Friday, January 28, 2022

Bait-Bait Ar Rahman (Cerpen)

 


"Arrahman... Allamal Qur'an... Kholaqol insan... Allamahul bayan... Asysyamsu wal qomaro bi husban..."


Bait-bait surat cinta itu terdengar di ruang pendengaranku. Memaksa pelupuk mataku yang terlelap, membuka sedikit demi sedikit.


"Wan najmu was syajaru yas judan..."


Bait-bait itu terdengar lagi lebih lantang dari sebelumnya. Udara yang menusuk di puncak Gunung Merbabu tak membuatku surut untuk mencari sumber suara itu. Aku keluar dari sleeping bag ku dan mencoba merangsek keluar tenda.


"Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan"


Suara itu bergetar menahan tangis yang menggeledak. Ayat-ayat itu lemah dibacakan. Gemuruh dada menahan tangis dari yang membaca serasa melekat di hatiku.


"Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?

 Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?

 Maka Nikmat Tuhan kamu manalagi yang kamu dustakan?"


Aku berdiri di depan tenda. Tubuhku bergetar menahan haru dan takjub. Di depanku tampak punggung Billy yang sedang tegak berdiri di atas sajadah sambil mensedekapkan tangannya dan menahan tangis sambil terus membaca surat Ar-Rahman.


"Masya Allah...." Aku jatuh berlutut. Aku menahan tangis dan mengulang-ulang kata yang sama di dalam hati.


"Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?

 Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?"


***


"Kau ikut bergabung naik gurung bareng kan, Ren?" 


Seorang lelaki tinggi memakai topi kupluk tiba-tiba duduk di hadapanku. Dia Billy, teman satu fakultas di Fakultas Ilmu Budaya UGM. 


"Aku belum merencanakan Bil. Masih banyak urusan yang belum Aku selesaikan. Tapi rasa kangenku melihat keindahan alam serta gunung yang mentereng itu, benar-benar tidak bisa ditahan." Aku mengenang tanpa melihat Billy yang tiba-tiba sudah meminum es teh manisku.


"Ah, pasti karena urusanmu yang setumpuk di Lembaga Dakwah Fakultas, kan, Ra? Sudahlah, ngapain sih, kau merepotkan dirimu di kegiatan-kegiatan seperti itu?" protes Billy sambil mengambil satu kerupuk di piring ketoprakku.


Pertemuanku dengan Billy kala itu terjadi saat Aku dan dia menjadi mahasiswa baru. Diterima di fakultas yang sama dan jurusan yang sama. Hobi kami yang sama-sama mendaki gunung, selanjutnya menakdirkan kami bergabung dengan klub pecinta alam. Tapi menjelang kenaikan semester tiga, Allah memberiku hidayah lewat Bang Adil, mentorku di kegiatan Asistensi Agama Islam, suatu kegiatan mentoring yang wajib diikuti anak-anak baru semacam Aku dan Billy. Hidayah itu yang akhirnya menjadi hal yang selalu ditanyakan Billy.


"Kenapa Ra? Kenapa? Apakah dengan kau bergabung dengan lembaga dakwah itu, lalu kau begitu saja meninggalkan Aku dan teman-temanmu di pecinta alam? Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat sekaligus sahabat terbaikku." protes Billy pada saat aku memutuskan untuk pindah kost.


Aku hanya diam saja tidak bisa berkata apa-apa.


"Asal kau tahu Ra, Aku sudah tidak percaya lagi Tuhan semenjak Dia tidak bisa menyelamatkan mamaku dari penyakitnya!" 


Segala sesuatunya pasti ada alasan. Aku hanya ingin mengamankan imanku yang saat itu masih belum baik. Aku takut bila masih bersama Billy dan kawan-kawanku di pecinta alam, maka sedikit demi sedikit hidayah itu akan semakin tergerus. Di lain pihak Billy justru masih membutuhkanku untuk mengingatkannya. Berada di lingkungan yang baru, di sebuah daerah yang baru, pada awalnya mengakrabkan kami berdua.


"Kamu harus kembali menemani Billy, Dek," usai mentoring siang itu, Bang Adil menemuiku.


"Tapi Bang, Aku takut hidayahku tergerus," Aku membela diri.


Bang Adil tersenyum. "Dek, kamu masih punya banyak teman disini yang Insya Allah akan selalu mengingatkan bila jalanmu tak lagi lurus. Ada Handoyo, Radit, Dito dan yang lainnya. Tapi Billy? Adakah teman yang akan mengingatkan jika dia terjatuh? Atau paling tidak sekedar tempat bertanya saja," Bang Adil menatapku lekat.


Ah, rasa malas menerpaku. Berdiskusi dengan Billy bagaikan berdiskusi dengan batu karang. Baginya semua pendapat adalah salah dan dialah yang mempunyai pendapat paling benar.


"Tidakkah kau tahu dek? Batu tidak akan bisa mengalahkan batu, tapi air yang terlihat begitu lembut sanggup membuat lubang di atas batu yang terlihat keras itu. Inti dari semuanya adalah bersabar, dek." Bang Adil mengingatkan lagi.


Akhirnya dengan terpaksa, aku memutuskan untuk kembali kos bersama Billy. Satu kamar yang terlihat kontras!. Di sisi kamarku terpampang tulisan-tulisan kaligrafi arab dan kata-kata penyemangat dari ulama-ulama Islam. Sedangkan di sisi Billy, terpampang poster-poster metal-nya. Untuk urusan musik pun selera kami sudah berbeda. Aku sekarang lebih senang mendengarkan murottal Al-Qur'an atau nasyid-nasyid yang menyejukkan jiwa. Billy masih tetap dengan lagu-lagu barat urakannya. Tapi Billy selalu menghormatiku. Ketika aku sedang mendengarkan murottal atau nasyid dia selalu mendengarkan atau keluar kamar. Pada saat dia menyetel lagu urakannya itu, aku biasanya sedang tidak berada di kamar.


Aku tidak akan pernah tahu kapan hidayah itu akan hadir. Aku hanya mencoba dan mencoba, tapi tak ada perubahan sedikitpun pada Billy. Bang Adil sendiri selalu bilang, "Ishbir, dek. Kita hanya berusaha, sedangkan untuk urusan hasil bukan kita yang menentukan."


Persaudaraanku dengan Billy dijuluki oleh teman-teman bagaikan persaudaraan hitam dan putih.


***


"Arrahman...allamal quran...kholaqol insan..."


Suara murottal As-Sudais mengalun pelan dari laptopku. Usai Sholat Isya, aku tengah berkutat dengan tugas Writing III yang harus dikumpulkan lusa. 


Billy sedang beristirahat di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. Malam ini, tidak seperti biasanya, dia sudah berada di kamar. Biasanya dia baru berada di kamar menjelang tengah malam.


"Itu suara apa, Ren?" tanya Billy memecah keheningan, "Suara yang berasal dari laptop-mu," Billy memperjelas.


