika kita punya keinginan kuat jangan lupa berdoa dan biarkan semesta mendukungmu. Asyik dah pokoknya.

Seusai nonton film ini, saya yang sedang galau tetiba merasa : Lo mesti lakukan ini Yass, kalau gak pengen menyesal seumur hidup karena ini adalah impian elo!

Ooops! Oke, Bismillah!

Bagi saya sendiri ini adalah film terbaik karya Rizal Mantovani yang harus diapresiasi dengan baik. Sayangnya film ini dapat jatah layar sedikit karena berbarengan dengan filmnya Mbak Belle. Aduh, sayang banget!

Bagi saya seorang traveler pemula, melihat film ini menadi semakin terinspirasi untuk traveling ke berbagai tempat, bukan cuma belahan dunia tapi juga Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan yang begitu indah dan menawan. Selain itu, bukan cuma traveling nya aja tapi bagaimana mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan keinginan traveling kita itu.


Islam sendiri juga menganjurkan ummatnya traveling seperti dalam surat Al-Mulk ayat 15 :

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Yang berarti sebagai umat Islam kita justru harus mengenal Allah lewat Ciptaan-Nya. Tafakur alam adalah salah satu sarana mendekatkan kita kepada Allah. Banyak loh, traveler yang akhirnya masuk Islam setelah traveling ke semua penjuru dunia.

Dalam sebuah buku dahsyat karya Ibnu Battutah juga dikatakan bahwa para umat pendahulu traveling ke segala penjuru dunia seperti Ibnu Battutah itu sendiri. Bumi Allah itu luas maka berjalan dengan tunduk dan selami segala keindahan yang merupakan keindahan Maha Karya Nya. Jika dunia saja bisa seindah ini, bagaimana dengan surga? Ahhh... semoga terwujud untuk ke surga kelak.

Jadi, yuk traveling! Gak perlu yang jauh dan mahal kok. Gak perlu juga rame-rame, jika sendiri bisa menentramkan jiwa. Intinya, bergerak dan bertafakur. Oiya jangan pernah minta oleh-oleh ya dari orang yang sedang traveling.

Terima kasih Mbak Trinity. Terima kasih The Nekad Traveler. You're such an inspirator for me! Bukunya bagus, filmnya bagus, dan amat sangat menginspirasi.

Nah, sekarang kapan kamu terakhir traveling? (cring...cring....kedip2in mata 😘  )***(yas)



Bogor, 19th of March 2017
18.20 @Cafe XXI BTM
Stay Positive. Stay Traveling!


Tiket nonton saya di atas tumpukan buku The Naked Traveler


Bahasa tulisannya yang informatif membuat saya suka buku ini


Nulis blog  kali ini dihiasi pemandangan keceh badai kayak begini