Aku menghentikan ketikanku. "Oh, ini suara murottal," jawabku singkat.


"Murottal??" Billy keheranan.


" Iya, murottal alias lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an." terangku.


" Oh, Al-Qur'an. Terakhir gue baca Qur'an waktu masih SD. Oh, poor me..." Billy seolah-olah meratapi dirinya.


Aku hanya melanjutkan ketikanku. Apa sih Billy, gak jelas banget!


"Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban...." 


Aku menikmati alunan murottal itu. Mendengarkan murottal sambil mengerjakan tugas menambah semangat dalam bekerja.


"Ren, kenapa ayatnya diulang-ulang?" Billy yang kusangka sudah tidur bertanya lagi.


Aku menghentikan ketikanku lagi. Kuambil mushab yang ada di atas mejaku, lalu beranjak ke tempat tidur Billy.


"Billiandri Giumart, ini mushab buat kamu. Sekarang silahkan dibuka surat ke 55 dan silahkan baca sendiri artinya disitu ya!" Aku menyerahkan Al-Qur'an itu. Aku merasa mulai sedikit terganggu dengan kehadirannya.


Billy menerima sekedarnya. Lalu dia meletakkan mushab itu di atas mejanya. Tak lama ponselnya berdering. Dia menerima panggilan masuk itu.


Aku kembali berkutat dengan tugasku yang nyaris selesai. Tinggal membuat daftar pustaka dan cover setelah itu selesai.


"Ren, gue pergi dulu ya!" Billy beranjak dari kamar. Dia mengenakan jaket serta topi kupluknya yang berada di belakang pintu. Detik berikutnya Billy sudah menghilang di balik pintu.


Untuk sementara Aku merasa damai dan bisa melanjutkan tugasku tanpa gangguan.


***


"Tiidak perlu mengingatkanku tentang agama ataupun Tuhan. Dia bahkan tidak bisa menyelamatkan mama!"


Langkahku terhenti di depan pintu kamar saat mendengar suara Billy. Sedikit celah pintu yang terbuka membuatku dapat melihatnya yang tampak sedang berbicara di ponsel.


"Sudahlah, Pa, Aku sudah tidak butuh Tuhan! Aku bisa hidup sendiri! Tak perlu menasehati dan mengingatkanku tentang Tuhan! Aku tak butuh Tuhan! " Billy terlihat marah dan menutup pembicaraannya.


Tiba-tiba Billy berbalik dan menangkap mataku di balik pintu. Aku bergegas masuk dan menutup pintu kamar. Aku mencoba bersikap biasa saja, lalu segera duduk di karpet samping tempat tidurku.


"Tadi Papa ku. Dia menasehatiku dan mengingatkan untuk sholat. Untuk apa sholat, jika apa yang aku sembah tidak pernah bisa menyelamatkan orang yang aku sayangi," Billy membuka percakapan.  


Aku menatapnya sambil memeluk lutut. Aku merasa berat untuk berbicara tentang Tuhan dengannya. Aku hanya ingat pesan Bang Adil, jangan kau lawan batu dengan batu.


"Aku kecewa pada Tuhan, Ren! Kenapa harus mamaku? Kenapa Dia tidak mendengarkan doaku? Aku selalu berdoa pada-Nya tiap hari. Kenapa Dia tidak mengabulkan doaku untuk menyembuhkan mamaku?" Billy bertanya-tanya sendiri. Tersesat pada tanya yang tidak pernah berhenti.


Aku tak berani berargumen dengannya. Aku hanya merasa dia perlu waktu untuk berbicara dan melepaskan bebannya. Jadi Aku mendiamkan saja dan mendengar. Ah, Billy andaikan kamu merasakan apa yang telah aku rasakan. Kamu pasti menemukan indahnya bersama dengan Allah.


"Kau masih memegang Mushab yang kuberikan kepadamu kemarin?" tanyaku pada akhirnya.


Billy yang sedang berbaring di atas kasurnya tidak menjawab. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sepertinya dia sedang sekuat tenaga menahan tangisnya.


"Bila kau mau, bacalah surat Ar-Rahman. Insya Allah kau akan menemukan ketenangan sesudahnya." Aku memberanikan diri untuk berbicara. Namun tak ada respon dari Billy.


Aku beranjak dari karpet. Bergegas untuk menuju kamar mandi, berwudhu. Kemudian teringat bahwa tilawahku hari ini belum genap satu juz. Ya Allah, semoga ada kebaikan pada diri sahabatku ini.


***


Billy kecil menahan air matanya. Sang mama yang sedari tadi berada di hadapannya sudah menutup mata sempurna. Pikiran kecilnya bertanya-tanya, kemana doa-doanya sedari tadi bermuara? Kenapa tak ada satupun doanya yang menjelma menjadi nyata? Kenapa pintanya agar sang mama tetap hidup menjadi hal yang tidak nyata? Kemana Tuhan yang selalu dia panjatkan doa dan pintanya?


Billy kecil mematung di depan jenazah mamanya. Dia hanya melihat seulas senyum di wajah beku mamanya. Orang-orang berkata bahwa mamanya telah tiada, dipanggil Tuhan. Tapi kenapa Tuhan malah memanggil mamanya disaat doa yang dipanjatkannyaagar jangan mengambil mamanya? Kenapa Tuhan? Billy tidak lagi nakal. Billy tidak lagi malas. Billy tidak lagi mengganggu orang lain. Billy selalu rajin sholat dan mengaji.


Sejak saat itulah Billy menjadi malas beribadah dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Tuhan tidak pernah mendengar pintanya, tidak pernah ada untuknya, tidak ada....tidak ada....tidak ada....!


"Tidaaaaakkkkkkkk!!!!"


Billy berteriak keras. Dia terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah dan buliran peluh keluar dari pori-pori tubuhnya.


Aku yang sedang menunaikan sholat tahajud segera beranjak ke tempat tidurnya.


"Ada apa, Bil? Kau bermimpi sepertinya. Istighfar!" ujarku membimbingnya.


Nafas Billy terengah-engah. Entah dia mengikuti saranku atau tidak untuk beristighfar. Aku mencoba memegang keningnya yang penuh dengan peluh. Panas. Dia sepertinya bermimpi. Aku segera membimbingnya untuk tidur kembali.


"Bila kau bermimpi buruk, hadapkan wajahmu ke arah kiri dan buanglah ludah ke arah itu. Sesungguhnya mimpi buruk itu berasal dari setan." Aku membantu menenangkan dirinya.


Tak lama Billy tertidur lagi. Aku melanjutkan sholat malamku yang terpotong tadi.


***


Aku tertatih menahan perih. Kupegangi lututku yang tadi terperosok di semak belukar. Ada beberapa goresan yang dihasilkan. Suasana yang gelap membuat aku sedikit sulit untuk menapaki jalan setapak itu. Hingga akhirnya aku terperosok cukup dalam sebelum Billy menangkap tanganku dan menyelamatkan aku.


"Kau terluka cukup dalam Ra. Kakimu perlu kami balut dengan perban dulu sementara ini," Fajri, seorang tim P3K pendakian kali itu memberitahukan. 


Aku tak masalah. Kupersilahkan Fajri untuk menangani lukaku sebisanya.


Atas usul Bang Adil, akhirnya aku memutuskan untuk ikut pendakian dan menerima ajakan Billy. Namun, setelah sekian lama tidak mendaki gunung ternyata sangat susah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.


Fajri selesai membalut lutut kiriku dengan perban. Di jalan itu tinggal Aku, Fajri, Billy dan Eza, tim P3K lainnya. Sisanya sudah meneruskan perjalanan. 


Aku berusaha untuk berdiri, tetapi luka dan rasa sakit itu masih menganga tajam. Fajri dan Eza membantuku perlahan. Aku masih terasa sakit untuk melangkah dan berjalan.


" Sini, biar kugendong saja kamu, Ren." Billy maju kedepan wajahku. Dia melepas tas backpacknya dan memberikan pada Eza.


Aku menatapnya terdiam. Sisa perjalanan tinggal 3 kilo meter lagi untuk mencapai puncak. Apakah aku harus membiarkan diriku tinggal disini saja?


Fajri membantuku. Dia mengangkat tas ranselku dan membawanya. Aku lalu naik ke punggung Billy. Tanpa banyak berkata lagi kemudian kami berjalan.


Kakiku masih terasa sakit. Aku merasa tidak enak menyusahkan Billy dan kawan-kawan yang lain. Namun Billy tetap pada langkahnya semula yang semangat dan lebar-lebar.


"Bacakan Aku surat Ar-Rahman sebagai pengusir lelahku, Ren." Billy berkata pelan pada kilometer kedua. Fajri dan Eza sudah jauh di depan.


Aku terkejut. Aku tak tahu bagaimana wajah Billy saat itu. Ingin aku mengucapkan takbir dan bersujud syukur. Namun tanpa banyak kata aku membaca ayat-ayat Allah itu.


"Arrahman...allamal quran....kholaqol insan...."


Satu yang tidak kuketahui, air mata Billy menderai jatuh berurai.


***


"Fabiayyi ala Irobbikuma Tukadziban... tabaarokasmu robbika dzil jalaali wal ikrom..."


Billy membaca ayat itu dengan terbata-bata. Aku duduk terpaku di depan tenda dengan mengenang air mata. Tak lama Billy rukuk dan tenggelam dalam sujudnya yang menderai-derai.


Aku menatapi moment itu detik demi detik. Setelah salam Billy berbalik badan dan mendapatiku sedang duduk di depan tenda.


" Bi... Bil... ka... ka... mu...," suaraku tersendat menahan air yang mengalir lebih deras.


Billy mendekatiku dan dengan malu-malu dia berkata, "Surat ini telah membawaku tersungkur kembali, Ren." ujarnya menunduk dan tersipu.


Aku lekat menatapnya. Ya Allah... Ya rahman... Ya Rahim... gelegak rindu yang kian membuncah itu kini Kau jawab sendiri dengan ayat-ayat Mu. Kemudian aku memeluknya erat sambil menahan sakit di lututku. Teringat aku akan perkataan Bang Adil tempo hari,


"Tidakkah kau tahu dek? Batu tidak akan bisa mengalahkan batu, tapi air yang terlihat begitu lembut sanggup membuat lobang di atas batu yang terlihat keras itu. Inti dari semuanya adalah bersabar dek,".


Masya Allah...Subhanallah...aku tenggelam dalam tasbih dan hamdalahku.


"Ayat-ayat itu membuatku luruh, Ren. Menumbangkan semua sendi-sendi kesombonganku. Membuatku terjatuh pada lubang tak berdasar kemudian ada Allah yang merangkul dan membawaku kembali ke jalan-Nya." Billy menjelaskan masih di hadapanku.


Ya Allah... Kata apa lagi yang pantas kuucapkan kepada Mu selain syukur dan tasbih? Kau sendiri yang menyambut hamba-Mu yang kehilangan arah dan bertanya tentang keberadaan Mu. Aku tak tahu skenario apa lagi yang akhirnya membawa Billy pada jalan Mu ini. 


Aku semakin tergugu ketika Billy mengulang-ulang lagi kata-kata itu, 


"Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?

 Maka Nikmat Tuhan Kamu manalagi yang kamu dustakan?

 Maka Nikmat Tuhan kamu manalagi yang kamu dustakan?"


Ya Allah, Engkaulah Rabbi sedangkan aku hanyalah hamba. Terpaku aku kembali pada untaian dan bait-bait indah ayat-ayat cinta Mu. Bait-bait Arrahman.


Malam semakin pekat. Suara-suara hewan malam bersahut-sahutan. Gemericik air sungai terdengar riuh. Malam itu menjadi saksi betapa indahnya bait-bait Arrahman. Fabiaayi ala Irobbikuma Tukadziban. Maka nikmat Tuhan kamu manalagi yang kamu dustakan?***(yas)





My room, 3rd May 2012

23.53 pm


Thursday, October 21, 2021

Belajar dari K.S.N



Hari-hari ini jagad perdrakoran dihebohkan dengan pengakuan seorang wanita yang mengatakan bahwa ada aktor K yang tidak sebaik apa yang dicitrakan dalam drama. Beberapa hari kemudian baru ketahuan bahwa aktor itu adalah Kim Seon Ho (KSN) yang melejit namanya lewat drakor Start-Up dan yang terbaru Hometown ChaCha.


Semua drakor mania pasti tahu kalau Kim Seon Ho itu citranya anak baik-baik. Senyum lesung pipitnya udah pasti bisa membuat para noona, eonni, dan ahjumma klepek-klepek. Tetapi semua itu berubah drastis dalam semalam ketika KSN tidak menyangkal apa yang dituduhkan dan dia malah meminta maaf.


Dari KSN kita bisa belajar bahwa pencitraan itu pada akhirnya akan terbongkar juga. Karier yang dibangun selama ini tiba-tiba hancur berantakan di depan mata. Sad. Semua brand tiba-tiba menyembunyikan semua postingan yang berhubungan dengan KSN. Beberapa drama yang akan dibintanginya langsung mencari peran pengganti. Netizen Korea memang terkenal kejam terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Satu hal positif yang dilakukan KSN adalah meminta maaf dan mengakui apa yang dia lakukan.


Ada dua hal yang bisa gw petik dari kejadian ini :


1. BE YOURSELF!

Jangan pernah pakai topeng dalam hidup. Capek gak sih lo kerjaannya pakai topeng tiap hari? Jadilah apa adanya. Setiap hal itu bisa dimanipulasi, termasuk perilaku tetapi akan ada waktunya semua terbongkar.
Setiap hari manusia itu berjuang sama dirinya sendiri untuk meredam penerimaan dan penolakan dari orang lain. Ada yang bisa menenangkan diri mereka, dan ada pula yang selalu kalah berakhir dengan depresi. Kuncinya adalah terima diri kita apa adanya. Allah udah bilang kok di dalam surat At Tin ayat 4 bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Kalau Allah saja sudah bilang : Kamu tuh Aku ciptakan dengan sebaik-baiknya, lho! Dan Allah itu yang paling tahu kita. Terus kenapa kita jadi ragu dengan apa yang udah dikasih oleh Allah? 

Langkah awal ketika kita bisa menerima diri kita apa adanya maka kita bisa berdamai dan bernegosiasi dengan segala krisis identitas diri tanpa ada intervensi dari orang lain. Percaya deh semua orang itu akan ganteng dan cantik pada waktunya. Termasuk segala hal yang berhubungan dengan fisik itu bisa dipermak/manipulasi. Yakinkan diri kita tuh unik, one of a kind! 

Kalau kita bisa menerima diri kita apa adanya, maka gak ada hal yang gak bisa dikompromikan. Istilahnya orang lain mau nerima kita atau gak itu bodo amat. Yang terpenting kita menerima diri kita sendiri. Amal perbuatan itu lebih penting daripada fisik semata. Toh nanti yang dibawa pulang ke akherat adalah amalan kita. Kita akan dihisab pun berdasarkan amalan bukan fisik. Jadi fisik itu bukan yang utama. Yang perlu mendapat perhatian lebih adalah amal shaleh. Orang yang keliatannya seperti malaikat, tau-tau hatinya bagai seorang iblis. 

Sesempurna apapun mencitrakan diri, pasti suatu saat akan lelah dan kebongkar juga. Untuk itu kita wajib banget minta sama Allah untuk menutupi aib-aib kita, untuk kemudian tidak mengulangi lagi. Bukan malah dipelihara.

2. SPEAK UP!

Speak up ini penting banget! Istilahnya viralin dulu aja untuk menguak kebusukan. Mereka yang mengalami tindakan kejahatan pasti trauma banget. Terlebih jika mereka berhadapan dengan orang-orang yang punya citra baik, padahal melakukan kejahatan. Pasti ketika speak up banyak orang yang gak percaya, atau malah yang speak up malah dianggap mencari sensasi dan disalahkan balik. Kasian khan?

Orang yang mengalami tindakan kejahatan setiap hari pasti battling dengan diri mereka. Tentu mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri yang menganggap tidak bisa melawan. Jika ini terus terjadi maka dorongan untuk suicide itu akan kuat karena menganggap diri gak berguna.

Di satu sisi mereka ingin berbicara tetapi pasti akan ada penilaian-penilaian dari orang lain tentang diri mereka. Jadi semacam buah simalakama, diceritakan menjadi malu, tidak diceritakan menjadi beban hidupnya.

Salah satu cara terbaik untuk menaklukkan trauma adalah berhadapan langsung dengan trauma itu sendiri. Hadapi trauma ini dengan cara baik-baik. Cari poin-poin apa yang membuat kita trauma dan apa yang segera harus kita lakukan untuk mengatasi ini.  Kemudian speak up dengan cara yang kita bisa, lewat bicara atau tulisan. Tentu gak mudah, karena kita harus memutar kembali detik-detik hal yang kita gak ingin ingat lagi. Namun percaya deh, jika kita udah bisa speak up maka akan ada sedikit beban yang membuat kita lega. Masih ingat kan kasus pegawai KPI yang menyimpan semua traumanya hingga akhirnya dia berani mengungkapkan itu semua. Pasti tidak mudah karena banyak pertimbangan yang harus dia lakukan. Bahkan hingga dia diserang balik karena dianggap lemah dan baper.

Orang-orang yang ini pasti memerlukan pendampinga, untuk terus menguatkan diri mereka dan meyakinkan bahwa mereka not in the wrong side. Jika mereka tidak bisa berpikir panjang dan terus melemah maka sudah pasti memilih bunuh diri untuk mengakhiri ini semua.

***

Dua hal inilah yang bisa gw ambil dari kasusnya KSN. Tidak memakai topeng seperti yang dilakukan KSN dan speak up seperti wanita yang disebut mantan pacarnya KSN.

Dalam kasus gw sendiri, capek banget ketika gw harus make topeng agar dinilai baik sama orang lain. Gw berjuang pastinya menjadi diri sendiri dan tampil adanya. Banyak cercaan, hinaan, dan makian yang pernah gw dapet. Tapi di titik sekarang gw udah gak peduli orang mau ngomong apa selama gw in the right path! Nyatanya menjadi diri sendiri malah memberikan gw kekuatan untuk battling terhadap penerimaan dan penolakan orang lain. Ya, pasti gak mulus tapi paling gak ada masukan positif dari diri sendiri. Yang terbaik dalam hidup adalah menerima diri kita apa adanya dan menyadari kalau orang lain bisa berbuat salah.

Gw pun pernah mengalami trauma yang setiap hari harus gw hadapin hingga saat ini. Tapi proses ini semua yang akhirnya membuat gw bisa share kepada orang lain yang mengalami hal yang sama dengan yang gw alamin. Sampai akhir hidup pun kita bakalan berproses dan battling dengan masalah-masalah yang ada. Yang terpenting kita harus tetap berjuang dan berpikir positif dengan segala hal yang ada. Susaaaaaaahhhhhhh...... tapi inget ada prosesnya.

Sedangkan proses speak up gw jika mengalami sesuatu hal yang gak gw suka adalah dengan tulisan atau berbicara langsung. Paling gak setelah itu gw merasa plong. Serius temen bicara yang berempati itu penting banget. Itulah kenapa Allah menciptakan 2 kuping dan satu mulut, guna untuk kita mendengar lebih daripada berbicara.

Jadi... buat kalian yang hari ini masih memakai topeng, sampai kapan kalian akan terus hidup dalam bayang-bayang dan kemunafikan?

Btw, Kim Seon Ho harusnya belajar Bahasa Indonesia, jadi klo ada kontroversi seperti ini dia masih bisa diterima. Hahahaha... Iya, kayaknya cuma Indonesia aja yang masih mau menerima orang-orang kontroversi (dan malah mereka bangga). Sedangkan negara lain, sekali berbuat salah, TIADA MAAF BAGIMU!

Save your mental health, buddies!

***

Bekasi, 21st August 2021
At my office, 11.07 am.
Yang sabar ya Kim... 

Thursday, September 9, 2021

Lupakan, Berdamai, dan Tunggulah!


Sore ini saya mendapatkan telepon dari seseorang. Dia bercerita, seperti ada yang menyingkirkannya dari organisasi yang dia ikuti. Dia yang dulu pengurus organisasi itu, saat penggantian pengurus dia tidak diajak sama sekali dan bahkan tidak ada yang mengucapkan terima kasih padanya untuk apa yang dia lakukan selama ini. Semua pengurus baru pura-pura tidak menyadari kehadirannya dan "bersepakat" menyingkirkannya dengan sistematis. Seperti kacang lupa kulit. Padahal selama masa kepengurusannya dia termasuk salah seorang yang banyak membantu dan menyelamatkan organisasi.

Pikiran saya kembali ke beberapa tahun silam saat saya mengalami hal yang sama dengan seseorang tersebut. 

Di sebuah organisasi yang saya ikuti dari SMA hingga menjadi alumni, keberadaan saya seperti dipandang sebelah mata oleh para alumni yang lain. Mereka hanya menilai seseorang dari outlook nya saja. Hingga apapun yang saya lakukan untuk organisasi ini tidak pernah dianggap kebaikan dan pastinya selalu salah.

Saya ingat saat ketua organisasi terpilih tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya dan hanya mendiamkan organisasi, saya dan teman saya tetap membantu menjalankan organisasi ini berdua saja. Mengajak para anggota untuk tetap istiqomah, mengadakan acara untuk memperat ukhuwah anggota, mencari dana untuk membantu setiap kegiatan, dll. Tetapi no one's talking good. Ya, gak apa-apa sih sebenarnya, tapi lihat apa yang terjadi berikutnya.

Sebagian teman yang tidak tergabung dalam kepengurusan organisasi ini mengadakan gerilya dan mengkritisi saya dan teman saya yang dianggap jalan sendiri tanpa koordinasi (ya gimana gak jalan sendiri, organisasinya aja gak jalan). Hingga mereka mengumpulkan teman-teman lain yang bersebrangan dengan saya untuk membentuk kepengurusan tandingan (padahal saya bikin kepengurusan atau mengklaim sebagai ketua aja gak). Mereka yang katanya membawa aroma 'perubahan' memengaruhi anggota organisasi untuk bergabung dengan aliansi mereka. Tentu saja para anggota yang bertentangan dan tidak sepemikiran dengan saya mulai berkhianat. Entah gimana mereka, bisa berkhianat, tetapi jika saya dan teman saya mengadakan acara, para pengkhianat itu tetap ikut juga. Ewww....

Seorang guru saya pun menjadi bagian yang berpihak pada 'pembaharu' ini. Dia sempat bilang "Sudahlah, kamu sudah tidak masanya lagi berada di organisasi ini. Berikanlah kepada mereka yang baru-baru." Dan beberapa tahun kemudian dia menunjuk orang yang bahkan umurnya lebih tua daripada saat saya aktif dulu disana. Lol.

Dalam rapat organisasi yang membahas tentang tidak aktifnya ketua, mereka seolah menutup mata dengan peran saya dan teman saya dalam mengkover kegiatan organisasi selama ini. Bahkan mereka memilih pengurus dan ketua baru yang semangatnya bak "hangat-hangat tokai ayam". Kedepannya sudah pasti amburadul lagi.

Singkat cerita mereka menganggap apa yang saya dan teman saya lakukan untuk organisasi ini tidak ada maknanya. Mereka bahkan lupa caranya berterima kasih tentang apa yang seharusnya mereka lakukan tetapi mereka tidak lakukan. Mereka hanya menilai saya salah dan bukan siapa-siapa.

Bagaimana perasaan saya? Sudah pasti saat itu bergulat dengan rasa sedih, kecewa, sakit hati dan lainnya. Sudah gak kehitung lagi kayaknya ya berapa kali saya harus menahan sedih hingga mencucurkan air mata. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang mengkhianati saya dan ujung-ujungnya para pengkhianat ini malah mengkhianati organisasi. Ya, saya mengalami masa-masa tidak enak dan Alhamdulillah mampu melewatinya.

Hingga satu hari saya dengan tenang berhasil melepas organisasi ini. Tidak pernah merindukannya kecuali untuk beberapa kegiatan yang dulu pernah saya lakukan. Bahkan sampai titik "udah gak mau tahu lagi tentang organisasi ini".

Apakah mudah melepasnya? Kagak! Berkali-kali godaan untuk kembali ke organisasi itu datang. Berkali-kali pula terasa dendam membara melihat orang-orang yang menyingkirkan saya berada di pucuk organisasi ini. Beberapa kali bergelut dengan bathin untuk kembali ke organisasi ini. Sampai akhirnya waktu yang menjawab itu semua. 

Hari-hari yang dulu saya harapkan agar tidak mencintai organisasi ini menjadi nyata. Hari-hari di mana saya berdoa agar ditunjukkan yang benar itu benar dan salah itu salah. Bahkan organisasi ini sekarang seperti "Hidup segan mati tak mau". Walaupun saya gak sampai senyum jahat tetapi semua terlihat pada akhirnya. Beberapa tuduhan terhadap saya pun tak terbukti, justru para pembaharu itu yang kedapatan menjadi duri dalam daging organisasi.

Allah seakan menjawab dan menunjukkan semuanya. Terkadang pada awalnya kita merasa berat melepas seuatu yang sudah mendarah daging dalam hidup kita. Sesuatu yang menjadi bagian kita setiap hari. Sesuatu yang menoreh banyak kenangan dalam hidup kita. Bukan hanya kenangan manis, tetapi juga luka yang berdarah. Jika kita berusaha untuk ikhlas (yang pasti tidak semudah yang diucapkan), mengalihkan dengan sesuatu yang lebih baik, berhubungan dengan teman-teman baru yang lebih positif, sudah pasti semua proses melupakan itu akan bisa kita lewati. Kuncinya adalah meyakinkan diri kita bahwa di mana pun mutiara itu berada, dia akan selalu bersinar.

Sakit banget tentu dianggap sebagai angin lalu setelah berjuang jungkir balik, tetapi kelak ketika kita bisa melalui itu semua kita akan benar-benar tidak peduli dengan masa lalu. Jika bertemu dengan mereka yang bersinggungan di masa lalu, kita bisa tahu batas dan value yang ada pada orang itu. Tentu saya lebih memilih tidak berhubungan lagi dengan orang-orang ini demi tetap mempertahankan vibe positive. Bukan bermusuhan, tetapi meng-skip mereka. 

Mereka yang melupakanmu, berkhianat padamu, menuduhmu, mengabaikanmu, jika hati mereka terbuka, mereka akan menyesali itu semua. Apalagi jika orang-orang ini mengatakan "rindu deh waktu zaman sama kamu" dan kita dengan datar bilang "The past is in the past", semakin akan menimbulkan penyesalan terdalam pada mereka. Tetapi untuk mereka yang masih memiliki kesombongan dalam dadanya maka mereka akan tetap bersikap masa bodoh walaupun sebenarnya mereka sudah berada di tepi jurang kehancuran.

Satu-satunya penyesalan yang pernah saya lakukan adalah kenapa terlalu banyak meluangkan waktu untuk organisasi yang tidak menghargaimu? Tetapi itu hanya penyesalan sesat jika melihat dampak yang saya lakukan dan jejak kebaikan yang saya tinggalkan. Biarlah itu menjadi amal kebaikan yang akan terkenang selalu.

Pada akhirnya berdamai dengan hati lah yang membawa saya pada kemampuan untuk move on dan melupakan semua yang terjadi. Jika kita masih belum bisa berdamai dengan hati, sudah pasti kita akan berlama-lama dengan masalah yang tentu bukan hal yang bagus untuk mental health kita. Belajarlah berdamai dengan diri kita. Tidak instant pastinya, perlu proses yang mendalam dan lama. Hingga pada saat kita menikmati waktu berdamai dengan hati, semua akan terasa baik-baik saja. Tunggulah waktunya dan nikmati prosesnya.

Kembali kepada seseorang yang menelepon itu, maka akan ada banyak cerita juga solusi yang mungkin bisa saya share pada dirinya. Ketika saya sudah past through that scene and stand still in the edge of the cliff. 

Juga akan saya ceritakan bagaimana saya sudah bisa menjadi diri saya sendiri, proves them wrong, sedangkan mereka masih berpura-pura suci di balik noda yang mengkoyak-kayak nurani mereka.

Pada akhirnya, the loser is always standing small. You reap what you sow, dude! Just watch and see.

***

Bekasi, 9 September 2021

21.40 pm   

Karma is on the way, bitch!

#writingteacher #keepwriting #teacherjournal



Friday, September 3, 2021

Khatam dan Proses Seorang Anak


"Wah, hebat ya, sudah khatam berkali-kali"

Saya agak tergelitik juga dengan ucapan itu. Memori saya lalu kembali pada kenangan beberapa puluh tahun silam (udah tua juga yee...).

Saya teringat baru bisa baca Al-Quran dengan lancar saat masuk Rohis. Saat mengikuti pesantren kilat di kelas 1 SMA, saya tersiksa sekali ketika harus baca 1 halaman Al-Quran yang seumur-umur baru saya baca hari itu. Orang tua saya memang beragama Islam tetapi dulu yang menjalankan praktek keislaman hanya Ibu sama dan kakak-kakak saya. Bapak saya dulu jarang sholat, dan baru mendapatkan hidayah sholat 5 waktu dan membaca Al-Quran saat saya duduk di kelas 3 SMA.

Di rumah pun Ibu saya tidak memaksa untuk sholat atau mengaji. Dia hanya mengingatkan, dan kami pun akhirnya mengikuti karena, ya, kalau orang Islam harus sholat. That's it!

Maka tidak heran saya belum bisa mengaji saat kelas 1 SMA. Bahkan waktu di SMP ada kegiatan bimbingan membaca Quran yang dilaksanakan setiap Jum'at, saya selalu skip karena gak menarik dan gak paham. Dari SD ikut pengajian tiap malam tetapi yang dibaca hanya Juz Amma aja. Hafalan, doa, bacaan sholat pun bisa karena dihafal bukan dibaca.

Dan tergeraklah hati saya saat menjadi pengurus Rohis. Seolah ada beban yang mengatakan

"Masa pengurus Rohis gak bisa baca Qur'an dengan lancar sih? Malu-maluin!"

Maka saya pun berusaha giat melancarkan bacaan Quran. Saya ingat suatu hari di Ramadan, saya membaca 1 surat panjang dari Al-Quran terjemahan yang ada di masjid sekolah. Saat itulah saya merasa damai dan terjadi ikatan batin dengan Al-Quran. Motivasi dari kakak-kakak alumni juga membuat saya semakin giat untuk terus membaca Al-Quran hingga akhirnya di penghujung Ramadan tahun itu, SAYA KHATAM! Itu adalah khatam Al-Quran pertama kali dalam sejarah hidup saya. Saya sujud syukur dan semakin termotivasi untuk membaca lagi.

Saat kelas 3 SMA saya baru ikut kelas Tahfidz dan semakin saya mengenal Makhrojul Huruf, hukum-hukum bacaan, dll yang sebenarnya sudah diajarkan saat SMP tetapi karena saya malas maka saya baru mempelajarinya saat kelas 3 SMA. Sejak saat itulah motivasi saya mempelajari Al-Quran, menghafalnya, dan berusaha mengamalkannya. Hingga dari khatam pertama sampai sekarang saya selalu memasang target, minimal khatam 1x setahun.

Maka saya selalu terkagum-kagum dengan pengumuman yang mengatakan"Alhamdulillah, telah khatam Al-Quran ananda bla bla bla sebanyak 37x!"

Wow! Tentu saja saat saya berada di umur anak itu, yang belum lagi lulus sekolah dasar, menjadi kagum. Hati kecil saya memang tergelitik juga untuk bertanya "Ah, bener tuh khatam? Masa iya sih kemaren baru khatam sekarang sudah khatam lagi?" Tapi berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berhusnudzon. Walaupun saya harus melihat kenyataan ketika anak yang khatam Quran banyak itu ketika disuruh baca memang lancar tetapi banyak makhrojul huruf, hukum bacaan dan panjang pendeknya yang belepotan. Sepertinya memang KUANTITAS yang dikejar, bukan KUALITAS. Wajar sih karena masih anak-anak.

Kali lain ada anak yang tiap minggu khatam! Jika kita memiliki program one day one juz, pada hari ketiga puluh kita baru bisa khatam. Kalau khatam dalam seminggu? Berarti anak itu minimal sehari membaca 4-5 juz. 1 juz sekitar 10 lembar atau 20 halaman. 4 juz berarti 40 lembar dan 80 halaman. Jika satu lembar dibaca standar dengan makhrojul huruf dan panjang pendek yang benar sekitar 3 menit, maka untuk menghabiskan 4 juz dalam sehari sekitar 240 menit atau 4 jam dalam sehari. Dengan kesibukan sekolah yang standar, menghabiskan baca Al-Quran 4-5 juz per hari SANGAT LUAR BIASA sekali!

Iseng saya bertanya pada si anak, "Bener kamu baca tiap hari 4 juz?" Si anak cuma nyengir dan mengaku "Kata guru ngaji saya boleh dilongkap-longkap, Pak!" Hmmm.... Walaupun tentu tidak semua anak seperti ini. Banyak juga anak yang memang betul membaca.

Ada seorang anak yang menyeletuk, "Pak, saya juga khatam tiap hari?" Mendegar ini membuat mata saya melotot. "Iya, Pak, kan kalau kita baca Surat Al-Ikhlas, Al Falaq, sama An-Nas dianggap membaca 1 Al-Quran full, Pak. Jadi saya baca itu aja tiap hari."

Iya sih bener.... tapi gak gitu juga keless!

Sayangnya lagi-lagi karena KUANTITAS maka anak-anak diberikan pemahaman khatam terus tanpa tahu makna indah yang tersurat dalam Al-Quran itu sendiri.

Lalu bagaimana membiasakan anak-anak membaca A-Qur'an? Tentu semua ada prosesnya.

Tidak sama dengan orang dewasa, anak perlu pemahaman ketika mereka diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Anak yang kritis tentu akan berkata "Kenapa Aku harus baca Al-Quran?" Orang tua yang tidak siap akan menjawab "Karena itu kitab suci umat Islam."

Anak yang patuh tentu akan langsung membaca tanpa perlu tanya sana sini lagi. Tetapi bagaimana dengan kebanyakan anak? Orang tua pasti memerlukan efforts lebih untuk meminta anak itu membaca Al-Quran. Orang Tua yang kreatif akan menjelaskan keutaman membaca Al-Quran dengan cerita sejarah turunnya Al-Quran, atau memberikan reward setiap anak baca Al-Quran. Tetapi ada juga tipe orang tuanya yang hanya menyuruh saja tanpa perlu ditanya balik. "Kalau Bapak bilang baca, ya baca. Klo Ibu bilang baca, ya baca". Apalagi jika ada tambahan "Waktu ayah masih kecil, ayah rajin baca Quran. Sekarang kamu baca Quran aja males banget!" Yang pasti anak auto menjawab dalam hati "Ya, zaman ayah dulu kan belom ada handphone, belum kenal internet, belum ada mall," wkwkwkw.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa anak bagaikan kertas putih. Orang tua dan lingkungan yang mewarnai kertas tersebut. Rasulullah juga mengatakan anak yang kita miliki bukanlah milik kita tetapi milik zaman mereka. Jadi tentu mendidik mereka tidak harus sama dengan cara kita dididik.

Satu hal yang perlu orang tua pahami bahwa anak bukan ROBOT. Bukan berarti karena kita yang melahirkan, memberi makan, menyekolahkan, dll maka kita BERHAK atas segala jalan hidup anak kita. Banyak orang tua yang memotong hak berpendapat anak, apalagi jika pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat mereka. Padahal anak perlu didengar, perlu dimintai pendapat, perlu diajak berbicara. Anak semakin dilarang semakin mereka penasaran. Semakin mereka dibilang GAK BOLEH, akan membuat mereka mencari tahu. Apalagi anak sekarang, pintarnya bukan main. Di depan kita kelihatan baik dan sholeh/sholeha tetapi di luar pengelihatan kita mereka bisa menjadi bertolak belakang dengan apa yang kita bayangkan.

Anak-anak itu butuh didengar, dihargai setiap proses yang mereka lakukan, diberikan contoh, dan diperhatikan. Karena mereka akan meniru orang yang dekat dengan mereka begitu mereka kelak dewasa. Selagi orang tua bisa memberikan semua itu (walaupun porsinya tidak banyak) maka tunaikanlah hak anak. Dengan begitu mereka akan mudah untuk kita tarik dalam jangkauan kita.

Apakah orang tua yang suka menyuruh anaknya salah? Tentu tidak 100% salah. Orang tua belajar dari apa yang mereka alami di masa lalu dan mereka ingin/tidak ingin mengulangi yang sama dengan anak mereka. Misal jika dulu orang tuanya selalu belajar 3 jam sehari, maka anak pasti akan diminta melaksanakan apa yang dulu mereka lakukan. Jika dulu orang tuanya terlalu banyak nonton TV dan dia yakin itu suatu kesalahan, maka tentu dia tidak mau hal itu terjadi pada anaknya. Tiap kali anak menonton TV pasti akan ada sergahan yang sebenarnya adalah menyalahkan tindakannya di masa lalu.

Tetapi anak-anak tidak bisa diperlakukan seperti ini. Menganggap mereka sebagai objek, atau mini me yang harus sama seperti kita. Dalam beberapa hal genetik mungkin akan ada sikap dan sifat yang sama, tetapi pengembangannya, anak berhak untuk diberikan pilihan untuk dirinya sendiri.

Hal ini menjadi saling bertentangan pada akhirnya. Anak berpikir orang tua otoriter, sedangkan orang tua berpikir anak pembangkang. Jika hal ini tidak diselesaikan maka akan banyak anak yang dikorbankan untuk masa depan mereka.

"Ah, saya otoriter, tapi anak saya semuanya jadi tuh!"

Dalam beberapa kasus mungkin benar. Tetapi tetap akan ada luka di hati si anak yang akan bergelut sampai mereka dewasa. Pada satu titik ketika anak tidak bisa menerima akan ada perlawanan frontal yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Mungkin ketika sudah tua maka orang tua menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah ketika mereka melihat cucu mereka diperlakukan yang sama dengan anak mereka. Jadi semacam lingkaran setan.

Atau anak tidak melawan tetapi ada unfinished bussiness yang disimpan dalam hati mereka, yang kelak menghantui hidup mereka selamanya jika tidak diselesaikan. Atau lagi ada rasa kasih dan sayang yang tak terbentuk dengan sempurna sehingga hubungan anak dan orang tua terasa TASTELESS. Hubungan hanya sekadar orang tua dan anak saja tanpa bumbu-bumbu cinta dan kasih sayang.

Saya teringat ketika ada orang tua mengambil raport. Saya dan teman saya memberitahukan perilaku anaknya di sekolah yang melampaui batas. Orang tua itu tidak terima karena dia merasa bahwa anaknya selalu bersikap baik di hadapan mereka. Padahal ketika berada di sekolah anak itu berperilaku sangat melampaui batas. Tentu kami mempunyai bukti-bukti autentik yang memperlihatkan perilaku anak itu di sekolah.

Anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai kasih sayang, pengertian, penghargaan sekecil apapun, maka anak akan berkembang dengan penuh percaya diri dan penuh kesadaran ketika melakukan sesuatu. Ketika orang tua memintanya untuk melakukan sesuatu dengan cara yang baik maka anak akan melakukannya tanpa perlu bertanya-tanya lagi.

Coba bandingkan percakapan berikut :


Percakapan 1


"Kak, kayaknya Ayah belum lihat kamu baca Quran deh. Katanya kamu mau khatam? Bangga deh kak, kalau kamu bisa khatam."

Bahasa yang digunakan tidak menyuruh tetapi mengingatkan, sehingga anak merasa tidak diperintah. Apalagi di akhir kalimat ada rasa bangga jika si anak bisa menyelesaikan tugasnya.


Percakapan 2


"Kak, kok belum baca Al-Quran? Udah kelas 6 bukannya harus khatam ya?"


"Bentar, yah. Lagi nanggung nih filmnya."


"Ayah kasih waktu 30 menit lagi ya, setelah itu lanjutin baca Al-Qur'annya."


"Yah, ayaaahh... 1 jam lagi deh!"


"Ya udah, ayah kasih waktu 40 menit lagi ya!"


Di sini anak merasa diajak berdiskusi dan diberikan ultimatum tanpa perlu marah. Jika anak akhirnya melanggar waktu tenggang yang diberikan, maka harus ada konsekuensi yang didapatkan si anak.

"Hmmm... Kakak melanggar waktu dari Ayah nih. Besok berarti jatah nonton kakak dikurangin yaah..."

Disini anak akan berpikir 2x untuk melanggar waktu yang diberikan si orang tua. Tapi yang perlu diingat adalah konsistensi dan keluwesan. Jika anak selama tiga hari melanggar terus maka orang tua harus konsisten memberikan punishment. Next time, ketika anak sudah berusaha tetapi masih melanggar sedikit saja maka kasih keluwesan.

"Hmmm... Kakak melanggar waktu dari Ayah nih. Tetapi karena selama ini Ayah lihat kakak selalu konsisten, maka hari ini kakak ayah bebasin deh dari punishment. Tetapi besok-besok jangan diulangi lagi ya!

Di poin ini anak akan mengingat, kalau berbuat konsisten pasti nanti akan ada kemudahan dari orang tua. Jadi anak akan merasa orang tuanya sudah berbuat bijak.


Percakapan 3


"Kakak ayo baca Quran, biar terus khatam. Lihat tuh temen kamu si fulan, kemarin dia udah khatam lagi. Kamu, khatam sekali aja susahnya minta ampun."


Dari kalimat ini akan ada pemberontakan dan tidak terima pada diri si anak. Apalagi dibandingkan dengan anak lain. Akan lebih parah jika yang dibandingkan adalah saingannya. Selain merasa tidak dihargai, juga akan timbul rasa dendam si anak pada saingannya. Kemungkinan dari percakapan ini ada 2. Pertama, si anak akan mengerjakan dengan terpaksa dan bersungut-sungut. Kedua, si anak tidak akan mengerjakan jika ucapan itu sudah berulang kali diucapkan tanpa ada punishment yang jelas. Ini adalah bentuk perlawanan anak yang tidak suka dibandingkan.

Tentu melakukan percakapan dengan pola yang benar tidak gampang. Apalagi jika orang tua yang merasa malu dan tidak pandai bercakap-cakap. Mau tidak mau orang tua harus mulai belajar berkomunikasi dengan anak. Tidak harus berubah drastis tetapi dengan beberapa penyesuaian dan pembiasaan. Semua bisa karena terbiasa bukan? Karena menjadi orang tua itu perlu belajar, it's not taken for granted. Hanya orang tua yang hebatlah yang mau belajar demi masa depan anak-anak yang lebih baik. Namun jika ingin anak begitu-begitu saja dan mati dalam penyesalan maka lakukanlah hal-hal yang kebanyakan orang lakukan. Mumpung belum terlambat. Ketika anak masih belum beranjak dewasa maka mereka masih bisa dibentuk dan ditanamkan dengan nilai-nilai kebaikan. Orang tua lah yang berperan untuk dalam hal ini semua. Jangan sampai anak-anak dimasukkan nilai-nilai oleh orang lain dan bahkan lebih parahnya oleh game dan televisi.

Pastikan ketika kita meminta anak membaca Al-Quran maka kita juga terbiasa membaca Al-Quran. Jika kita meminta anak tidak main hape terlalu sering, pastikan kita tidak bermain hape terlalu sering di depan anak-anak. Karena anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan lebih tertarik jika diminta melakukan kebaikan dengan mencontoh orang tua. Sediakan waktu untuk tilawah bersama, belajar bersama, dll. Biarkan proses itu berjalan dan nikmati setiap prosesnya. Mungkin anak kita belum bisa rutin membaca Al-Quran tahun ini, siapa tahu tahun depan mereka sudah mulai terbiasa rutin. Yang terpenting jangan putus asa.

Ajarkan untuk mencintai Al-Quran bukan hanya sekedar membacanya. Cintalah yang akhirnya membuat mereka rindu untuk membaca Al-Qur'an berulang-ulang. Hari ini mungkin bukan anak kita yang bisa khatam berkali-kali, tapi suatu hari nanti akan ada waktunya mereka bersinar. Biarkan mereka berproses. Tugas orang tua adalah membimbingnya, bukan mendiktenya. Anak yang dibesarkan dengan proses kelak mereka akan menghargai setiap proses yang mereka lakukan. Saat SD belum terikat dengan Al Quran, saat SMP, SMA, Kuliah, bekerja mungkin mereka akan terikat. Semua ada saat dan masanya. Allah bilang : DON'T LOSE YOUR HOPE! Jangan pernah putus harapan.

Anak yang sekarang khatam berkali-kali tidak ada jaminan di masa depan mereka masih bisa membaca jika membaca Al-Quran nya hanya berdasarkan "JANGAN MAU KALAH DENGAN TEMAN KAMU". Sebaliknya anak yang sekarang tampak terbata-bata membaca Al-Qur'an, jarang khatam, suatu saat ketika hidayah itu datang maka dia akan menjadi orang yang paling baik bacaan Quran nya dan paling sering mengamalkan isinya. Karena khatam tanpa mengamalkan isinya akan terasa kehilangan ruh-nya. Fitrah anak adalah pada kebaikan, maka dekatkan mereka selalu dengan kebaikan.

Sampai sini mungkin akan ada yang berkomentar,

"Halah... lo bisa nulis doang! Lo kan belum ngerasain punya anak sendiri."

Tentu yang berkata seperti ini tidak salah. Saya menulis ini berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan anak-anak dan orang tua. Menulis ini juga merupakan proses bagi diri saya untuk belajar menjadi orang tua yang baik di kemudian hari.

Saya pun merasakan apa yang orang tua rasakan. Saat itu seorang anak yang saya bimbing hafalan Al-Quran, di penghujung tahun ajaran sudah tinggal 1 surat lagi untuk melengkapi menjadi satu juz. Nyatanya hingga dua tahun berikutnya anak itu belum juga selesai. Tentu saya tidak berhenti "menceramahi" nya.

"Ganbatte!! Ayo tinggal 40 ayat lagi!"
"Ayo pokoknya nanti klo gak selesai, bapak jitak!"
"Tinggal 2 lagi nih ayo semangat!!"

Hingga anak itu mengabarkan bahwa dia sudah melengkapi juz 30.

"Wow keren!! Akhirnyaaaaaaaa..... Masya Allah akhirnya selesai juga. Huhuhu terharu..."


Berkomunikasilah dengan bahasa yang paling mereka pahami dan nyaman. Setelahnya saya semakin belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Karena tentu usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Selamat menjadi sahabat terbaik anak!


***

Bekasi, 2 September 2021
My kos, 23.36 pm